Perahu Kertas 「Review Buku」

20 April 2010 § 2 Comments

Rank: ***** [5 out of 5 stars]
Category: Books
Genre: Fiction

Terhitung akhir pekan yang lalu, saya telah menyelesaikan buku Perahu Kertas untuk kedua kalinya. Love it!

Uhmm… entah dengan kata-kata pujian apa untuk mendeskripsikan kekaguman saya atas buku ini. Ucapan semanis musim semi di kala senja hari pun tak bisa menandingi ketakjubannya [halah!]. Dan kalau hati ini bisa bercakap-cakap, mungkin kalian akan paham apa yang saya maksud tadi.

Namanya Kugy. Mungil, penghayal, dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah. Keenan belum pernah bertemu manusia seaneh itu.

Namanya Keenan. Cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya, mewujud lukisan-lukisan magis. Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu.

Perahu Kertas

Guys, dari awal membaca ini buku pertama kalinya, saya excited banget, loh! Di saat itu juga saya kepingin banget membuat ulasan—saking amazingnya cerita ini. Namun karena satu-dua alasan—yang bahkan menghalangi saya untuk sekedar bilang, “Buku ini awesome!”. Untuk itulah tulisan ini hadir di sini.

Dari halaman pertama mengenal Kugy [look? she has a name that almost like me :D] saya langsung terseret kencang ke dunia dongengnya. Kugy, si kecil yang bercita-cita menjadi juru dongeng, membuat prinsip saya mengenai kaum hawa—yang kalem itu keren dan sebagainya—langsung hancur berantakan. Ternyata sejak dulu perspektif saya telah salah. Tidak henti-hentinya kata demi kata, halaman demi halaman; cerita tentangnya membuat saya mati rasa. Apapun yang sedang ia lakukan, saya sangat menikmatinya. Emosi di dada ini meluap. Parahnya lagi, saya tak sadar akan hal itu. Saya benar-benar jatuh cinta dengan ceritanya, dengan karakternya.

Saya kecandu Kugy. Ajaib. Sungguh recommended ‘friend’ orang yang kayak gini. Dan saya kira hanya Keenanlah pribadi yang cocok dengannya. Serius! No one other, sodara-sodara. Dari situ, saat membaca Perahu Kertas itu, saya mulai berupaya bahwa endingnya nanti jangan sampai berbeda dari imajinasi yang terpatri di otak ini [you know what i mean, dude!]. Hahahah, selfish banget, ya. Tapi inilah yang saya rasakan saat itu. Gak pengen banget mereka enggak jadian. Makanya, ketika konflik antara mereka berdua sudah menjadi lubang besar yang menganga, saya—dengan memaksakan diri—menghabiskan Perahu Kertas sampai tamat hari itu juga. Alasannya tidak lain agar saya tak ikut larut berlama-lama merasakan kepedihan atas apa yang mereka alami, sampai mereka bersama-sama lagi nantinya. Kalau sampai ceritanya tiba-tiba bertolak belakang dengan apa yang saya bayangkan saat itu, enggak tau deh saya bakal bereaksi apa.
*sigh!

Karakternya sungguh sangat kuat. Juga, mbak Dee tidak berlebihan dalam bernarasi, ia bebaskan pikiran pembaca begitu aja. Ringan banget ceritanya. Nih, ya, saya kasih tahu satu hal: kalau pun buku ini hanya bermodalkan cerita Kugy & Keenan themselves, gua yakin cerita yang dibuat ini tetap bakal bikin pembacanya mabuk tergila-gila! Suer! Ckckck.
Hebat! *prok! prok! prok!

Ada beberapa penggalan cerita yang ingin saya kasih lihat. Saya suka banget “bantingan stir” Mbak Dee yang minimalis.

Kayak gini,

Kugy tak sanggup bicara lagi. Hanya memeluk Noni dan mengusap punggung sahabatnya (itu—pen).

“Lu maafin gua kan, Gy?”

“Asal lu juga maafin gua, Non,” kata Kugy lirih.
Keduanya berpelukan lama, mencairkan apa yang sudah membeku selama hampir tiga tahun.

“Gua juga mau kasih tahu sesuatu… ” bisik Noni.

“Bahwa lu sebenarnya Batman?”

Noni nyaris tersedak karena ledakan tawa yang bentrok dengan isak tangis. “Monyong!” makinya pelan. “Berita serius, nih…”

Lalu,

“Berhubung ortu-ortu sudah mendesak, yah, you know lah.. jadi…” Noni berdehem, “bulan Februari nanti, tepat pada hari Valentine, gua sama Eko tunangan.”

Kugy melongo. “Gua… kok… kayaknya lebih siap dengar kalo lu sebenarnya Batman.
Noni terpingkal-pingkal sambil menghapusi air matanya, “Dasar gila…..”

Saya suka aja tikungan-tikungannya Mbak Dee yang renyah itu. Ketika pembaca sedang khusyu menghayati kesedihan mereka, tiba-tiba Mbak Dee ‘dengan sengaja’ membuat belokan yang sangat cihui. Dan terjadilah tabrakan ide yang sangat dahsyat itu. Brilian!

Tapi yang membuat saya speechless adalah caranya dia membuat ini cerita—bisa-bisanya ia merangkai cerita ini secara keseluruhan. Gua pengen tahu bagaimana cara dia menyusun semua huruf-huruf alphabet bisa secanggih ini. Makanya, Mbak Dee telah menjadi salah satu penulis favorit saya.

Tagged: , , , , ,

§ 2 Responses to Perahu Kertas 「Review Buku」

  • wahyu says:

    pinjem dong bukunya……..
    kalo udah mulai kuliah disastra kayaknya kamu bisa lebih jago deh untuk merangkai kata-kata…caiyoooooooo…….

  • liez says:

    wuoh… iyah keren bgt karakternya kugy. unik..
    btw, saya punya pdfnya loh😀 *ninja*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Perahu Kertas 「Review Buku」 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: