「Resensi Buku」 Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas

23 July 2010 § 4 Comments

Rank: ***** [5 out of 5 stars]
Category: Books
Genre: Fiction & Literature

Pada bulan Juni 2010 yang lalu Bang Andrea telah merilis buku dwilogi bertajuk Padang Bulan (dan sekaligus Cinta di Dalam Gelas). Bukunya secara unik dibuat dalam satu jilid. Dua buku disatukan di dalam satu jilid. Ini merupakan ide yang unik.

Mengingat Bang Andrea tidak pernah berhenti membuat humor, maka secara otomatis saya pun mempersiapkan diri untuk bisa menerima joke-joke-nya dengan baik. Dan, mari kita mulai…

Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas

Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas by Goodreads

Kisah ini bermula ketika siswi kelas enam SD yang biasa dipanggil Enong oleh teman-temannya itu dibelikan sebuah Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar Kata. Bahasa Inggris adalah pelajaran favoritnya. Maka ia sangat senang ketika ayahnya menghadiahkan kamus itu dengan mengumpulkan uang dari jerih payahnya mengais sisa-sisa timah di bekas galian PN Timah.

Enong tiba-tiba harus melupakan sejenak akan kesenangannya belajar Bahasa Inggris. Kematian ayahnya yang menjadi titik anti-klimaks kehidupannya. Penyebabnya tidak lain karena dirinya sebagai anak tertua harus membanting tulang menghidupi keluarganya dan membiayai adik-adiknya untuk tetap bersekolah. Kehidupannya menjadi ujian yang sangat berat dan berkali-kali ia harus menerima perlakuan yang tidak adil dari masyarakat sekitar yang iri dan tidak suka kepadanya. Mulai dari para penambang timah yang mencuranginya, membuatnya harus berjibaku menghindari gong-gongan anjing seumur hidup, lalu si juru taksir timah yang culas kepadanya, dan mencapai puncaknya ketika suaminya berbuat semena-mena terhadapnya. Sungguh cobaan hidup yang menggiriskan, kalau kata Ikal.

Kesengsaraan bertubi-tubi yang ia terima itu merupakan potongan-potongan mozaik yang masih berserakan, yang tidak ada seorang pun tahu bagaimana potongan-potongan tersebut akan menyatu dalam satu garis takdir yang telah Tuhan rancang kepada pendulang timah tersebut. Begitu mencengangkan!

Ia tidak beruntung, memang. Namun ketidakberuntungan itu tidaklah membuatnya patah semangat untuk meneruskan mimpi-mimpinya belajar bahasa Inggris. Ia jatuh kemudian bangun. Jatuh lagi, lalu bangun lagi dan terus menerus seperti itu. Tak pernah sekalipun Enong mengenal kata menyerah. Setiap lelah menghampiri, Enong sesekali menyiulkan lagu anak-anak berbahasa Inggris yang dulu pernah diajarkan Bu Nizam padanya: If you’re happy and you know it, clap your hands.

Buku ini bukan hanya menceritakan tentang kehidupan sosial masyarakat melayu. Seperti kata Salman Faridi, sang CEO Bentang Pustaka, novel Cinta di Dalam Gelas menyajikan kisah pertandingan catur dan kebiasaan-kebiasaan unik orang Melayu kampung pada permukaannya. Namun jika dilihat lebih dekat, penelitian dan riset yang dilakukan Bang Andrea ini telah ia kerjakan bertahun-tahun lamanya.

Buku ini ilmiah, analitis [meski saya belum menguji secara empiris], dan deskriptif. Benar-benar hebat. Inti dari cerita ini adalah persekongkolan, konspirasi, dan spionase.

Pandai bertutur kalimah, sangat melayu, dan sangat berlebihan. Itulah kesan yang saya tangkap dari seorang Bang Andrea di sini. Penuh dengan humor canggih yang tidak pernah komedian sentuh, ia adalah blender yang bisa mengaduk perasaan pembaca, mulai dari sedih, kesal, geregetan, terharu, speechless nggak bisa berkata-kata, ngakak, sampai pada akhirnya jingkrak-jingkrakan untuk sebuah alasan yang tak bisa dipahami. Seperti Yamuna.:mrgreen:

Yang seru adalah cerita soal filosofi kopi bagi orang-orang Melayu, juga bagaimana warung kopi di Belitong menjadi pusat daya tarik orang-orang Melayu. Sungguh menarik dan inspiratif. Gila, deh.

Kegilaan Bang Andrea tidak pernah berhenti dan ia memang unstoppable. Saya tidak banyak mengulas isi dari buku ini dikarenakan kejutan-kejutan yang ditawarkan nanti sangat menggiurkan dan memanjakan pikiran. Dan saya pikir para pembaca juga tidak ingin melewatkan sebuah kejutan bukan? Atau apakah kalian lebih suka kalau hidup itu tidak perlu ada kejutan, seperti yang Enong yakini? Tak sabar tangan ini ketika harus menunggu kejutan-kejutan yang ditawarkan di halaman-halaman selanjutnya. Namun ironis juga, karena di setiap lembaran-lembaran tulisannya saya sangat menikmati detil-detil deskripsi yang membuat mata ini betah tak mau pindah halaman meski sampai menunduk-nunduk [soalnya kesempatan untuk membaca hanya pada sedikit waktu ketika berada di bus kota].

Bang Andrea sekali lagi membuktikan bahwa dirinya sebagai salah satu penulis [atau malah bukunya yang] fenomenal. Maka nggak heran ketika Penerbit Bentang Pustaka menandatangani kerjasama dengan Amer-Asia Books, Inc, Tucson, Arizona, USA yang mana mereka akan menjadi agen dan pemegang lisensi untuk penerbitan Tetralogi Laskar Pelangi di luar Indonesia. Wow, prestasi yang luar biasa bagi penulis Indonesia bisa dihargai di luar negeri sebagai karya yang mengagumkan [yang biasanya hanya menulis tinlit atau ciklit atau catatan harian yang kurang berguna, menurut saya pribadi].

Itulah. Semoga kalian, kawanku, bisa menikmati buku ini seperti apa yang telah saya nikmati di hari-hari sebelumnya. Wallahua’lam.

Tagged: , , , , ,

§ 4 Responses to 「Resensi Buku」 Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Resensi Buku」 Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: