「Resensi Buku」 Sang Pemimpi: REVISI

26 June 2010 § 1 Comment

Rank: ***** [5 out of 5 stars]
Category: Books
Genre: Fiction

“Aku mengambil surat beasiswa Arai dan membacanya, lalu jiwaku seakan terbang. Hari itu seluruh ilmu umat manusia senjadi setitik air di tengah samud(e)ra pengetahuan. Hari int, Nabi Musa membelah Laut Merah dengan tongkatnya dan miliaran bintang-gemintang berputar dalam lapisan tak terhingga di luar jangkauan akal manusia. Hanya itu kalimat yang dapat menggambarkan betapa indahnya Tuhan telah memeluk mimpi-mimpi kami. Karen di kertas itu tertulis nama universitas yang menerima Arai sama dengan universitas yang menerimaku. Di sana, jelas tertulis: Université de Paris, Sorbonne, Prancis.”

Yap, pagi ini gue telah menyelesaikan Sang Pemimpi edisi REVISI buatan tangan Andrea Hirata. Harap dicatat, ya —> edisi REVISI!!

Wew, kenapa gue sampai meng-caps lock tulisan ‘revisi’? Uhmm.. jawabannya adalah karena penulisnya salah ketik beberapa bab diganti, tepatnya empat sampai lima bab terakhir. Dan itu artinya, ada perubahan mendasar dalam ‘penayangan’ narasi dalam otak pembaca.

Mulai dari bab 24—atau biasa Bang Andrea sebut dengan ‘mozaik’ 24—sub judul telah diganti dari yang tadinya Ciputat berubah menjadi Jakarta. Dan itu tanda-tanda yang pertama. Kedua adalah Andrea di sini—di buku edisi REVISI—lebih merendahkan diri [atau merendah hati..?]. Itu terjadi ketika ia sedang prosesi wawancara pengajuan beasiswa kuliah di luar negeri dan di buku edisi REVISI tertulis,

“Tes terakhir itu dilaksanakan di sebuah gedung di Jakarta. Peserta tes diwawancarai para ahli sesuai dengan bidang studi yang akan diambil di Eropa. Aku menyelesaikan wawancaraku dengan seorang profesor dalam keadaan kurang percaya diri. Wawancaraku tak berjalan dengan baik dan kurasa penampilanku kurang meyakinkan. Seorang sekretaris program seleksi baeasiswa itu mengatakan kepadaku agar menunggu saja keputusan akhit tes yang akan dikirim melalui pos.

Aku meninggalkan ruang wawancara dengan lesu. Aku merasa seperti telah gagal. Aku melalui… bla.. bla.. bla…”

Nah, pada hal di buku pertama si Ikal ini terasa sombong sekali dengan kemampuan dan pengetahuan yang ia miliki mengenai teori ekonomi klasik ala Adam Smith dan juga tentang ide-ide briliannya yang ia utarakan secara telanjang bulat. Ya, telanjang bulat, sebab ia tanpa tedeng aling-aling langsung nyerocos bicara soal terobosan ekonomi—yang mana gue sama sekali nggak ngerti.

Gue suka gaya lu, Bang!!

Cover Sang Pemimpi

Bagi gue, ini merupakan suatu hal yang termasuk dalam kelompok kata ‘Gak kenapa-napa, sih‘. Gak berpengaruh terhadap kualitas Bang Andrea, maksud gue. Yah, mungkin buku ini memang ditujukan untuk menyingkronkan antara film dengan novel [yang di sini bukan termasuk sebagai novel adaptasi, namun ia adalah ide cerita film]. So, wajar-wajar aja ada perbaikan di sana-sini supaya pembaca pun lebih bisa menikmati detil-detil yang disajikan Bang Andrea itu.

Ketiga. Ya, petunjuk ketiga tanda-tanda bahwa itu merupakan buku edisi REVISI adalah adanya scene di mana ia menampilkan suasana kehidupan dan romantika di dalam kereta api. Waktu tempuh yang cukup lama yakni lima jam berada di kereta rel listrik alias KRL membuatnya memahami orang-orang yang bermukim di gerbong berjalan ini. Dan—seperti yang kita tahu dan pernah membacanya—di buku awal tidak ada narasi seperti ini,

“Pengamen dan peminta-minta mendesakkan dirinya dengan garang ke gerbong yang sempit, bergabung bersama ibu-ibu yang mau belanja, para pelajar, para dosen, para tentara, mahasiswa, karyawan karyawati swasta, para pegawai negeri, pengangguran, dan kaum copet.”

Ketika di edisi awal, Bang Andrea hanya menampilkan sedikit sekali deskripsi tentang Universitas Indonesia serta kegiatan kuliahnya. Sedang di buku edisi REVISI, ia lumayan banyak memberikan gambaran tentang Universitas Indonesia. Yah, hanya sebatas kegiatannya di kereta ketika pergi dan pulang, sih. Diantaranya ia ceritakan bagaimana perjalanan panjang seorang mahasiswa UI harus bekerja keras menuntut ilmu, yang mana saat itu ia tak mendapatkan suntikan dana dari kedua orang tuanya. Dan itu yang musti ditiru.

Yang keempat, yaitu yang terakhir—dan ini sangat mempengaruhi skrip film Sang Pemimpi—adalah adegan di mana Ikal secara tidak sengaja bertegur sapa dengan Zakiah Nurmala hilang! Ya, scene yang itu dihapus!!!! [atau paling tidak —> nggak ditampilkan di buku edisi REVISI ini]. Itu membuat gue sedikit geregetannnn karena gue pengen tau, siapa pemeran Zakiah di film nanti : )

Yah, itulah. Penilaian gue terhadap buku edisi REVISI masih sekedar melulu tentang ide cerita. Dan akhirnyaaaa, buku yang dah pernah gue beli ini bisa gue nikmati kembali dalam balutan baru tangan Bang Andrea. Menghibur, dan gue sangat terinspirasi dengan cara mereka memperjuangkan mimpi-mimpinya. Semoga para pembaca dan pengagum karya Andrea Hirata lainnya bisa segera menikmatinya [eh, gue ngomong gini telat gak, ya?😀 ].

PS: Beberapa hari yang lalu Bang Andrea merilis novel dwilogi terbarunya, yakni Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas dalam satu jilid buku! Wow, penyajian yang unik menurut gue. Dan gue belum memilikinya, anyway >.<

Tagged: , , ,

§ One Response to 「Resensi Buku」 Sang Pemimpi: REVISI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Resensi Buku」 Sang Pemimpi: REVISI at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: