Pertemuan Kali Ini

12 November 2016 § Leave a comment

Bapak sama ibu. Bapak berbaring di tempat tidur, sedang ibu berada di samping, seperti sedang menyemangatinya. Mereka berdua ternyata masih ada. Mereka belum pergi meninggalkan gue. Sontak gue tampar pipi gue untuk megitimasi kesadaran. Ini nyata, riil. Kurang yakin, gue usapkan tangan kanan ke ketiak kiri, lalu dekatkan telapak tangan ke hidung, memang ada aroma layaknya bau tubuh sepulang kantor.

Mereka ternyata belum meninggal. Imajinasi gue terkabulkan seperti dalam film-film! Hal-hal yang membuat gue yakin adanya dunia mata-mata dan sekitarnya.

Gue engga langsung mendekat, hanya pandangi lekat-lekat. Bapak seperti kelelahan, dan seperti biasa, yang menatap tanpa sepatah kata. Tatapan yang dalam, seperti hari-hari dulu yang gue ingat. Ibu pun begitu. Melihat gue dengan senyuman, hampir seperti cengiran yang biasa. Gejala yang ia lakukan saat akan menangis. Gue menolak melayangkan emosi secara membabi-buta hanya karena merasakan kenyataan yang begitu membahagiakan secara tak-terduga. Hanya melangkah sepelan mungkin, melihat kedua sosok yang begitu gue sayang.

“Lihat aku, ibu,” ucap gue.

“Belum setahun…” kata itu terputus oleh gerakan tiba-tiba ibu memeluk gue.

“Maafin ibu dan bapak ya, Gih.”

Ibu sangat emosional. Bapak lagi-lagi hanya menatap di kedalaman. Gue menahan isak. Belum saatnya.

“Ibu sama bapak minta maaf karena cuma sampai sini aja jagain Ogih. Maafin karena selama ini belum bisa jadi orang tua yang keren buat Ogih, Abil, sama Omih.”

Ga kuat. Gue koyak.

#####

Mimpi adalah hal yang aneh. Realitas yang terbentuk dalam pikiran di dalam fase tidur kita, entah fase ketiga atau keempat, membentuk kesadaran sintesis sehingga kita merasa hal tersebut menjadi nyata. Riil. Kita dibuat seolah melalui semua adegan demi adegan dalam bingkai pikiran.

Faktanya, itu tidak riil.

Meskipun nggak riil, kita sulit untuk menafikan bahwa kita mengingat mimpi sebagai kejadian utuh yang pernah kita “lakukan”. Sesuatu yang sulit gue percaya.

Untungnya, gue adalah orang yang sulit mengingat mimpi. Gue akan melupakan mimpi-mimpi yang terjadi jika lima menit setelah bangun tanpa mencatatnya. Lupa adalah salah satu kelebihan. Beruntungnya gue karena nggak perlu mengkhawatirkan hal-hal absurd di mimpi yang belum tentu jadi nyata. Banyak mimpi-mimpi itu otomatis masuk ke recycle bin otak gue sesaat setelah mandi pagi. Hampir semua. Kecuali mimpi malam ini.

####

Layaknya adegan dalam Inception, ketika Cobb menginisiasi Ariadne dalam proyeknya, mereka tiba-tiba berada di sebuah cafe. Bagaimana mereka bisa ada di sana? Tidak ada yang tahu. Begitu juga malam ini. Tahu-tahu sudah berada di dalam latar (ini dia! gue lupa ‘kan detail tempatnya, ga ditulis sih sedari awal) dan ketika di adegan selanjutnya melihat keberadaan mereka, gue syok.

Gue akui, menjadi orang tua tunggal bukanlah hobi gue. Bukan pula bakat turunan yang diberikan buat gue. Menjadi kakak sekaligus bapak dan ibu buat adek-adek gue adalah sesuatu yang nyata, riil tepat di depan mata. Mau semasa bodoh apapun, gue tetap memilikinya di kehidupan. Kehilangan sosok orang tua bukan satu alasan atas kesedihan.

Ketiadaan mereka adalah lubang menganga yang ada di hati. Ada rasa sedih yang menggunung, membebani pundak setelah ditinggal pergi. Ini menjadi pertanyaan seumur hidup.

Kenapa cepat sekali?
Kenapa tidak ada ucapan apapun ke gue? Kenapa pergi begitu saja?

Pertanyaan yang hanya membuat gue menangis.

Hingga tadi malam mereka datang.

Hingga akhirnya meminta maaf dan membuat gue merelakan semuanya. Melepaskan semua pertanyaan-pertanyaan menjadi pengisi hati yang telah lama berlubang.

Semoga ibu sama bapak bahagia di sana.

:”)

A Monster Calls [review]

21 October 2016 § Leave a comment

mv5bmtg1ota5otkynv5bml5banbnxkftztgwodmwndu5ote-_v1_sy1000_sx675_al_Dulu, gue ngerasa fase kehidupan laki-laki berkisar pada masa-masa balita, lalu anak-anak, kemudian remaja, tidak lupa menjadi alay, dan yang terakhir adalah dewasa seutuhnya. Anekdot masa kini. Ternyata ada yang ngelewatin masa itu tanpa fase alay.

Banyak cerita-cerita fantasi yang menyuguhkan kisah happy ending. Si protagonis dianiaya antagonis, prota tak dapat berbuat apa. Kisahnya tragis, yang pada akhirnya memunculkan sang jagoan untuk menolongnya dari kekejaman. Semua adalah tentang kenyataan yang ingin kita dengar.

Bukan realitas.

A Monster Calls dimulai dengan narasi sederhana. Seorang anak kikuk yang tampangnya minta dibully oleh kawan sekolahnya hidup bersama seorang ibu–single parents. Sang ibu terserang kanker. Bukan kanker amateur, melainkan stadium akhir yang bisa saja tiba-tiba kolaps. Situasi yang memungkinkan persona seorang bocah 12 tahun menjadi aneh dan rentan. Dan besar tanpa saudara kandung.

Malam demi malam dihabiskan dengan memimpikan hal yang sama. Buruk. Berulang. Serta Bersambung…

Con–nama anak itu–bukan seorang anak yang memiliki kekurangan, apalagi keterbelakangan. Justru sebaliknya, Connor mempunyai sisi yang orang lain tidak punya: humanis. Perasaan untuk menjadi manusia seutuhnya, berguna bagi orang lain. Hanya ketika di depan ibunya ia menjadi orang yang tak berdaya. Ada ketakutan di dalam matanya, saat ia melihat kondisi ibu. Sedih bukan alang-kepalang.

Hidup adalah rentetan peristiwa, kadang acak, sering kali justru berkelindan, yang sulit orang sadari maknanya. Tak jarang ada yang menyeru, “Hidup itu tidak adil!” Perasaan yang tak nyaman karena nasib baik tak memihak dirinya, tersiar dari ucap yang merasa dirinya paling benar.

Film ini mengangkat nilai-nilai terpuji dari cerita pahit. Ada sebuah proses belajar seorang remaja yang dipaksa–atau menurut istilah gue diakselarasikan–menjadi diri yang dewasa. Soal bagaimana Con menyiapkan perasaannya setelah ditinggal ibu. Dan segala mimpi buruk tersebut dipicu oleh rasa belum bisanya menerima kenyataan yang teramat pahit.

Kesembuhan bagi gue adalah pulihnya tingkat kesehatan kita setelah kita sakit. Setidaknya itu hal yang gue yakini. Hingga hari ini. Setelah gue menonton pilem ini, gue sadar, kesembuhan adalah sesuatu yang lebih rumit dari sekadar menyembuhkan orang yang sakit. Sembuh adalah juga soal penerimaan orang-orang sekitar yang memiliki perhatian lebih terhadap mereka yang sakit.

Lewis MacDougall sangat menghayati sebagai bocah tanggung non-alay yang akhirnya berevolusi menjadi dewasa. Emosinya tak stabil, cocok dengan kondisi keluarganya yang memang tidak terlalu baik: kedua orangtuanya berpisah.

Felicity Jones yang didapuk menjadi ibunya, sungguh betul juara. Watak serta pewatakan yang sulit mampu ia terjemahkan ke dalam sosoknya: lesu, tak-terawat, serta memilukan hati. Salah satu aktris yang menurut gue berbakat di setiap karakter yang ia mainkan. Di pilem fantasi-anak ini, ia sangat menyentuh hati.

A Monster Calls membuat imajinasi kecil gue muncul lagi.

Arsitektur Yang Lain

29 September 2016 § Leave a comment

image

Arsitektur yang kita kenal dilihat dari sudut pandang: cover. Sampul. Jakarta adalah korban. Efeknya? Ruang-ruang kota menjadi primadona pasar, dikuasai modal. Yang tak bermodal silakan mengungsi. Makna kota pun meluas tak terkendali. Alhasil, apa yang kita pahami sekarang adalah bias dari makna sebenarnya. Avianti membawakan gagasan arsitektur dari sisi lain.

ARSITEKTUR YANG LAIN

Run is Life-style

28 August 2016 § 1 Comment

Dari lama gue ga punya hobi yang benar-betul ditekunin, hingga beberapa tahun ini gue temuin: lari.

Gue adalah orang yang payah dalam olahraga. Postur pendek lagi kurus membuat gue minder untuk menjadi seorang atlet. Seperti hopeless aja gue bakal punya stamina yang on terus. Makanya gue mencari olahraga macam apa yang cocok buat gue dan mudah dilakuin: lari.

Di akhir bulan Agustus ini, terhitung udah dua tahun gue rutin lari. Yey!

Kenapa gue memilih olahraga lari?

Pastinya bukan karena ingin melenyapkan lemak di tubuh. Kalo dari segi fisik, gue termasuk yang berbadan kurus. Jadi, bukan karena alasan itu.

Salah satu sih karena alasan kesehatan. Gue termasuk orang yang sering sakit. Dalam setahun rata-rata gue bisa masuk angin atau flu atau bahkan demam sampai enam kali. Berarti, dalam dua bulan bisa dipastikan gue sakit. Sekarang ini, alhamdulillah di tahun ini gue baru kena sakit sekali. Hehehe

Selain karena kesehatan, gue juga mempertimbangkan metabolisme tubuh. Soal pencernaan, gue punya masalah. Sering banget B.A.B. keras saat dikeluarkan. Dan itu bisa dua hari lebih. Beda dengan sekarang yang bisa tiap hari.

Manfaatnya berasa banget! Banyak hal positif yang gue dapet. 
Makanya, gue mau bikin lari sebagai hobi gue. Bakal jadi gaya hidup. 

Sehat itu mahal, lari itu engga.

Nyaris

14 August 2016 § Leave a comment

“Abang jadi pergi ke Medan?”

Pertanyaan basa-basi adek gue yang perempuan lewat gitu aja di otak gue. Malem-malem gini malah nanya yang retoris. Dalam hati gue bales, “Yaiyalah jadi. Masa duit kantor dibuang-buang.

Crap! Setelah mencerna ulang kata-katanya, baru sadar bahwa gue udah ketiduran. Cepet gue cari hape, ternyata udah jam 4 dan udah setengah jam lebih terdisplay riwayat miskol nomor tak dikenal sampai 10 kali. Pasti ini nomor ponsel sopir taksi yang udah gue pesan kemarin buat jemput.

* * * * *

Sejak rajin menenggak kopi, gue jadi insom-addict. Tiap malam adalah jam melek gue. Insom adalah penyakit. Dan gue sering banget telat gara-gara harus membuka mata semalaman untuk tidak berbuat apa-apa. Gue coba untuk bisa tidur dengan main PES. Kadang berhasil, sisanya bikin gue tambah susah merem. Gue juga coba nonton film atawa serial tv, hasilnya adalah gue justru berhasil mengusir ngantuk. Hanya dengan lagu-lagu di playlist spotify aja yang melulaby hingga gue bisa pulas. Thanks to sptfy! *semoga marketingnya liat postingan gue ini dan dianggap endorse.

Efek sampingnya, gue banyak bangun siang dan terlambat sampai kantor. kadang gue paksain ngebut untuk ngejar jam masuk supaya ga kena potong cuti. Tapi seringnya gue relain aja, iklasin cuti gue disunat buat kompensasi keteledoran gue. Af! Bagian terlambat masuk kantor masih belum seberapa. Yang parah adalah kalo sampai telat check in flight pesawat. Kerjaan gue emang nuntut untuk kunjungan luar kota, ke Medan. Untuk pergi ke sana, gue diharuskan mengambil jadwal maksimal jam 6 pagi! Alhasil, gue harus prepare 2-3 jam agar gue ga ketinggalan. Gue butuh bangun jam 3 pagi, coba! Insom ini akhirnya memperparah scenario bangun siang gue.

Gue dibuat serba-salah. Dengan kondisi tidur yang ga bisa di bawah jam 9 malam, udah bisa dipastikan gue bangun siang. Jangankan bangun jam 4, jam 5 aja gue ragu. Pilihan lainnya adalah semacam bunuh diri, tetap bangun semalaman hingga duduk dengan kencangkan safety belt di pesawat yang pada akhirnya mengacaukan kesadaran gue selama trip di Medan. Badan ga sehat, otak senewen. Parah. Pilihannya ga ada yang beres. Keduanya sama-sama bikin stress.

Gue lebih milih begadang. Milih bunuh diri. Biarin. That’s better than killing myself and my boss in one punch. Daripada kesiangan dan angusin tiket Jakarta-Medan PP sekaligus voucher hotel yang capek-capek dipesan sekretaris bos, mending gue begadang.

Dan malam ini gue berniat untuk begadang. Lagi.

Seperti biasa, gue tonton berepisode-episode serial dan bermatch-match PES. Keduanya favorit bikin gue melek terus. Sialnya, malam itu gue tertarik buat download beberapa film bagus. Memang kecepatan akses Indosat Ooredoo udah meningkat pesat. Dan gue suka itu! Tetapi banyaknya film yang gue sedot, bikin kecepatannya terbagi banyak pula. Dan alhasil bikin gue malas menunggunya, dan akhirnya bikin gue mengantuk…lalu pulas tertidur.

FAK!

Gue panik. Saat itu gue udah panik sepanik paniknya. Ngerasa bersalah sama sopir taksi. Buru-buru gue telpon balik nomor yang udah miskol itu, dan bukannya minta maaf gue justru syok dan nahanin gelak tawa. Suaranya medhok.

“Bhapak’e dhi mana? Hhalok? Shayya uddah tilpon bhapak’ berkali-kali gha diangkat.”

Syit! Ga jadi gue minta maaf. Sepanjang perjalanan suara itu ga ilang-ilang dari kepala. Dan sampai sekarang, hingga gue ceritakan di blog ini. . .

hermes

Stok Bulanan

24 July 2016 § Leave a comment

Bulan ini hampir saja absen bikin tulisan. Layaknya detergen Attack + pengharum Downey, kekosongan stok dalam sebulan selalu membuat gue ingin menulis. Apapun. Inilah dia!

Bulan Juli adalah bulan spesial. Bulan inilah gue ultah. Juga pacar. Juga aniv jadian kita. Kiw!

Semuanya jadi di satu bulan.

Senang rasanya bisa sama-sama hingga kini. Kita itu tim. Sesama anggota tim selalu saling dukung. Saling percaya. Saling bisa nerima. Walaupun kita berdua juga sebagai manusia; engga selalu saling. Kadang ada konflik internal, eksternal, lahir, bathin, ghaib. Itu pasti ada. Tapi selama masih satu visi, kita kompak.

Sekarang kita bukanlah apa-apa. Dibanding yang udah berpasangan, for real. Dibanding yang udah punya buntut, berekor satu maupun dua. Dibanding mengutarakan pertanyaan retorika, lebih baik dibisikan doa.

Semoga. Segera. 
Kesayangan -> @nuriamalia.

Tak Lagi Sama

6 June 2016 § Leave a comment

image

Bulan puasa bagi gue terasa sangat spesial tiap tahunnya. Di bulan inilah gue merasa lebih dekat dengan keluarga. Kebersamaan dengan mereka selalu gue tunggu-tunggu. Terutama bersama-sama orangtua.

Tahun ini adalah kali pertama menjalani puasa tanpa kehadiran kedua orangtua. Sakit. Ketika mengingat apa yang tengah terjadi, rasanya mengulang momen-momen kehilangan itu. Di mana gue harus merelakan mereka pergi jauh dari gue.

Mereka adalah idola gue. Sejak kecil, sulit ngelakuin rutinitas harian kecuali melihat bagaimana mereka show off di depan gue. Gue suka baca karena bokap. Gue lumayan supel karena nyokap. Gue suka ngayab kayak bokap. Gue sering bercanda karena nyokap. Gue suka sambel karena pedas adalah favorit bokap. Gue ketagihan sambel karena tiap harinya di meja makan selalu terhidang sambel bikinan nyokap. Kisah hidup gue begitu sempurna.

Ada bokap, gue jadi lebih pengen tahu sesuatu. Ada nyokap, gue jadi lebih ingin berbagi sesuatu. Mereka baik, mereka anugerah. Makanya, bulan puasa adalah momen gue buat ambil sifat baik mereka.

Dan kini, di bulan ramadan yang terasa datang begitu lekas, gue harus berpuasa tanpa mereka. Seperti ada yang lepas dalam hati gue.

Kini, kisah itu tak lagi sama. . .