Beda Itu Pilihan

13 December 2010 § 8 Comments

Judul di atas adalah judul yang digunakan jurusan gua (Sastra Indonesia) saat PK. Dan memang, di antara jurusan-jurusan lain, Indonesialah yang paling beda. Lihat saja dandanannya. Lihat saja properti yang dipakai (cuma taik!). Lihat saja penampilannya di Auditorium Gedung IX. Gak bisa gua kata dengan kata-kata. Dan gak bisa gua omongin dengan omong-omong.

Honestly, judul yang sebetulnya adalah “Udah”, tapi entah kenapa yang tertera di susunan acara malah “Beda Itu Pilihan”. Hanya Tuhan dan semut-semut kecil di sudut ruang yang tahu. Teater “Udah” ini menceritakan tentang Kabayan yang ingin menikahi Iteng(Becca). Sinopsisnya, ternyata Abah Ontohot (Guses) sudah memiliki calon suami buat Nyi Iteng. Calonnya kaya, namanya Rojali (Reyza). Oleh sebab Kabayan (Abi) tak rela kekasihnya dikasihkan ke orang lain, ia pun pergi ke Jakarta untuk agar kaya dan bisa menikahi Nyi Iteng. Beberapa waktu berlalu, dilangsungkanlah pernikahan Nyi Iteng dengan Rojali. Kabayan yang tahu berita itu segera kembali dan memutuskan untuk merusak pernikahan itu. Nyi Iteng pun disuruh memilih: Kabayan atau Rojali? Tak disangka, Nyi Iteng sudah punya pilihannya sendiri.

Jujur saja, gua yang tak tahu alurnya ini sangat penasaran akan seperti apa cerita yang bakal ditampilkan. Gua merangsek ke depan, tepat sejengkal dengan batas panggung. Gua ingin menikmatinya dari dekat. Gua ingin tahu kesan gua tentang teater teman-teman gua ini. Lucukah? Garingkah? Surealiskah? Dan gua pun speesless saking takjub dibuatnya. Friend, you’re the best that I have.

Sejak pertama Iteng masuk panggung, gua udah ngakak tak terperi. Backsound meraung-raung mengiringi langkah kaki Iteng yang manis. Di belakang sekawanan banci, monster taik, Buto Ijo (yang ternyata Jin berpopok), serta laki-laki berhidung loreng ngintilin dirinya. Gerak tubuh yang natural dari mereka membuat panggung jadi mahakocak. Suasana jadi semakin chaos saat sisa pemain lain berhamburan dari balik panggung.

Gua pikir cengiran gua segera punah. Ternyata enggak. Tiba-tiba keluarlah makhluk mungil hitam pekat yang teriak-teriak layaknya penghuni RS Soeharto Heerdjan. Gila. Ia melolong-lolong tak tentu arah dan membuat scene awal tambah brutal. Dan yang lebih gila lagi ternyata tuh anak kepleset di tengah-tengah panggung oleh karena selipnya dia punya stoking. Ancur. Amat sangat ancur.

Lanjut ke scene selanjutnya. Latarnya adalah sungai. Iteng dan beberapa perempuan di desa sedang mencuci pakaian dan cuap-cuap soal nasip keluarga. Dan gua kaga berenti-berenti nunjuk si Mpok (Galuh) karena omongan ceplas-ceplosnya begitu menusuk. Bacotnya ngeyel bener. Adatnya orang Jakarta yang nyolot abis itu ditelanjanginya di adegan ini. Betul-betul keputusan brilian membebaskan Galuh berekspresi tanpa naskah pokok.

Kabayan masuk panggung. Ia datang menemui Iteng untuk menjelaskan perkara lamarannya. Ia ketahuan Abah Iteng dan mendapati bahwa lamarannya ditolak mentah-mentah oleh si Abah. Setelah menjadi Sugeng di naskah gua, Abi begitu berbeda saat membawakan peran urang sunda. Hal-hal detil semacam gerak tangan serta tubuh menjadi sangat penting di sini untuk membangun karakter Kabayan. Luar biasa. Temen gua emang lu, Bi!

Kabayan tak putus asa. Ia pun berniat untuk mengadu nasib di kota untuk menjadi orang kaya. Ia berpikir sejenak. Tak dinyana, adegan selanjutnya adalah perusakan scene dengan hadirnya Gayus ber-wig jelek yang sedang dikejar-kejar polisi. Adegan itu biasa, kecuali slow motion yang membuat cerita berkembang menjadi lebih menarik. Gayus menjatuhkan botol ajaib (yang berisi Jin berpopok) dan kemudian secara tidak sengaja Kabayan membebaskan Jin yang terkurung di dalamnya. Norman, elu emang punya kualitas humor yang tinggi😀.

Kabayan menuju Salon AA Krim (Goma) atas sugesti Jin Berpopok itu. Ia bertemu karyawan-karyawan AA Krim yang imut-imut. Menurut gua, imut dengan amit itu 11-12 lah bedanya. Beti, beda tipis, seperti disekat dengan rambut manusia dibelah tujuh. Faisal, Arkhe, dan Amru sangat PAS menjadi manusia-manusia pilihan itu. Jangan tanya kegaringan yang trio itu lakukan, gua pun gak sungkan-sungkan menepok-nepok badan si Nanto saat ketiga bences itu berulah. Don’t mind, ‘Nto.

Dari salon itulah Kabayan mengetahui berita pernikahan Iteng. Segera saja ia bersama sekutunya (trio bences) menuju rumah Nyi Iteng. Pernikahan itu akhirnya berhasil Kabayan gagalkan namun ia menemukan fakta lain yang membuatnya pingsan prematur.

Karakter Abah gak diragukan lagi. Kerja keras Guses sangat gua apresiasi pas ia dengan lantangnya menirukan suara echo dengan mulutnya. Anjrit, terasa riil banget. Hebat, hebat lu, Ses. Elu (juga) memang temen gua.

Istrinya Abah diperankan oleh Lia. Dengan hanya bermodalkan “ISHHHHH!”, Lia sudah bisa menampilkan karakter seorang ibu yang galak, jutek, dan angker bagi suami. Apalagi kalo liat tampangnya di panggung, horor bener. Jadilah ia ibu-ibu yang pecicilan nan judes. “Come to mama,” wkwkwkwkwkwk😀

Oke, secara keseluruhan penampilan temen-temen gua sangat baik. Gua sangat-sangat terhibur dan menikmati tontonan petang hari ini. Gua berharap ini akan menjadi awal dari ikatan kita (gua dan elu-elu semua) di kampus budaya ini. Gua, elu, semua, selamanya….

ps: kalo ada yang mau ditambahkan mengenai alur ceritanya tolong konfirmasi ke gua. Oke, makasih.

Tagged: , , , ,

§ 8 Responses to Beda Itu Pilihan

  • […] saya mendandani Norman dkk. dengan kegilaan yang segila-gilanya. Penampilan Indonesia yang bertajuk “Beda Itu Pilihan” pun akhirnya mendapat sambutan luar biasa di Auditorium Gedung […]

  • Rina says:

    Argh..
    Gue keduluan! Padahal gue mau nulis sinopsisnya bareng Rara… -3-

    • ogi says:

      Hehehe harus beda, dong. Anak UI harus punya karakter yang kuat [halah!]
      Wah, nanda punya blog. Bagus. Hebat. Terus diperbaharui [update] blognya, ya… >_<

  • diahpandora says:

    ogiiii,,, kenapa si sazinah kagak dimasukkiiiiinnnnn…….
    hehe.

    • ogi says:

      Diah, ini Diah Rara kah?
      Hmm… Jujur aja, gua hanya “menyaksikan” penampilan temen2 itu di Auditorium Gedung IX itu aja. Wajar aja kalau ada adegan yang terlupa dan ngga gua masukin. Mungkin bisa bantu gua menarasikan?

  • guses says:

    Om, no yang si penghulu masuk terus pake ritual salam yang jijay banget kayak pasangan homo mau joget dang dut itu belom ada, terus cerita si Rojali yang tiba-tiba maju, marah-marah, nembak pistol kayak parto, diemin penonton yang ketawa ngakak, bilang mau pingsan, trus ngucapin Assalamualaikum dulu dengan tangan kayak Abang Jakarte sebelum jatuh pingsan (sempet-sempetnya dah). Iya, adegan si Paijo sholat yang gila abis itu juga, ckckck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Beda Itu Pilihan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: