100 Hari Masa Kerja+Kuliah Reguler

20 November 2010 § 4 Comments

Sampai sejauh ini, gua sudah melewati masa 100 hari kerja+kuliah reguler. Di dalam postingan ini gua akan membeberkan tentang “apa saja yang sudah gua perbuat” dan “apa saja yang terjadi di 100 hari massa kerja+kuliah reguler“.

Kesan pertama gua ketika mendengar pertanyaan “Gimana rasanya kerja sambil kuliah?” adalah mual. Ya, yang terlintas di dalam sel abu-abu gua hanya mual disertai perasaan mau muntah tak terperi.

Betapa beratnya hidup sebagai anak kuliahan sekaligus seorang karyawan. Gua melakukannya dengan kerja keras tinggi, yang mana antara jurusan perkuliahan dengan kerjaan gua di kantor merupakan dua kutub yang bertolak belakang.  Kuliah gua berbasis humaniora → Sastra Indonesia, sedangkan kerjaan gua di bidang konsultasi dan kontraktor perumahan → drafter [disain gambar]. Betapa tidak sinkronnya kehidupan gua pada saat ini. Dan ini merupakan kejutan karena dahulu rencana hidup gua tidaklah seperti ini. Surprise buat gua. Tapi itulah…hidup tanpa hal-hal yang mengejutkan takkan membuat kita bersemangat dan penasaran menjalaninya. Dan gua bersyukur banget.

Anyway, sebulan terakhir gua merasakan titik jenuh, di mana kesehatan gua drop secara mengejutkan. Kepala tiba-tiba berdenyut tak biasa. Itu baru di awal pagi padahal. Pada saat itu gua masih belum menemukan bahaya dan kekhawatiran pun tidak terlintas sedikitpun. Nah, setelah melewati teriknya siang perasaan sakit itu barulah melanda. Sejam kemudian penyakit itu datang bak badai katrina yang menggulung Florida. Dan tanda bahaya meraung-raung.

Gua kolaps. Kepala sakit tak tertanggungkan; lambung diterjang mual yang tak bisa ditahan hanya dengan membuang kentut; rasa lemas disekujur tubuh menyerang tanpa memberi aba-aba apapun; demam menyelimuti kulit gua yang rada-rada “sawo matang” itu. Rasa sakit itu datang berurutan searah jarum jam dan berbanding terbalik dengan perputaran rotasi bumi. Sungguh, itu merupakan hari-hari yang berat buat gua. Alhamdulillah Norman, teman gua yang sangat friendship itu, mengantarkan gua sampai depan pintu rumah [ya kalo gua cewek, itu merupakan momen-momen yang romantis. Tapi GUA COWOK! Sayang sekali, sodara-sodara….].

Cerita berlanjut, dua pekan kemudian gua kambuh lagi. Kali ini tidak sesakit dahulu. Hanya saja gua merasa hal getir berputar-putar di otak gua, “YANG NAMANYA SAKIT TETEP AJA SAKIT, KOMANDAN!”. Begitulah, gua pun berobat kembali. Sampai pada sepekan kemudian gua di rontgen [baca: rongsyen] serta tes dahak. FYI, proses tes dahak adalah dengan menyuruh si pesakitan mengeluarkan dahaknya secara paksa. Mungkin ada pertanyaan seperti ini, “Bagaimana jika si pesakitan ini tidak bisa mengeluarkan dahaknya dengan alasan apapun?”. Oh, jawabannya jelas: HARUS KELUAR dengan alasan apapun. So, gua yang tergolong susah ini terhoek-hoek di depan toilet. Kejadian ini sempat membuat beberapa orang yang melewati koridor toilet pun kuatir akan peluang tertularnya penyakit gua.

Sehari kemudian hasilnya keluar: negatif. Ternyata gua nggak terjangkiti penyakit paru-paru maupun flek. Alhamdulillah. Dilema juga: dengan hasil itu, gua pun bingung sebetulnya gua ini sakit apa.

Gua berharap kejadian dalam sebulan terakhir ketika gua menjadi pesakitan ini bisa menjadi pelajaran untuk bisa lebih menjaga kesehatan. Gua pun berdoa, “Ya Alloh, semoga hambaMu ini bisa terlihat lebih ‘berisi’ dan tidak sakit-sakitan lagi. Amiin.”

Dan semoga gua mendapatkan jodoh yang sesuai dengan keinginan gua [tentu saja sudah termasuk seseorang yang terbaik menurut Alloh]. <— this side, My prayer is accepted!🙂

Amiin Ya Alloh.

Tagged: , , , , , , ,

§ 4 Responses to 100 Hari Masa Kerja+Kuliah Reguler

  • nourygagarin says:

    tetep lu ya, ujung2nya jodoh =))

    best partnya adalah:

    FYI, nih, proses tes dahak adalah dengan menyuruh si pesakitan ini mengeluarkan dahaknya secara paksa. Mungkin ada pertanyaan seperti ini, “Bagaimana jika si pesakitan ini tidak bisa mengeluarkan dahaknya dengan alasan apapun?”. Oh, jawabannya jelas: HARUS KELUAR dengan alasan apapun. So, gua yang tergolong susah ini terhoek-hoek di depan toilet. Kejadian ini sempat membuat beberapa orang yang melewati koridor toilet pun sedikit heran dan banyak khawatir akan peluang tertulatnya penyakit gua ini.

    thx buat ngakak di pagi yang burem ini :p

    *btw gua baru tau kalo sebulan = 100 hari
    :hammer

  • Ogi says:

    Hehehe. Bener deh. Saat itu susah banget kluarnya. Gua udah berusaha hoek2 tp cuma kluar ludah.

    Oh, iya. Judulnya ga nyambung, ya? Jd pd awalnya gua mw cerita ttg kgiatan gua 100 hari. Tp ujung2nya gua malah ngomong soal sakit gua sbulan trakhir.
    Ps: judulnya gua tulis pas2 akhir gitu.

  • Rina says:

    Sekarang masih sakit gak?
    Coba lo cewek.. Kan bisa ada gosip baru di Sasindo (lo sama Norman) :p

    Anyway, tetep semangat ya, Mas Ogi. Buktikan ke seluruh dunia kalau lo bisa sukses kuliah sambil kerja >D

    • ogi says:

      >Wuih, alhamdulillah…mendingan.

      >cewek? Preet. Gua lelaki tulen😐

      >okeh, Banzay! BUKTIKAN! Rakyat butuh bukti, bukan janji ~lol~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 100 Hari Masa Kerja+Kuliah Reguler at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: