Cinta di Dalam Gundah

16 February 2011 § 5 Comments

Sebuah pertanyaan terlintas dalam benak saya di suatu ketika yang tak pernah terulang,

Sayangkah kita kepada kedua orangtua kita?”

Pertanyaan yang bisa dijawab dengan sangat tepat—antara sayang dan tidak sayang—tanpa perlu bantuan orak kiri. Dari mulut pun terucap dengan lancar jawaban itu. Jika memang sayang, apa buktinya? Seberapa sayangkah kita? Apa tanda-tandanya kita telah menyayangi mereka?

Saya punya sebuah cerita sederhana.

Sabtu malam lalu bapak saya ceritanya ingin pergi ke Lampung dengan maksud mengunjungi kebun tetangga. Yeah, pertanyaan simpel: Emangnya ada apa dengan kebun itu sehingga bapak saya mau-maunya diajak ke Lampung? Entahlah, saya tak memikirkan itu untuk menjadi bahan diskusi malam itu. Satu yang pasti, dalam beberapa hari ke depan, bapak saya tak ada di rumah. Itu aja.

Taukah kau, kawan, apa yang saya rasakan? Saat kepergiannya di tengah malam—sekitar pukul 01.00 WIB—sampai subuh tadi di hati hanya ada rasa cemas, khawatir, dan perasaan kehilangan yang berlebihan. Apakah ini wajar? Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi, ini memang ironis. Saya yang jarang sekali ngobrol hangat, bercanda hanya pada tahap ‘garing & dingin’, dan selalu menemui perselisihan di tiap kesempatan, begitu besar rasa “aneh” ini terhadapnya.

Bahwa orangtua khawatir terhadap anaknya, itu adalah hal wajar. Bayangkan, tiap malam jika saya tak pulang ibu selalu berusaha menelepon nomor ponsel saya—yang mana ibu saya itu tak tahu cara menggunakan hp selain tombol hijau dan merah. Ketika sampai di rumah dan terbukti panggilannya tak saya angkat, ia marah. Marah karena ia dia selalu khawatir terhadap keadaan anaknya. Dan saya hanya menganggap khawatirnya dia sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Pada saat saya mengkhawatirkan bapak saya itulah saya baru memahami bahwa kasih sayang orangtua begitu besar. Sangat-sangat besar hingga seorang anak tak bisa membalas keringatnya dengan segunung emas. Sungguh saya ingin meminta maaf karena telah menyusahkan kalian, wahai orangtuaku yang sangat mulia. Saya cinta kalian, aduhai ibu, bapak.

Tagged: , , ,

§ 5 Responses to Cinta di Dalam Gundah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cinta di Dalam Gundah at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: