Run is Life-style

28 August 2016 § 1 Comment

Dari lama gue ga punya hobi yang benar-betul ditekunin, hingga beberapa tahun ini gue temuin: lari.

Gue adalah orang yang payah dalam olahraga. Postur pendek lagi kurus membuat gue minder untuk menjadi seorang atlet. Seperti hopeless aja gue bakal punya stamina yang on terus. Makanya gue mencari olahraga macam apa yang cocok buat gue dan mudah dilakuin: lari.

Di akhir bulan Agustus ini, terhitung udah dua tahun gue rutin lari. Yey!

Kenapa gue memilih olahraga lari?

Pastinya bukan karena ingin melenyapkan lemak di tubuh. Kalo dari segi fisik, gue termasuk yang berbadan kurus. Jadi, bukan karena alasan itu.

Salah satu sih karena alasan kesehatan. Gue termasuk orang yang sering sakit. Dalam setahun rata-rata gue bisa masuk angin atau flu atau bahkan demam sampai enam kali. Berarti, dalam dua bulan bisa dipastikan gue sakit. Sekarang ini, alhamdulillah di tahun ini gue baru kena sakit sekali. Hehehe

Selain karena kesehatan, gue juga mempertimbangkan metabolisme tubuh. Soal pencernaan, gue punya masalah. Sering banget B.A.B. keras saat dikeluarkan. Dan itu bisa dua hari lebih. Beda dengan sekarang yang bisa tiap hari.

Manfaatnya berasa banget! Banyak hal positif yang gue dapet. 
Makanya, gue mau bikin lari sebagai hobi gue. Bakal jadi gaya hidup. 

Sehat itu mahal, lari itu engga.

Nyaris

14 August 2016 § Leave a comment

“Abang jadi pergi ke Medan?”

Pertanyaan basa-basi adek gue yang perempuan lewat gitu aja di otak gue. Malem-malem gini malah nanya yang retoris. Dalam hati gue bales, “Yaiyalah jadi. Masa duit kantor dibuang-buang.

Crap! Setelah mencerna ulang kata-katanya, baru sadar bahwa gue udah ketiduran. Cepet gue cari hape, ternyata udah jam 4 dan udah setengah jam lebih terdisplay riwayat miskol nomor tak dikenal sampai 10 kali. Pasti ini nomor ponsel sopir taksi yang udah gue pesan kemarin buat jemput.

* * * * *

Sejak rajin menenggak kopi, gue jadi insom-addict. Tiap malam adalah jam melek gue. Insom adalah penyakit. Dan gue sering banget telat gara-gara harus membuka mata semalaman untuk tidak berbuat apa-apa. Gue coba untuk bisa tidur dengan main PES. Kadang berhasil, sisanya bikin gue tambah susah merem. Gue juga coba nonton film atawa serial tv, hasilnya adalah gue justru berhasil mengusir ngantuk. Hanya dengan lagu-lagu di playlist spotify aja yang melulaby hingga gue bisa pulas. Thanks to sptfy! *semoga marketingnya liat postingan gue ini dan dianggap endorse.

Efek sampingnya, gue banyak bangun siang dan terlambat sampai kantor. kadang gue paksain ngebut untuk ngejar jam masuk supaya ga kena potong cuti. Tapi seringnya gue relain aja, iklasin cuti gue disunat buat kompensasi keteledoran gue. Af! Bagian terlambat masuk kantor masih belum seberapa. Yang parah adalah kalo sampai telat check in flight pesawat. Kerjaan gue emang nuntut untuk kunjungan luar kota, ke Medan. Untuk pergi ke sana, gue diharuskan mengambil jadwal maksimal jam 6 pagi! Alhasil, gue harus prepare 2-3 jam agar gue ga ketinggalan. Gue butuh bangun jam 3 pagi, coba! Insom ini akhirnya memperparah scenario bangun siang gue.

Gue dibuat serba-salah. Dengan kondisi tidur yang ga bisa di bawah jam 9 malam, udah bisa dipastikan gue bangun siang. Jangankan bangun jam 4, jam 5 aja gue ragu. Pilihan lainnya adalah semacam bunuh diri, tetap bangun semalaman hingga duduk dengan kencangkan safety belt di pesawat yang pada akhirnya mengacaukan kesadaran gue selama trip di Medan. Badan ga sehat, otak senewen. Parah. Pilihannya ga ada yang beres. Keduanya sama-sama bikin stress.

Gue lebih milih begadang. Milih bunuh diri. Biarin. That’s better than killing myself and my boss in one punch. Daripada kesiangan dan angusin tiket Jakarta-Medan PP sekaligus voucher hotel yang capek-capek dipesan sekretaris bos, mending gue begadang.

Dan malam ini gue berniat untuk begadang. Lagi.

Seperti biasa, gue tonton berepisode-episode serial dan bermatch-match PES. Keduanya favorit bikin gue melek terus. Sialnya, malam itu gue tertarik buat download beberapa film bagus. Memang kecepatan akses Indosat Ooredoo udah meningkat pesat. Dan gue suka itu! Tetapi banyaknya film yang gue sedot, bikin kecepatannya terbagi banyak pula. Dan alhasil bikin gue malas menunggunya, dan akhirnya bikin gue mengantuk…lalu pulas tertidur.

FAK!

Gue panik. Saat itu gue udah panik sepanik paniknya. Ngerasa bersalah sama sopir taksi. Buru-buru gue telpon balik nomor yang udah miskol itu, dan bukannya minta maaf gue justru syok dan nahanin gelak tawa. Suaranya medhok.

“Bhapak’e dhi mana? Hhalok? Shayya uddah tilpon bhapak’ berkali-kali gha diangkat.”

Syit! Ga jadi gue minta maaf. Sepanjang perjalanan suara itu ga ilang-ilang dari kepala. Dan sampai sekarang, hingga gue ceritakan di blog ini. . .

hermes

Stok Bulanan

24 July 2016 § Leave a comment

Bulan ini hampir saja absen bikin tulisan. Layaknya detergen Attack + pengharum Downey, kekosongan stok dalam sebulan selalu membuat gue ingin menulis. Apapun. Inilah dia!

Bulan Juli adalah bulan spesial. Bulan inilah gue ultah. Juga pacar. Juga aniv jadian kita. Kiw!

Semuanya jadi di satu bulan.

Senang rasanya bisa sama-sama hingga kini. Kita itu tim. Sesama anggota tim selalu saling dukung. Saling percaya. Saling bisa nerima. Walaupun kita berdua juga sebagai manusia; engga selalu saling. Kadang ada konflik internal, eksternal, lahir, bathin, ghaib. Itu pasti ada. Tapi selama masih satu visi, kita kompak.

Sekarang kita bukanlah apa-apa. Dibanding yang udah berpasangan, for real. Dibanding yang udah punya buntut, berekor satu maupun dua. Dibanding mengutarakan pertanyaan retorika, lebih baik dibisikan doa.

Semoga. Segera. 
Kesayangan -> @nuriamalia.

Tak Lagi Sama

6 June 2016 § Leave a comment

image

Bulan puasa bagi gue terasa sangat spesial tiap tahunnya. Di bulan inilah gue merasa lebih dekat dengan keluarga. Kebersamaan dengan mereka selalu gue tunggu-tunggu. Terutama bersama-sama orangtua.

Tahun ini adalah kali pertama menjalani puasa tanpa kehadiran kedua orangtua. Sakit. Ketika mengingat apa yang tengah terjadi, rasanya mengulang momen-momen kehilangan itu. Di mana gue harus merelakan mereka pergi jauh dari gue.

Mereka adalah idola gue. Sejak kecil, sulit ngelakuin rutinitas harian kecuali melihat bagaimana mereka show off di depan gue. Gue suka baca karena bokap. Gue lumayan supel karena nyokap. Gue suka ngayab kayak bokap. Gue sering bercanda karena nyokap. Gue suka sambel karena pedas adalah favorit bokap. Gue ketagihan sambel karena tiap harinya di meja makan selalu terhidang sambel bikinan nyokap. Kisah hidup gue begitu sempurna.

Ada bokap, gue jadi lebih pengen tahu sesuatu. Ada nyokap, gue jadi lebih ingin berbagi sesuatu. Mereka baik, mereka anugerah. Makanya, bulan puasa adalah momen gue buat ambil sifat baik mereka.

Dan kini, di bulan ramadan yang terasa datang begitu lekas, gue harus berpuasa tanpa mereka. Seperti ada yang lepas dalam hati gue.

Kini, kisah itu tak lagi sama. . .

Backpacker Pulau Pahawang

20 May 2016 § 4 Comments

image

Snorkeling Trip kedua setelah Pulau Tidung.

Pahawang termasuk salah satu spot pemandangan bawah laut favorit. Banyak orang ngomongin pulau ini. Better than Tidung-kah? Let’s see!

Persiapan gue adalah 3 helai T-shirt, 3 celana pendek, sepasang sepatu dan sendal, handuk, sarung, dan perlengkapan mandi yang muat dalam satu ransel. Ga lupa cemilan untuk isengan di jalan.

Perjalanan dimulai di kantor pacar, sekitar Kebon Jeruk. Sekitar setengah 9 ada bus yang ke pelabuhan. Udah penuh walopun masih bisa berdiri. Kepingin naik, tapi keneknya maksa naik. Ragu.  Nah, berhubung slogan gue adalah, “Jangan beli sama orang yang maksa-maksa jualan,” maka gue pun urung masuk bus dan memutuskan untuk menunggu bus berikutnya. Setengah jam berlalu, bus yang ditunggu nggak kunjung datang. Beberapa menit yang serasa sejam lebih, akhirnya bus penuh sesak dari Bekasi datang, memaksa gue duduk di papan yang didesain khusus di atas bangku penumpang paling belakang. Berangkat jam 9 lewat, sampai terminal jam 12.15. Ujung-ujungnya gue nyesel ga naik bus sebelumnya.

Inilah perjalanan kapal feri pertama gue. Gue baru tahu, naik feri ternyata semudah naik Commuter Line. Bahkan lebih mudah (mengingat antrean tiket harian berjaminan di Manggarai selalu bejubel). Juga semurah itu juga. Beli tiket perorangan di loket hanya Rp13.000. Murah.

Harga reguler adalah kelas ekonomi. Kalo mau naik kelas bisnis, tambah Rp10.000. Gue prefer masuk bisnis, ruangannya adem ber-AC. Naik kapal feri 3 jam jadi ga terlalu sumpek. Perjalanan sebenarnya hanya 2 jam, ditambah dengan waktu unloading dan loadingnya aja jadi nambah 1 jam.

Gue belum pernah ke Pahawang. Setelah lihat peta dari google dan perkirakan jaraknya, ternyata Pulau Pahawang jauh bener, bok!

maps pahawang

Lokasi Pulau Pahawang

Pahawang jaraknya sekitar 7 jam dari Pelabuhan Merak. Setelah kapal feri, perjalanan dilanjutkan dengan transportasi darat. Sampai di Bakauheni jam 3 pagi. Mobil Elf berisi 13 kursi penumpang dan seorang sopir sudah menunggu di parkiran.

Sopir Elf ini rupanya tipikal Sopir Lintas Sumatera. Sepanjang jalan ngebut dan nyelip kendaraan di depannya. Di luar waktu istirahat sekitar 15menit untuk solat, perjalanan ke Pelabuhan Ketapang ditempuh selama 3 jam. Selama 3 jam digas terus baru sampe, gimana yang ngendarainnya woles? Ck.

Perhitungan jarak di Pulau Sumatera tidak sama dengan di Jakarta. 20Km di ibukota tidak sama dengan 20Km di Lampung. Di Jakarta, jarak ditentukan dari macet-tidaknya jalan yang dilewati. di Jalan Lintas Sumatera, jalan dihitung dari kondisi aspal. Sebagian besar jalan menuju Pulau Pahawang memang sudah bagus, tapi ada beberapa area yang dilewati berlubang.

Soal ngebut mungkin udah lumrah kalo di jalan lintas sumatera. Yang gue garis bawahi adalah jalan menuju ke checkpoint selanjutnya ini ada jalan berlubangnya dan sang sopir seperti kurang aware, khususnya dengan keselamatan penumpang. Gila cara ngendarainnya. Ajlug-ajlugan. Bahaya.

Catatan untuk sopir elf selain ngebut: sekitar 15Km sebelum sampai dia ngeluh ngantuk. Minta digantiin, coba!? Dikira trip ginian main-main. Ga ada persiapan, ga ada kenek buat cadangan sopir. Parah. Untung Singgih sang Guide bisa nyupir dan berani. Parah bener.

Sesudah Singgih membuat Elf seperti wahana Kora-Kora (gue rada ngeri-ngeri sedep disopirin dia hahahah), kita istirahat terlebih dahulu di rumah warga kontakan Singgih di Pelabuhan Ketapang. Nyarap nasi goreng. Ini makan pertama kita. Setelah itu dilanjutkan dengan kapal tongkang ke Pahawang.

image

Pelabuhan Ketapang tidak terlalu besar, dengan kapal-kapal tongkang yang bersandar untuk transportasi di sekitar pelabuhan. Terdapat beberapa pulau lain yang pintu masuknya melewati Ketapang. Pahawang dan Kelagian termasuk di antaranya.

image

image

Ketapang ke Pulau Pahawang nggak sampai 1 jam. Nggak terlalu jauh ketimbang Angke ke Tidung. Lumayan dekat. Homestay kita di pinggir pantai. Tepat di depan bebatuan pembatas pantai. Kapal tongkangnya pun bersandar di depan rumah.

Rumahnya nyaman. Berisi masing-masing satu ruang tamu dan keluarga, dan sepasang kamar tidur serta kamar mandi. Di belakang terdapat dapur yang disisipi area cuci piring. Homestay yang siap huni ini tergolong lengkap perlengkapannya, walaupun gue harus puas nempatin area ruang keluarga untuk istirahat. Dua kamar untuk 10 cewek, dan gue serta Singgih berbagi kasur tipis. Haha.

Fyi, Pahawang nggak terjamah PLN, loh. Energi utama di sini pakai Panel Tenaga Surya; genset sebagai cadangan. Dengan keterbatasannya, penggunaan listrik pun juga dibatasi. Lampu dan colokan baru aktif jam 6 sore sampai 6 pagi. Selebihnya harus puas dengan powerbank.

Snorkeling
Setelah beberes barang-barang dan ganti kostum, gue langsung caw ke kapal. Cus kita snorkeling-an! Ada dua hal concern gue. Dua hal yang bikin gue khawatir saat berenang: dingin dan tenggelam. Sepertinya kali ini keduanya engga hadir. Garam dan cuaca tropis nyelametin gue. Hari ini aman buat snorkeling.

Di luar itu, ada dua hal yang bikin gue pengen ke Pahawang: lumba-lumba dan nemo. Keduanya bakal gue cari sampe ketemu!

Sejauh yang gue ingat, spot snorkeling yang gue kunjungi sebanyak 4 tempat. Dua di hari ini, dua lagi di esoknya. Dan keempatnya nggak gue ingat nama tempatnya hahaha.

Di spot pertama, gue nggak butuh pemanasan. Langsung nyemplung! Seger! Hahaha

image

image

Sesiangnya, kita istirahat dulu di sisi lain pulau pahawang untuk makan siang pakai nasi boks yang udah disiapin tim homestay. Lauknya seperti yang sudah diduga: ikan. Ini makan kedua. Sebelum melanjutkan ke spot selanjutnya, gue dan pacar keliling sekitar pulau. Viewnya bagus.

IMG_20160514_123500_HDR

image

Setelah itu, pencarian nemo dilanjutkan di spot kedua. Sayangnya, baik di spot pertama dan di sini belum gue temukan ikan lucuk itu. Balik sorenya hampir pulang dengan tangan hampa, kalau aja hasil foto-foto bawah lautnya nggak seperti ini…

image

image

image

Puas snorkeling di hari pertama, kita balik untuk bilas-bilas. Sesampe di homestay, gue ga mungkin bisa langsung mandi. Ga mungkin dengan keberadaan ciwi-ciwi rempong yang sedari berangkat snorkeling udah ngejatahin sendiri urutan pakai kamar mandi. Jelas, gue dapat antrean terakhir.

…nunggu mereka sampai pules ketiduran dengan badan yang masih keasinan sama air laut.

Setelah mandi, kita dapat jatah makan ketiga. Ada telor disambelin, kerupuk, timun, dan udah pasti ikan (yang juga disambelin).

Setelah itu acara bebas aja. Ada yang istirahat di kamar, juga di ruang keluarga dan tamu. Bebas. Yang enggak bebas adalah penggunaan sinyal di sini.

Pahawang hanya ada sinyal Edge untuk paket data. Tiada lebih. Indosat, ataupun Telkomsel sama aja. Dapet E doang. Hanya kadang XL dapat 3G di sana. Axiata lumayan bagus untuk akses internet di sekitar Pahawang, entah kenapa. Jadi, selain hemat baterai, smartphone di sana juga harus hemat sinyal.

Kalo ada sesi makan yang gue suka, barbekyuan adalah yang menurut gue favorit banget. Sedap.

Ikannya enak banget. Kematangannya pas banget, suka dengan tekstur dagingnya yang empuk dan kenyal tapi nggak rapuh. Bumbunya juga nyatu sama aroma laut di tubuh ikannya. Yang paling klimaks adalah bumbu kecap-rawitnya! Gile, pedasnya gue banget! Sebagai pencinta pedas, gue merasa beruntung banget diBBQin ikan dengan sambel kayak gini. Terharu saking enaknya.

Temen-temen yang lain pun ngerasa ketagihan sama ikannya. Terutama sotongnya! Legit. Juara lah bakar-bakaran malamnya! Nagih abis.

Selepas makan ikan bebakaran, rupanya gue nggak inget lagi apa yang gue lakuin di malem itu. Bangun-bangun gue udah berebutan kamar mandi untuk ambil wudhu. Udah pagiii.

image

Suka banget sama pagi di Pahawang. Berasa banget damainya. Seperti jauh dari kebisingan rutinitas pekerjaan, yang sukanya nuntut keburu-buruan agar kerjaannya cepat selesai. Beda banget di sini yang penuh dengan ketenangan jiwa. Layaknya ngecharge kebahagiaan untuk beberapa waktu ke depan. Hahaha

image

Setelah bersih-bersih pagi dan sarapan (makan ketiga), akhirnya kami berkemas. Dari sini, snorkeling ketiga dan keempat dilakukan dengan membawa tas dan perlengkapan kita. Semuanya ditaruh di kapal, tanpa kebasahan. Guaranteed!

image

Akhirnya di spot ketiga inilah gue menemukan ikan nemo. Lucu. Ikannya gesit dan sulit dikejar. Terpaksa ditangkap untuk nantinya cepat-cepat dilepas lagi.

Di spot terakhir, inilah klimaksnya, gue nemu si nemo dan bokapnya! Gile, lucu banget! Girang banget pas mergokin mereka berenang cantik di bawah sana. Hahaha.

image

image

Setelah puas snorkeling (sejujurnya, gue belom puas. kurang! mau lagi!), gue dan pacar bebilasan di pulau kelagian. Dan foto-foto. Setelahnya, balik ke Pelabuhan Ketapang.

image

Sampai Ketapang jam 12 siang. Di sini makan udah di luar tanggungan. Bayar masing-masing.

Perjalanan balik pun sama dengan berangkat, 3 jam sampai Bakauheni, kemudian 3 jam lagi hingga Merak, dan sekitar 4 jam hingga rumah masing-masing. Seharusnya sampai di rumah jam 10-11 malam. Namun ada insiden hingga perjalanan molor hingga 4 jam.

Sang sopir Elf telat. Saat ditelpon sejam kemudian, ia bilang rem blong. Setengah jam kemudian katanya mogok mesinnya. Dan beberapa saat kemudian alasannya berubah: ada urusan keluarga mendadak. Tanpa tanggung jawab, tanpa backup. Saat itu, Singgih udah kasih pembayaran full.

Sopir yang biasa/langganan sedang full hari itu, maka dia rekomendasikan temannya. Dan seperti itulah. Masing-masing orang emang nggak bisa dipukul rata. Temannya orang baik belumlah tentu orang baik juga. Pengalaman seberharga perjalanan kali ini.

Untungnya, singgih nggak lepas tangan. Dia cari lagi carteran hingga pada jam 4 lah kita baru pamit dari Pelabuhan Ketapang. Setelah beli oleh-oleh di jalan dan kemudian naik feri jam setengah 8, kita sampai di Merak jam 11 malam. Sampe rumah jam 3 kurang dikit.

Bagi gue, perjalanan adalah keseluruhan cerita yang gue serap dan rasakan saat pergi ke tempat baru. Memaknai sesuatu yang asing serta berbeda, belajar hal-hal yang tidak kita duga. Semuanya adalah satu paket dalam suatu trip. Gue menikmatinya, gue kepingin seperti itu lagi.

…nagih.

Hijau-Kuning-Ijo-Nguning

2 May 2016 § Leave a comment

Tiap kali ke Medan, ada aja cerita seru yang gue dapat selepas pergi dari sana. Entah itu soal rebutan kursi pesawat, mabok duren selosin, sampe cerita cerita serem selagi gue di hotel. Kali ini soal kota Medan tho’ yang gue lihat setiap muter-muter di jalan kota.

Jigile, banyak bet bangunan atawa tempat-tempat yang dicat dengan warna kuning-hijau.

Gue udah melihat banyak kota di Pulau Jawa. Melihat bagaimana wajah yang terlihat dari warna dominan pada satu-dua detail yang menjadi ciri-ciri kota tersebut. Gue udah hapal betul Jakarta. Bandung, Jogja, Bali, Banten (kota?), dan Bogor pun sempat gue identifikasi tampangnya. Kreasi warna pada kota tersebut cenderung biasa aja. Jika ada warna dominan, paling-paling hanya terlihat pada kota Jakarta.

Jakarta sudah kita kenal dengan dominasi warna oranye. Berbasis warna kebangsaan Belanda, pengaruh oranye terasa sekali pada warna dasar instansi semisal seragam tenaga kebersihan sejak dahulu kala. Akan mudah kita temui mobil-mobil dengan petugas berwarna jingga di jalan-jalan kota pada awal pagi. Banyak memang pengaruhnya.

Tapi cuma sampai situ. Tempat-tempat lain mungkin ada, tapi banyak variasinya dan tidak dominan.

image

Medan adalah kota terjauh yang pernah gue kunjungi. Selama ini, gue selalu melihat sebuah kota penuh dengan warna yang biasa, tidak nyeleneh, serta tidak identik.

image

Di medan, gue akan dengan mudah melihat kombinasi warna pisang-ijo berjejeran di mana-mana. Di jalan, di trotoar, di pot taman, di tiang-tiang jembatan, di dinding cafe, bahkan di penutup area terbuka pun sama. Begitu dominannya warna kuning-hijau di kota Medan ini sampai-sampai gue bertanya dalam hati, “Punya utang apa Medan kepada warna Hijau-Kuning?”

image

image

image

image

image

image

I can’t handle that ijokuning stuff. :O

Meluangkan Kesadaran (edisi ga sadar)

28 April 2016 § Leave a comment

Sepagi-pagi ini gue udah ngejogrog di Terminal 1C. Biasa, tugas negara. Flight ke Kualanamu pukul 6.05 nanti. Mata udah sayup-sayup pengen merem aja bawaannya. Efek begadang. Berhubung gue orangnya mbablas kalo tidur, suka kesiangan kalo bangun, jadilah gue melék semaleman demi menjaga pikiran dan mata tetap sadar. Alhasil, sekarang gue kriyep-kriyep nunggu senderan kursi Batik Air.

Siyalnya (atau mungkin bagusnya?), gue udah datang 2 jam sebelum boarding. Crap! Sekarang bingung mau ngapain. Maunya tidur di waiting lounge. Mau. Banget. Tapi inget cerita supir taksi yang pernah antar penumpang pasca ditinggal terbang rasanya gue kudu waspada dan cenderung was-was. Jangan sampai udah datang kepagian ujung-ujungnya malah ketinggalan pesawat gegara ketiduran. Nyesek, bruh.

Dan voila! Gue sekarang nulis ga jelas cem ginian supaya bisa tetap mlotot demi sarapan hangat dari awak manis tipikal berambut bondol khas Batik Air.

Doh, mulai kabur kesadaran. Ngantuk abis. Semoga aja perjalanan kali ini lancar dan menyenangkan. Hehehe

PS: Crap again! Ternyata gue dapet kursi jendela di pintu darurat. Kumaha aing? Lem mes sepanjang perjalanan mikirin jendelanya kebuka sendiri trus nerbang-nerbangin orang di dalam pesawat termasuk gue.