Beratnya Mengambil Keputusan

30 December 2010 § Leave a comment

Mengambil suatu keputusan bukanlah hal yang mudah bagi setiap orang. Perlu keberanian dan keyakinan diri (percaya diri) untuk bisa menentukan satu pilihan di antara pilihan yang lain. Apalagi jika keputusannya tersebut menyangkut bukan hanya dirinya, tetapi juga memengaruhi kehidupan orang banyak. Pastilah sulit dilakukan dan tentunya menimbulkan beban yang begitu berat bagi orang itu. Selain itu, kalau menyangkut jalan hidup seseorang, prinsip hidupnya bakal diuji habis-habisan; apakah ia tetap berpegang terhadap prinsipnya, atau malah “menjualnya” demi mendapatkan kesenangan fana?

Saat menghadapi pilihan di persimpangan jalan, orang punya pendapatnya masing-masing. Lain orang, lain pula jalan pikirannya. Si A memutuskan dengan mempertimbangkan masa depannya nanti. Si B bisa saja memilih sesuatu berdasarkan keadaannya saat itu. Moody, istilahnya. Si C mengambil keputusan dengan menganalisis banyak faktor. Yang terakhir merupakan ciri perfeksionis. Salah satu contoh pengambilan keputusan yang membuat perut bergolak adalah memilih jurusan jenjang perkuliahan. Yeay, It’s make me so nerfous!

Contoh kasusnya seperti ini.

A merupakan anak yang pandai dan menggemari segala hal yang berbau psikologi. Ia bersikeras untuk masuk jurusan psikologi UI via SIMAK yang diselenggarakan kampus yang memiliki peringkat 50 besar Asia ini. Ia pun hanya memilih jurusan psikologi dan tak berkeinginan memilih jurusan lain karena hanya itu yang ia inginkan (kalau sudah kepingin, yang lain ke laut aje!). Namun, untuk menghormati orangtuanya yang menginginkan anaknya kuliah di UI, ia terpaksa memilih jurusan lain, Sastra Indonesia. Tak dinyana, ia lolos tes SIMAK. Tetapi sayangnya bukan di psikologi, melainkan Sastra Indonesia yang tak ia perhitungan sama sekali. Ia senang bercampur sedih. Bingung, galau, dan labil. Apakah ia tetap berpegang terhadap prinsipnya (ikut tes lagi), atau justru berbelok (mengambil Sastra Indonesia yang tidak begitu ia gandrungi)?

Ketika kenyataan tak sejalan dengan apa yang sebelumnya kita harapkan, kadang prinsip yang diimani menjadi goyah. Ia merasa butuh “pencerahan” dan pendapat orang-orang di sekitarnya: lanjut atau buang? Ada orang yang berpendapat kesempatan yang sudah didapat itu HARUS diambil. Menurutnya, hal itu merupakan “jalan” yang ditunjukkan Gusti Alloh. Melepasnya berarti tak pandai bersyukur. Pendapat lainnya, diterimanya seseorang di tempat yang tak diinginkan itu merupakan “ujian” yang harus dilewati. Baginya itu bukanlah sebuah kesempatan, melainkan hanya sebagai godaan untuk menjauhkan dari tujuan sebenarnya. Gangguan agar menghianati  prinsipnya sendiri. Untuk itulah peluang itu HARUS ia abaikan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa memilih jurusan tak semudah membalikkan kerak telor. Butuh semedi 4 hari tanpa makan piscok agar pikiran kita sejernih embun pagi. Kalau kalian bersikeras ingin tahu perasaan saya sewaktu mengambil Sastra Indonesia waktu itu, kejadiannya sungguh melebihi galaunya DPR memutuskan hak angket Century. Yang ada di pikiran hanyalah “komentar orangtua pas tahu gua melenceng dari jurusan”, “nasip orangtua selanjutnya gimana”, “nasip semesteran gua sapa yang bayar”, dan “nasib dunia arsitektur setelah ditinggalkan gua”. Sungguh malam yang sangat sulit dijalani, sodara-sodara.

Namun anehnya, ketika keputusan itu sudah bulat, yang menyatakan bahwa Sastra Indonesialah masa depan saya, perasaan saya malah bahagia luar biasa. Aneh, padahal saya menduga hal ini bakal lebih sulit, ternyata saya merasakan kesenangan layaknya orang yang mendapat sebuah “pencerahan”. Ini jalan pencerahanku!

Bagaimanapun, setiap orang tidak bisa sama dalam hal memilih dan memutuskan. Hal itu punya nuansa tersendiri bagi tiap-tiap insan. Kita tidak bisa menganggap pendapat orang lain salah tentang suatu hal. Semuanya benar. Perbedaan ini tak bisa disalahkan. Karena poin penting yang harus diperhatikan adalah TANGGUNG JAWAB yang ia pegang setelah memilih dan mengambil keputusan itu. Mau diambil atau tidak, konsekuensinya akan tetap sama: ia harus teguh pada pendiriannya dan jangan mengeluh. Mungkin ini beban terberat dalam mengambil keputusan, menurut saya. Wallahua’lam.

——————
ps: dikarenakan penulis baru saja menyelesaikan Angels & Demons, maka tak heran jika diksi yang dipakai berbau illuminati dan kawan-kawannya😛

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Beratnya Mengambil Keputusan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: