Backpacker Pulau Tidung

4 May 2011 § 19 Comments

Awesome vacation!

Jembatan Cinta

Pulau Tidung, YEAYY!

Sekitar dua pekan lalu gue ke Pulau Tidung bersama kawan-kawan. Liburan! Selama dua hari satu malam kami manfaatkan dengan saksama untuk bersuka ria bersama. Sesuatu yang telah lama terkungkung dalam belenggu hati kini telah membuncah ruah—bergembira!

FYI, acara ini adalah tindak lanjut atas rencana saban hari untuk melepas penat. Setelah berdebat dan berdiskusi segala macam, berusaha menyamakan waktu luang menyempatkan kopi darat di sevel Tebet, bekerja siang-malam mendapatkan lemburan agar uang saku bisa digunakan untuk melunasi paket perjalanan; akhirnya kami dapat merealisasikan hajat kami untuk berlibur ke Pulau Tidung.  Hup…hup…horray!😀

Semenjak mampir ke kampung betawi beberapa bulan lalu, gue dan kawan-kawan mulai mengumpulkan sehelai demi sehelai uang jajan agar bisa mengongkosi ke Pulau Tidung. Setelah berusaha keras selama 3 (tiga) bulan menyisihkan uang bergambar sang proklamator dan secarik naskah proklamasi, voila! Akhirnya kami bisa menikmati liburan yang sangat menyenangkan—terlepas dari tambah gelapnya kulit gue ini.

Rencana pun dibuat. Zret…zret…zrett…Teman gue yang paling kompeten saat itu, Ijul, dipilih secara mufakat menjadi ketua event ini. Dan tentu saja, gue menjadi seksi ribetnya alias penanggung jawab jarkom (plis, jangan kasihani gue. Gapapa, biarkan ini mengalir begitu saja). Terpilihlah dua hari satu malam, 23—24 April 2011, Sabtu dan Ahad sebagai harinya. Anyhoo, fixed 15 orang berangkat ke Pulau Tidung: Gue, Ijul, Teguh, Taufiq, Adhy, Boting, Bayu, Evi, Jami, Indah, Fazli, Retdia, Tommy, Tandi dan Fika (pacar Tandi).

Kapal yang berangkat ke Pulau Tidung itu pagi-pagi. Dikarenakan agak sulit untuk kumpul-kumpulnya, kami memutuskan untuk bermalam terlebih dahulu di salah satu rumah teman untuk selanjutnya cekidot ke dermaga Muara Angke. Dengan merogoh kocek sebesar Rp200 ribu untuk menyewa angkot panggilan Teguh, akhirnya kami sampai di dermaga yang baunya mirip ketek ikan. *hik*

Berangkat, guys!

Inilah pertama kali gue keluar pulau. Sekitar pukul 07.00 kapal pun mulai mengangkat sauh. Dengan kecepatan yang tidak kencang (inikah odong-odong???), kapal Kurnia I melintasi Laut Jawa.  Pulau Bidadari, Pulau Onrust, Pulau Cipir, Pulau Kelor, dan pulau-pulau lain yang pantainya sudah butek ini kami lewati begitu saja dengan pelannya (beneran bukan odong-odong, nih???). Pulau Tidung ternyata lumayan jauh. Yah, mungkin tidak terlalu jauh (lama) bagi mereka yang sering berpergian dengan transportasi laut, tapi perjalanan 3 jam adalah yang terlama bagi gue (karena ini pertama kalinya, yégak?).

Sesuai dengan jadwal yang tertulis di kertas paket tur, kami sampai di Pulau Tidung pukul 10.00 (kalau kapalnya lebih kencang daripada Kurnia I mungkin saja bisa salah jadwal alias lebih cepat sampai. *sigh*). Dari dermaga, kami ke saung tempat nantinya menandaskan ritual makan dan bakar-bakaran saat tengah malam menjelang. Dari saung ini, ternyata kami harus bersepeda ria melintasi tengah-tengah pemukiman penduduk sejauh + 2 kilometer untuk sampai di kontrakan yang kami sewa.

Liburan kali ini bukan hanya sekedar bersenang-senang bersama kawan sekolahan. Gue memiliki suatu misi suci atas pakansi ini: Snorkling. Sudah sekian lama gue menunggu akan hadirnya hari itu dan eureka! Sekarang terjadi juga. Dengan berbekal goggle biru, gue yang gak punya keahlian berenang ini malah secara brutal langsung ngobak di laut lepas. Blast! Akhirnya blebek-blebek juga dikarenakan lupa ngambil napas (lewat hidung itu kagak bisa, kan?). Air asin itu mengambang dalam rongga hidung.

Bersiap snorkling :D

Luar biasa!

Aduh, keren pisan itu terumbu karang. Ada pula bulu bayu babi berjubah hitam pekat. Memandangnya seakan sedang bermimpi dalam imaji yang liar. Sungguh tak terbayangkan bisa mampir ke sana. Apalagi gue sempat terpesona dengan hamparan teluk mini tempat kami pertama kali disuruh nyemplung dan diajari bersnorkling. Maka ciptaan Alloh manakah yang engkau hendak dustakan?

Agak sulit mendeskripsikan perasaan gue ketika itu dengan kata-kata. Hanya ada teriakan kegembiraan dan buncahan tawa yang mengiringi. Tamasya laut ini teramat riang. Bahkan gue setuju dengan pendapat Teguh yang waktu itu mengomentari rekan kerjanya. Kira-kira begini katanya, “Awalnya gua gak abis pikir temen gua bela-belain snorkling ke tempat yang jauh, yang mahal-mahal. Kalo gini caranya, gua juga bisa jabanin!”

Hal yang keren selanjutnya adalah melompat bebas dari jembatan cinta. Ah, ketakutan tidak selamanya menakutkan. Gue yang awalnya berani jadi agak kecut juga melihat apa yang sebenarnya terlihat dari atas jembatan. Tapi, yak, ujung-ujungnya lompat jua.

Setelah mencoba lelumpatan dari atas jembatan cinta, kami capcus ke ujung pantai. Tiada hal lain, kami ingin melihat sunset di ujung barat sana. Sambil menunggu, tak dapat kami biarkan kamera hape yang Jami bawa (Xperia X10, cuy) magabut begitu aja. Jepret-jepretanlah sejadi-jadinya. Narsis pulalah….

Selagi bernarsis-narsis ria, gue dan ijul gak sengaja (atau justru emang sengaja???) membuat beberapa eksperimen bagus untuk siluet dengan latar belakang matahari tenggelam. Ada sekitar belasan take yang kami lakukan dan beberapa memang bagus. Ada pula yang gagal.

<——- contoh gagal.

Kemudian kami terus bereksperimen dan berinovasi dengan pelbagai macam gaya yang sedapat mungkin bersifat “berhasil. Entah berhasil atau tidak, contoh gagal di samping inilah yang bagi saya memang terkesan menarik. FYI, itu siluet gue.:mrgreen:

Setelah itu matahari lamat-lamat merunduk; awan-awan menutupnya bak tirai di atas panggung. Pertunjukkan selesai. Kami pulang ke rumah tinggal setelah itu dengan bersepeda (yeah, sejauh + 2 kilo). Sesampai di sana, langsung buru-buru mandi (jbar jbur jbar jbur, begitulah gue mandi) dan salat magrib.  Tak lama, mata ini udah ga kuat untuk tidak terpejam. Tertidurlah hingga makan malam menjelang.

Seperti yang sudah dijanjikan, setelah makan malam kami bisa berbakar-bakaran di beranda saung. Namun, hingga pukul sepuluh malam, kami tak beranjak dari bebangkuan. Terus saja kami berbincang dan bercengkrama dengan kawan-kawan. Hingga pada akhirnya ikan-ikan yang telah disiapkan malah dibakarin oleh tuan rumah. Poor us.

(Oke, kejadian pas gue dikerjain game tepok-tepok nyamuk itu nggak usahlah diceritain. Males bet…)

Bebakaran selesai, langsung capcus ke rumah tinggal. Lelah. Ngantuk. TIDUR!

Dengan penyewaan sepeda sepanjang waktu, kami bisa sesuka hati mengelilingi Pulau Tidung. Itu saya lakukan ketika pagi menjelang, saat keesokan harinya ingin ke Pulau Tidung Kecil melewati jembatan cinta. Sialnya, gue mendapatkan sepeda tanpa rem (kecuali ini sepeda fixie). Ugal-ugalan di gang rumah orang, deh.

Di jembatan yang menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Tidung Kecil ini kami berfoto-foto ria. Berbekal kamera hape (gegara kejadian ini gua jadi kepingin beli 600D), kami mulai memperagakan gaya Siapa-Ternarsis-di-Antara-Kita? Kebanyakan adalah jepretan gagal (ini lagi yang membikin gua ngebet punya 600D). Selebihnya adalah gambar berembun (faktor ketiga, yang mana gue makin ngebet punya 600D).

Lagi saya ingin katakan, inilah liburan tak terlupakan. Dengan rombongan yang lumayan banyak kami bisa mengorganisasi event tahunan yang udah digagas. Semoga dengan adanya acara semacam ini, kami bisa terus terikat dan saling berbagi rasa di antara anak GB. Jadi, jangan hanya masalah kerjaan yang jadi pikiran, liburan teramat penting bagi para karyawan tuk dilakukan. Tengs, guys. Tengs, agen tur kita. Tengs untuk segalanya.

________

Sebetulnya persiapan yang paling sulit adalah KOMITMEN TEMAN-TEMAN UNTUK IKUT SERTA. Itu adalah satu poin yang sangat penting, karena jikalau pas H-1 semuanya tiba-tiba bilang, “Eh, gua gak jadi ikut, ya…” Maka gagallah itu rencana. Dan kebetulan teman-teman saya begitu—klemar-klemer, plengas-plengos, pletat-pletot. Yah, emang dasar tim lemah.:mrgreen:

Hal selanjutnya yang harus diperhatikan adalah agen tur yang ingin digunakan. Ini penting, kawan. Kalau saja berada di tangan yang salah, bisa berabe urusannya. Untunglah kami memiliki guide yang sudah kompeten di bidangnya (meski pada awalnya kami uji terlebih dahulu janji dan persiapannya). Kami bisa mendapatkan fasilitas homestay berpendingin (AC), sepeda sepanjang waktu, snorkling di 3 (tiga) spot, makan 3 (tiga) kali, transportasi pergi-pulang (kapal Kurnia I & kapal Bisma 2), dan bebakaran di saung yang nyaman hanya dengan Rp 320 ribu/orang dengan 15 orang. Ugh, kapan lagi liburan murah kek gini dengan fasilitas jor-joran. Enjoy. Oke banget!

ps: Liburan selanjutnya kita ke mana, guys?😀

Tagged: , , , ,

§ 19 Responses to Backpacker Pulau Tidung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Backpacker Pulau Tidung at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: