「Resensi Buku」 Ranah 3 Warna

Rank: ******* [7 out of 10 stars]
Category: Books
Genre: Fiction

Copywright by Ibnu Maroghi

Ranah 3 Warna adalah sekuel dari trilogi Negeri 5 Menara yang ditulis Ahmad Fuadi. Buku ini mengisahkan tentang perjalanan hidup Alif di tiga ranah, Bandung , Amman, dan Saint Raymond. Fyi, cerita di buku ini terinspirasi oleh kisah nyata penulis.

Cobaan Bertubi-Tubi
Alif yang baru saja lulus dari Pondok Madani bertekad untuk masuk perguruan tinggi negeri, menyusul Randai yang sudah lebih dulu masuk ITB. Persaingan sejak kecil dengan Randai membuatnya gigih untuk belajar dan lolos tes UMPTN. Ia pun berniat meminjam buku bekas teman-temannya dahulu agar bisa menguasai pelajaran-pelajaran yang akan diujikan. Semangatnya menggebu-gebu saat itu. Namun, satu pertanyaan dari Randai sempat menciutkan semangatnya itu.

“Kan tidak ada ijazah SMA?”

Pertanyaan itu memang membuat peluang masuk PTN mengecil, tapi itu tak membuat Alif patah arang. Malah ia menjadi tertantang untuk membuktikan bahwa lulusan pesantren—yang tak mempunyai ijazah—bisa masuk universitas negeri. Ia akan buktikan ke semua orang bahwa segala tantangan berat akan bisa dihadapi dengan sungguh-sungguh dan usaha keras. Man jadda wajada.

Meski impiannya untuk kuliah di jurusan Teknik Penerbangan ITB pupus—gegara kemampuan dan waktu yang tersedia saat itu tak cocok dengan impiannya—Alif tetap serius untuk ikut UMPTN. Ia memutuskan untuk masuk jurusan Hubungan Internasional. Menurutnya, pilihannya ini akan membawanya terbang jauh ke Amerika, negara yang ia ingin kunjungi.

Baru beberapa bulan menjalani kuliahnya, Alif sudah keteteran mengejar ketertinggalan. Tidak hanya nilai yang menuai hasil buruk, ia yang bertekad menghidupi sendiri uang kuliahnya justru terserang tipes. Alif sudah tak tahan lagi dengan cobaan yang terus menimpanya. Pada fase inilah dia merasa bahwa kalimat Man jadda wajada tak ampuh lagi. Dia butuh mantra lain yang lebih ampuh, yakni Man Shabara Zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung. Dia akan terus bersabar dengan ujian yang bertubi-tubi menimpanya. Dia ikhlaskan segala takdir yang akan terjadi padanya. Alif yakin, bahwa di ujung kesabarannya itu ada hadiah yang bakal menantinya.

Sangat brilian!
Fuadi lihai menggunakan premis siapa yang bersabar akan beruntung di buku keduanya. Setelah sukses menyihir ratusan ribu pembaca di Indonesia dengan kalimat sakti Man jadda wajada di buku pertama, Fuadi sekali lagi melakukannya dengan mantra barunya, Man Shabara Zhafira. Sungguh, ini merupakan konsep penulisan yang ciamik (subjektif). Mengajak pembaca tanpa harus memaksa-maksa. Memberi motivasi, tapi bukan dengan kata-kata hiperbola yang melambung tinggi. Menunjukkan kebajikan tanpa berusaha menjadi tetua teladan. Dia menampakkan sifat rendah hatinya di buku ini, selain di kehidupan nyata.

Kalaulah ada improvisasi (peningkatan kualitas) dari buku sebelumnya, itu adalah diksi (pilihan kata) yang ia gunakan. Di buku pertamanya dia memang masih terlihat malu-malu menampakkan lema dari bahasa Melayu. Berbeda dengan buku kedua, Ranah 3 Warna sungguh memiliki nuansa kata yang kaya. Fuadi tak segan untuk menampakkan jati dirinya sebagai orang Melayu dari karakter Alif (meski secara teori mereka berdua bukan orang yang sama). Banyak pantun yang berserakan di lembaran buku ini. Kalimat-kalimat yang terangkai pun khas Melayu. Ya, Fuadi di buku ini jelas menunjukkan dia asli Minangkabau, orang asli Melayu.

Elok-elok kaki menyeberang
Jangan sampai titian patah
Elok-elok di negeri orang
Jangan sampai berbuat salah.

copyright by Ibnu Maroghi

Tidak berhenti di situ, sifat pantang menyerah dan kesabaran yang Alif tunjukkan dalam menghadapi cobaan membuat saya merasa malu. Malu karena saya yang masih diberi nikmat jarang bersyukur. Malu karena dengan dua tangan dan dua kaki belum banyak berbuat apa-apa. Malu karena di saat mahasiswa lain memikirkan nasib rakyat bawah, justru saya berhaha-hihi di sebelah tumpukan komik gramet. Malu karena buku yang saya baca tak ada secuil dari koleksi teman-teman yang ingat akan cita-citanya. Malu karena saya hanya bisa duduk diam menyaksikan televisi di saat kalian berteriak-teriak menyuarakan nasionalisme. Apa…? Sebetulnya apa yang sudah saya perbuat untuk bangsa ini? hati ini pun mulai mempertanyakan idealisme yang tumbuh di dalam diri.

Kembali ke buku Ranah 3 Warna, Alif mulai sadar akan dirinya. Ia harus membiayai dirinya sendiri dengan bekerja. Meski ia harus berjibaku dengan barang-barang sales, ia tetap percaya jalan itu pasti ada. Meski kuliahnya tak lagi dibiayai ayahnya. Meski ia banyak mengutang di sana-sini. Meski hidupnya tak tentu arah dan tak pasti akan bagaimana hari selanjutnya. Hari esok adalah kejutan baginya. Meski cobaan terus datang, dia tetap percaya bahwa jalan itu ada di depan dan harus terus melangkah. Dengan kerja keras dan kesabaranlah dia bisa sampai pada titik tertinggi. Barang siapa yang menabur benih, niscaya akan menuai panen (betul begini, ga?). Alif yakin bahwa takdir itu adalah rezeki manusia dari Tuhan yang paling baik buat makhluknya.

Sebuah paradoks. Ketika berada di negeri ini, rasanya nasionalisme tak pernah berada di posisi klimaks. Biasa. Tak bermakna primer. Yah, begitulah. Namun, saat berada di negeri yang jauh dari rumah, sungguh, nasionalisme tumbuh sangat kilat. Itulah perjalanan Alif di Benua Amerika. Di Kanada, Alif menunjukkan dirinya sebagai rakyat Indonesia yang bangga akan tanah airnya saat upacara bendera.

Kemudian, tentang pacaran. Tentu kalau kita bicara soal anak muda tak lepas dari apa yang dinamakan cinta. Biasanya, cinta mereka tercermin dalam ikatan yang dinamakan pacar. Fuadi sedikit banyak mengajak kita (anak muda) untuk melihatnya sebagai sesuatu yang serius. Maksudnya, hubungan pacar itu jangan digeneralisasi sebagai gaya hidup wajar. Itulah tindakan Alif ketika berhadapan dengan Raisa. Di situ dia sangat jeli dan hati-hati menempatkan nasihat Islam sebagai suatu gaya hidup yang benar.

Diksi dan Gaya Penulisan
Di buku kedua ini Fuadi sudah belajar banyak. Ranah 3 Warna berkembang ke arah yang lebih baik. Luar biasa. Namun, ada beberapa poin yang mengganggu saat saya membaca. Dan itu sudah ada di buku pertama Fuadi. Yeah, tepat sekali, sodara-sodara, gaya penulisannya masih seperti wartawan. Itu mengganggu. Sangat mengganggu buat saya. Sering kali kejadian-kejadian yang harusnya ‘begini’ malah terkesan biasa layaknya berita di koran. Sisi sastra (perasaan) tak begitu terasa, jadinya. Tidak jarang topik yang dinarasikan tak sampai. Terhitung, saya tak lebih dari tiga kali mengeluarkan air mata. Cukup tiga kali saja,memang, harusnya bisa lebih banyak. Ya, gaya wartawannya itu masih mengganggu saya sampai sekarang.

Poin selanjutnya yang mengganggu adalah penggunaan diksi. Bolehlah diksinya tambah kaya, namun tidak jarang pemakaian diksinya itu tidak tepat alias kurang pas. Saya yakin ini pendapat pribadi, tapi inilah yang saya rasakan ketika membacanya.

Ketiga, masalah EYD dan penyusunan kalimat. Entah kenapa dengan buku-buku lain saya tak terlalu perhatian. Hanya buku Fuadi saja saya bisa bicara banyak soal kesalahan-kesalahan itu. Lebih dari sepuluh coretan di buku saya adalah tanda yang saya buat untuk kesalahan-kesalahan editor itu (itu termasuk banyak atau sedikit, sih?).

Terakhir, karakter-karakter yang dibuat tidak terlalu kuat. Kadang saya tak bisa bedakan antara Agam dengan Wira. Oke, Wira itu ganteng dan kulitnya putih, saya tahu itu. Tapi ketika sedang mengimajinasikan mereka, saya kesulitan. Deskripsi yang Fuadi buat kurang kereng, sepertinya. Sekali lagi, ini masalah gaya penulisan.

copyright by Ibnu Maroghi

Kesimpulan
Premis oke, tersampaikan dengan baik. Ide cerita luar biasa, saya yakin ini daya tarik terbesarnya. Tampilan (cover dan wujud bukunya) keren banget. Mengesankan? Oh, jelas, buku ini magnifique. Namun, gaya penceritaan kurang, masih seperti wartawan (ini masalah selera). Kadang terasa datar. Diksinya kaya, banyak lema yang terasa Melayu. Tetapi, pemakaiannya itu kurang pas. Nah, akhirnya, jika ditanya suka atau tidak, jelas saya suka sekali membaca buku ini. Amat sangat suka.

About these ads

12 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s