Antara SIM, STNK, Buaya, dan Kepiting

5 February 2011 § 8 Comments

Pagi ini saya disuruh ibu untuk menghadiri pernikahan sepupu saya. Berbeda dari sebelum-sebelumnyanya (yang mana ga pernah mau ikut acara beginian) , kali ini saya tak punya alasan “ngayab ke mana-mana” atau “urusan kerjaan yang tak bisa ditinggal”. Dan memang, kali ini saya tertarik untuk hadir. Selain untuk menuruti apa kata ibu, saya juga ingin tahu how to prosesi akad nikah orang betawi sekarang-sekarang ini, apalagi yang nikah itu saudara saya sendiri. Boleh dong, ini jadi referensi saya ke depannya?:mrgreen:

Saya bisa tarik kesimpulan di awal bahwa menikah itu sesuatu yang rumit. Kenapa? Karena ketika seseorang sudah berniat menikah, maka tidak hanya dia saja yang memutar otak dan memeras keringat, tetapi juga orang-orang yang berada di dekatnya, baik itu orang tua, saudara dekat, tetangga, maupun warga RT sebelah yang namanya susah dieja. Semuanya pasti terrepotkan, semuanya diajak repot. Oleh sebab yang punya hajat bukan orang lain, melainkan saudara sendiri, mau tak mau saya pun disuruh ikut repot bantu-bantu. Salah satunya mengangkut barang seserahan yang nantinya akan diberikan kepada besan (nggak, sebetulnya ini gak repot-repot amat. Pikiran gua aja yang nganggep ini repot).

Satu per satu barang seserahan itu dikeluarkan dari pekarangan menuju mobil bak. Ada sebungkus pakaian, seperangkat kosmetik untuk perempuan, ada juga buah-buahan—yang tampaknya lebih nikmat jika dimakan di perjalanan. Saya melihat iring-iringan itu di pojok jalan, tak berminat untuk ribet bantu angkat-angkat parsel atau bisa jadi cuma nampan. Mungkin inilah namanya telepati (atau hanya sebuah sugesti), bapak dari sepupu saya yang punya hajat (ayah pengantin pria) itu mengarahkan pandangannya tepat ke wajah saya. *Deng!* Dan tak lama saya sudah bolak-balik mengangkut parsel boneka gajah berwarna merah jambu dan boneka-boneka lain ke mobil bak. *sigh*

Sebetulnya seserahan itu sesuatu yang biasa, sih. Isinya paling-paling beberapa paket sandang, buah-buahan yang ranum, serta berbagai parsel lain yang isinya bisa dimakan. Parsel terakhir yang keluar ternyata roti buaya. Whiw buaya! Lambang khas pernikahan betawi. Melihat roti berbentuk buaya itu (eh, atau buaya yang berbentuk roti?) saya jadi ingat perkataan kawan saya beberapa tahun lalu tentang buaya.

“Kenapa buaya?”

“Buaya itu melambangkan kesetiaan. Buaya itu kimpoi sekali aja. Kalo tuh pasangannya mati, dia kagak bakal kawin lagi sama yang laen.”

Dengan kata lain, buaya merupakan simbol yang digunakan orang betawi untuk melambangkan kesetiaan lelaki kepada pasangannya. Berharap setia sampai akhir waktu bak buaya itu. Begitulah buaya, begitulah betawi. Begitulah orang norak, si Ibnu Marogi.

Sesampainya di kediaman mempelai perempuan (yang ternyata aula Rukun Warga), rombongan besan dari Kampung Kandang Sapi ini disambut dengan petasan segede-gede bogem. *Dhuar! Duarr!* Berisik banget. Saya yang datang membonceng motor kawan hanya menyaksikan rombongan besan menuju aula Rukun Warga secara perlahan, sambil diiringi lantunan sholawat oleh pemain hadroh. Sayang sekali, acara berbalas pantun yang sedianya dilakukan oleh wakil kedua mempelai, tak ada dalam agenda. Calon pengantin langsung memasuki ruang akad untuk melangsungkan akad nikah. Dan inilah sebetulnya yang ditunggu-tunggu pemirsa, sodara-sodara.

Sebelum prosesi ijab-qabul, ada beberapa kata sambutan yang diutarakan dari wakil kedua mempelai sebagai acara serah-terima seserahan. Itu merupakan prosedur konvensional dari pernikahan. Selanjutnya pemberian uang pelangkah dari calon pengantin pria kepada kakak dari calon pengantin perempuan. Itu dilakukan karena sang kakak hendak didahului status nikahnya oleh sang adik. Setelah itu, mempelai pria mengucapkan ijab-qabulnya dengan lancar. Pernikahan pun dikatakan SAH.

Sudah tak bisa menahan keinginan mencicipi segala makanan—ada laksa, soto mie, somay, es grim, dan prasmanan—saya ingin segera menuju ke tempat makanan itu. Namun, sepertinya saya harus bersabar untuk meredakan keinginan saya itu karena rupanya si pegawai KUA mulai bercerita panjang lebar soal nikah dan kerabat-kerabatnya.

“Ini surat nikahnya,” katanya sambil menunjukkan buku sebesar buku saku berwarna merah.

Sebelum memberikan buku nikah, pegawai KUA ini bertanya hal sepele yang mungkin jawabannya bisa mengecoh bagi orang yang jawab, “Kamu sudah punya istri atau belum?”

Yeah, bisa-bisa digetok istrinya jikalau pengantin pria menjawab “BELUM!”

“Buku ini disebut dengan SIM,” katanya lagi. Melihat rombongan besan dan mempelai wanita yang bengong, dia mulai menjelaskan lebih jauh. “SIM itu ada macamnya. SIM A, SIM B, dan SIM C. SIM itu yang berhak mengeluarkan cuma polisi. Nah, buku yang saya pegang ini juga SIM.”

SIM? Surat Izin Menikah, maksudnya?

“Ini SIM. Iya, SIM ini juga sama dengan SIM lainnya. Bedanya, kalau yang ini jenisnya SIM D. Apa  SIM D itu?”

Tiada yang tahu, pemirsa masih pada bengong.

“Ini SIM D, Surat-Izin-Membelah-Duren.”

Yeah, watdehel of SIM D.

Sejurus kemudian dia menarik keluar selembar kertas yang berisikan sebuah doa yang katanya hanya boleh diucapkan pelan-pelan di pelaminan. “Nah, kalau ini namanya STNK. Tolong nanti pas mau masuk kamar doa ini dibaca. Tapi bacanya jangan keras-keras. Kalau tetangga sebelah denger, nanti malah jadi heboh.”

Mulai dari sini, saya menganggap dia seorang “garing sejati”. Apa coba, STNK ituh?

“STNK ini maksudnya Surat-Tanda-Naik-Kasur.”

Dalam hati, saya hanya bisa berkata, “ Gak sekalian aja nanti ditilang kalo nerobos lampu merah. Hyeh.”

Rupanya orang ini betawi juga. Lamat-lamat kalimatnya lekat dengan logat betawi bang Mamat. Ia menjelaskan perihal pernikahan budaya betawi. “Alhamdulillah akadnya lancar. Dengan ini, timur dan barat (Jakarta) bisa lebih erat hubungannya. Mempelai pria yang dari timur menikah dengan wanita dari barat. Ini tandanya pernikahan ini gak mengenal daerah ngulon-ngetan.

“Mas’alah menikah, biasanya orang betawi itu selalu melambangkannya dengan roti buaya. Pasti ada, tuh, rombongan besan bawa seserahan yang isinya roti betawi.”

Saat itu, saya tak lagi memperhatikan makanan yang berada di balik punggung, jauh di belakang sana. Saya ingin mendengar ceritanya tentang roti buaya darinya: apakah memang karena buaya itu kimpoi sekali atau hal lain?

“Buaya itu hidup di dua alam. Tul kagak? Bisa di air, bisa juga idup di darat. Kalau lagi di air, pasti larinya cepet, lincah, dan ganas. Was wes wos, dah.  Pas lagi di darat, ia cenderung diam, tak ambil pusing, dan mulutnya mangap segede-gede gaban. Tapi tetep, buaya bisa terus hidup. Yékan?

“Begitu juga orang menikah. Ada fase air, ada fase darat. Air itu kan bikin basah. Kalau kerjaan lagi ‘basah’, pasti bawaannya lincah, gampang ke mana-mana, ngapain aja énténg. Sebaliknya, kalau lagi di darat (kering) alias seret, pernikahan musti tetep jalan. Si istri harus paham suami cuman ngasih bulanan kurang. Sang suami juga musti naungin istrinya kalo-kalo di dapur isinya sayur asem sama mendoan doang. Itulah kenapa orang betawi selalu membawa-bawa “roti buaya” (kenapa gak buayanya aja sekalian dibawa, ya?).

“Selain roti buaya, ada juga yang lainnya. Biasanya roti kepiting. Mungkin orang Duren Sawit kurang familier dengan roti kepiting, tapi roti ini masih ada di daerah Kebon Jeruk.

Bapak KUA itu bertanya, “Kepiting itu jalannya gimana?”

Yaeyalaa jalannya miring. Masa’ ngegang, sih.

“Kepiting itu kalo jalan pasti miring. Gak pernah lurus, dia. Nah, kalo mau sowan ke rumah mertua itu kayak kepiting jalannya: miring. Miring karena bawa tengtengan. Kalo mampir ke mertua jangan lurus-lurus aja, tuh, jalannya. Apalagi pulangnya malah nenteng kresek. Itu kebangetan namanya. Jangan deh, jangan kayak gitu.”

Sesudah itu, saya mendapat benang merahnya. Ternyata SIM, STNK, roti buaya, dan kepiting itu ada dalam kamus orang betawi, khususon perkara nikah. Well, semoga saya begitu deh, ya. Aamiin.

Tagged: , , , , , ,

§ 8 Responses to Antara SIM, STNK, Buaya, dan Kepiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Antara SIM, STNK, Buaya, dan Kepiting at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: