Aku dan 68

7 January 2011 § Leave a comment

Bus reyot itu tetap melaju. Awak bus—supir dan kenék—diam saja sedari tadi. Jalan sudah begitu lengang. Kendaraan hanya sesekali lewat. Itu pun cuma kendaraan-kendaraan box yang kemungkinan sedang mengantar barang dagangannya. Tiada yang lain.

_______________

*Gruakk!* Bunyi apa itu?

Sejak awal terminal, deruman Kopaja 68 memang tak sampai mengusik lamunanku tentang dia. Namun, kali ini hentakan yang berkali-kali membangunkanku dari mimpi yang sedang kutata layaknya insepsi Tuan Cobb. Ah, sepertinya ketiduran. Segera saja aku melap sedikit air liur yang tak sengaja tumpah di sisi atas tas yang kupeluk erat. Kebiasaan!

Pandangan yang masih rabun kutebarkan ke jendela bus. Aroma bensin menyengat seiring kesadaran sel-sel otakku yang mulai jernih. Berhenti, bus sedang mengisi bensin rupanya. Huf, ternyata perjalanan belum sampai setengahnya.

Aku mulai duduk tegak. Ngulet dan membetulkan posisi dudukku. Posisiku saat tidur tadi memang sedikit aneh: badan menyamping ke kiri dan merebahkan kepala ke jendela yang tengah terbuka. Maka wajar sekali jika tidurku begitu pulas.

Capék sekali. Tugas kantor hari ini tidak biasa dan sungguh melelahkan bagiku. Bayangkan saja, setelah meninjau proyek di Bintaro, aku dan pengawas lapangan langsung bertolak ke Slipi untuk membantu pengerukan tanah sirtu. Tidak itu saja, rumah Bapak Mulyajatnika yang sedang dalam tahap finishing pun harus mulai mencat dan memutuskan batu alam. Praktis konsentrasiku dan tenagaku habis untuk hal-hal di luar gambar kerja.

Memang segala urusan tadi bukanlah kewajibanku. Namun, tugas itu telah diserahkan kepadaku pagi tadi. Pak Pri langsung yang menugasiku. Gambar kitchen set Ibu Mayasari yang sedianya dikirimkan via surel pun ditunda sampai esok. Alhasil, aku keluar kantor jam 10.00 malam dengan badan yang babak belur.

Kuedarkan pandanganku di dalam bus. Tak kusangka, kursi-kursi plastik berwarna hijau itu tak satupun yang terisi. Berarti sejak aku naik, tiada lagi sewa yang menumpang bus ini. Di sini hanya ada aku, supir, dan kenek. Kuberdoa agar ada yang mau menggunakan bus ini selain aku. Amiin.

Dan bus reyot ini pun mulai melaju, meninggalkan pom bensin yang sebentar lagi tutup. Kursi-kursi tetap kosong. Berbelok ke kiri, bus ini melaju tanpa nyawa. Awak bus—supir dan kenék—bungkam tak bersapa. Jalan Raya Pasar Minggu, jalur dua arah yang menghubungkan langsung Depok ke Manggarai itu begitu lengang. Angkot tak lagi mau bertaruh ribet-ribet menghabiskan premium hanya untuk mengemis sewa. Satu-dua kendaraan saja yang berani lewat. Itu pun berupa mobil box berukuran sedang yang mungkin sedang berkejar-kejaran dengan waktu. Biasa, kalian tahulah pasti. Ini masalah kerjaan malam. Hanya truk-truk besar yang sesekali menyelingi belasan mobil yang lewat.

Doaku sepertinya mulai terkabul. Mula-mula seorang muda naik, diikuti karyawan swasta dua kilometer didepannya. Keduanya memang tak langsung menatapku. Namun aku tetap tahu ia sesekali melirikku tadi. Geraknya terbaca oleh ekor mataku yang liar ini. Berturut-turut, bapak-bapak yang baru saja pensiun duduk dua kursi di belakang supir dan seorang tua ringkih tertatih mengéja langkahnya, menemukan kenyamanan di antara supir bus dan sang bapak yang baru pensiun itu. Baguslah, lima sewa di pengujung malam tidaklah buruk, pikirku.

Bus mulai bergerak pelan, dan terus begitu sampai kami sudahi perjalanan ini.

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Aku dan 68 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: