Menonton MX Player Gratis Tanpa Iklan

20 July 2017 § Leave a comment

Bagian paling penting memiliki handphone berlayar besar adalah melakukan aktivitas menonton. Mau itu film, serial, ataupun sekadar nge-youtube, tontonan akan lebih menarik di layar yang sedikit lebih besar.

Menonton di handphone tentunya melalui aplikasi, baik aplikasi bawaan maupun aplikasi pihak ketiga (pengembang) yang menyediakan pemutar video dengan beragam fitur yang diunggulkan. Biasanya, aplikasi pemutar video bawaan handphone tidak memiliki banyak fitur yang memudahkan saat menonton video. Makanya, gue lebih memilih aplikasi MX Player yang memberikan fitur-fitur terbaik dan termudah bagi pengguna yang menonton video.

Aplikasi gratis = Ada Iklannya
MX Player adalah aplikasi gratis yang mudah didapat di Playstore. Banyak fitur yang sebenarnya dapat diuraikan dari MX Player gratis ini karena memang sangat recommended. Namun satu fitur yang ingin gue bahas dan sangat mengganggu di MX Player ini adalah iklan yang teramat mengganggu. Ini bukan fitur, tapi memang disediakan untuk pengguna yang ingin menggunakannya secara gratis. Agar tidak ada iklan yang mengganggu, kita tinggal bayarkan saja beberapa puluh ribu rupiah (terakhir sekitar 70ribuan) via pulsa atau redeem.

Aplikasi gratis memang selalu memiliki kekurangan. Pasti ada fitur yang dihilangkan atau dalam kasus aplikasi ini justru “diada-adain”. Untuk itu, gue di sini ingin berbagi bagaimana cara menghilangkan FITUR IKLAN dalam aplikasi MX Player gratisan.

Pertama dan utama: iklan pada sebuah aplikasi tidak akan muncul jika tidak ada internet.

Coba aja deh putuskan akses data handphone dan segera buka aplikasi apapun yang ada iklannya. Pasti ilang iklannya.

Dalam kasus MX Player, kita nggak bisa putuskan akses internet begitu saja karena mungkin saja kita masih ingin berkomunikasi dengan teman atau rekan di luar sana atau hanya sekadar ingin menyalakan notifikasi pada handphone. Jadi, kita putuskan saja internet KHUSUS untuk aplikasi MX Player. Begini caranya…

Buka setting///

Klik Mobile Network///

Klik App Using Wifi & Mobile Data///

Buka aplikasi MX Player

Pilih close untuk menutup akses internet KHUSUS pada aplikasi MX Player.

Dan voila … 😊

Kurir JNE Ga Perlu Lagi Kirim Paket Gue

19 June 2017 § Leave a comment

Udah banyak pengiriman gue ga sampe tempatnya sama kurir jne. Gara-garanya banyak. Yang gue inget ada 5 kasus.

1. Sepatu gue ga sampe, katanya alamatnya ga ketemu. Akhirnya gue ambil ke jne cabang

2. Sepatu gue dikirim. Tapi salah alamat. Bego & teledor banget. 3 hari kemudian baru diambil dari alamat yang salah lalu dikirim ulang ke alamat yang benar.

3. Beli aksesoris hape. Gagal di pengiriman pertama. Beberapa hari kemudian dikirim ulang ke alamat yang benar.

4. Hape gue ga sampe. Alamatnya ga lengkap katanya. Gue telpon ke pengirim (retail online terkenal). Kurir mereka langsung yang kirim (bukan kurir jne) ke alamat yang benar.

5. Beli aksesoris hape. Kurirnya alesan bahwa ga ada orang di rumah. PADAHAL ADA ADIK GUE NJOGROG GA KELUAR RUMAH SAMA SEKALI. Alesan.

Berkali-kali kejadian.

Tanpa telepon ke nomor gue. Tanpa ada penjelasan, gue harus cari informasi sendiri barulah tahu statusnya gimana. Padahal nomor gue SELALU tercantum.

Selama ini gue udah komplain ke service center dan hanya dibuatkan laporan. Udah itu cuma ditelpon balik tanpa progres berarti.

Bisnis pengiriman emang menjanjikan, tapi jika servisnya buruk dan ga diperbaiki, apalagi ga sadar bahwa memang ada layanan yang buruk, maka jangan heran jika layanan antar kurir lain lebih dipilih.

Terima kasih jne selama ini sudah bantu antar paket gue. Mulai detik ini tidak perlu lagi.

Menjaga Serpihan Demokrasi

14 May 2017 § Leave a comment

Karut-marut dan carut-marut yang terjadi saat ini nggak bakal lepas dari basian pilkada yang terlewatkan. Itu keniscayaan. Bahkan akhirnya mbleber ke mana-mana. Kita bisa setuju bisa engga … tapi admit it: salah satu yang mendorong sentimen ini makin kencang adala ketidaksukaan antarkubu. Tidak semuanya, tapi ada yang menyuburkan resistensi yang sangat tajam antargolongan. Pada ujungnya, kita tidak akan bisa menyelesaikan semua masalah pada sisi ini dan tidak bakal mengubah total situasi panas yang ada tapi ada keyakinan untuk menurunkan tensinya.

Adalah kita sama-sama menginginkan Jakarta yang baik, bukan? Antarkubu sama2 yakin dengan jagoannya, hanya dengan marketing yang berbeda. Kubu yang tidak berkubu pun sebenarnya juga inginkan Jakarta yang baik, makanya mereka nggak milih keduanya hahaha. Harus disadari bahwa semua kubu berpolitik, berdemokrasi, dan sama2 menyampaikan aspirasinya. Tidak ada yang suci dan sok suci, kita manusia bukan Tuhan semata. Ada yang salah? Langgar aturan? Laporkan! Itulah demokrasi.

Ketika akhirnya keluar pemenang di antara kedua kubu, justru demokrasi belum selesai sama sekali. Saling terima, saling kritik, saling merasa memiliki harus digalakkan. Harusnya seperti itu, alih-alih ucapkan kata maikian yang bertambah parah. Merendahkan diri sampai level terbawah seperti itu justru memalukan definisi demokrasi.

Yang harusnya diperjuangkan bukan lagi identitas, bukan sosok, palagi status; bukan cerita fiksi milenial, apalagi hantu. Pasti masing-masing akan selalu mempertahankan kubunya, tidak ada yang akan menyerah. Keduanya akan selalu tidak sepaham, mengisahkan kebenaran versinya. Tapi kalo masi waras, pasti semua pihak punya kesamaan: Jakarta yang baik dan hebat.

Sebelum kejadian ini, Jakarta sudah ada perubahan dari lima tahun sebelumnya. Sebelum ini, Jakarta sudah ada hal baik yang dilakukan dalam lima tahun yang sudah berjalan ini. Titik itulah yang harus kita pijak sekarang untuk memulai kembali. Titik itulah awal untuk terus melangkah ke depan agar lebih baik dan hebat; sesuatu yang tidak keluar jalur demokrasi yang harus kita jaga keadaannya. Justru kita harus jaga hal positif yang sudah ada dari gubernur sebelumnya.

Justru yang kita jaga adalah memastikan birokrasi yang memudahkan warga ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan sulitnya berlaku koruptif di pemda ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan sulitnya cari celah “sumbangan-sumbangan orang tua murid” di sekolah ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan tetap adanya lahan kerja bagi banya warga dengan keberadaan Tim Oren, Biru, dll. ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan keterbukaan informasi pemda ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan keterbukaan pelelangan proyek pemda secara online ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah memastikan sulitnya PNS madol atas sanksi yang diberlakukan ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah setuju untuk tidak setuju dengan pendapat yang berbeda ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah demokrasi yang kita perjuangkan ketika gubernur terpilih menjabat.

Justru yang kita jaga adalah #Indonesia ketika gubernur terpilih menjabat.

 

1 Mei

30 April 2017 § Leave a comment

Sesungguhnya, bukan kewajiban memilih mau hidup dalam jebakan kapitalis, pun sosialis. Kapitalis adalah apa; orang-orang tak hirau sebab sudah terbebani dengan hukum alam bulanan.

Dunya ini adalah paradoks dari kisah dongeng yang dinarasikan orangorang golongan 1%, sutradara yang berlindung di balik rumah produksi box office. Kita sekadar pion yang dieluelukan di muka, tapi dikorbankan di belakang. 

Paradoks sebab gaya-hidup dengan tema “sosial” justeru mendengung begitu santer dalam kubu kapitalis. Media sosial, klimber sosial, teman sosial, dan sebagainya, dan sebagainya.

Buruh butuh hidup bersosial. Butuh mendapatkan ribuan doble-tap; rituit; like, sebagai manusia sosial.

Buruh yang menyerikatkan dirinya pun dibuahkan dari dunia kapital. Pada mulanya kapital, lalu tak terima dengan ketidakberdayaannya, akhirnya mendeklarasikan sikapnya jadi sosialis.

Begitu pentingnya keberadaan kapitalis menyadarkan kita: apalah arti buruh tanpa kapitalis.

Tensi

24 March 2017 § Leave a comment

Enggak pernah gue sangka orang dengan riwayat tensi rendah kayak gue tiba-tiba aja dinyatakan 141/73.

Syok.

Ternyata musababnya adalah ibu-ibu yang nyelak antrean berobat gue yang pamerin urgensinya hanya gara-gara penyakit darah tingginya kambuh kebanyan makan jengkol semalem.

Sialan.

Cara menyimpan Foto Instagram (Resolusi Tinggi)

1 March 2017 § Leave a comment

Cara menyimpan foto instagram (how to save instagram photo) adalah sesuatu yang ngehits sekarang ini. Kebutuhan dalam memposting/membagikan ulang foto atawa gambar dari instragram adalah hal yang penting bagi sebagian orang namun menemukan caranya adalah sesuatu yang susah-susah gampang.

Kesulitan menyimpan foto instagram sudah kita ketahui sejak zaman instagram lahir. Penghormatan terhadap hak cipta adalah alasan utama. Faktor itulah yang menjadikan aplikasi berbagi foto ini booming dan digandrungi di seluruh dunia. Tentunya jika ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Di mana ada internet, di situ bisa diakal-akalin. Dalam era digitalisasi ini nggak ada yang nggak bisa. Pasti bisa! Cekidot.

Langkah-langkah menyimpan foto instagram:
1. Buka browser (peramban) lalu masuk ke laman instagram. Buka salah satu akun di instagram. Boleh akun diri sendiri, akun gebetan, atau bahkan akun mantan yang udah punya pacar baru. Gue sih buka akun @instagram aja untuk memudahkan. Pilih satu foto mana aja dari akun tersebut. Iya, bebas yang mana aja.

save-jpg-instagram

2. Setelah itu tampilan layar akan seperti di bawah ini. Pada tampilan ini, kita tidak bisa langsung menyimpan foto seperti yang diinginkan. Kalau ingin memaksa, untuk mempercepat proses, tekan saja tombol PrtSc (Print Screen) di kanan-atas keyboard. Tinggal copy-paste di aplikasi Paint, lalu crop dan di-save. Selesai.
Tapi jika ingin menyimpan foto dengan hasil yang definisi tinggi (HD), maka ada baiknya kita lanjutkan proses yang dari tadi udah nggak sabar kepingin saya uraikan. Phew…save-jpg-instagram02

3. Tekan CTRL + U yang fungsinya untuk menemukan “bahasa” atau dapat pula dikatakan rumus html di balik tampilan yang kita lihat barusan. Dengan background (latar) yang hanya putih, rumusnya akan sangat absurd dan tidak dapat kita pahami satu per satu (kalo mau maksa, gih sana baca!).
Walaupun sulit dimengerti, dapat dengan sederhana kita ketahui bahwa gambar yang kita inginkan adalah sebuah file yang memiliki format yang sama-sama kita kenal: JPG. Untuk memudahkan, cari file tersebut dengan bantuan CTRL + F dengan kata kunci “jpg“.  Enter! Hasilnya akan seperti ini. save-jpg-instagram03

4. Ketemu! Langkah selanjutnya adalah mengcopy-paste secara manual rangkaian link (tautan) yang berkaitan dengan kata kunci “JPG” tersebut. Salin link tersebut di tab baru browser, kemudian ENTER!save-jpg-instagram04

5. VOILA! Gambar hi-res dari foto tersebut muncul memenuhi layar. Simpan dengan mengklik kanan foto, lalu Save Image As…save-jpg-instagram05

6. Untuk mengecek apakah foto tersebut beresolusi tinggi atau tidak, kita dapat melihatnya dari Properties foto terkait. Klik kanan pada file foto >>> Properties. Dapat kita lihat bahwa resolusi foto itu mencapai 1080, yakni sudah tergolong Hi-Res.save-jpg-instagram06

Selamat mencoba. : )

 

Seoret Hipotesis dalam Pilkada DKI 2017

14 February 2017 § Leave a comment

Sebelum besok mencoblos, ada baiknya gue menyuarakan pemikiran dan pergulatan hepotesis yang gue piara selama ini. Penasaran batin atas konstelasi pemilihan kepala daerah gue ini membunuh secara perlahan. Seperti serotonin yang dicegah untuk dikeluarkan, membuncah ingin segera memuncrat ke segala arah. Ditahan bukan hanya ketika baru-baru ini, bukan dimulai dari beberapa bulan ajang kampanye pilkada DKI, melainkan sudah dari lima tahun lalu ketika Fauzi Bowo – entah wakilnya siapa (bisa dicari di google) akhirnya kalah oleh Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Berikut adalah hasil ekstraksi dari olah-pikir yang gue miliki. Mari simak.

Ketika itu banyak sekali orang-orang yang tidak percaya bahkan kaget, syok, serta panik bahwa pasangan calon nomor 3 itu memenangkan pilkada DKI (yang percaya dan tidak kaget pasti lebih banyak karena hasilnya membuktikan itu, yegak?). Kebanyakan adalah mereka yang mengimani Al Maidah ayat 51—yang kini sedang ngehits dalam tema kampanye. Gue salah satu orang yang ga kaget.

Mereka yang kaget dan panik pastinya nggak terima dipimpin oleh orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda dengannya. Pastinya kalang kabut. Hakul yakin! Satu sisi, mereka kepingin dipimpin oleh sosok yang seagama (nggak cuma gubernur, tapi juga wakilnya), di sisi lain mereka nggak punya kuasa yang cukup untuk melakukan hal-hal yang bisa menuntaskan hasrat tersebut. Mau makar? Kan ga mungkin.

Gue enggak kaget. Walaupun di atas kertas hasil pemilu 2009 di provinsi DKI menyatakan koalisi nomor 3 kalah suara dibandingkan nomor 1, tak membuat gue kaget dengan hasilnya. Banyak hal yang menjadikan hasil pilkada DKI 2012 itu sesuai dugaan gue. Cara-cara kampanye yang dilakukan selama pilkada adalah penyebabnya.

Kampanye adalah Marketing
Kampanye tiada lain adalah memasarkan orang. Satu adalah soal konten/isi. Dua adalah cara. Tiga adalah momentum. Konten penting. Kelebihan calon harus mengalahkan isu negatif tentang dirinya, program-program top harus diiklankan. Tapi cara-cara yang dilakukan dalam pilkada 2012 memberikan pelajaran yang seharusnya ditangkap oleh semua pasangan calon. Bahwa sekonyong-konyong mengatakan pilihan kita lebih baik daripada orang lain adalah cara marketing yang jauh dari kata baik.

Apa yang dicapai Jokowi – Basuki Tjahaja Purnama adalah buah dari marketing. Kalau pendukung pasangan calon lain tidak memahami itu, saat itulah mereka belum tahu bagaimana praktik marketing bekerja. Salah satu tema yang paling menonjol dalam kampanye adalah preferensi memilih pemimpin sesuai ajaran agama.

Dalam pilkada yang lalu, cara ini menurut gue termasuk blunder luar biasa. Dalam memilih, kita berhak memilih pemimpin sesuai ajaran agama masing-masing. Itu satu. Dua, kita berhak menyampaikan ke orang lain yang seagama untuk mengingatkan ajaran tersebut. Sampai di situ nggak ada masalah. Setiap orang mustinya terbuka dengan pendapat orang lain. Lalu menurut gue lagi, nih, jika mau orang lain ikut memilih apa yang kita sarankan, tidak perlu dengan memaksakan pendapat kita ke orang lain tersebut, sekalipun itu benar. Pada dasarnya, orang yang kita ajak bicara mungkin memiliki pendapat yang sama dengan kita. Dengan cara yang seperti itu justru membuat mereka tidak simpati. Pendekatan-pendekatan yang “pasti benar” tersebut akan sulit diterima walaupun sudah dipercayainya.

Setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda satu sama lain. Pengalaman hidup yang nir identik dan kilatnya informasi yang masuk begitu beragam dari masing-masing individu membuat kita tidak dapat menyeragamkan cara berkampanye. Ketika ada yang membawa ajakan memilih sesuai agama yang sama, bisa jadi ketidakselarasan fakta mengguncang keyakinan orang-orang yang mendengarnya. Satu sisi ada Al Maidah 51, di sisi lain, “Kok orang yang agamanya sama malah melakukan tindak kejahatan?”

Ketika pengampanye justru memberikan umpan balik yang frontal tanpa diskursus yang ramai konsep, melainkan “pendapat sayalah paling benar,” di situlah gang buntu yang menjauhkannya dari praktik kampanye.

Hipotesis Pilkada 2017
Gue menganggap orang-orang tersebut telah memahami dan belajar dari peristiwa itu dan akan melakukan perbaikan pada pilkada ini. Kekalahan itu sudah dilupakan. Semua preseden buruk telah dievaluasi. Segala kesalahan-kesalahan segera diperbaiki. Hasil pencalonan dari ketiga pasangan inilah wujudnya.

Berkali-kali gue punya bacot, “Udah deh jangan pada kampanye pakai sentimen agama, pasti hasilnya nggak sesuai yang diharapkan!”

“Kenapa sih nggak rembukan, buang ego, satukan visi-misi tanpa ingin memaksakan ambisi, ajukan 1 pilihan saja!?”

Agama sangat sensitif, pun suku, ras, serta antargolongan. Sudah bukan strategi yang bagus jika masih mengandalkan amunisi seperti itu. Gue lagi-lagi menganggap, pilkada kali ini mereka sudah belajar.

Secara teori, jika orang-orang tersebut betul belajar dari pengalaman (pahit), sekarang sudah memperbaikinya. Jika sudah, kenapa nomor 1 dan 3 seperti menggerogoti diri mereka sendiri untuk dikalahkan alih-alih menyatukan suara? Melihat calon nomor 2 dikerubuti seperti itu, rasanya kok seperti belum belajar?

Lalu gue berpikir, lagi, dan terus-menerus, melihat kembali kemungkinan-kemungkinan di masa depan, menganalisis keputusan yang sudah diambil sehingga menawarkan dua pilihan selain calon yang mereka tidak sukai. Apakah benar akan tercerai-berai lagi?

Bisa iya. Bisa tidak. Inilah hal ketiga yang mempengaruhi (ini gaya selingkung gue untuk memengaruhi, ga suka gapapa) dalam marketing: momentum.

Kebaikan pasangan calon memang harus ditunjukkan, tetapi ada pula yang sebaiknya tidak disinggung-singgung. Biarkan kebaikan itu muncul dengan sendirinya, seperti penokohan yang muncul dalam karya prosa yang bagus—tidak pernah dinarasikan, melainkan terlihat melalui tindak-tanduknya. Pun ada pula kebaikan yang harus muncul ketika saatnya tiba. Itulah yang dapat mempengaruhi kecenderungan pemilih dalam memutuskan siapa yang ingin mereka dukung. Pembawaan/karakter adalah salah satu contoh dari marketing. Maka, penokohan adalah momentum itu sendiri yang niscaya sangat berperan dalam keterpilihan.

Tidak ada yang pasti dengan hasil pilkada DKI. Melihat begitu banyak arus informasi yang lalu-lalang, sulit meniscayakan fakta yang dibaca, dilihat, dirasa masing-masing orang. Momentum ini bakal menjadi kunci atas kecenderungan pemilih. Orang-orang yang gue anggap sudah belajar itu, akhirnya mengimplementasikannya dalam dua pasangan calon.

Kalah Untuk Menang
Orang-orang ini mulai berpikir atas dua keniscayaan ini: nggak bisa menafikan sentimen agama dan nggak bisa menang langsung melawan nomor 2. Dua pondasi ini yang akhirnya mengurungkan niat mereka untuk mengajukan hanya satu calon. Secara teori lagi-lagi calon ini akan menang. Tetapi karena sentimen agama juga tak dapat dihilangkan dan akhirnya menggerogoti suara yang mendukung (anti-simpati), ujung-ujungnya kekalahan akan mereka dapatkan. Mereka akhirnya mencari cara alternatif, menimang pelbagai pilihan, dan akhirnya memutuskan: mencalonkan dua pasangan.

Mengusung dua calon alih-alih satu calon adalah kesengajaan. Konfrontasi pertama, secara pesimis, gue anggap mereka kalah suara. Pendukung nomor 2 kemungkinan masih banyak yang tidak terpengaruh atas sentimen agama yang makin besar animonya (semoga reda setelah pilkada). Ide-ide penantang masih kurang untuk mendominasi dan mengalahkan wacana yang ditawarkan kembali oleh nomor 2. Catet: masih kurang dominan, masih debatable.

Orang-orang ini pada akhirnya mengandalkan putaran kedua yang dianggap dapat memukul balik kekalahan yang terjadi di putaran awal. Momentum yang dijaga baik-baik dari jauh hari diharapkan membuahkan hasil yang berbeda dari usaha di pilkada sebelumnya. Menarik untuk melihat sepak terjang dari ketiga kontestan di pilkada DKI. Hasilnya, apapun, harus kita hormati sebagai pesta dari, oleh, dan untuk kita semua warga DKI.

Akankah?