Menyoal Impor Film di Indonesia (1)

15 May 2011 § 4 Comments

Minggu-minggu ini saya giat sekali mengecek almanak tahun 2011 di hape saya—maklum, kantor saya kagak ada almanak yang guede terpampang di sana. Kenapa? Ada apa gerangan kiranya di almanak tersebut? Yups, saya dengan kawan-kawan sedang ada hajat bulanan untuk nonton bioskop. Sepertinya ini hal yang biasa-biasa sahaja. Namun, justru inilah perihal yang luar biasa. Jarang-jarang kami—para pegawai kantoran teladan—memiliki waktu yang sama untuk berleha-leha. Itulah, saya mewanti-wanti diri saya sendiri untuk memprediksi sekiranya tanggal berapa kami-kami ini bisa meluangkan waktunya sejenak.

Sudah susah-susah cari waktu yang enak untuk meluangkan waktu, ternyata eh ternyata film yang kami cari tidak ditayangkan di bioskop. BUANGKEEEEEEEEEEE! Rupanya boikot film impor itu masih terjadi! Waktu pemutaran film sudahlah saya ketahui, tetapi justru pas saya melihat rencana jadwal film yang akan tayang di bioskop Indonesia, saya langsung tersenyum kecut. Miris, rupanya film-film jagoan Hollywood sekarang sudah tak tembus wilayah Nusantara, gegara ‘aturan baru’ yang dikeluarkan Dirjen Bea-cukai, beberapa bulan silam. Kenapa filmnya enggak diselundupin lewat Batam aja, sih???

Rencana yang telah saya buat sempurna ternyata seketika kandas dihantam realita. Film-film itu tidak lagi dapat ditayangkan di bioskop-bioskop manapun di Indonesia. Namun, setelah mencari informasi terkait bioskop dan impor film, saya mendapatkan sedikit pencerahan terkait aturan yang dipermasalahkan oleh kedua belah pihak (pemerintah & distributor film impor). Saya melihat mereka tidak sedang bicara soal substansi dari masalah. Ada sesuatu, hal lain, yang sedang diperdebatkan untuk diperselisihkan. ALASAN!

roll film

______________
Seperti yang sudah kita ketahui bersama, sejak tanggal 17 Februari 2011 lalu bioskop-bioskop di Indonesia tidak bisa lagi memutar film-film Hollywood yang dinaungi oleh Asosiasi Produser Film Amerika Serikat (MPA). Film-film tersebut tidak dapat meloloskan diri ke daratan Indonesia karena ketidaksepahaman pengimpor film (MPA) dengan pembuat kebijakan (pemerintah). Permasalahannya hanya di sini. Jika pemahamannya sejalan, secara otomatis impor film itu takkan bermasalah. *ITU DOANG?*

Dari beberapa artikel yang telah saya baca, ada poin penting terkait pemboikotan film impor di Indonesia ini.

Aturan Baru dalam Bea Impor Film

Seperti yang dikatakan Noorca Massardi, selaku juru bicara Cineplex 21, “…yang dipermasalahkan adalah: sejak Januari 2011 ini ada aturan dan penafsiran baru Direktorat Jenderal Bea Cukai atas UU/Peraturan tentang pajak bea masuk yang lama, yang diberlakukan per Januari 2011, yakni ‘BEA MASUK ATAS HAK DISTRIBUSI’ YANG TIDAK LAZIM DAN TIDAK PERNAH ADA DALAM PRAKTIK BISNIS FILM DI SELURUH DUNIA!”

Noorca menganggap aturan untuk mengenakan pajak royalti terhadap distribusi film merupakan aturan yang tak lazim dan tak pernah ada dalam praktik bisnis film di seluruh dunia. Aturan yang menurutnya mengada-ada ini ditentang keras oleh MPA. Jelas, itu dapat mengurangi pemasukan atas keuntungan yang mereka dapat dari penayangan film di bioskop-bioskop Indonesia. Namun, hal ini sepertinya disanggah dan dikomentari oleh JB Kristanto selaku kritikus film senior.

Kristanto menilai komentar Noorca keliru terhadap surat edaran yang dikeluarkan Dirjen Bea yang terbit pada tanggal 10 Januari 2011 lalu. Katanya, “…judul surat edaran Direktorat Jendral Pajak berjudul: Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Berupa Royalti dan Perlakukan Pajak Pertambahan Nilai Atas Pemasukan Film Impor. Surat ini namanya ‘surat edaran’ bukan keputusan atau peraturan. Itu berarti, surat itu hanya semacam peringatan diberlakukannya peraturan pajak yang sudah ditetapkan sebelumnya. Jadi, jelas bahwa itu bukan bea masuk atas hak distribusi tapi pajak royalti dan pajak pertambahan nilai (Ppn). Dua jenis pajak itu sudah umum berlaku di bidang-bidang lain.

Juga dalam hal ini, Kristanto mengungkapkan pengetahuannya mengenai aturan-aturan perdagangan yang menyangkut hak pembelian royalti terhadap suatu barang atau jasa, dalam hal ini karya film. Pun dalam dunia penerbitan, pajak royalti itu pun telah dikenal. “Industri penerbitan dan distribusi buku yang juga merupakan karya cipta intelektual, sudah lama mengenal pajak royalti itu. Sudah lama penerbit buku yang ‘membeli’ hak cipta buku asing untuk ‘dieksploitasi’ (diterjemahkan dan dijual), harus membayar pajak royalti sebesar 20 persen dari nilai kontrak ‘jual-beli hak cipta’ itu kepada negeri ini. Jadi, kalau harga beli sebuah hak cipta buku berharga 500 dolar, maka penerbit masih harus keluar lagi 100 dolar (tergantung perjanjian dengan penerbit luar negeri) untuk pajak royalti yang dibayarkan ke Dinas Pajak. Dan penerbit juga harus menanggung Ppn dari harga jual bukunya.

Kalau begitu adanya, kenapa importir film, pengusaha bioskop Grup 21, dan perwakilan MPA (Motion Pictures Association yang mewakili studio-studio besar AS), meributkan hal yang sudah lama berlaku di bidang industri dan perdagangan lainnya? *INI ANEH!*

Baiklah, memang hal ini sangat kompleks dan harus dilihat dari pelbagai sudut pandang yang berbeda. Adanya multitafsir ini menandakan bahwa manusia memang berkembang dan berpikir jauh ke depan (tidak stuck setelah mendapat satu pemahaman). Untuk itu, kita sebagai masyarakat yang peduli terhadap bangsa, negara, dan lingkungannya hendaknya memiliki kearifan dalam mengambil satu tindakan. Perhatian yang harus dijamah sekarang adalah kebijakan atau aturan yang diterapkan itu mengarah kepada kesejahteraan rakyat dan tidak berkiblat kepada kepentingan golongannya sahaja.

Anyway, kembali ke awal topik, saya gagal menonton film-film impor itu untuk saat ini. GAGAL! Kasihan ya saya? *huh*

Tagged: , , , ,

§ 4 Responses to Menyoal Impor Film di Indonesia (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menyoal Impor Film di Indonesia (1) at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: