Cita-cita,eh?!

3 December 2008 § Leave a comment

Pertanyaan pada saat ini:
— Gimana sih nentuin suatu cita-cita?

Hm… Pernah gak sih kita kepikiran soal masa depan kita?
Atau… Apa sih pekerjaan yang nantinya akan kita lakukan saat udah jadi bapak-bapak? Dan—mungkin ini yang susah dijawab—Kenapa sih kita harus bercita-cita???

Hoho… pertanyaan yang aneh memang. Dan jawabannya mungkin akan lebih aneh malah. Oh iya, sebelum pertanyaan itu dijawab satu per satu, ada baiknya kita dengarkan suara Trick si Call Ogi’s inih,,

Ehm,,

Ng….
Cita-cita menurut kamus gue tuh ya adalah suatu hal atawa perbuatan yang telah biasa dilakukan di massa lalu—bisa dibilang hobi—dan pada prosesnya (tentu saja dengan kerja keras) dan terus-menerus diasah agar dirinya dapat lebih handal dalam mengaplikasikannya. Intinya, hobi=cita-cita.
Yah, seperti itulah.

Menurut lo??

Hm…
Namun, bagaimana jika kasusnya seperti ini,,
(Dengan pemisalan tentu saja)
Gue adalah orang yang suka mengutak-atik barang elektronik. Bongkar-ngobeng-ngulir-pasang- Bongkar-ngobeng-ngulir-pasang- Bongkar-ngobeng-ngulir-pasang. Itulah sesuatu yang gue lakukan saat gak ada kerjaan.
Gue juga suka dengan yang namanya jalan-jalan. Kemana pun jalan. Backpacker lah.
Gue juga menyukai pemandangan. Gue suka kalau pemandangan itu diabadikan, tentu saja maksudnya adalah difoto. Istilah kerennya gue menyukai menjadi fotografer.

Well, lihat kan?
Itu semua katakanlah hobi gue. Ketiganya. Jika kita menyimpulkan bahwa hobi adalah cita-cita di massa depan, bagaimana dengan permasalahan yang ini. Apakah ketiganya itu adalah cita-cita si ‘gue’ ini? Bagaimana memilih satu diantaranya? Confuse me….

Menurut seseorang yang entah di mana dan sekarang pun lagi ngapain gue juga kagak tau, perbedaan antara keinginan dengan ambisi meraih cita-cita terletak pada kesungguhan dari orang tersebut. Keinginan itu bisa diartikan dengan obsesi seseorang untuk tahu dan bisa melakukan dengan usaha kerja keras yang dapat dia lakukan. Namun, saat dia sudah berusaha dengan seluruh kemampuannya itu tetapi tetap mengalami kegagalan, reaksi darinya hanya sekedar ‘yah, gak bisa guah… YAUDAH DEH, GAK APA-APA’. Itulah yang disebut sebagai ‘sebatas keinginan’.
Sedangkan cita-cita itu terlihat dari apakah dia seolah terkena serangan penyakit obsesif kompulsif. Fight yang dilakukannya tidak hanya bergantung kepada kemampuannya. Dia juga akan berusaha menemukan sebuah kebesaran Tuhannya, di samping dia juga kerja keras dalam usahanya (The megicly U know?). Lalu, jika pada waktunya habis dan cita-cita itu tidak dapat dicapai, maka dirimu akan menyesalinya. Benar benar menyesali! Seakan hidup ini sudah tak berarti lagi buatnya.

Well, jagalah mimpi-mimpimu itu. Jaga dan berjuanglah dengan tetesan darahmu.

Berdo’a-lah! Berdo’a-lah dan Dia akan memeluk mimpi-mimpimu.

Akhirnya, yang terakhir kita bisa lakukan adalah menanti kabar baik itu.

Sesungguhnya takdirmu itu s’lalu baik untukmu…

Tagged: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cita-cita,eh?! at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: