Perboden

5 January 2011 § 1 Comment

Pagi ini mood baik saya terganggu dengan kejadian kecil yang menyusahkan. Meski ini bukan yang pertama kali [jadi tidak syok lagi], saya tetap merasakan kekesalan. Ya, ini kejadian yang kedua kalinya pintu gerbang perumahan Kavling Duren Sawit ditutup. Watdef*k*ngsoda!?

Lihat peta [A adalah rumah saya, B tempat saya naik metromini] dan, well, ceritanya begini.

klik petanya biar gambarnya jelas

Seperti biasa saya berangkat ngantor melewati Jalan Kol. Soegiono menuju Tebet. Jalan kaki sekitar 400 meter dari rumah (A) ke tempat naik metromini (B) merupakan hal biasa. Namun kadang ‘kebiasaan’ dan ‘ekspektasi’ yang bertumbukkan di tempat yang salah bisa menjadi sesuatu yang tak biasa: kekesalan. Mulai dari 100 meter terakhir pintu gerbang sudah terlihat dan memang gerbangnya terlihat dikunci. Siyal.

Oke, oke, mungkin saya berlebihan. Tinggal mengikuti jalur hijau yang tetap akan mengarah ke jalan raya saya pun bisa naik metromini dengan mudah. Tinggal tambah jalan kaki 200 meter lagi. Namun, kenyataannya tidak semudah membalikkan daun kelor. Seperti yang saya katakan sebelumnya, ketika ‘kebiasaan’ [keseharian] dan ‘ekspektasi’ bertumbukkan di tempat yang salah, efek yang bakal terasa adalah kekesalan. Dan saya sangat kesal: Kenapa pintunya ditutup, gitu, lho?! WHY!? Kenapah?!

Saya tidak melihat penutupan pintu gerbang itu sebagai sesuatu yang urgent. Itu menyusahkan! Dan sedikit informasi untuk kalian, di gerbang itu terpampang papan jelek yang bertuliskan “Pintu Ini Ditutup Atas Perintah Ketua RW. Pintu Dibuka Jam 10”. Dan kalau saja saya melihat tulisan itu sekali lagi pagi tadi, mungkin kekesalan ini tambah menjadi-jadi. Tapi nyatanya tidak, saya berniat ngeloyor saja langsung berbelok ke kanan mengikuti jalur hijau dalam peta.

Sebelum saya berbelok, saya berbasa-basi menanyakan perihal penutupan pintu gerbang itu kepada bapak tua yang mengajak cucunya jalan pagi. Lebih baik bertanya, kan, daripada kesal sendirian kayak gini.

“Pak, maaf ini kenapa, ya, pintunya ditutup?”

“Oh, iya. Pintunya memang ditutup.” Siyal, ternyata pertanyaan gua tak terjawab dengan baik. Bapak ini telah melanggar maksim relevansi!

“Maksud saya, kok pintunya ditutup? Memangnya ada apa, ya?”

“Oh, jambret.”

“HAH?!” Oke, Gi. Pelankan suaramu saat berbicara kepada orang tua. “Jambret?”

“Iya, tuh di sana udah berapa kali warga kena dijambret,” katanya sambil menunjuk ke belakang.

“Loh, kok bisa?” tanya saya yang sekarang mulai tertarik dengan pembicaraan ini.

“Waktu itu pagi-pagi ada orang dijambret di sekitar sini. Katanya pelakunya pergi lewat situ,” ia menunjuk ke pintu gerbang yang tergembok itu. “Pak RW nyuruh supaya pintunya ditutup aja, sekuritinya kurang.”

Oh…

Saya langsung terdiam. Bungkam. Saat itu saya menyadari bahwa rasa kesal yang saya pendam tadi sangat egois. Semoga pelakunya segera tertangkap dan warga sekitar situ bisa beraktivitas seperti biasa dengan nyaman.

Kawan, semoga kalian baik-baik saja sampai saat ini. Postingan kali ini saya hanya ingin mengingatkan kepada kita semua [khususnya untuk saya pribadi] untuk selalu hati-hati dan terus menjaga barang-barang yang kita miliki. Ingat-ingat saku yang mana saat menaruh ponsel. Perhatikan selalu dompet dan sleting celana tas kita. Semoga kita selalu diberikan keselamatan dari mulai berangkat sampai pulang ke rumah. Amiin.

Tagged: , ,

§ One Response to Perboden

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Perboden at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: