Pengantar Linguistik Bahasa Melayu—Indonesia

7 March 2011 § 4 Comments

Laporan Bacaan

PENGANTAR PENGKAJIAN BAHASA MELAYU-INDONESIA DENGAN PENDEKATAN HISTORIS

Oleh Ibnu Maroghi, 1006699335

Kajian mengenai keterkaitan bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia telah dilakukan sejak dulu, entah tepatnya di tahun berapa. Fakta di lapangan, penyelidikan tentang masa lampau bahasa ternyata lebih dahulu berkembang daripada penyelidikan masa kini bahasa. Terlihat bahwa perhatian dunia pada masa lampau bahasa merupakan poin penting untuk mengkaji studi linguistik lebih dalam lagi. Pun, studi linguistik di Indonesia yang dipelopori para sarjana Belanda toh berawal pada orientasi historis.

Pengantar ini ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan ruang lingkup, masalah, dan prospek bidang historis dalam linguistik Indonesia dewasa ini, khususnya dalam studi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Adapun aspek historis dalam studi bahasa Melayu dan bahasa Indonesia dapat dipelajari dalam:

  1. Prasejarah bahasa Melayu
  2. Sejarah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia
  3. Sejarah kajian bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.

Prasejarah Bahasa Melayu
Prasejarah di sini artinya wujud dan perkembangan bahasa Melayu sebelum diungkapkan dengan aksara. Pemahaman ini diperoleh dengan mempelajari berbagai dialek sekarang-sekarang ini dan dengan membandingkan bahasa-bahasa yang berkerabat. Jadi, setiap daerah di wilayah yang mengaku berbahasa Indonesia dikaji dialeknya untuk mencari asal-usul dan perkembangan bahasa itu terhadap bahasa Indonesia (Melayu) zaman dahulu.

Para peminat prasejarah bahasa Melayu, menurut penulis, enggan memanfaatkan bahan-bahan historis bahasa Melayu, yakni prasasti dan karya-karya Melayu klasik, maupun bahan tertulis yang terbaru. Akibatnya, pengetahuan kita mengenai masa purba bahasa Melayu, baik pada bidang fonologi maupun leksikon. Bahkan tak sedikit pun terkilas bagaimana rupa sintaksis bahasa Melayu prehistoris. Keengganan memanfaatkan bahan historis yang lebih muda menyebabkan tidak adanya metode yang lebih gambling dan suatu alat verifikasi untuk memahami bahasa Melayu prehistoris tersebut. Parah. Itu parah, sodara-sodara.

Sejarah Bahasa Melayu
Periodisasi sejarah bahasa Melayu terbagi atas beberapa bagian.

  1. Bahasa Melayu Kuna (abad ke-7 sampai ke-14)
  2. Bahasa Melayu Tengahan (abad ke-14 sampai ke-18)
  3. Bahasa Melayu Peralihan, yang mencakup kurun waktu abad ke-19
  4. Bahasa Melayu Baru, yang dipergunakan sejak awal abad ke-20.

Meski periodisasi tersebut telah dibagi dalam beberapa bagian, tidak menutup kenyataan bahwa tiap periode bahasa Melayu tersebut mempunyai berbagai variasi, yakni dialek regional. Fakta tersebut diketahui dari batu bersurat atau prasasti-prasasti yang tersebar di sebagian besar Pulau Jawa dan Sumatera. Prasasti tersebut diperkirakan berasal dari kurun waktu abad ke-7 (prasasti Sojomerto) sampai abad ke-14 (prasasti Bukit Gombak). Pada abad segitu diketahui bahwa tulisan (keberaksaraan) telah ada dalam bahasa Melayu.

Sejarah Kajian Bahasa Melayu-Indonesia
Bagian ini membahas tentang penelitian-penelitian yang menyangkut bahasa Melayu zaman dulu. Berbeda dengan aspek “Prasejarah Bahasa Melayu” dan “Sejarah Bahasa Melayu-Indonesia” yang mengandalkan sumber-sumber primer berupa naskah, “Sejarah Kajian” ini mengandalkan penelitian-penelitian langsung untuk mendapatkan hipotesis-hipotesis baru mengenai linguistik bahasa Melayu zaman dulu. Penelitian-penelitian ini biasanya dilakukan dengan mempelajari berbagai dialek sekarang-sekarang ini dan dengan membandingkan bahasa-bahasa yang berkerabat di dalam wilayah yang mengaku berbahasa Indonesia.

Menurut penulis, kajian bahasa Indonesia yang mereka gambarkan sangat terbatas pada karya-karya yang menyangkut bangsa mereka saja sehingga terkesan kita tidak mempelajari bahasa sendiri dan hanya orang-orang barat sajalah yang bisa mempelajarinya. Kesan tersebut nyata—masih menurut penulis—sebagian besarnya akibat kesalahan sarjana-sarjana kita sendiri yang mengagung-agungkan hasil pikiran Barat dan meremehkan pencapaian bangsa sendiri. Banyak sebetulnya karya-karya pribumi yang memberikan sumbangan besar dalam bidang perkamusan dan tata bahasa.

Sejarah linguistik Melayu-Indonesia yang terus dipraktikkan di Universitas Indonesia berusaha:

  1. Merunut evolusi konsep-konsep linguistik dalam karya-karya pedagogis dan karya-karya teknis; dan
  2. Merumuskan teori sejarah linguistik Melayu-Indonesia yang dapat dijadikan kerangka berpikir dalam melaksanakan usaha pertama tersebut.

Sejarah linguistik Melayu-Indonesia ini tidak hanya kronologi karya-karya linguistik belaka, tetapi juga usaha-usaha merumuskan teori yang bisa dijadikan kerangka pandangan atas perkembangan konsep-konsep linguistik. Pun, penulis mengajukan teori evolusi kajian linguistik Indonesia yang didasarkan pada sejarah pembagian kelas kata. Ternyata hasilnya luar biasa, evolusi pembagian kelas kata sejalan dengan evolusi perkamusan dan evolusi teori tentang ejaan sehingga kerangka itu dipergunakan sebagai kerangka sejarah kajian bahasa secara keseluruhan.

Penutup
Sebuah ironi, meski kita (bangsa Indonesia) sering membangga-banggakan masa lampau bahasa nasional kita yang telah berhasil dijadikan tiang pancang Negara dan bangsa, tetapi sampai sekarang belumlah ada satupun buku mengenai prasejarah bahasa, sejarah bahasa, dan sejarah kajian bahasa. Alasannya tidak lain karena sampai saat ini belum ada cukup hasil penelitian yang memuaskan. Pun, minat tentang aspek linguistik itu sangat kurang di kalangan para ahli linguistik Indonesia.

Juga, karena sedikitnya karya hasil penelitian dalam bidang historis komparatif (selainnya adalah karya deskriptif dalam berbagai bidang linguistik—berakibat pada kurangnya pengetahuan dan menghilangkan salah pengertian tentang asal usul & pertumbuhan bahasa-bahasa di Indonesia.Semua itu bisa diatasi jika perhatian kita cenderung pada aspek historis dari linguistik Indonesia dengan melancarkan kegiatan penelitian yang intensif dan mengusahakan penerbitan karya-karya teknis dalam bidang itu.

Terlepas dari keironisan tersebut, penting bagi kita untuk mempelajari bidang ini karena bagaimanapun, bidang ini berguna bagi dunia ilmiah maupun kegunaan praktis. Untuk itu disusunlah bunga rampai ini untuk menjembatani keadaan yang terjadi sekarang ini dengan usaha para ahli di kehidupan yang lalu.

Tagged: ,

§ 4 Responses to Pengantar Linguistik Bahasa Melayu—Indonesia

  • pethakilan says:

    waaah.. ulasan yg bagus, sekalian bikinin skripshitweet aku bisa ga bang?? *panen sandal*

    • ibnumarogi says:

      Gahahahaha😆
      Emangnya mau buat tentang apaan? *basa-basi*
      Ohohoho, tenang saja, nimpuknya ga pake sandal, kok. Nih!
      *bakiak sepasang melayang*

      • pethakilan says:

        tunggu, kenapa post terbarunya malah “page not found”??

        • ibnumarogi says:

          wkwkwkwk
          ternyata postingan yang itu kerilis, ya?
          Waduh, sebetulnya postingan terbaru itu memang belum ditampilkan, tapi ‘ga sengaja’ kepencet publish:mrgreen:
          Maaf, yak. Bentar lagi dipajang dietalase, kok.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Pengantar Linguistik Bahasa Melayu—Indonesia at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: