Buffet,,, the ‘kekenyangan yang (tak) sejati’

23 November 2008 § Leave a comment

Di Buffet makanan apa aja ada. Beneran. Udah kayak istana aja. Pengen ini ada, pengen itu ada. Perbedaannya hanya di istana tuh apa2 ya disediain, diambilin. Kalo di sini boro2. ‘ambil gih sono ndiri’ adalah kata yg cocok diucapkan pramusajinya.
Berikut masakan yang sempet masuk ke kerongkongan* gue.
Lemon Chicken. Kreatifitas dalam mengolah ayam sangat unggul pada masakan ini. Aroma lemon yang melumuri tuh ayam membuat pelaku karnivora akan… Slerps! Ngilers tak berujung.
Beef Black. Kalo tak salah seperti itu nama yang tertera di tempat daging sapi itu bertahta. Ugh, delicious tenan rek! Gak nyesel nyoba yang ini. Tapi gue gak banyak2 nyobainnya. Takut teman2 daging yang lain gak kebagian tempat di perut gue ini.
Ayam Goreng Terasi. Kalo dilihat, diimbangkan dengan menu lain ayam berlumur terasi ini aja yang sangat tidak english. Gue rasa para koki, chief, karyawan, bahkan sampe bos-nya belum pernah menemukan di kamus indonesia-inggeris: apa itu ‘terasi’?
Tofu. Dari namanya keren. Tapi liat artinya: tahu! Sial bed gue. Gue kira menu baru dari jepun (tofu gitu loh?). Hari itu sekali gue tertipu oleh–dalam analoginya jangan menghakimi buku dari–cover!!
Tapi tetep enak kok, makanan pribumi.
Fried Noodle. Mi gorengnya enak pake orange telur (warnanya emang jingga. Jadi namanya bukan kuning telur). Beda dari biasanya yang gue telen.
Fried Rice. Enak walopun tidak terlalu goreng.
Spagheti Capricio. Gak mengerti apa itu capricio. Tapi yakin kalo nih resep datang dari daratan eropa. Sedikit dicicipi mie berukuran lebih besar dari batas konvensionalnya menggunakan yaitu jempol&jari tengah (kita perhatikan di sini bahwa gue sama sekali tidak menggunakan alat bantu garpu maupun sendok).
Cita rasa Italiano bergema di saraf-saraf motorik indera perasa lidah bagian pinggir ini.
Sip!
Lyonnais Potato. Kentang ala Lyon. Begitu alih bahasa yang kupaham. Dari namanya nyaris tidak dapat dipungkiri kalo resepnya tidak bisa tidak berasal dari sana, Lyon. Namun sayang seribu sayang, kenyataan bahwa ini benar2 ‘kentang ala Lyon’ tak pernah terungkap sampai sekarang. Mengapa sebab? Ya karena pertanyaan tentang itu belum pernah digaungkan kepada koki the buffet itu.
Chicken Katsu. Tafsiran gue ayamnya berasal dari negeri anime sono.
Roast Duck. Daging bebek yang diolah dengan bahan2 yang gue pun gak tau ini menjadi favorit gue. Wangi. Seperti habis dibakar.
Nb: info terakhir yang gue dapet, ternyata roast itu bermakna panggang!
Roast Chicken. Idem di atas. Bedanya cuma di bebek-ayamnya saja.
Chicken Teriyaki. Teriyaki boyz, eh? Data mengenai menu tersebut nihil. Pengetahuan yang tersisa adalah Teriyaki. Beliau bukan…?yang mengisi OST-the fast the farious edisi Tokyo??
Tidak sambung namun cukup lepas (ga jelas, maksudnya).
Chiken Kungpao. Loh, ini makanan apa nama band??
(kungpao chicken)
Chicken BBQ Grill. Gak tau gue mau ngasi penjelasan apa…
French Pastries. Kue2 buatan Prancis ini (tau berasal dari sono merujuk pada kosakata French-Kiss=ciuman ala prancis) menempati urutan pertama dalam sesi makanan pencuci mulut. Nyeleneh bed rasanya. Biasa gue sebut dengan ‘keluar dari zona aman’ versi kue2 basah dari ISO sebuah makanan. Aroma es krim yang menyeruak ke tiap pori2 indera pengecap rasa manis ini menyibakkan penasaran gue yang sedari tadi berantem sendirian di otak besar, “kreamer apa tiramisu ya..? Atau… Coklat hitam apa malah mocca??”
Dan es krim seakan sebuah pembungkaman yang lewat begitu saja tanpa meninggalkan pamitnya.
“ooh…es krim tho…”
Es Krim: Rum Raisin, blackcurrant bubble gum, mango mint. Dua yang pertama milik gue sepenuhnya. Yang lain harus berizin Taufiq dahulu sebelum mencecap harumnya mint di dalam rasa mangga indramayu (tau dari mana kalo rasanya tuh mangga indramayu??). Rum Raisin yang paling es krim.
Kerang. Udah sering si. Tapi merebus sendiri memang menyajikan kewangian tersendiri di hati.
Sup Untitled. Ya karena namanya dirahasiakan. Yo…wes, lah.
Ronde Jahe. Enak di suasana puncak. Top markotop. Tapi tidak di restoran ini. Weeks! Ronde-nya yang segede bandul bikin eneg.
(hal ini diperparah dengan ke-fueltank-an lambung gue yang sempit).
Ps: saran gue ronde-nya gak usah diambil. Kuah jahe aja yang disikat!

Kesimpulan:
1. Teramat enak bagi mereka yang dibayarin kantor.
2. Kenyang sangat bagi anak-anak pelajar yang bawa kartu pelajarnya.
3. Muntah-muntah bagi mereka yang maksa 3 ronde segede bandul masuk sekaligus.
4. Menyesal bagi mereka yang menghabiskan nasi goreng sepiring mentung di awal waktu.
Ckckck. Kasihan, menurut gue, sih.
5. Jangan bawa kantong plastik item! (apalagi yang tembus pandang). Bahwa kejahatan sekecil apapun pasti ‘kan terdéték.
6. Bersenang-senanglah..!

___________
*sebetulnya yang benar itu kerongkongan atau tenggorokan, sih?

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Buffet,,, the ‘kekenyangan yang (tak) sejati’ at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: