Ungkapan Kebahagiaan

Saya lihat ungkapan ini pernah di-Retweet sama teman yang saya follow.

Manis akan terasa bila sudah mengecap yang pahit.

Jelas saya yang berpikiran anti-konvensional menyanggahnya…atau paling tidak, merasa tidak setuju di dalam hati. Sebuah kepragmatisan yang terus-menerus dipercayai oleh banyak orang adalah tentang sebuah makna kehidupan. Bahwa di ujung kerja keras nanti akan datang hasil yang memuaskan dan menggembirakan [yang pada akhirnya membawa pada kebahagiaan]. Saya yakin kawan-kawan sudah merasakan apa itu pahit, juga pasti telah paham betul bagaimana segala sesuatu terasa manis. Pertanyaannya: di mana letak kebahagiaan?

Dalam kamus daring yang saya temui, kebahagiaan bisa diartikan dengan “keadaan atau perasaan senang dan tenteram (bebas dari segala yang menyusahkan)”.  Artinya, ketika kebahagiaan datang di dalam diri seseorang, maka enyahlah segala perasaan galau, gundah, gersang, dan gejala lain yang menderakan. Tidak ada di sekitar kebahagiaan itu perasaan was-was, apalagi khawatir akan sesuatu hal. Oleh karena itu, kebahagiaan sering dikaitkan dengan keadaan yang menyenangkan, keadaan yang tanpa tekanan dan tak membuat pikiran tak tenang.

Sejak saya mengenal makna kosakata kebahagiaan [sewaktu masih kecil], saya kerap kali berusaha untuk mencapai ketinggiannya [kurang asik, ganti nih kata-katanya]. Dulu, masa-masa SMP saya pernah merasainya. Duga-sangka saya ketika itu, mendapatkan nilai tertinggi dan menjuarai Olimpiade Matematika adalah sesuatu yang membahagiakan untuk orang seperti saya. Dengan menjadi yang terbaik di pelajaran aljabar, saya agaknya menjadi orang yang ambisius dan menghargai diri saya yang suka hitung-hitungan. Di kelas ketiga, kebahagiaan itu muncul ketika saya mewakili sekolah saya untuk mengikuti lomba Matematika se-Jakarta. Saya merasa sangat berharga menjadi seorang manusia, sesosok makhluk yang berpikir dan berkarya untuk masa depan.

Begitulah cerita saya akan sepotong kebahagiaan di masa sekolah menengah pertama. Satu hal yang mungkin kawan-kawan lain tak menghiraukan, tetapi menjadi berharga bagi diri saya. Peristiwa itu menjadi bagian dari kebahagiaan yang saya punya dan terbawa hingga saya tua.

Kehidupan saya berwarna setelah itu. Bermodalkan keyakinan dan kesederhanaan niat, saya melanjutkan studi di sekolah kejuruan. Saya belajar banyak dari sekolah teknik. Kerja sama, solidaritas, dan kebebasan adalah inti dari pembelajaran STM. Organisasi juga memberikan potongan credit atas pola pikir saya yang masih hijau. Waktu terlewati [ganti juga nih!], pemaknaan akan kebahagiaan sontak meluas dan agak berbeda dari sebelumnya.

Everybody is changing.

Saya percaya ungkapan itu. Begitulah saya, berkembang dan tumbuh menjadi manusia seutuhnya. Kebutuhan atas perubahan sangat diharuskan [ganti juga!]. Oleh karena itu, kebahagiaan yang saya yakini saat itu adalah “segala takdir dan kenyataan yang dapat kita terima keadaannya”. Ikhlas mungkin, bahasanya.

Usai menamatkan diri di STM, saya mulai bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di sekitaran Jalan Raya Pasar Minggu. Pandangan baru akan kebahagiaan pun mulai berkembang lagi. Saya yang tadinya merasa idealis, tersadar juga akan pentingnya rasa pragmatis. Bahwa adanya keseimbangan atas kegigihan mencapai puncak idealis itu ditandai dengan memasukkan unsur pragmatis dalam setiap rencana. Kebahagiaan, saat itu, bermakna “Kebahagiaan yang saya punya, juga beserta tindakan saya membahagiakan orang lain”. Dalam kalimat yang lain bisa dikatakan seperti ini, “Kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaan kita juga”.

Detik waktu terus berjalan, tidak berlari, tidak pula merangkak. Jarum jam berdetak tidak ke kiri jalan, ia konsisten melaju terus ke kanan. Hidup saya semakin berisi, terisi oleh banyak warna yang tak pernah saya lihat. Meski terus-menerus terisi dan dicekoki segala yang baru saya tahu, tetap saja otak manusia saya tak terasa penuh atau terluberi ilmu.

Dan tibalah saya di kampus UI. Saya mengambil jurusan yang tak begitu familier dengan orientasi banyak mahasiswa ketika itu: Sastra Indonesia. Jujur saja, saya saat itu tak pernah merasa ada yang salah atau apa dan bagaimana ketika mengambilnya. Padahal di belakang saya, orang-orang terdekat meragu dan merasa rancu atas apa yang saya pilih.

“Lu salah masuk?”

“Kok anak STM masuk sastra?”

“”

Dan pelbagai macam pertanyaan yang mempertanyakan.

Pertanyaan tahu-tahu muncul begitu saja, “Kuliah sebetulnya untuk apa, siapa, dan kenapa?”

Saya jadi merasa aneh sendiri. Sebetulnya, ada apa dengan sastra? Apa yang salah sehingga tak ada perhatian terhadap sebuah kata yang bermakna yang berwujud sastra? Orang-orang menjadi sosok yang tak berpihak atas ide saya. Saya merasa berdiri sendiri. Padahal, ketika itu, saya sungguh menemukan makna kebahagiaan atas pilihan saya.

Menjalani perkuliahan yang padat [ini akibat rutinitas kerja yang saya lakukan setelah usai waktu kuliah] membikin otak saya berputar lebih keras, lebih cepat dari putaran normalnya. Efek positifnya, saya menjadi doyan membaca buku-buku. Buku-buku macam apapun, berzangre apapun.

Pencerahan pun tak dapat terelakkan. Dunia baru, lingkungan baru, sistem baru, pergaulan baru; pemahaman baru. Meski hanya sedikit terasa, otak yang saya punya adalah otak yang berbeda dari beberapa tahun sebelumnya. Begitupun dengan hati, keluasan rasa telah merenovasi segala sekat-sekat pemberi iba dan menghantar sinyal cinta ke setiap makhluk di dunia. Saya menjadi pribadi yang baru, yang melihat dunia dengan sudut yang sama sekali berbeda.

Entah tercerahkan atau justru terkesan habis terbentur lemari kaca, saya sekarang adalah sosok orang yang sedang mengarah pada keterbukaan, humanis. Saya yang sekarang adalah orang yang sedang belajar untuk menjadi manusia seutuhnya,  memahami arti hidup dan menyesapi segala bentuk konstruksi-pikir manusia lainnya. Sampai di sini, saya memang belum mengetahui dengan pasti di mana letak sesungguhnya kebahagiaan. Tetapi apa yang saya yakini adalah, manusia berada di bumi untuk belajar tentang sesuatu dan belajar untuk memahami. Selesailah tugas manusia di bumi ketika ia tak belajar lagi. Phew..

Di manakah sesungguhnya letak kebahagiaan? Bukan di awal jalan atau permulaan petualangan. Bukan juga di balik ujian dan setelah berlalunya kesulitan. Kebahagiaan terletak bukan pada sistematika dan kronologi suatu tanda dan peristiwa. Ia adalah penunjuk rasa yang pasti ada di diri manusia—hanya saja kita terlalu keliru menafsirkannya. ——seseorang

_____

hu.ma.nis : orang yg mendambakan dan memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan asas perikemanusiaan; pengabdi kepentingan sesama umat manusia.
sumber: Kamus Bahasa Indonesia Online.

About these ads

4 thoughts on “Ungkapan Kebahagiaan

  1. setuju kebahagiaan ato kemanisan *bukan es teh* bukan di akhir, tapi lebih di saat proses itu sendiri, lagian ga seru amat kalo ujung2nya ‘pasti’ happy ending #abaikan #agakngawur.

    Manis akan terasa bila sudah mengecap yang pahit. >> mungkin konteksnya lebih ke ‘menghargai sesuatu’. takkan pernah tau apa itu manis klo ga pernah minum ekspreso *double pulak*, ga tau enaknya makan kalo ga pernah ngerasain puasa 2hari gara2 honor ga turun2 #inicurhat #abaikan, intinya gitu lah. tapi itu juga menurutku. entahlah.

    btw, aku di jakarta loh bang *so?!*

    • WHAT?! DI JAKARTA???? Hayuk main-main ke gramed matraman :D

      Iya, seolah-olah di ujung jalan sudah tersedia kebahagiaan. Padahal kalo melihat dari sudut yang berbeda, kebahagiaan juga ada di sepanjang jalan, meski terjal dan berlubang.

      Wew, tentang ‘menghargai sesuatu’, iya sih gua setuju banget. Mungkin maksud konteksnya begitu. Hehehe

      *apa pula ekspreso!!!! Ih, gak lagi2 gua coba kopi gituan, pait iya, mahal iya. DOUBLE, emang*

  2. damn. i really lucky to find this post.
    ooh, happiness would you come along with the poor who always try to reach you.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s