「Resensi Buku」Jingga: Perjalanan Hati dan Pencarian Diri Seorang Mahasiswa

10 April 2011 § 6 Comments

Rank: ********* [9 out of 10 stars]
Author: Marina S. Kusumawardhani
Title: Jingga: Perjalanan ke India dan Thailand Mencari Surga di Bumi
Page: 416 pages
Category: Books
Genre: Non Fiction, Traveling, Philosophy

Jingga -Marina Silvia Kusumawardhani-

Ini adalah buku kedua yang ditulis Marina, setelah Keliling Eropa 6 Bulan 1.000 Dolar. Juga, Jingga merupakan tanda kedua kalinya buku ini ditulis setelah perjalanan ke India (2003) dan Thailand (2004) di tahun 2006 karena naskah yang pertama hanya berakhir di recycle bin gegara bahasanya sedikit norak [hlm. ix].

Buku ini merupakan jurnal perjalanan hati bagi seorang gadis remaja [19 tahun saat itu] yang sedang mengalami euforia ketertarikan akan filosofi band Inggris—kau tahu Kula Shaker?—tentang sebuah negara bernama India. Sebuah ketetapan hati yang dikumpulkan dari banyak masa yang terserak di hidupnya. Dalam narasinya, Marina bercerita akan sebuah perjalanan besar yang sangat berharga, namun terkesan seolah-olah dia hanya sedang memutuskan perjalanan untuk pergi ke warung depan rumahnya untuk membeli sabun cuci. Sangat menarik, sungguh menarik.

Entah kenapa buku ini jauh lebih filosofis ketimbang buku filsafat manapun yang pernah saya baca [oke, jujur saja, selama ini saya baru membaca tak lebih dari sepuluh buku filsafat, memang]. Pencarian jawaban akan pertanyaan “Apa dan siapa itu Tuhan?” tidak pernah serealistis ini, seolah saya sendirilah yang bertanya demikian. Tak jauh berbeda dengan narasi buku Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar—namun diksinya lebih baik menurut saya—buku ini menawarkan pertanyaan-pertanyaan sederhana terkait misteri awal-mula adanya manusia, keberadaan Tuhan dalam tiap-tiap manusia, dan misteri lain yang kerap dipikirkan dan terlintas di dalam kepala filsuf. Bahkan, mungkin sebetulnya pertanyaan itulah yang merupakan jawaban dari pertanyaan ‘itu’ sendiri. Sungguh filosofis.

“Kau sebetulnya mencari surga di Bumi, m’friend,”  kata sang supir kepadanya ketika baru sampai di India. Marina pada awalnya memang tidak berekspektasi banyak terhadap perjalanannya ini: mencari foto-foto bagus untuk dipajang di facebook, mendapatkan souvenir cantik dari pelbagai tempat di India, apalagi untuk mencari surga di bumi. Tidak, saat itu dalam pikirannya dia hanya ingin melakukan perjalanan ini, sesungguhnya. Ya, hanya ingin.

Tidak dinyana, Marina mendapatkan begitu banyak pengalaman dan pelajaran dari perjalanannya ini. Dia bertemu begitu banyak wujud manusia yang berbeda pola pikirnya. Dia begitu puas pergi ke tempat eksotik yang dianggap memiliki daya tarik mistik—hingga pada akhirnya kebosanan menyergapnya karena merasa surga di bumi hanya begitu saja. Dan perjalanan inilah yang membawanya ke tingkat yang sangat jauh ke atas: renungan spiritual akan dirinya, dunianya, dan Tuhannya.

Isu agama sangat kental di India. Sebuah paradoks, India yang terpecah dan memungkinkan terjadinya konflik karena agama, ternyata di suatu tempat—juga di India—sedang kuat-kuatnya solidaritas antaragama. Lantas pertanyaan pun bergulir bak bola salju, Kalau begitu, apa artinya agama? Kenapa pada tahap tertentu ia merupakan pedoman untuk hidup, namun pada tahap lainnya malah menjadi sumber kehancuran? Dan apa yang diucapkan seseorang dalam kuliahnya di hadapan dua ribu orang saat itu membuat saya takjub. Katanya, “Orang-orang Buddha dan Muslim adalah saudara sejak ribuan tahun yang lalu, dan harus tetap begitu selamanya.” Itulah pidato pembuka dari seorang Dalai Lama di hadapan para backpacker dan penduduk setempat yang hadir saat itu di Laddakh.

“Suatu saat kita akan kembali ke sana,” lanjut Dalai Lama, “Sekarang kita sedang ada ‘tamu’. dan tamu harus selalu kita sambut dengan hormat di manapun kita berada.”

Apa??? Tamu harus selalu kalian sambut dengan hormat di manapun kalian berada??? Tapi tamu kalian adalah penjajah yang bar-bar! Bagaimana bisa mereka tetap disambut dan kalian tetap bersabar dengan ini semua?

Aku benar-benar tidak mengerti.

Bagaimana mereka (kalian—peny.) masih bisa bersabar?

Bagaimana senyum itu masih ada di sana?

Selama ceramahnya, sesuatu yang begitu asing dan tidak pernah kutemui sebelumnya telah menyentuh hatiku. Tidak pernah kudengar semua itu bahkan dari “ajaran demokrasi” atau “keadilan” manapun di dunia. Aku belajar tentang arti kesabaran. (hlm. 137-138)

Marina bertemu dengan orang-orang yang humanis, yang kemudian dia anggap sebagai gurunya. Di suatu tempat di dekat Leh, dia bertemu dengan salah satu guru kehidupannya, Angdu namanya. Angdu adalah anak berumur 10 tahunan yang telah ditinggal mati ayahnya gegara tewas dalam perang. Angdu, bocah miskin yang tinggal di kampung yang juga sangat miskin, ternyata tak pernah melepaskan senyumannya di depan Marina. Dia selalu gembira dan terlihat bahagia dengan kehidupannya, yang menurut Marina sangatlah merana. Di mata seorang Angdu inilah, Marina menemukan surga di bumi itu. Di sanalah ia bertengger, di hati orang-orang yang bersabar akan terjalnya hidup ini.

Sementara itu, perjalanannya di Thailand tak kalah spontannya dengan India. Marina yang tak pernah tahu tempat yang menarik—karena dia baru pertama ke sana—agak bingung harus berjalan ke mana. Untuk menentukan kota mana yang ingin dituju saja, misalnya, Marina melakukannya hanya dengan membuka peta, menutup mata, dan membiarkan telunjuk membimbingnya. And, voila, she was getting remarkable journey. What a impressive backpacking! Saya suka gayamu, Marina.

Perjalanan di Thailand ini juga bukannya tanpa renungan spiritual. Selama berada di sana, Marina beberapa kali mencoba merenung, berkontemplasi, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis lain di benaknya. Begitu jauh pemikiran yang dijabarkan sehingga terkadang saya harus membaca ulang dua-tiga kali narasinya. *nasib orang yang jarang baca filsafat*

“Apa kau tahu arti kesejatian itu?”

Sebetulnya apakah yang dinamakan kesejatian? Apakah sesuatu yang mendasari terjadinya kehidupan di bumi ini? Atau merupakan inti dari kehidupan itu sendiri? Rupanya Marina tahu betul bagaimana cara membuat pusing pembaca berotak sempit seperti saya. Huh, ngidam apa dulu ibu saya…

Buku ini pada dasarnya tidak sedang memberikan jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan filosofis itu. Buku ini juga tidak sedang menelusupkan pemikiran-pemikiran penulis sehingga pembaca diharapkan setuju dengan pandangan yang penulis tuturkan. Marina hanya sedang menyampaikan bahwa pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya merupakan pertanyaan seluruh peradaban yang pernah ada di bumi. Dan kita sebaiknya mencarinya demi kepuasan dan kenikmatan di dalam kehidupan.

_____________
data pustaka: halaman ganjil

Tagged: , , , , , , ,

§ 6 Responses to 「Resensi Buku」Jingga: Perjalanan Hati dan Pencarian Diri Seorang Mahasiswa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Resensi Buku」Jingga: Perjalanan Hati dan Pencarian Diri Seorang Mahasiswa at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: