Wakatobi, Cara Saya Bersyukur, dan Sebuah Perjalanan

27 November 2010 § 2 Comments

Kalian tahu Wakatobi, wahai penikmat blog-ku? Sama, saya pun tidak mengenal terlalu jauh mengenai pulau kecil di selatan [atau tenggara?] Pulau Sulawesi. Fyi, kalau kalian tahu, ya sudah ga ada masalah😛. Sedikit yang saya tahu mengenai pulau ini adalah bahwa turis asing lebih tahu “Apa itu Wakatobi” ketimbang mayoritas rakyat Indonesia pedalaman tanpa ada jaringan informasi. Oke, kalimat terakhir itu dinyatakan tanpa adanya bukti yang shahih dan penelitian ilmiah yang bersifat empiris. Saya hanya mencoba berasumsi saja.

Wakatobi. Saya belum bicara banyak tentang pulau ini. Sebenarnya apa sih yang ingin saya bagikan [share] dalam postingan kali ini? Oke, sekarang coba kalian googling dengan kata kunci “wakatobi” dan selanjutnya apa yang kalian lihat? Kalau masih kurang mengerti dengan kalimat saya tadi, coba sekarang klik Google image. Sekarang bagaimana? Sudah mulai paham dengan apa yang saya maksud? Nah, jika dan hanya jika kalian masih tidak ngertos dengan maksud saya—atau mungkin masih penasaran ingin mengetahui lansekap—tentang Wakatobi, kalian bisa masuk ke laman FLICKR ini. Dan di situlah terdapat citra yang saya maksudkan dari tadi. Wakatobi is a wonderful island in Indonesia.

Itulah ikhtisar saya mengenai Wakatobi. Entah bagaimana bisa pulau itu dinamai Wakatobi, tetapi orang-orangnya memang saling mengakrabi. [Ehem…info terakhir yang saya tahu dari harian Kompas edisi 28 November 2010, Wakatobi singkatan dari empat pulau besar, yakni Pulau Wangi–Wangi, Kaledupa, Tomea, dan Binongko]. Itulah Wakatobi, itulah Indonesia. Saya suatu saat akan pergi ke sana dan melakukan apa yang disebut dengan ‘menyukuri nikmat dengan cara yang benar’.

Sejujurnya, saya memang belum pernah kemana-mana. Coba dengar ini, anggaplah keliling Jakarta merupakan hal lumrah yang banyak orang bisa lakukan. Secara otomatis saya tak punya kebanggaan sebagai seorang penjelajah—mengingat saya hanya baru menjelajahi tidak sampai setengah dari wilayah di ibu kota.

Destinasi terjauh yang pernah saya datangi adalah Tasikmalaya, yang berjarak paling dekat 246 kilometer dari rumah saya—Jalan Tirta 3 Duren Sawit [sumber: Google maps]. Itu pun sudah lama sekali, sekitar kelas 1 SD. Kejadian yang saya ingat waktu itu adalah, sempak yang saya kenakan dibuang begitu saja di Sungai Cijulang dengan alasan yang tidak saya mengerti. Di sepanjang perjalanan yang saya lakukan hanya merengek dan ngambek saking tak relanya melepas kepergian sempak tercinta.

Uhm…kembali ke topik. Saya merasa malu, sebenarnya. Malu. Malu dengan Jakarta. Malu dengan orang-orang Jakarta yang sudah bepergian kemana-mana. Malu dengan orang-orang Minang yang merantau sampai ibu kota. Malu dengan orang Manado dan Makasar yang sudah jauh-jauh bergulat dengan mata pencahariannya di Jakarta ini. Saya malu karena tidak pernah pergi jauh menyeberangi batas administratif antara Provinsi Jawa Barat dan jawa Tengah. Ya, bahkan keluar dari Jawa Barat pun saya belum pernah! Ih, inilah yang namanya ironi. Kasihan sekali orang betawi ini. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari pengetahuannya soal letak geografis Nusantara.

Jangan tanyakan saya soal Bunaken itu seperti apa. Jangan berikan saya peluang untuk menggaruk-garuk kepala saat kalian bertanya tentang Bali. Jangan tanya apapun soal Borobudur. Boro-boro si budur, Pantai Pangandaran saja tak pernah saya kunjungi.

Itulah…Dari kejadian itu saya berhasrat sekali untuk menjelajahi Nusantara. Bukan, niat saya menjelajahi Nusantara bukan seperti cita-citanya Mas Gajah Mada yang ingin menyatukan Nusantara dalam genggamannya gitu. Bukan! Saya hanya ingin ‘menyukuri nikmat dengan cara yang benar. Itu saja. Dan itu hanya salah satu cara, it’s not the only way.

Memang ini terkesan muluk-muluk. Anak kuliahan yang juga sambilan bekerja di bidang arsitektur semisal saya ini tidak memiliki waktu luang yang banyak untuk pergi jauh. Tapi setidaknya saya memiliki niat dan tekad untuk sampai ke sana. Dan itulah sebenarnya modal paling besar dalam melakukan sesuatu. Lebih besar dari pada kecukupan uang serta alasan-alasan lainnya. Sekali lagi, saya punya niat dan tekad.

Selain Wakatobi, masih banyak tempat-tempat lain yang saya ingin kunjungi. Kalau mau tahu tempat mana saja di Nusantara yang saya ingin kunjungi, silakan klik di sini.

Bagi saya, hidup merupakan perjalanan. Dalan hidup tidak ada istilah sukses ataupun gagal, yang ada hanyalah kita sedang menghela nafas saat duduk-duduk di halte untuk menunggu bus, atau menikmati tidur di sembarang tempat karena semua hostel yang didatangi penuh, atau mungkin kita sedang mendapatkan tumpangan gratis ketika ingin ke suatu tempat yang sama dengan pemberi tumpangan. Don’t judge the book by its cover. Jangan menilai kenyataaan sebagai takdir buruk ketika kekecewaan meraup kesenangan kita, dan itu cuma karena pengharapan yang kita yakini jauh dari realitas.

a Journey

Syukurilah. Bersyukur tentang apa yang kita dapatkan lebih sulit ketimbang merasa orang lain lebih beruntung daripada kita. Dan akan terasa manis ketika kita telah bisa menjungkirbalikkan kenyataan itu dan menularkannya ke orang lain.

 

ps: pada awalnya saya hanya ingin berbagi soal keinginan saya mengunjungi Wakatobi, tapi ternyata jadi melebar kemana-mana😛

Tagged: , , , ,

§ 2 Responses to Wakatobi, Cara Saya Bersyukur, dan Sebuah Perjalanan

  • vickyff says:

    I heard Japan has also shot a “Journey to the West”, but from the reaction of the audience is far less than the Chinese classics

    Scarves Scarves

  • rahmi says:

    heyy anak betawi, ayo jalan-jalan!!
    jangan d kandangsa(m)pi muluuu :DD
    i’d love to welcome you in my province, if someday (you-dont-know-when) you wanna have some trips there😀
    ada banyak tempat yang layak dikunjungi bareng-bareng sama temen ato keluarga
    bukan karena tempatnya aja yang indah, but you will enjoy your time with your relatives or friends

    diantos cerita jalan-jalannya yaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Wakatobi, Cara Saya Bersyukur, dan Sebuah Perjalanan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: