Simulasi Kelas Penulisan Novel

25 January 2011 § 1 Comment

oleh: Ahmad Fuadi, penulis buku trilogi Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna (sekuel kedua).

Berikut adalah pengantar kelas penulisan novel, yang mana diambil dari proses penulisan buku Negeri 5 Menara.

Bagi Fuadi, hidup merupakan proses panjang manusia untuk menjalankan misi besarnya.  Misinya adalah ingin mengajak orang-orang melakukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan. Sebuah pandangan yang membuatnya berpijak pada satu prinsip demi mengkhatamkan tujuan. Menulis novel, menurutnya, adalah ‘caranya’ untuk menuntaskan misi besarnya itu.

Dunia membaca dan tulis-menulis merupakan dunianya dari kecil. Ia tak asing lagi untuk menulis sebuah artikel atau karya tulis ilmiah. Bahkan, ia menulis diari sejak SMP. Dan kegiatan harian itu ia lakukan sampai dewasa, malah mungkin sekarang pun masih rutin. Maka tak heran jika dia bisa menjadi wartawan di koran Tempo waktu itu, bahkan sampai tembus VOA di Amerika Serikat. Pencapaian luar biasa bagi jurnalis Indonesia.

Meski begitu, menulis novel jauh berbeda dengan membuat berita di koran. Berita adalah keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat (KBBI daring). Berita tidak ditulis dengan menaruh perasaan di dalam tulisan itu, yang ada hanya “laporan baku” yang diinginkan pemred. Sangat jarang berita ditulis dengan kaidah menulis sastra, yang mana mengacu pada keindahan kata dan kepandaian memilah diksi. Disitulah Fuadi merasa kesulitan dan merasa bahwa ia pemula dalam penulisan novel.

Dalam perjalanannya menulis buku, Fuadi banyak membaca novel lain yang berbau asrama, semisal Harry Potter dan KCB. Buku-buku lain yang bernasib sama (baca: punya semangat & kegigihan yang sama mengejar cita-cita)  pun menjadi referensi. Mulai dari buku kiat-kiat menulis lokal sampai tip-tip menulis novel dari luar negeri dia baca. Ini ia lakukan

Tidak semua teknik menulis yang ada cocok oleh masing-masing orang. Maka, tiadalah pakem yang baku untuk setiap penulisan novel. Hanya yang Fuadi tekankan, kuliah yang ia sampaikan bukanlah satu-satunya cara. Apa yang disampaikan itu merupakan bekal awal agar bisa menulis novel secara produktif. Setidaknya, kata Fuadi, buku mega bestseller Negeri 5 Menara ia buat dengan pengetahuan itu dan telah menjadi bukti nyata.

TIP (Proses Penulisan Negeri 5 Menara)

1. WHY – Kenapa menulis novel?
Sebelum memulai menulis novel, pertanyaan yang harus dijawab terkait novel itu sendiri adalah Mengapa saya mau-maunya menulis novel? Buat apa? Apa manfaatnya? Ketika pertanyaan itu sudah terjawab dan jawabannya memuaskan, maka bisa dijamin hal itulah yang menjadi suntikan stamina saat menulis novel. Fuadi berterus terang, alasannya menulis novel adalah untuk menjalankan misi besarnya: mengajak orang-orang melakukan kebaikan dan mencegah terjadinya keburukan.

2. WHAT – Apa yang bakal saya tulis?
Tidak usah jauh-jauh berpikir, tulis saja semua yang terjadi di sekitar kita, semua yang kita kenal, semua yang familier dengan kita. Sesungguhnya, setiap tulisan yang pernah kita buat adalah sesuatu yang kita kenal, kan? Itulah obat kuat kita dalam menulis.

3. HOW – Bagaimana agar bisa terus menulis?
Sering kali tulisan yang sudah kita buat tiba-tiba terhenti di tengah jalan.

Ah, idenya basi!
Ah, karakternya sering banget gonta-ganti!
Ah, penjahatnya gak mati-mati!
Ah, terus aja antagonisnya pada gantung diri!

Kita (saya, Fuadi, dan mungkin juga kawan sekalian) pernah mengalaminya. Tapi, Fuadi bisa mengatasinya dan kenyataannya dia telah melahirkan dua bukunya di semesta ini. Ia tahu solusinya dan belajar karenanya. Ia hanya berpesan, “Menulis itu butuh proses. Lama? Iya, memang lama. Tak bisa ujug-ujug langsung jadi kayak cerpen.” Ia melanjutkan, “Konsisten. mau selambat apapun menulisnya, tetap konsisten. Seperti kata pepatah, sedikit-sedikit, lama-lama menjadi buku.”

4. TOOLS – Apa yang dilakukan ketika terkena writer block?
Saat-saat yang paling riskan adalah ketika penulis sama sekali tidak ada ide untuk menulis, tak tahu apa yang mau ia tulis. Supaya hal itu tak terjadi, penulis harus banyak-banyak referensi: membaca buku apapun, nenonton segala film, dan sebagainya. Kalau masih stuck juga, Fuadi always bring back his all memories dengan membuka foto-foto lamanya, dengan membaca kembali diari yang ia tulis, dan dengan meresapi surat-surat yang pernah dibuat. Ia akan terstimulasi lagi untuk menulis karena saat itulah ingatan-ingatan tentang ‘sesuatu’ mencuat kembali dan bisa dengan mudah dipindahkan ke dalam tulisan.

Karakter

1. Rounded Character
Karakter utama harus berbentuk 3D (tiga dimensi). Ia seakan-akan hidup, memiliki keinginan, punya masalah layaknya manusia.

2. Buat Biografi
Latar fisiologis:
1. hidung pesek.
2. kaki cantengan.
3. berkacamata

Latar sosiologis:
1. punya adik kecil-kecil yang geulis
2. dia beda tampang sama adik-adiknya
3. anak yatim dari SD

Latar psikologis:
1. takut ayam kate.
2. gak suka sayur nangka.
3. suka kentut sembarangan.

3. Buat Konflik
Konflik adalah benturan antara ‘keinginan’ karakter dengan ‘masalah’ yang timbul tak terduga. Satu hal penting yang harus diingat adalah sebuah karakter hidup karena adanya konflik. Makin guede konfliknya, makin kuat karakter yang terbangun (karena perjuangan karakter itu untuk mendapatkan ‘keinginan’nya saat terkena konflik [masalah] menunjukkan dirinya. Jadi, buatlah konflik yang pelik.

“Gak ada konflik, maka gak ada cerita.”

Cerita dan Plot
Ada perbedaan antara cerita dengan plot. Contohnya sebagai berikut.
Cerita:

Raja mangkat, lalu Ratu mangkat pula.

Plot:

Raja mangkat, lalu Ratu mangkat pula karena kesepian.

Sudah paham bedanya? Oke, lanjut kalau begitu.

SYARAT PLOT
1. Ada sedikitnya dua karakter utama.
2. Protagonis
3. Konflik (ingat, ‘keinginan’ harus susah didapat)
4. Resolusi Konflik

PLOT KLASIK
Stasis : kondisi normal saat awal-awal cerita. Biasanya ditulis dengan kalimat Pada suatu hari…
Trigger : Sesuatu yang tidak biasa. Kondisi di mana rutinitas berubah drastis atau ada sesuatu yang mengejutkan dengan tiba-tiba.
Quest : Tindakan-tindakan protagonis untuk menguasai keadaan.
Surprise : Situasi yang tak mulus. Halangan tak terduga. Di sini ada saja kejadian-kejadian mengejutkan yang membuat protagonis kesal bukan main.
Critical Choice : Saatnya memutuskan. Protagonis harus membuat keputusan penting menyangkut keberadaannya di cerita. Ia harus memilih jalan. satu keputusan yang berat harus diambil.
Climax : Konsekuensi dari keputusannya. Itulah puncak pendakiannya dalam sebuah cerita.
Reversal : Perubahan situasi yang terjadi setelah protagonis mengambil hikmah. Apa yang terjadi?
Resolusion : sebuah ending, happy or not?

__________

Pesan Fuadi, tulis cerita kalian semampu kalian. Tidak usah banyak-banyak. Cukup satu hari satu halaman. Maka jika kalian sabar, satu tahun kemudian kalian akan bisa menulis buku setebal Negeri 5 Menara.

Tagged: , ,

§ One Response to Simulasi Kelas Penulisan Novel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Simulasi Kelas Penulisan Novel at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: