Menyoal Sinetron Indonesia

24 November 2010 § 3 Comments

sinetron indonesia?

Ketika kita bicara soal sinetron di Indonesia, apa yang terlintas dipikiran kalian, wahai penikmat blog-ku? Hm…bingungkah? Ah, saya rasa nggak terlalu sulit, kok. Oke, biar saya bantu: Cengeng. Mewek. Marah-marah. Emosional. Kekerasan. Main tabok, main pukul, main injak, main serong. Apalagi? Banyak pokoknya lah, ya. Tapi yang ingin saya utarakan adalah Sinetron Indonesia tidak beradab! Sedikit saja yang mempunyai amanat—jika tidak mau dibilang tidak ada sama sekali—yang bisa diimplementasikan di kehidupan nyata.

Sinetron yang beredar di jam-jam sibuk [rush hour] sepatutnya diisi dengan apa yang disebut dengan “tayangan mendidik”. Apakah itu yang dimaksud dengan “tayangan mendidik”? Menurut gua pribadi, tayangan mendidik memiliki cakupan ‘tayangan yang bersifat informatif dan edukatif’, dengan syarat tayangan tersebut memenuhi kriteria santun dan humanis. Kenapa saya berikan syarat seperti itu? Karena menurut saya, tayangan yang informatif dan edukatif tanpa memenuhi kesantunan dan humanis tidaklah cukup.

Bayangkan, misalkan saja ada sineas Indonesia membuat sinetron yang bagus, katakanlah. Tontonan itu pun menghibur. Tapi menjadi buruk ketika ‘cara menampilkan’ sinetron tersebut dengan adegan yang penuh kekerasan, marah-marah, serta saling menumpahkan emosinya di sembarang tempat. Jangan, deh. Mending ke California dulu sono belajar cara bikin film yang bagus. Kalau kita bicara soal contoh sinetronnya, wuih…banyak sekali, sodara-sodara. Tak terhitung dan malas sekali saya menghitungnya [tiada guna juga buat saya].

Saya beritahu saja, ya. Sel abu-abu di kepala saya selalu bilang, karakter sutradara kejar tayang itu tidak lebih dari bodoh, berorientasi bisnis, berpikir pendek, melankoli, dan tak peduli pendidikan, serta tak mau bangsanya maju. Oke, mungkin gak semuanya seperti itu, atau bahkan sang sutradara bisa berdalih bahwa itu semua kerjaan produser dan mereka hanya sekadar boneka yang di-stir untuk kemauan si produser laknat [cariin kata yang lebih halus, dong….] itu. Ya saya pun bisa membalas ucapannya itu lagi, “Lah elu kenapa mau disuruh-suruh untuk bikin film yang ngebego-begoin penonton, hayo? Dasar mata duitan! Tengil!”

Pernah saya menonton dan menikmati salah satu sinetron Indonesia. Oke, saya jujur aja, waktu itu memang menikmatinya😛 . Nah, tapi setelah saya sadar—kemarin-kemarin berarti saya gak sadar menontonnya—saya jelas-jelas tidak menyukai apa yang ditampilkan dari tayangan itu. Bayangkan saja, sedari awal konflik permasalahannya hanya berputar di situ-situ saja: salah paham antar karakter yang tak pernah terungkap dan adegan mis-komunikasi yang terjadi secara kebetulan. Cih, kaga’ dewasa banget, tuh, sinetron!

Trus dengan entengnya para sutradara garing itu mencari pembenaran bahwa “karya”nya itu disukai pemirsa. Tidak sepatutnya sinetron itu dilarang tayang di televisi. Gitu dalih yang mereka cari dan malahan, mereka membuat tontonan yang lebih parah dari sebelumnya. Eh, gini ya, elu bikin aja tayangan porno, pasti tetep aja ada yang nonton, edun! Substansinya bukan selera penonton—karena selera bisa dibangun oleh pembuat sinetron—tapi yang jadi inti permasalahan adalah ‘apa yang elu buat itu’. Wah, kacaw dunia persilatan!

Poin yang membikin masalah ini semakin pelik adalah, dengan bodohnya penontonnya malah menyukai itu dan tidak berbuat apa-apa. Itu kesalahan fatal. Orang-orang sekarang suka terlena dengan kurangnya responsibilitas terhadap sesuatu. Kita lebih suka diam.

Saya itu tidak suka dengan sinetron Indonesia yang sekarang. Namun saya tetap menonton tayangan itu. Argumen yang saya berikan tidak lain adalah untuk mengkritisi tontonan tersebut agar lebih mendidik; agar tayangan sinetron Indonesia berkualitas—tidak kalah dengan karya orang Korea maupun China. Itu sebetulnya yang saya inginkan. Bukan, sama sekali bukan maksud saya menyudutkan sinetron Indonesia agar keluar dari industri televisi.

Harapan saya, tayangan sinetron Indonesia meningkat mutunya dan bisa bersaing dengan karya-karya dari luar negeri. Amiin.

…dan satu lagi,

semoga saya mendapatkan jodoh yang sesuai dengan keinginan saya [tentu saja sudah lolos fit and proper test sebagai seseorang yang terbaik untuk saya menurut Alloh].

Amiin Ya Alloh.

Tagged: ,

§ 3 Responses to Menyoal Sinetron Indonesia

  • nourygagarin says:

    ya Alloh.. teuteup dah ujung-ujungnya jodoh @-)

    bener tuh gi, yang paling ngeselin pemirsanya juga ikutan demen :hammer

    setuju dah pokoknya,
    sinetron indonesia itu seringkali mengexpose betapa tidak dewasanya karakter-karakter dalm sinetron tersebut.
    seolah sang sutradara akan sangat gembira saat pemirsa berteriak-teriak gemas sambil menuding televisi dan mengatakan,” ih, bego banget siiiih. itu, elu diboongin ama si mis*a” (yailah!)

  • mending nonton film perang tp ada pesan moralnya, kalo sinetron malah kebalik

    • ibnumarogi says:

      Yah, sebetulnya semua film itu [harus] ada pesan moralnya. Namun ketika caranya tidak etis–dalam hal ini: moral– ya film tersebut dinilai buruk. Film perang salah satu yang punya pesan moralnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menyoal Sinetron Indonesia at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: