Paradoks

28 February 2011 § 5 Comments

Ketika setiap dari mereka berjuang keras mencari tambahan untuk isi kantong kemejanya, yang ada di dalam kepalaku hanya ada rasa iri karena keberadaan kelompok-kelompok yang telah ramai oleh mereka. Organisasi. Perkumpulan. Forum diskusi. Ah, bahagialah tiap-tiap kalian sebagai seorang mahasiswa seutuhnya. Bebas. Idealis.

Rutinitas Mahasiswa

Saya tak ingin merasa ingkar terhadap pemberianNya. Bukan, esensinya tidaklah seperti itu. Saya belum bisa menjadi mahasiswa sepenuhnya jika usai kuliah langsung menuju kantor yang mulai tak terdefinisi jadwal kerjanya. Ya, saya iri. Hanya iri, tiada lainnya. Itu membuat imaji saya tentang nikmatnya perkuliahan mulai kabur. Ah, betapa beruntungnya mereka. (juga) Betapa beruntungnya saya. Betapa beruntungnya kita, manusia, yang memiliki rasa. Hidup ini begitu indah saat kita memaknai nuansa kehidupan dari berbagai sudut pandang.

Tagged: , , , ,

§ 5 Responses to Paradoks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Paradoks at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: