「Resensi Buku」Smokol : Cerpen Pilihan Kompas 2008

18 April 2011 § 8 Comments

Rank : 6 out of 10 stars [It was okay]
Editor: Ninuk M. Pambudy
Title: Smokol : Cerpen Pilihan Kompas 2008
Page: 169 pages
Category: Books
Genre: Fiction, Storiette

Smokol

Smokol

Membaca sebuah cerpen memang tak ada sensasi luar biasanya. Setidaknya itulah yang saya rasakan. Setelah ceritanya selesai, ya sudah…begitu saja akhirnya. Hal ini begitu berbeda ketika membaca kumcer dalam suatu waktu. Kumcer atau kumpulan cerita pendek—sependek apapun cerita tersebut—selalu memiliki kesan tersendiri dalam hati dan pikiran pembacanya. Pembaca pasti mendapatkan sensasi ‘aneh’ di antara cerpen yang sudah selesai dibaca dengan cerpen yang baru mulai dibaca.

It was so complicated!

Bagi saya, penilaian itu tidak berlebihan. Saya pun merasakan sesuatu yang bercampur aduk ketika membaca kumcer Empat Musim Cinta, yang merupakan karya keroyokan beberapa pengarang novel itu. Tawa, canda, haru, rindu, lebay, galau, dan perasaan melankoli lainnya keluar-masuk dalam hati saya. Apalagi buku ini—kumcer Smokol ini—adalah buku yang sarat akan muatan filosofis dan politiknya [bukan politik praktis, hei!]. Selain itu, diksi dan budaya yang diangkat tidak biasa dari cerpen ‘biasa’ yang ada dalam sastra di zaman sekarang. Oleh karena itu, saya amat beruntung bisa membaca sekaligus mengulas karya dari seniman kata yang dimiliki bangsa Indonesia ini.

Amazing Brainstorming!

Cerpen-cerpen ini merupakan ‘pilihan terbaik’ menurut versi Linda Christanty [pemenang Khatulistiwa Literary Award in 2004] dan Rocky Gerung [Pengajar Filsafat Fakultas Ilmu Budaya UI]. Lima puluh satu cerita pendek yang terbit di Kompas tahun ini (2008—pen.) agaknya tidak membuat Linda Christanty terhibur atau bersuka-cita. Secara, sebagian isinya memang menyoal orang-orang sial, kurang beruntung, teraniaya, kena tipuan cinta, menderita akibat diskriminasi sosial, melarat sampai akhir hayat dan sakit jiwa. Entah bagaimana bisa cerpen-cerpen ini lolos seleksi dan naik cetak, yang pasti inilah karya-karya terbaik menurut mereka berdua—yang mana menurut gua justru cenderung membingungkan.

Bagaimanapun, secanggih apapun gagasan yang dituangkan penulis dalam sebuah karya cerpennya, kejelian memilih diksi dan mengolah bahasa menjadi poin penting agar pembaca dapat terhubung dengan cerita yang diangkatnya. Memang, gagasan ada dalam urutan teratas, tetapi kecakapan berbahasa juga kunci lainnya.  Serealis apapun ceritanya, ia tetap harus ada dalam koridor logika yang masuk akal dan membuat pembaca bergumam, “Whoaah, iya ya. Bisa aja pengarangnya bikinnya!”

Saya pribadi memosisikan diri sebagai orang awam yang sedang mengeja potret dunia. Bak balita yang dipapah untuk menyebut kata mimi atau cucu, saya berkali-kali mengulang cerita ini beberapa kali. Berulang, yang pada akhirnya sedikit memahami juga.

Cerpen yang bagi saya teramat surealis adalah “Iblis Paris”—meski sebetulnya tulisan ini jelas-jelas menyatakan dirinya realis (nyata, riil). Begitu banyak rujukan dan pengetahuan yang secara boros dihambur-hamburkan Triyanto Triwikromo, sang pengarang. Mending kalau pengetahuan itu bisa dijelaskan lebih detail lagi, lha ini hanya ada kosakata dan tokoh tidak jelas yang membikin saya garuk-garuk kepala saking bingungnya. Tampak di sini pengarang terkesan mengetahui banyak hal yang tidak diketahui orang-orang awam di belahan dunia lain, seolah-olah cerdas. Ceritanya seperti apa? Baca saja sendiri! *sewot dalam hati*

Cerpen yang jelas-jelas menipu saya adalah “Berburu Beruang” karya Puthut EA. Kesan awal saya memang inilah kisah para pemburu yang gigih mengejar beruang liar itu. Betapa garingnya ketika saya mendapati bahwa yang diburu dan dikejar-kejar itu adalah SEBONGKAH POHON PISANG yang terkulai tak berdaya. *apa coba, maksudnya!*

Omong-omong, cerita yang jadi favorit saya adalah cerpen karangan Ayu Utami, “Terbang”. Seperti biasa, pilihan katanya selalu tepat dan tidak salah tempat. Pun misalkan sedang bersok-tahu, dia selalu mendeskripsikan itu dengan kerendahan hati, seolah dia pun baru saja mengetahuinya. Dan lagi, ini tentang suatu hubungan cewe-laki dan cinta yang merasuk dalam diri.

Dikisahkan, Ari—seorang istri dari suaminya, Jati—memiliki pikiran realistis tentang takdir.  Itu terlihat saat dia dan suaminya ingin berpergian dengan pesawat, salah satunya harus menunggu yang lainnya mendarat dengan selamat. Ya, Ari melarang naik pesawat berdua, juga berbeda pesawat dengan waktu yang bersamaan. Itu, kata Ari, bisa menyebabkan anaknya yatim-piatu sekaligus jika terjadi kecelakaan dengan korban jiwa seluruh penumpang.

Ari sangat mengingkari statistik. Kecelakaan yang terbanyak memang di darat menurut statistik. Tapi jika nasib sedang jelek, mati tetapi saja mati! Dia tidak ingin mengambil risiko itu. Sungguh tidak mau.

Dan cerita mengalir begitu saja setelah itu, setelah dia duduk nyaman di kursinya dan mempersilakan seorang lelaki baik duduk di sebelahnya. Begitulah, ceritanya memang betul-betul mengalir. Tinggal menyerahkan kisah ini kepada Ari dan lelaki baik itu, sedang Ayu Utami hanya menyaksikan saja.

Menarik untuk diketahui deskripsi dan perbandingan antara lelaki baik dan lelaki baik-baik di cerita ini,

Lelaki baik adalah lelaki yang tidak tengil dan tidak sesumbar, tidak sok tahu dan tidak menggurui. Lelaki baik adalah mereka yang selalu menyenangkan jika diajak ngobrol bersama, meski belum tentu baik untuk hidup bersama. Sedang lelaki baik-baik adalah yang setia kepada keluarga, bisa saja sangat menyebalkan dan suka membual demi menegakkan citra kepala keluarga. (hlm. 55)

After all, cerita “Smokol”-lah yang jadi pangerannya. Ia mewakili cerita-cerita lainnya untuk mengusung tema sosial dan politik. Bagaimana perasaan sang juru koki terhebat, yang setiap  harinya menghidangkan masakan-masakan yang begitu melimpah, melihat kenyataan di luar sana orang-orang miskin susah hanya untuk sesuap makanan. Ironis.

Akhirnya, inilah cerpen terrumit, tersulit (untuk memahami), terfilosofis, dan ter-ter lainnya yang pernah saya baca. Memang, cerita-cerita ini masih ada celah khilaf dalam menarasikan gagasan, tetapi justru di situlah keberadaan manusia tertera nyata dan menampakkan segala keterbatasannya. Cerita-cerita tersebut membuka mata dan hati kita untuk bisa terus berkarya tanpa memandang buruk kerja rekan kita. Semoga ini memberikan pencerahan buat kita, dan saya khususnya.

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

§ 8 Responses to 「Resensi Buku」Smokol : Cerpen Pilihan Kompas 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Resensi Buku」Smokol : Cerpen Pilihan Kompas 2008 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: