Sastra

23 December 2010 § 1 Comment

Sastra. Sebuah kata yang pernah saya kenali sebagai sesuatu yang sakral nan agung. Sebuah mantera yang jika disebut di dalam perkumpulan orang-orang tak jelas asal-muasalnya akan memberikan efek magnetis kepada orang-orang di sekitarnya. Sebuah imaji yang selalu dielu-elukan orang aneh—rambut gondrong terikat atau berantakan tak terawat, pakaian lusuh yang dicuci sebulan dua kali, dan gayanya yang slebor—tanpa harus minta izin orangtuanya.

Sastra, begitu dekat begitu memikat. Saya pun berusaha mendekatinya. Namun kehidupan yang saya jalani tak pernah mendukung. Berawal dari keputusan masuk sekolah teknik (STM), saya terpaku berfokus pada angka dan kerja nyata. Sedikit teori, kebanyakan praktik lapangan. Semakin kudekati, semakin jelas bahwa ia telah jauh. Namun ketertarikanku muncul ke permukaan ketika buku yang kuhujat habis-habisan malah habis kubaca seharian: Harry Potter. Hari-hari selanjutnya adalah kekhawatiran tentang eksistensi sastra di dalam diri.

Harapku untuk tahu tentang sastra tak surut. Peluang itu terbuka saat awal Februari belumlah mulai menyapa. SIMAK UI segera digelar.  Jalan telah terbuka. Saya berniat untuk benar-benar berkenalan dengan sastra dari sana. Tak pernah dinyana, saya yang tak mengenyam les ataupun bimbel bisa mengalahkan sekian ribu kawan seperjuangan yang ingin masuk ke Sastra Indonesia.

Saya tak pernah berharap sastra itu sebuah hal yang manusiawi dan membumi. Saya tak pernah meminta orang-orang yang saya kenali nanti akan menganggap sastra dengan kehidupan itu tak ubahnya darah yang sudah mendaging. Saya hanya ingin tahu perasaan mereka tentang sastra apa adanya. Tidak lebih.

Ialah Mas Iben—memanggilnya “Pak” berpeluang tak diluluskan dalam kelasnya—merupakan dosen Pengantar Kesusastraan. Gaya mengajarnya santai. Terkesan ‘suka-suka gue’, malah. Kadang ketika sedang menjelaskan puisi, tentang jurang misalnya, ia tahu-tahu akan menyasari mahasiswanya ke selokan, comberan, juga got. Ngalor-ngidul, ibaratnya. Memang terlihat asal. Namun ketika kita melihat lebih dalam dari yang terdalam, itulah intisari yang Mas Iben ingin sampaikan. Bahwa sastra tidak melulu soal hal-hal yang aneh dan “tak terdefinisi”. Sastra itu ada di mana-mana kalau saja kita jeli melihatnya. Bahkan di kantong kresek sekalipun ada unsur sastra!

Sastra adalah anugerah yang Tuhan berikan. Sastra merupakan wujud syukur kita terhadap pemberian Tuhan. Sastra bukanlah satu produk monopoli sastrawan. Bukan! Sastra bukan cuma milik sastrawan. Justru sastrawan lahir dari sebuah karya sastra, bukan? Kita harus mengubah pandangan kita terhadap sastra. Sastra itu universal.

Mas Iben dalam setiap kuliahnya bukan hanya “membetulkan” penafsiran kami tentang sastra, tetapi juga mencontohkan cara mengapresiasi serta menghargai sastra tersebut dengan sepantasnya. Dulu, kami tahu karya sastra dari sinopsis cerita di dalam buku pelajaran. Jalan ceritanya tahu. Tokoh-tokohnya pun tertulis di situ. Tapi ada “sesuatu” yang tidak bisa didapat selain dari cerita itu sendiri. Inti dari sastra itu sendiri tak tersampaikan: kehidupan. Sedangkan di tiap kuliahnya, kami menyadari karya sastra di setiap perspektif orang punya ruh yang berbeda-beda.

Sastra. Sebuah kata yang pernah saya kenali sebagai sesuatu yang sakral nan agung, namun tak segan membumi di tengah kehidupan. Sebuah mantera yang tidak hanya boleh disebut di dalam perkumpulan orang-orang yang tak kita gandrungi, tetapi juga oleh setiap orang yang hidup dan berkata-kata. Ia bisa memberikan efek magnetis kepada siapa saja di sekitarnya. Sebuah imaji yang selalu dielu-elukan orang aneh, namun tidak jarang orang kantoran pun bersuka cita atasnya. Itu karena setiap orang berhak dan bisa bersastra.

Tagged: , ,

§ One Response to Sastra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sastra at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: