Di Persimpangan Jalan

6 January 2010 § Leave a comment

Sebenarnya apa si yg dicari dari bekerja…?

Oke, well, sebelum gue menjawab apa itu yang dicari dari bekerja, mari simak dulu cerita gue dibawah ini:

Dalam beberapa hari kedepan gue akan mengklaim bahwa ‘pada hari itu gue menjadi orang yang paling gak beruntung dan selalu apes di dunia’. Terlepas dari apa yang disebut dengan takdir. Gue sangat menyadari semua kelakuan baik gue akan berimbas pada suatu saat nanti di hari esok. Begitu pula sebaliknya, kejahatan gue baik yang kecil maupun gede, atau kelicikan yang terlihat maupun tidak; itu semua akan berdampak setimpal ke kehidupan gue.

Banyak faktor yang bisa menjadi dalih untuk disalahkan. Mudah untuk meng-kambinghitam-kan orang lain dan/atau menyalahkan sesuatu. Namun yang beratnya adalah mempertanggungjawabkan statement-statement tersebut ketika berada di pengadilannya Gusti Alloh kelak.
[tiba-tiba kok gue nyambernya malah ke muhasabah sih…?]

Contoh riil misalkan nih: gue masih nganggur sampai saat ini [terhitung sejak pertengahan Juni]. Bukan perkara mudah bagi gue mencari kerjaan dengan hanya bermodalkan ‘sertifikat PeKa-eL’ & Ijasah 4 tahun seorang STM-an. Butuh tenaga ekstra dan keberuntungan dari sekolah untuk mengetahui perusahaan mana yang sedang iseng mencari fresh graduate seperti kita-kita (baca: anak STM dodol!). Jarang ada perusahaan besar semacem Ogi Karya ataupun pengembang Marogi City mau sukarela menghambur-hamburkan duitnya dan bertaruh bahwa bocah-bocah semacem gue bisa membuatnya lebih untung 10x lipat dengan ide-ide yang bisa dikeluarkan. Ada beberapa, tapi kondisi saat itu ‘mereka sedang butuh orang dan memang gak ada lagi yang dapat dihubungi, kecuali STM berbakat seperti: STM Pembangunan’.

Dan Eureka! Gue berada dalam posisi yang tidak mengenakkan sebagai seorang pekerja: nganggur mania.

Dan–sekali lagi–apa makna bekerja?
Bagi gue, bekerja merupakan akhir dari segala pencapaian cita-cita yang kita perjuangkan. Segala mimpi kita telah berada di stasiun pemberhentian terakhir, di saat kita bekerja itu. Bekerja adalah hal yang tidak nyaman. Selalu ada rasa tidak ikhlas ketika menjalani hari-hari sebagai seorang pekerja.

Banyak para pekerja di hampir seluruh perusaahan–gue yakin–tidak dalam posisi tawar dalam mengejar cita-citanya. Ia telah terjerumus di lingkaran keterpaksaan dalam kondisi yang ia telah jalani. Tanpa balik arah menuju lokasi impiannya, ia tanpa sadar telah membunuh potensi dan keinginannya untuk meraih mimpi. Dan pada saatnya ia akan menyesal, walau hari itu sudah lewat jauh.

Gue di sini, di persimpangan jalan, masih berusaha menggenggam erat mimpi-mimpi gue yang dibawa sedari kecil. Dan FYI, mimpi kita waktu kecil adalah impian kita yang paling jujur, tanpa tekanan dari manapun&siapapun, dan secara polos mengucapkan janji sepenuh hati itu. Gue akan terus berjuang meraih apa yang gue impikan. Gue harus selalu memperbaharui semangat di setiap hari, di setiap saat. Dan yakinlah, di dunia ini pasti ada satu-dua mimpi kita yang dikabulkan Tuhan.

Gue bukan orang dengan idealisme tinggi. Bukan aktivis yang punya prinsip nyata. Gue adalah orang yang berusaha–sebisa mungkin–punya idealisme, yang mana sampai sekarang belum mendapat ujian dalam memperjuangkan idealisme gue itu. Belum, gue belum membuktikannya. Dan harus gue buktikan suatu saat nanti, secepatnya.

Bekerja dan bermimpi adalah dua hal yang berbeda. Bekerja di perusahaan besar bukanlah mimpi orang-orang besar. Dan menurut gue, mempunyai perusahaan besar pun merupakan bukan mimpi yang besar. Itu hanya sebuah hal yang ambisius. Just it! Gue gak suka yang seperti itu. Sayang sekali.

Menjadi orang besar berarti bermanfaat untuk orang banyak. Tanpa memilih, tanpa menggaruk kepala berpikir lama. Lihat Mahatma Gandhi, lihat Bunda Theresa, lihat orang-orang yang mengorbankan waktunya demi orang lain. Gue ingin bisa seperti itu, menjadi seorang pahlawan yang tanpa memikirkan diri sendiri. Gue ingin menghirup banyak salam orang ketika mereka senang gue bantu. Gue kepingin melihat senyuman mereka yang masih bisa merasakan bahagia. Oh, sungguh hebatnya orang-orang yang bisa.

Bekerja. What the hell of ‘bekerja’?!
Cari duit? Ngasih jajan anak? Beli rokok?

Apa? Mau ngasi apa ke dunia?

Oh, mungkin seperti ini kah…
Bekerja, lalu punya duit banyak, dan hasilnya di berikan kepada yang memerlukan.

Ha? just give some money??? So useless, I’m sure.
Buat apaan duit, emangnya. Hahaha. so funny.
It’s not good idea, I think.

Kita harus berbuat, kita harus bertindak. Dunia mengharapkan kita lead this world. Dunia yang sudah lelah dengan intrik gak guna.

Satu quote dari Arai: Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.

Tagged: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Di Persimpangan Jalan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: