Mengintip Mimpi Tahun Lalu

26 June 2010 § Leave a comment

Pagi ini ketika berleha-leha karena seharian bakal nyampah di STM—sekolah SLTA gue dua tahun lalu—gue melakukan hal berguna ini untuk sekedar onlen gratis, yakni nulis blog😛 hehehe. Beginilah kerjaan kaum pemalas, berorientasinya hanya kepada hal-hal yang musykil lagi nihil. Haghaghags😀

Hari ini teman-teman semasa STM kepingin ngumpul-ngumpul lagi di sekolah. Yah, acaranya standar: main futsal. Latar belakang mau ngumpul-ngumpul tidak lain tidak bukan karena teman saya yang tengil satu ini—TeLe namanya—mau segera berangkat ke Osaka, Jepang, untuk urusan magang selama kurang lebih tiga tahun. Bangganya gue punya teman kayak begini, meski kejahilannya minta ampun.

Memang, sih, baru beberapa pekan ia mengikuti kursus bahasa Jepang yang dilaksanakan oleh perusahaan yang memberangkatkannya ke negeri Sakura, tapi *WOW!* ternyata ia sudah sugoooi [jago banget] mengucapkan kata-kata nihon-go. Luar biasa anak ini. Pengen sekali gue sedot otaknya trus menggunakannya untuk berbicara dengan orang Jepang langsung😛

Ngomong-ngomong soal belajar kursus bahasa, gue jadi teringat kejadian setahun lalu. Suatu skema di mana gue berekspektasi secara besar-besaran kepada impuls pencipta angan-angan di otak gue. Mengharapkan segala yang tak lazim dan absurd di tengah-tengah keramaian yang sadar akan sebuah realita. Saat itu dengan bangga gue meniatkan diri untuk mengambil beasiswa sekolah tinggi di Jerman. Maka otomatis gue putuskan hari itu juga untuk belajar bahasa Jerman. Oh, yes. Gue berkata seperti itu dengan tampang serius. Gue benar-benar serius menantang realita.

Gue pun bersikeras memutar otak untuk mengingat-ingat kembali. Gue masih ingat adegan gue bergelut dengan buku saku bahasa Jerman yang sekitar tiga tahun lalu gue beli, sebelum gramedia mempercantik diri. Gue masih ingat ketika buku saku itu sudah gak relevan lagi untuk dikebat-kebet, gue pun bersama seorang teman membeli [lagi] buku panduan belajar bahasa Jerman di tempat yang sama, Gramed Matraman. Gue masih ingat ketika belajar di depan monitor PC labs sekolah, tertatih-tatih mengeja ‘Entschuldigen Sie”, mengambil serat ilmu dari percakapan-percakapan simpel Tell Me More yang diunggah sehari sebelumnya. Betapa gue masih ingat, kala itu, gue ditemani teman-teman yang secara moril mendukung gue untuk bisa benar-benar menginjakkan kaki di tanah kelahiran Kanselir Angela Merkel, serta—ini momen yang paling bikin gue terusik—iringan intro dari lagu ‘Sea’-nya YUI membahana di setiap gue mengambil rehat. Betapa suara vokal seperti

himawari ga saku kisetsu ni natta nara
ai ni yukou, ai ni yukou ah
yasashiku nareru
ano umi wa ima demo mado kara miemasu ka?
minna minna genki desu ka? ah
…itsu mademo naitecha ikenai ne

Ia mengalun ballad di otak kanan gue, memaksimalkan fungsi kerja imajinasi supaya baik jalannya sehingga mimpi-mimpi itu terus terjaga di kubah cita-cita gue. Sungguh sesi yang bakal membuat gue seg-segan ketika hal itu terjadi lagi [atau paling kagak, ya… terasa Déjà vu].

Yah, untuk sekedar mengucapkan ‘Es tut mir leid’ ataupun ‘Guten Morgen’ mah gue bisa, itu karena kalimat sapaan tadi hanya ucapan-ucapan dasar saja wkwkwkwk😀

Dan sekarang…..
Ya, sekarang arah haluan kapal telah berubah. Tepat 180 derajat. Sekarang gue telah di terima di Universitas Indonesia. Yang gue lakukan hanya tunduk pada perubahan drastis ini. Gue merasa setahun ini menjadi pribadi yang punya prinsip hidup dan bisa membawa seseorang untuk diajak perjuang bersama-sama di kehidupan selanjutnya [tau kan maksud gue..?😛 ]. Gue telah melalui banyak ujian yang setengahnya mungkin tidak gue selesaikan namun setengahnya lagi kemungkinan telah gue khatamkan, sehingga beberapa massa ke depan gue pun akan menghadapi cobaan dan kejutan yang lebih besar dari ini, setingkat lebih expert dari tahun ini. Semoga apa yang telah gue capai adalah manifestasi jangka panjang gue untuk mendapatkan cita-cita gue di massa datang.

Terima kasih kepada orang-orang yang berada di balik layar drama kehidupan gue, terima kasih para pemeran yang mau beradegan secara wajar di panggung kisah kegaringan gue. Kalian semua adalah air bagi tumbuhan yang menjadikannya besar hingga akhir kehidupan. Terima kasih.

Tagged: , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mengintip Mimpi Tahun Lalu at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: