「Review Film」 Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1

21 November 2010 § 4 Comments

Rank: **** [4 out of 5 stars]
Category: Movies
Genre: Fiction & Fantasy

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1

Ini adalah film adaptasi ke-7 dari novel best seller J.K. Rowling. Dan film ini—Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1—merupakan film ketiga yang disutradarai oleh David Yates. Film Harry Potter terbaik yang pernah ia buat.

Oke, pertama-tama yang harus dilakukan ketika ingin mereview sebuah film adaptasi dari novel atau buku apapun adalah, kita harus membuang jauh-jauh egoisme kita untuk membanding-bandingkan film yang kita tonton dengan novel yang menjadi acuan adaptasi. Jangan mengharapkan film tersebut akan sama dengan apa yang kita bayangkan saat membaca novelnya. Ya, karena film is film, dan novel is novel. Itu beda, sodara-sodara….

Let’s begin.

Film ini dimulai dengan adegan “ngegalau”nya Hermione untuk mengambil keputusan yang sangat berat. Ia harus menyelamatkan orangtuanya dari kejaran You-Know-Who [oke, kita jangan sebut namanya di sini. Takut, euy😛 ] dan para pelahap maut. Yes, ia harus menyembunyikan orangtuanya itu dengan beberapa trik. Caranya? Caranya adalah dengan menghilangkan ingatan kedua orangtuanya dan memberikan sebuah gagasan bahwa mereka adalah sepasang suami-istri yang tidak memiliki anak dan tinggal di Australia. Oh, itu momen-momen yang berat buat my sweetheart. Hiks…

Ada beberapa adegan yang memuat silang-karakter [istilah gua sendiri untuk menyebutkan suatu karakter yang memerani karakter lain]. Saya melihat, Daniel Radcliffe sudah berperan baik pada saat adegan Hermione meminum ramuan polijuice yang sudah dicampur dengan sejumput rambut Harry. Ia bisa “merasa” cewek saat itu. Dan adegan membuka kutang itu membikin saya tambah ngakak. Kocak. Itu kocak. Saya menduga David Yates punya gaya humor yang unik, mengingat banyak adegan-adegan yang semestinya dramatis di sini malah terkesan lucu [atau memang seperti itu humor para keturunan anglo-saxon?]. Contoh lain, ketika Albert Runcorn [diperankan oleh David O’Hara] berperan sebagai Harry, yang canggung menjadi orang lain itu, mencari kalung yang dipakai Umbridge. Ugh…itu konyol sekali ::ngakak::. Si Steffan Rhodri pun yang menjadi Reg Cattermole berperan sangat bagus [baca: kaku] ketika ia memerankan Ron Weasly. Saya suka humor David Yates.

Uhm…ada sedikit masalah. Dalam hal ingatan saya sangat lemah, maka dari itu apa yang sudah saya tonton tidaklah bisa gua ingat semua. Jadi, kemungkinan review saya ini akan terkesan subjektif dan tak berimbang.

Lanjut, dari sisi sinematografi, film ini sangat tahu apa yang seharusnya dikeker (baca: di-shoot). Mulai dari scene berubah wujudnya keenam duplikasi Harry yang baru meminum polijuice, sampai pada adegan di mana Harry dan kawan-kawan di pantai Shell Cottage bisa lolos dari kediaman Malfoy. Saya menikmati tiap detik dari angle kamera pada saat Harry bangun dan lalu mencari teman-temannya. Ugh…mantep bener “cara” ngambilnya.

Untuk tata suara, tidak diragukan lagi bahwa film ini sukses membuat saya ngos-ngosan, saking begonya menebak jalan cerita—yang mana setahun lalu saya sudah membaca novelnya yang versi English, padahal. Ya, tata suaranya hampir sama menegangkan dengan inception atau the Dark Knight.

Menurut saya, kegagalan yang ditampilkan di film ini adalah sosok You-Know-Who yang semestinya horror dan lalim malah tidak berasa sama sekali terornya. Oke, dia memang sukses membunuh sedikitnya dua orang dengan Avada Kedavra, tapi karakter yang Ralph Fiennes bawakan tidaklah membuat saya panik dan meratapi nasib. Masih mending Bellatrix. Meski gayanya lebay dan slengean, saya masih ngerasa ngeri kalau berhadapan dengannya.

Dan ada beberapa adegan tidak penting yang mana jika dihilangkan pun tidak mengurangi dan tidak mengubah jalan cerita. Ya, benar sekali, kisanak. Adegan itu adalah ketika Ron ingin menghancurkan liontin Horcrux, tiba-tiba muncullah pemandangan mengerikan: Hermione dan Harry saling berciuman mesra tanpa mengenakan sehelai pun pakaian, namun samar-samar terlihan karena kabut yang menyelimuti mereka. Mungkin saya bisa menyarankan agar pemandangan itu diganti dengan adegan Harry dan Hermione menjilati es grim Magnum classic di depan Ron. *garing*

Adegan selanjutnya yang menurut saya gapapa kalau dihilangkan adalah adegan ranjang dansanya Harry dan Hermione setelah beberapa saat ditinggal Ron. Bagi yang lebih tahu, tolong kasih saya jawaban yang bagus untuk ini [agar saya tidak salah paham seperti ini].

Over all, film ini bagus. Dan jujur saja, film ini lebih bagus daripada film Harry Potter terdahulu, yang mana jalan ceritanya sungguh tidak jelas arahnya.

Harapan saya untuk film bagian kedua nanti, karakter You-Know-Who bisa tampil lebih mengerikan dan bisa lebih dari sekedar momok, yang mana bisa membuat orang tak bisa tidur tenang setelah menontonnya. Begitulah….

Honestly, saya pengen nonton lagi… T_T

Tagged: , , ,

§ 4 Responses to 「Review Film」 Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Review Film」 Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: