Tensi

24 March 2017 § Leave a comment

Enggak pernah gue sangka orang dengan riwayat tensi rendah kayak gue tiba-tiba aja dinyatakan 141/73.

Syok.

Ternyata musababnya adalah ibu-ibu yang nyelak antrean berobat gue yang pamerin urgensinya hanya gara-gara penyakit darah tingginya kambuh kebanyan makan jengkol semalem.

Sialan.

Cara menyimpan Foto Instagram (Resolusi Tinggi)

1 March 2017 § Leave a comment

Cara menyimpan foto instagram (how to save instagram photo) adalah sesuatu yang ngehits sekarang ini. Kebutuhan dalam memposting/membagikan ulang foto atawa gambar dari instragram adalah hal yang penting bagi sebagian orang namun menemukan caranya adalah sesuatu yang susah-susah gampang.

Kesulitan menyimpan foto instagram sudah kita ketahui sejak zaman instagram lahir. Penghormatan terhadap hak cipta adalah alasan utama. Faktor itulah yang menjadikan aplikasi berbagi foto ini booming dan digandrungi di seluruh dunia. Tentunya jika ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Di mana ada internet, di situ bisa diakal-akalin. Dalam era digitalisasi ini nggak ada yang nggak bisa. Pasti bisa! Cekidot.

Langkah-langkah menyimpan foto instagram:
1. Buka browser (peramban) lalu masuk ke laman instagram. Buka salah satu akun di instagram. Boleh akun diri sendiri, akun gebetan, atau bahkan akun mantan yang udah punya pacar baru. Gue sih buka akun @instagram aja untuk memudahkan. Pilih satu foto mana aja dari akun tersebut. Iya, bebas yang mana aja.

save-jpg-instagram

2. Setelah itu tampilan layar akan seperti di bawah ini. Pada tampilan ini, kita tidak bisa langsung menyimpan foto seperti yang diinginkan. Kalau ingin memaksa, untuk mempercepat proses, tekan saja tombol PrtSc (Print Screen) di kanan-atas keyboard. Tinggal copy-paste di aplikasi Paint, lalu crop dan di-save. Selesai.
Tapi jika ingin menyimpan foto dengan hasil yang definisi tinggi (HD), maka ada baiknya kita lanjutkan proses yang dari tadi udah nggak sabar kepingin saya uraikan. Phew…save-jpg-instagram02

3. Tekan CTRL + U yang fungsinya untuk menemukan “bahasa” atau dapat pula dikatakan rumus html di balik tampilan yang kita lihat barusan. Dengan background (latar) yang hanya putih, rumusnya akan sangat absurd dan tidak dapat kita pahami satu per satu (kalo mau maksa, gih sana baca!).
Walaupun sulit dimengerti, dapat dengan sederhana kita ketahui bahwa gambar yang kita inginkan adalah sebuah file yang memiliki format yang sama-sama kita kenal: JPG. Untuk memudahkan, cari file tersebut dengan bantuan CTRL + F dengan kata kunci “jpg“.  Enter! Hasilnya akan seperti ini. save-jpg-instagram03

4. Ketemu! Langkah selanjutnya adalah mengcopy-paste secara manual rangkaian link (tautan) yang berkaitan dengan kata kunci “JPG” tersebut. Salin link tersebut di tab baru browser, kemudian ENTER!save-jpg-instagram04

5. VOILA! Gambar hi-res dari foto tersebut muncul memenuhi layar. Simpan dengan mengklik kanan foto, lalu Save Image As…save-jpg-instagram05

6. Untuk mengecek apakah foto tersebut beresolusi tinggi atau tidak, kita dapat melihatnya dari Properties foto terkait. Klik kanan pada file foto >>> Properties. Dapat kita lihat bahwa resolusi foto itu mencapai 1080, yakni sudah tergolong Hi-Res.save-jpg-instagram06

Selamat mencoba. : )

 

Seoret Hipotesis dalam Pilkada DKI 2017

14 February 2017 § Leave a comment

Sebelum besok mencoblos, ada baiknya gue menyuarakan pemikiran dan pergulatan hepotesis yang gue piara selama ini. Penasaran batin atas konstelasi pemilihan kepala daerah gue ini membunuh secara perlahan. Seperti serotonin yang dicegah untuk dikeluarkan, membuncah ingin segera memuncrat ke segala arah. Ditahan bukan hanya ketika baru-baru ini, bukan dimulai dari beberapa bulan ajang kampanye pilkada DKI, melainkan sudah dari lima tahun lalu ketika Fauzi Bowo – entah wakilnya siapa (bisa dicari di google) akhirnya kalah oleh Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Berikut adalah hasil ekstraksi dari olah-pikir yang gue miliki. Mari simak.

Ketika itu banyak sekali orang-orang yang tidak percaya bahkan kaget, syok, serta panik bahwa pasangan calon nomor 3 itu memenangkan pilkada DKI (yang percaya dan tidak kaget pasti lebih banyak karena hasilnya membuktikan itu, yegak?). Kebanyakan adalah mereka yang mengimani Al Maidah ayat 51—yang kini sedang ngehits dalam tema kampanye. Gue salah satu orang yang ga kaget.

Mereka yang kaget dan panik pastinya nggak terima dipimpin oleh orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda dengannya. Pastinya kalang kabut. Hakul yakin! Satu sisi, mereka kepingin dipimpin oleh sosok yang seagama (nggak cuma gubernur, tapi juga wakilnya), di sisi lain mereka nggak punya kuasa yang cukup untuk melakukan hal-hal yang bisa menuntaskan hasrat tersebut. Mau makar? Kan ga mungkin.

Gue enggak kaget. Walaupun di atas kertas hasil pemilu 2009 di provinsi DKI menyatakan koalisi nomor 3 kalah suara dibandingkan nomor 1, tak membuat gue kaget dengan hasilnya. Banyak hal yang menjadikan hasil pilkada DKI 2012 itu sesuai dugaan gue. Cara-cara kampanye yang dilakukan selama pilkada adalah penyebabnya.

Kampanye adalah Marketing
Kampanye tiada lain adalah memasarkan orang. Satu adalah soal konten/isi. Dua adalah cara. Tiga adalah momentum. Konten penting. Kelebihan calon harus mengalahkan isu negatif tentang dirinya, program-program top harus diiklankan. Tapi cara-cara yang dilakukan dalam pilkada 2012 memberikan pelajaran yang seharusnya ditangkap oleh semua pasangan calon. Bahwa sekonyong-konyong mengatakan pilihan kita lebih baik daripada orang lain adalah cara marketing yang jauh dari kata baik.

Apa yang dicapai Jokowi – Basuki Tjahaja Purnama adalah buah dari marketing. Kalau pendukung pasangan calon lain tidak memahami itu, saat itulah mereka belum tahu bagaimana praktik marketing bekerja. Salah satu tema yang paling menonjol dalam kampanye adalah preferensi memilih pemimpin sesuai ajaran agama.

Dalam pilkada yang lalu, cara ini menurut gue termasuk blunder luar biasa. Dalam memilih, kita berhak memilih pemimpin sesuai ajaran agama masing-masing. Itu satu. Dua, kita berhak menyampaikan ke orang lain yang seagama untuk mengingatkan ajaran tersebut. Sampai di situ nggak ada masalah. Setiap orang mustinya terbuka dengan pendapat orang lain. Lalu menurut gue lagi, nih, jika mau orang lain ikut memilih apa yang kita sarankan, tidak perlu dengan memaksakan pendapat kita ke orang lain tersebut, sekalipun itu benar. Pada dasarnya, orang yang kita ajak bicara mungkin memiliki pendapat yang sama dengan kita. Dengan cara yang seperti itu justru membuat mereka tidak simpati. Pendekatan-pendekatan yang “pasti benar” tersebut akan sulit diterima walaupun sudah dipercayainya.

Setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda satu sama lain. Pengalaman hidup yang nir identik dan kilatnya informasi yang masuk begitu beragam dari masing-masing individu membuat kita tidak dapat menyeragamkan cara berkampanye. Ketika ada yang membawa ajakan memilih sesuai agama yang sama, bisa jadi ketidakselarasan fakta mengguncang keyakinan orang-orang yang mendengarnya. Satu sisi ada Al Maidah 51, di sisi lain, “Kok orang yang agamanya sama malah melakukan tindak kejahatan?”

Ketika pengampanye justru memberikan umpan balik yang frontal tanpa diskursus yang ramai konsep, melainkan “pendapat sayalah paling benar,” di situlah gang buntu yang menjauhkannya dari praktik kampanye.

Hipotesis Pilkada 2017
Gue menganggap orang-orang tersebut telah memahami dan belajar dari peristiwa itu dan akan melakukan perbaikan pada pilkada ini. Kekalahan itu sudah dilupakan. Semua preseden buruk telah dievaluasi. Segala kesalahan-kesalahan segera diperbaiki. Hasil pencalonan dari ketiga pasangan inilah wujudnya.

Berkali-kali gue punya bacot, “Udah deh jangan pada kampanye pakai sentimen agama, pasti hasilnya nggak sesuai yang diharapkan!”

“Kenapa sih nggak rembukan, buang ego, satukan visi-misi tanpa ingin memaksakan ambisi, ajukan 1 pilihan saja!?”

Agama sangat sensitif, pun suku, ras, serta antargolongan. Sudah bukan strategi yang bagus jika masih mengandalkan amunisi seperti itu. Gue lagi-lagi menganggap, pilkada kali ini mereka sudah belajar.

Secara teori, jika orang-orang tersebut betul belajar dari pengalaman (pahit), sekarang sudah memperbaikinya. Jika sudah, kenapa nomor 1 dan 3 seperti menggerogoti diri mereka sendiri untuk dikalahkan alih-alih menyatukan suara? Melihat calon nomor 2 dikerubuti seperti itu, rasanya kok seperti belum belajar?

Lalu gue berpikir, lagi, dan terus-menerus, melihat kembali kemungkinan-kemungkinan di masa depan, menganalisis keputusan yang sudah diambil sehingga menawarkan dua pilihan selain calon yang mereka tidak sukai. Apakah benar akan tercerai-berai lagi?

Bisa iya. Bisa tidak. Inilah hal ketiga yang mempengaruhi (ini gaya selingkung gue untuk memengaruhi, ga suka gapapa) dalam marketing: momentum.

Kebaikan pasangan calon memang harus ditunjukkan, tetapi ada pula yang sebaiknya tidak disinggung-singgung. Biarkan kebaikan itu muncul dengan sendirinya, seperti penokohan yang muncul dalam karya prosa yang bagus—tidak pernah dinarasikan, melainkan terlihat melalui tindak-tanduknya. Pun ada pula kebaikan yang harus muncul ketika saatnya tiba. Itulah yang dapat mempengaruhi kecenderungan pemilih dalam memutuskan siapa yang ingin mereka dukung. Pembawaan/karakter adalah salah satu contoh dari marketing. Maka, penokohan adalah momentum itu sendiri yang niscaya sangat berperan dalam keterpilihan.

Tidak ada yang pasti dengan hasil pilkada DKI. Melihat begitu banyak arus informasi yang lalu-lalang, sulit meniscayakan fakta yang dibaca, dilihat, dirasa masing-masing orang. Momentum ini bakal menjadi kunci atas kecenderungan pemilih. Orang-orang yang gue anggap sudah belajar itu, akhirnya mengimplementasikannya dalam dua pasangan calon.

Kalah Untuk Menang
Orang-orang ini mulai berpikir atas dua keniscayaan ini: nggak bisa menafikan sentimen agama dan nggak bisa menang langsung melawan nomor 2. Dua pondasi ini yang akhirnya mengurungkan niat mereka untuk mengajukan hanya satu calon. Secara teori lagi-lagi calon ini akan menang. Tetapi karena sentimen agama juga tak dapat dihilangkan dan akhirnya menggerogoti suara yang mendukung (anti-simpati), ujung-ujungnya kekalahan akan mereka dapatkan. Mereka akhirnya mencari cara alternatif, menimang pelbagai pilihan, dan akhirnya memutuskan: mencalonkan dua pasangan.

Mengusung dua calon alih-alih satu calon adalah kesengajaan. Konfrontasi pertama, secara pesimis, gue anggap mereka kalah suara. Pendukung nomor 2 kemungkinan masih banyak yang tidak terpengaruh atas sentimen agama yang makin besar animonya (semoga reda setelah pilkada). Ide-ide penantang masih kurang untuk mendominasi dan mengalahkan wacana yang ditawarkan kembali oleh nomor 2. Catet: masih kurang dominan, masih debatable.

Orang-orang ini pada akhirnya mengandalkan putaran kedua yang dianggap dapat memukul balik kekalahan yang terjadi di putaran awal. Momentum yang dijaga baik-baik dari jauh hari diharapkan membuahkan hasil yang berbeda dari usaha di pilkada sebelumnya. Menarik untuk melihat sepak terjang dari ketiga kontestan di pilkada DKI. Hasilnya, apapun, harus kita hormati sebagai pesta dari, oleh, dan untuk kita semua warga DKI.

Akankah?

Bajak Laut & Purnama Terakhir review

12 February 2017 § Leave a comment

Bajak Laut & Purnama Terakhir adalah novel teranyar dari pengarang komedi Adhitya Mulya. Dengan berlatarkan sejarah, novel ini bertutur soal masa kejayaan VOC di Nusantara pada masa silam. Banyak fakta menarik dan baru yang dapat kita pelajari hingga membuat kepala mengangguk-angguk seakan baru tahu dari novel itu. Dengan berbekal nama beken Adhitya Mulya sebagai pengarang favorit, akhirnya gue membeli buku ini dan segera membacanya.

Bagi gue, buku yang bagus itu harus enak dibaca. Buku apapun, mau buku nonfiksi, pengembangan diri, manajemen, tutorial, novel, bahkan buku pelajaran sekalipun. Khususnya novel. Novel yang bagus itu tanpa menyebut tokohnya jahat, pembaca tahu tanpa perlu dibilang tokohnya jahat. Tanpa butuh narasi berbelit dan menyertakan istilah rumit nan asing, pembaca tertarik dan penasaran untuk terus membalik halaman.

Sebuah kisah mustinya dituturkan dengan bahasa yang mudah dipahami pembaca. Bukan sebagai ajang pamer pengarang menunjukkan kebolehannya atawa pengetahuan tingginya tentang apapun yang ia ketahui lalu dibalut narasi di karyanya. Lebih buruk lagi jika penulis tersebut ternyata masih kurang referensi dan rujukan dalam detail si figuran yang sebetulnya ga penting-penting amat namun memegang peran penting atas pembangunan dari penokohan si tokoh utama. Nih, mana boleh kita bercerita seperti ini,

“Kecakapan, naluri dan pengetahuan dia akan bisnis dan militer, membuat dirinya cukup unik dan menjadi rising star dalam perusahaan. Pada suatu waktu, dia menjabat sebagai gubernur untuk loji V.O.C. di Koomandel.”

Gue tekankan: pada suatu waktu.

Novel sejarah menurut gue sulit sekali untuk dikisahkan. Jika membuat novel romantis macam Harlequin atawa penulisan popular yang latarnya adalah sekolah SMA boleh kita gunakan, “Pada suatu hari, kisah cinta Banu ditolak Ratih. Sejak saat itu ia terus berjuang walaupun berkali-kali ditolak hingga akhirnya malam ini gadis molek itu luluh juga.”

Kapan tepatnya Banu ditolak pertama kali oleh Ratih tak perlu jadi masalah. Nggak terlalu penting. Yang terpenting, Banu tak pantang menyerah hingga akhirnya ia berhasil menarik hati gadis pujaannya. Lain soalnya dengan novel sejarah. Butuh kesan yang mendetail mengenai kelakuan si tokoh. Setiap tindak-tanduk tokoh haruslah sespesifik mungkin karena pada momen itulah pembaca dapat melihat penokohan dengan jelas. Maka, tak perlu lagi dijelaskan dalam narasi bahwa si tokoh kejam, ambisius, atau apalah untuk tahu bahwa ia punya penokohan seperti itu. Yang harus dijelaskan adalah bagaimana kompetensi orang itu sehingga bisa menjabat sebagai gubernur? Apakah keputusan ini murni dari atasannya ataukah ada faktor lain? Momentum apa yang akhirnya membuat dirinya terpilih sehingga pada akhirnya kita tertarik padanya?

Penulisan yang seperti itu rupanya bukan hanya sekali. Pengarang membuat novelnya seperti kisah karangan esai ujian Bahasa Indonesia di SMP kelas 1,

“V.O.C. mengetahui bahwa Speelman, entah bagaimana caranya, berhasil mendapatkan bongkahan berlian yang sangat besar.”

Buat apa bikin narasi tapi pembaca dibuat garuk-garuk kepala dengan frase entah bagaimana caranya

Udah, sampai situ aja soal intrinsiknya.

Gue sepanjang ada VOC, selalu gatal kepingin banget membuka buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (bisa kita sebut juga dengan buku EYD). Kenapa ngotot harus pakai V.O.C. sih? Memangnya VOC sebegitu ga kerennya untuk ditulis? Atau kemungkinan sudah tahu yang lebih tepat itu tanpa tanda titik di setiap hurufnya, namun demi alasan gaya khas atawa mungkin selingkung gitu maka tetap menggunakan V.O.C.. Phew. . .

Ada pula soal tanda baca lain. Soal koma.

“Meneer, benar, yang bernama, Meneer Speelman?”

Bagaimana cara membacanya, coba? Kayak puisi jadinya. . .

“Meneer,

Benar,

Yang bernama,

Meneer Speelman?”

Keren!

Kalau gue kulik lagi, akan banyak hal lain yang unik-unik dari novel ini yang memunculkan kelucuan. Ajaib!

Kali ini Adhitya Mulya menyuguhkan novel dengan tema yang jauh berbeda dengan novel-novel karangannya yang sebelumnya. Katanya…

Novel ini berlatar sejarah dan tetap mengusung komedi sebagai ruhnya. Novel ini patut diapresiasi karena jarang-jarang ada novel yang menggabungkan sejarah dengan komedi di wadah yang satu. Jadi, wajar saja kalau yang kita rasakan di dalam wadah itu adalah air yang diharap dapat menyatu dengan minyak.

Kita tidak sepatutnya membandingkan karya seseorang dengan karya dirinya di masa lalu, kecuali dalam perbandingan itu terdapat kata-kata, “…jauh lebih menarik daripada karya sebelumnya.”

Soal komedi jangan ditanya, lah. Udah saatnya pengarang notice (asek ngenggres abes!) bahwa ini bukan Jomblo. Lumayan sedih gue bacanya kalo narasinya udah mulai ngelawak. Khawatir aja, takut ga lucu.

Masih jauh soal berbenah. Ada unsur-unsur yang tadinya tak dilihat, akhirnya diperhatikan juga. Itulah. Barangkali ada hal-hal yang kita tonjolkan tapi pada akhirnya tidak terlalu dianggap oleh orang lain. Pada akhirnya, setiap orang tidak akan selalu setuju atas tindakan satu orang. Baiknya kita terus belajar untuk lebih baik dari pencapaian sebelumnya.

Akhir kata:

Jomblo adalah original. Mencengangkan.

Gege Mengejar Cinta adalah masterpis. Tiada bandingan.

Trevelers Tale: Barcelona Belok Kanan! adalah pionir. Sebuah kenangan indah.

Mencoba Sukses jangan ditanyakan. . . skip.

Catatan Mahasiswa Gila adalah representasi. Nyata.

La La Land review

15 January 2017 § Leave a comment

Director: Damien Chazelle
Writer:Damien Chazelle
Stars: Ryan Gosling, Emma Stone, Rosemarie DeWitt

lalaland

Gue sedang membayangkan di satu hari yang biasa di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu enak kopinya tapi banyak orang pergi ke sana. Salah satu pelanggan yang memesan espresso double shot favoritnya pagi itu adalah seorang produser film Hollywood dengan para konconya untuk membicarakan ide-ide baru untuk pembuatan sebuah film bertemakan cinta di hollywood. Cinta yang biasa, dengan hal-hal tidak biasa di tiap adegannya. Diskusi ringan dengan efek yang bakalan tidak dianggap ringan di kemudian hari. Dimulailah diskusinya…

Produser 1, medioker: Dari awal sampai akhir semuanya senang-senang. semua happy! Penonton drakor cocok nih buat targetnya.

Produser 2, medioker pula: Dari awal sampai pertengahan bikin susah, tapi akhirnyakita buat yang happy ending. Penonton drama barat paling pas nih nonton tema begini.

Sutradara: Dari awal sampai pertengahan bikin kelihatan hepi semua, di akhir kita buat sempurna: sad ending. Penontonnya juri Golden Globes atawa Academy Awards pas banget nih!

Semua: SETUJU!

lalaland-feature

Bagi gue pribadi, dunia film memang nggak pernah bikin kisah cinta yang dibuat sempurna!

Hampir semua orang menginginkan akhir yang bahagia. Yang seperti itu bisa dicari di arsip Marvel, DC, juga Disney. Tapi penghargaan seperti Golden Globes atau Oscars tidak butuh akhir yang bahagia. Justru kalau perlu tragis sekalian. Maka, ketika La La Land hadir di layar-layar bioskop, penggemar si minoritas ini kegirangan bukan main.

*****

La La Land bukan hasil kreatif Damien Chazelle dkk dengan tujuan naif. Penghargaan merupakan target kesekian dengan mengutamakan ide-ide orisinal sutradara tentang jazz, girah bernostalgia yang terlalu melankoli, serta pertunjukan konsistensi terhadap estetika seni.

Film ini penuh dengan pujian gue atas tontonan yang memikat lagi menghanyutkan.

Damien Chazelle dan Jazz
Filmnya memang baru sedikit, tapi mostly nggak jauh dari musik Jazz. Whiplash, Guy and Madeline on a Park Bench, dan La La Land ini adalah tentang jazz. Jazz itu apa dan bagaimana, sejauh yang gue tahu adalah gue ga tau apa-apa soal Jazz, kecuali memberikan gelar Damien Chazelle sebagai si Bos Jazz. Sekian.

Melankolia Nostalgia
Apa yang ditunjukkan La La Land adalah sama dengan yang selalu kita lihat dalam film Bollywood. Film, drama, dan nyanyian. Sama. 100% guarantee! India memang kalau bikin film selalu musikal, tapi apa yang gue lihat berbeda adalah film Hollywood kini tidak ada yang seperti pola tersebut. Maka, La La Land menjadi begitu terperhatikan dengan gaya oldiesnya.

Kostum adalah satu hal dari banyak hal yang membikin kita merasa film ini begitu terpengaruh film lama. Kedua adalah latar yang jarang sekali menampilkan spot-spot kekinian, justru mobil dengan kap terbuka yang khas, seperti kisah gegayaan ala 70’an. Sutradara begitu berhasrat memunculkan kenangan nostalgianya hingga terlalu dibuat-buat.

Terlalu dibuat-buat karena acara nyanyi dan joget-joget itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan tokoh utama. Meski memulai film dengan menonjolkan figuran yang tiba-tiba menyanyi dan ujung-ujungnya tidak berkaitan sama sekali dengan keseluruhan plot adalah hal biasa digunakan Hollywood, bagi gue ini sudah terlalu personal. Dan efeknya jelas, Damien Chazelle terlalu melankoli untuk memulai sebuah film yang ia inginkan sejak lama untuk bernostalgia.

Estetis
La La Land mungkin menjadi satu dari film terbaik di tahun 2016 bagi pengamat film. Bagi gue pribadi, film cinta-cintaan Seb-Mia ini jauh gue nikmati sebagai keindahan dalam mempertontonkan film dengan sisi sinematografi yang menawan. Teknik yang bagus selalu hadir dengan garapan yang simpel-sederhana. Begitu sederhananya seperti kisah ini mengalir begitu saja tanpa perlu diperbantukan dengan arahan skrip—abaikan scene lagu Another Day of Sun. Cukup Ryan Gosling dan Emma Stone bercakap-cakap di depan kamera yang sungguh lihai mengambil sudut gambar (tentu dengan instruksi si Bos Jazz). Sempurna film ini.

Selain para pemain yang begitu ciamik menjadi sosok pecinta, serta sutradara tipikal film Oscars, serta sinematografi yang juara, gue pun mengapresiasi pemusik yang mengiringi adegan demi adegan sepanjang film.

Gila!

Rating:10/10

. . . sebuah akhir

31 December 2016 § Leave a comment

Tahun 2016 akan segera berakhir. Tahun yang berat untuk dunia perblogan gue. Nggak banyak yang gue tulis. Nggak banyak yang gue bagikan.

Dalam satu tahun ini, sudah 14 postingan dibuat (belum termasuk yang satu ini). Kebanyakan berisi diari hahaha. Diari yang gue tulis pun kebanyakan soal riwayat perjalanan dinas gue ke Medan. Sebuah kemunduran yang ga boleh gue tolerir! Huh.

Setahun ini nggak banyak hal menakjubkan. Justru cenderung kelam karena tahun inilah gue harus survive. Perjuangan menghidupkan kedua adik gue. Tapi gue tetap senang. Memiliki dua adik seperti mereka adalah hal yang membahagiakan. Anyway…

Selamat tahun baru!

 

Pertemuan Kali Ini

12 November 2016 § Leave a comment

Bapak sama ibu. Bapak berbaring di tempat tidur, sedang ibu berada di samping, seperti sedang menyemangatinya. Mereka berdua ternyata masih ada. Mereka belum pergi meninggalkan gue. Sontak gue tampar pipi gue untuk megitimasi kesadaran. Ini nyata, riil. Kurang yakin, gue usapkan tangan kanan ke ketiak kiri, lalu dekatkan telapak tangan ke hidung, memang ada aroma layaknya bau tubuh sepulang kantor.

Mereka ternyata belum meninggal. Imajinasi gue terkabulkan seperti dalam film-film! Hal-hal yang membuat gue yakin adanya dunia mata-mata dan sekitarnya.

Gue engga langsung mendekat, hanya pandangi lekat-lekat. Bapak seperti kelelahan, dan seperti biasa, yang menatap tanpa sepatah kata. Tatapan yang dalam, seperti hari-hari dulu yang gue ingat. Ibu pun begitu. Melihat gue dengan senyuman, hampir seperti cengiran yang biasa. Gejala yang ia lakukan saat akan menangis. Gue menolak melayangkan emosi secara membabi-buta hanya karena merasakan kenyataan yang begitu membahagiakan secara tak-terduga. Hanya melangkah sepelan mungkin, melihat kedua sosok yang begitu gue sayang.

“Lihat aku, ibu,” ucap gue.

“Belum setahun…” kata itu terputus oleh gerakan tiba-tiba ibu memeluk gue.

“Maafin ibu dan bapak ya, Gih.”

Ibu sangat emosional. Bapak lagi-lagi hanya menatap di kedalaman. Gue menahan isak. Belum saatnya.

“Ibu sama bapak minta maaf karena cuma sampai sini aja jagain Ogih. Maafin karena selama ini belum bisa jadi orang tua yang keren buat Ogih, Abil, sama Omih.”

Ga kuat. Gue koyak.

#####

Mimpi adalah hal yang aneh. Realitas yang terbentuk dalam pikiran di dalam fase tidur kita, entah fase ketiga atau keempat, membentuk kesadaran sintesis sehingga kita merasa hal tersebut menjadi nyata. Riil. Kita dibuat seolah melalui semua adegan demi adegan dalam bingkai pikiran.

Faktanya, itu tidak riil.

Meskipun nggak riil, kita sulit untuk menafikan bahwa kita mengingat mimpi sebagai kejadian utuh yang pernah kita “lakukan”. Sesuatu yang sulit gue percaya.

Untungnya, gue adalah orang yang sulit mengingat mimpi. Gue akan melupakan mimpi-mimpi yang terjadi jika lima menit setelah bangun tanpa mencatatnya. Lupa adalah salah satu kelebihan. Beruntungnya gue karena nggak perlu mengkhawatirkan hal-hal absurd di mimpi yang belum tentu jadi nyata. Banyak mimpi-mimpi itu otomatis masuk ke recycle bin otak gue sesaat setelah mandi pagi. Hampir semua. Kecuali mimpi malam ini.

####

Layaknya adegan dalam Inception, ketika Cobb menginisiasi Ariadne dalam proyeknya, mereka tiba-tiba berada di sebuah cafe. Bagaimana mereka bisa ada di sana? Tidak ada yang tahu. Begitu juga malam ini. Tahu-tahu sudah berada di dalam latar (ini dia! gue lupa ‘kan detail tempatnya, ga ditulis sih sedari awal) dan ketika di adegan selanjutnya melihat keberadaan mereka, gue syok.

Gue akui, menjadi orang tua tunggal bukanlah hobi gue. Bukan pula bakat turunan yang diberikan buat gue. Menjadi kakak sekaligus bapak dan ibu buat adek-adek gue adalah sesuatu yang nyata, riil tepat di depan mata. Mau semasa bodoh apapun, gue tetap memilikinya di kehidupan. Kehilangan sosok orang tua bukan satu alasan atas kesedihan.

Ketiadaan mereka adalah lubang menganga yang ada di hati. Ada rasa sedih yang menggunung, membebani pundak setelah ditinggal pergi. Ini menjadi pertanyaan seumur hidup.

Kenapa cepat sekali?
Kenapa tidak ada ucapan apapun ke gue? Kenapa pergi begitu saja?

Pertanyaan yang hanya membuat gue menangis.

Hingga tadi malam mereka datang.

Hingga akhirnya meminta maaf dan membuat gue merelakan semuanya. Melepaskan semua pertanyaan-pertanyaan menjadi pengisi hati yang telah lama berlubang.

Semoga ibu sama bapak bahagia di sana.

:”)