「Resensi Buku」 Kumcer: Empat Musim Cinta

21 February 2011 § 1 Comment

Cover

sumber gambar: andreasophia.blogspot.com

Rank: 6 out of 10 stars [It was okay]
Category: Books
Genre: Fiction

Buku ini adalah kumpulan cerita pendek (kumcer) yang bertemakan CINTA. Kumcer ini ditulis oleh beberapa penulis novel semisal Adhitya Mulya, Rizki Pandu Permana, dan masih banyak lagi yang lainnya. Buku ini dirilis pada tanggal 15 November 2010 (goodreads).

Entah kenapa sebelum mengulas lebih jauh tentang buku ini, saya punya pertanyaan yang mengganjal untuk diperselisihkan: KENAPA ADA CERITA SETAN DI KUMCER BERTEMA CINTA!? Ah, hari yang aneh, sepertinya….

Uhm…anyway, balik lagi ke—sampai mana tadi? Oh, ya: Tema. Sebagian besar buku ini mengangkat tema ‘cinta’ (yaélah, gi, dari tadi pan eluh juga udé ngomong begituh! gimanaseh’). Oh, mari kita serius.

Cerpen atau cerita pendek adalah rangkaian kisah yang ditulis secara sederhana yang memiliki plot dan berdiri sendiri atas jiwanya. Sebetulnya jikalau ingin jujur, saya lebih suka membaca novel daripada cerpen. (1) Cerpen itu cerita kilat. Perasaan di hati saya yang halus ini (jangan ketawa!) tak bisa dan tak cocok dengan semangat cerpen yang selalu menyampaikan emosi cerita secara cepat, kilat, dan tiba-tiba selesai. Saya jadi merasa ada “sesuatu” yang hilang di situ. Entah apa…. (2) Jika cerpen itu digabungkan menjadi satu jilid—baik itu kumcer ataupun antologi—itu menjadi masalah yang lain. Kumcer, seperti yang sudah kita ketahui, adalah buku yang berisi beberapa cerpen. Sedangkan cerpen itu sendiri adalah cerita yang serba kilat (lihat penjelasan awal). Korelasinya: membaca kumcer itu akan lebih besar rasa “kehilangan” saya (pembaca) akan sesuatu. Setelah diaduk-aduk emosinya di cerpen 1 dan kemudian selesai, selanjutnya langsung beralih membaca cerpen 2, yang mana emosi di cerpen sebelumnya saja masih terasa di ubun-ubun kepala. Ah, it’s not good.

Seperti biasa, Adhit selalu bikin ceritanya berlebihan, tak terbayangkan, dan imajinatif. Yah, itulah kelebihan/kekurangaan yang dia punya. Sebagai komedian yang berada di jalur sastra, ia sungguh pas dengan gayanya yang aneh.

Di cerita yang lain, saya mengapresiasi karangan Veronika Kusuma Wijayanti yang pertama, “Eva mencari Hati”. Banyak idiom-idiom (atau mungkin kata konotatif?) yang ia gunakan untuk mendeskripsikan sesuatu. Narasinya samar dan tinggi di atas angan. Oh, itu boleh-boleh saja, kawan, meski tak dimengerti. Tergantung pembaca mana yang ingin disasarnya.

Secara keseluruhan, cerpen-cerpen di buku ini sangat menarik hati saya. Meski diksinya tak bertabur seperti kisah yang dituangkan Dee (penulis favorit saya, nih!), namun ide-ide baru mereka bisa saya perhitungkan sebagai nilai tambah yang mengangkat tingkat interesting-nya. Imaji yang kaya dan segar, di buku ini tak ada cerita yang hanya jadi anak bawang. Kesalahan-kesalahan kecil semisal EYD yang melenceng pun tak sampai mengganggu narasi, sepertinya. Saya menikmatinya.

Satu catatan lagi. Sepertinya sasaran buku ini memang ditujukan untuk kaum hawa karena karakter-karakter utama kebanyakan adalah sang cewek.  Feel saya setelah membaca buku ini pun jadi cenderung mellow mendekati feminin. Ah, memang indahnya cinta.

Berikut sinopsis cerpen-cerpennya.

“Dimsum”
Ule yang cinta mati sama Guti (pacarnya) pusing karena dia sangat tergila-gila dengan idolanya. Ule mencari ide agar bisa menyelesaikan polemik pacarnya itu, bagaimanapun caranya.

“Scene 40 Yang Bermasalah Itu”
‘Pocong’ tanpa latar belakang yang jelas ikut syuting begitu saja dan membuat banyak masalah dalam suatu adengan—di scene 40.

“Jalan Takdir”
Melati—anak bungsu yang penurut—dilamar begitu saja oleh tetangga yang jaraknya hanya tiga rumah dari tempat tinggalnya. Ia pun mengikuti saja apa kata orangtua, apapun jawaban Bapaknya.

“Cerita Dua Hati”
Tanpa tedeng aling-aling, Val—entah siapa nama panjangnya—diputusin oleh pacarnya, Zaky. Ia shock. Sesak! Tangis. Hanya kesedihan kemudian yang menyertainya.

“Sepasang Kupu-kupu”
Lana dan Alex saling mencintai. Namun, sepertinya ada yang salah dengan cinta mereka.

“Saya, Dia, dan Samuel Morse”
Entah bagaimana caranya, kedua insan berlawanan jenis di cerita itu saling bercakap dengan sandi morse melalui dengkul-dengkul mereka.

“Sekeping Hati Yang Tersisa”
Ini cerita tentang cewek berkudung yang selalu menunggu, bangku taman yang menghadap ke arah terbenamnya sang surya, dan seseorang yang mengajak bicara di kala senja. (cerita favorit saya)

Tagged: , , , , , , , , ,

§ One Response to 「Resensi Buku」 Kumcer: Empat Musim Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Resensi Buku」 Kumcer: Empat Musim Cinta at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: