Ia Yang Masuk UI

2 September 2010 § 10 Comments

Sekitar dua setengah tahun yang lalu, seorang anak lulusan SMA ternama di sebuah kota memberanikan dirinya pergi ke sebuah kota besar yang sama sekali belum pernah dijamahnya, dimana ia tidak punya kerabat disana. Hanya karena suatu alasan, karena namanya dinyatakan lulus ujian seleksi perguruan tinggi oleh sebuah media massa terkenal di kotanya. Ya, berbekal uang seratus ribu rupiah saja, pemberian ibunya, dan seratus ribu lagi yang diberikan oleh teman-temannya di SMA yang mengantar keberangkatannya, ia pun berangkat menuju ibukota, Jakarta. Entah kenapa, ia punya keyakinan kuat dapat bertahan hidup disana, walaupun ia yakin ia tidak akan pernah mendapat kiriman sepeserpun setiap bulan dari rumah, karena ia hanya seorang anak yatim dan tidak mau membebani ibunya yang sudah renta dan sakit-sakitan. Dengan suatu keyakinan terhadap apa yang pernah didengarnya dari salah seorang seniornya, “UI adalah universitas dengan seleksi intelektual bukan seleksi finansial..” Dan luar biasa, dengan kesungguhan itu, ia dapat melenggang ke UI dengan uang semester dan uang pangkal nol rupiah, mendapatkan beasiswa, dan beberapa pekerjaan yang dapat menopang hidupnya hingga sekarang. Sekarang, ia pun kembali berjuang keras bersama rekan-rekan yang memiliki kepedulian yang sama untuk membantu adik-adik mahasiswa baru yang senasib dengan dirinya dahulu.
-Potongan cerita dari blog Big Zaman, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer 2007-

Nah, itu cerita dari seseorang yang dari Barat sana (atau Timur, ya? ah… entahlah). Seseorang yang bernama Big Zaman dengan keyakinannya–dalam bahasa masa kini sering disebut sotoy–menghidupi dirinya di Jakarta tanpa biaya yang cukup. Bayangkan, duit Rp 200.000 untuk dua pekan aja gua kurang! Dia bahkan yakin bahwa dirinya memang telah ditakdirkan bakal masuk UI.

Gua baru tau ada yang punya cerita seperti di atas tadi. Mirip. Mirip sekali dengan gua. Gua, Ibnu Maroghi, telah dengan garingnya bermimpi masuk Perguruan Tinggi Negeri tanpa duit segepok. Rekan sekantor gua nanya, “Gi, emangnya lu mau masuk UI?

Yah, sebagai orang betawi gua pan nyablak aja jawapnya, “Harus! Gua harus masuk UI!

Catat, ya, waktu itu gua masih bingung-bingungnya memikirkan gaji yang minim (kayak rok aja, ya.. minim). Entah itu sesuatu yang salah atau benar, gua nggak paham. Tapi satu yang pasti, ucapan gua itu menyulut hati ini untuk mempertanggungjawabkan ucapan gua itu. So, tak ada hal lain, Gua-Harus-Masuk-UI.

Sekarang gua udah masuk UI. Gua kuliah tanpa membayar uang kuliah (dapet beasiswa), trus magabut tiap bulan 500ribu dari beasiswa itu. Udah gitu, gua dibolehin kerja sama atasan gua, lagih! Damai banget rasanya jadi gua, ya..? Ho oh, terserah pikiran kita masing-masing aja, deh. Kayak di iklan aja: anak senang, ibu tenang.

Ceritanya begini, nih…

Mari kita ke awal tahun 2010. Saat itu adalah awal Januari dan gua baru bisa serius belajar untuk ikut ujian masuk PTN. Ujian SIMAK yang di bulan April itu hanya berjarak 3 bulan dari awal gua memulai belajar IPS SMA. Sungguh suatu pertaruhan yang tiada berguna, menurut hati kecil gua. Namun pikiran-pikiran picik itu sirna ketika gua belajar tentang kekuatan sebuah mimpi. Mimpi adalah bla…bla…bla.. Gua baca The Secret (ada yang udah baca?), gua ikut tiansi (woooo, norak lu! Don’t mind ya), gua minta nasihat dari seorang penulis. Pokoknya gua mencari-cari dukungan, deh, supaya usaha gua terlihat nyata. Gua pun mulai belajar. Kadang belajar di kantor (waktu Zaenal masih ada di situ hiks…), sering juga, nih, gua sampe ketiduran ngiler2 di metro mini, sampai gua pulang ke rumah malah kaga belajar sama sekali (karena kecapekan). Kerja keras sepekan gua pun dipantau mentor gua yang mana ini merupakan salah satu poin ‘kenapa gua bisa lolos SIMAK UI’.

FYI, nih, IPS itu terdiri dari 7 mata pelajaran yang diujikan dan lihat bagaimana gua mengerjakannya:
– Matematika Dasar [ngerjain 4 dari 20 soal]
– Bahasa Indonesia [ngerjain semuanya, dong!]
– Bahasa Inggris [ngerjain sekitar 10 soal dari 20 soal]
– Sejarah [kira2 ngerjain 10 dari 15 soal]
– Geografi [kira2 ngerjain 15 dari 15 soal]
– Ekonomi [kira2 ngerjain 7 dari 15 soal]
– IPS Terpadu [cuma ngerjain sekitar 5 soal doang dari 15 soal]

Kembali flashback ke perjuangan gua beberapa bulan sebelumnya… Gua pun dengan semangatnya menggapai mimpi gua itu supaya menjadi suatu kenyataan yang bisa diraih. Namun malah ironis karena baru beberapa pekan berada dalam mimpi itu gua sudah bangun dan sadar bahwa itu semua hanya mimpi! Sebuah pertanyaan besar menganga membuat lubang dalam sekali di hati. Memojokkan gua ke sebuah kubangan yang tak berujung pangkal. Pertanyaan itu pun memuncratkan dirinya, sekonyong-konyong keluar dari hati: DUIT ADA???

LEMAS. Tak berdaya. Terkulai. Lebay.

Sebetulnya harapan gua udah punah. Dan itu berhubungan dengan materi (duit). Duit dari mana sehingga gua bisa berkuliah dengan nyaman. Namun kali ini mentor gua berkata dengan lantang, “Duit nanti aja dipikirin. Sekarang fokus belajar!! Emang lu udah yakin bisa lolos?”
Deg!
Gua terlalu memikirkan hal-hal di luar kuasa gua. Dan ucapan itulah yang membuat gua bersemangat kembali. Fire! Fire! Fire!

Di sela-sela belajar, nggak jarang gua me-refresh-kan diri di tempat-tempat eksotis semisal Taman Suropati. Biasa, di sana cuma bikin mind map dan mendengarkan bocah-bocah berlatih biola. Meski gua pun nggak ngerti apa yang mereka mainkan.

Pada saat ujian SIMAK, gua ketemu Andri teman SMK gua dari Teknik Komputer Jaringan. Ternyata dia juga pengen beralih jurusan. Berharap aja gua ketemu lagi di Depok nanti sebagai mahasiswa. Amiin kalo gituh. Dan akhirnya gua diterima UI sebagai mahasiswa jurusan Sastra Indonesia (si Andri masuk Sastra Belanda). Seneng banget kan! Wuih, gua lari-larian di sekitar terminal Rawamangun pas liat nomor ujian gua tertera di daftar sambil teriak2 gak jelas “Yeueees!!! Yueeessszzzz!!!”. Koran di tangan pun lecek.

Gua terlena akan euforia “Yes-Masuk-UI!!!” karena pada saat itulah ujian lainnya datang menghampiri, yang mana sudah muncul dari awal perjuangan gua. Satu hal yang baru teringat adalah: gua gak punya duit buat bayar kuliah gua. Babe ama Enya’ gua emang udah bilang waktu itu katanya kaga bakal ngasi duit karena emang kaga ada duit. Pun gua bakal resign dari arsita karena jadwal kuliah pasti bentrok dengan kerjaan kantor. Tapi jalan keluar selalu ada di celah-celah sempit (hanya orang2 tertentu yang bisa melihat celah itu). Gua mendapati bahwa gua diberi nikmat yang besar:
1. Biaya kuliah yang tadinya 5juta (uang pangkal) dan 5juta (bayar kuliah per semester) menjadi 300ribu (uang pangkal) dan 2juta (biaya kuliah per semester). Ini dikarenakan gua menunjukkan kemiskinan gua.
2. Gua dapat beasiswa bidik-misi dari Depdiknas sebesar Rp. 5.000.000 (Rp. 2.000.000 untuk bayar kuliah per semester dan Rp. 3.000.000 untuk biaya hidup) yang secara otomatis membuat uang semesteran gua dinyatakan GRATIS.
3. Gua nggak jadi mengundurkan diri di kantor Pasarminggu karena dibolehkan atasan gua kuliah sambil kerja (kurang baik apalagi bos gua, tuh?!).

Mereka pun hidup bahagia…

Tagged: , , ,

§ 10 Responses to Ia Yang Masuk UI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ia Yang Masuk UI at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: