Dunia Tanpa ‘tanggung’

20 January 2010 § 3 Comments

Pernahkan kalian mendengar seseorang di rumah menjawab panggilan ibunya dengan,

“bentar Mak. Lagi tanggung ngerjain Pe-eR. Dikit lagi nih.. . …”

atau,

“Tanggung bu. masih neriska.”

Malah sampe ada yang kurang ajar,

“Hadoooh. film rame nih! Ck! Bawel amat sih, yak. Kaga tau orang lagi seneng yeh….? Tanggung ah.”

Nah, apakah kalian juga termasuk orang yang di dalamnya?
Huh, well, tentu saja, mana ada sih maling yang mau mengaku kejahatannya. Sulit bagi seseorang mengakui aib yang dilakukannya kecuali ia gak waras. Tapi, anyway, hati tak pernah bohong. Ia bakal menangkap sinyal kebohongan itu. Trust me, it work!

Banyak orang yang menganggap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan harus selesai terlebih dahulu sebelum berpindah ke pekerjaan lain. Oh, gua setuju. Tapi ada beberapa hal yang harus di-stop, bahkan ketika kita sedang gawat-gawatnya (yang lazimnya kita sebut dengan deadline). Ada. Ada pekerjaan yang harus kita tunda untuk sementara.

Seseorang bangun jam tujuh. Telat. Rupanya pagi ini ia harus mengikuti meeting, yang mana peraturannya: seandainya telat, gaji pokok akan dikurangi seperempatnya. Waw! Parah banget, tuh, hukumannya… (Ya, parah. Soalnya gua sendiri yang buat hukumannya. Seterah gua, dong. Yangga?)

Ia tergesa-gesa. Terburu-buru ingin sampai di kantor tepat waktu. Dengan mengendarai motor bebek, ia melaju kencang tidak seperti karyawan-karyawan biasanya. Ia ngebut. Melintas se-kilat mungkin di jalan. Saat itu hari telah siang. Kesempatan menyalip sekecil apapun ia libas. Dan ketika ia berada di lampu lalu lintas yang sebentar lagi lamu hijaunya berganti kuning tanda berhati-hati, motornya ia laju dengan kecepatan penuh. *Bhwuss! Sampai pada di garis batas stop kendaraan, lampu lalu lintas telah berganti merah, tanda berhenti. Namun karena ia merasa ‘tanggung’, diteroboslah lampu merah tersebut tanpa sedikitpun menginjak rem. Dan,,

*DHUAKK!

Si pengendara motor itu tertabrak oleh truk yang melintas kencang dari sebelah kirinya. Naas. Ia terpental sejauh 25 meter dengan darah keluar dari sekujur tubuhnya. Crowded. Dan kemacetan tak dapat dihindari. Suara klakson dan tin-tin menggema di sepanjang jalan yang setiap harinya memang sudah padat itu. Lalu lalang kendaraan beroda dua dan empat terhenti untuk beberapa saat. Polisi menjadi lebih sibuk. Membersihkan TKP, meringkus korban dan juga tersangka. Meringkus korban dengan menggunakan Ambulans, sedang tersangka diringkus dengan mobil tahanan.

Begitulah… Cerita di atas hanya satu dari sekelumit kisah tragis yang disebabkan oleh doktrin ‘tanggung’ yang telah mendarah daging di Republik ini. Sudah jelas korbannya (ia yang jadi korban tersebut sebenarnya seorang tersangka absolut). Sudah jelas akibatnya (gak usah tanya).

Kawan, bersikaplah dewasa. Hargailah setiap hal yang orang lain lakukan. Patuhi segala aturan yang telah dibuat. Meski orang lain undisiplin, ya kita lah orang yang mempelopori kepatuhan tersebut. Setidaknya kita punya jiwa kesatria untuk mengakui bahwa kita ini adalah negara beradab. Sebuah negara dari Timur.

Dengan tidak merasa ‘tanggung masih lampu kuning, belum merah inih.. . ..’ kita akan merasa hidup ini sangat berharga. Hidup dengan taat aturan merupakan makna hidup yang hakiki, bagi gua. Jangan pernah sungkan untuk melakukan kebaikan di tengah terkikisnya moral anak bangsa. Kita harus menjadi satu dari sekian orang Indonesia yang cinta negaranya.

Gua berharap ada orang-orang yang sama, satu tujuan: untuk memajukan Indonesia ini. Terima kasih.

Tagged: , , ,

§ 3 Responses to Dunia Tanpa ‘tanggung’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dunia Tanpa ‘tanggung’ at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: