Mosi Kehidupan

22 May 2011 § 4 Comments

Beberapa minggu yang lalu saya sempat mengikuti lomba debat bahasa Indonesia yang diadakan oleh fakultas saya. Lomba ini adalah salah satu rangkaian lomba pada event Olimpiade Ilmiah Mahasiswa FIB UI. Tentu saja saya bisa meraih medali perunggu dengan mudah. Oke, saya sedang tidak bermaksud sombong, hanya saja saya merasa sangat ironis dengan kemenangan itu. Saya menang W.O.

Jujur, inilah lomba pertama saya dalam hal berdebat. Juga, FYI, inilah kali pertama saya merasakan apa yang disebut “berdebat”. Seumur-umur saya belum pernah ikut debat akademisi seperti ini. Jadilah lomba ini adalah latihan saya dalam menyarikan argumen-argumen secara spontan di hadapan audiens dalam suatu ruangan yang dilihat oleh banyak orang dan sepasang juri. Ah, so nervous!

Teknis dari lomba debat itu sendiri adalah mempermasalahkan suatu isu yang berkembang di masyarakat dan pada saat itu sedang hangat-hangatnya dibicarakan di khalayak umum.  Ada dua tim; satu tim pro dengan isu yang beredar tersebut, sedang tim lain tidak sepakat [kontra] dengan isu tersebut. Kedua tim saling berargumentasi atas mosi [pernyataan mendukung kebijakan/aturan tertentu] yang mereka bawa dengan data-data serta fakta yang mereka dapatkan di internet maupun dari buku-buku pustaka.

Mulanya tim pro yang memberikan argumen. Setelah itu tim kontra yang memberikan argumentasi atas ketidaksetujuannya, serta menyanggah argumen-argumen tim pro.  Saat satu tim menyampaikan mosinya, tim lain berhak untuk menginterupsi dan menyanggah argumen-argumen yang dipaparkan, tentu saja dengan tempo yang dibatasi sampai beberapa saat. Di akhir sesi, kedua tim memberikan argumentasi akhir berupa kesimpulan debat. And, voila! juri kemudian menilai penampilan kedua tim dan menanglah satu tim yang menurut juri lebih baik dari tim lainnya.

Anyway, terlepas dari kemenangan tim saya memperebutkan medali perunggu dan teknis dari lombanya, saya tertarik dengan istilah baru yang saya kenal: mosi. Dalam pengertiannya di Kamus Besar Bahasa Indonesia, mosi adalah ‘keputusan rapat, yang menyatakan pendapat atau keinginan para anggota rapat’. Dalam bahasa debat, mosi adalah pendapat yang diutarakan satu tim dalam lomba debat dengan memaparkan argumen-argumen tentang suatu hal. Sampai akhir waktu, setiap tim harus mempertahankan mosi tersebut agar apa yang diyakininya dirasa benar secara konstruksional. Jangan sampai mosi lawan memengaruhi kita dan mengaburkan mosi yang kita bawa.

Pun, dalam hidup, kita harus memperjuangkan mosi kita sampai akhir hayat. Mosi (dalam hal ini adalah prinsip hidup), merupakan aspek penting dalam menjalani kehidupan. Segala perilaku manusia terangkum dalam mosi kehidupannya, dalam satu role of the game menjalani rutinitas hidupnya.

Mosi kehidupan tidak musti berupa statement yang paten dari kita masih kecil. Ia berkembang seiring kita bertambah dewasa. Semakin dewasa, mosi yang kita bawa akan semakin bijaksana.

Semenjak kecil, saya adalah orang yang memiliki hasrat menjadi orang hebat. Mosi saya adalah menjadi sosok yang dapat diteladai oleh banyak orang. Contoh orang hebat pada saat itu adalah presiden. Dengan kekuasaannya dalam memimpin masyarakat di negaranya, presiden adalah orang yang benar-benar menginspirasi saya. Ah, betapa dahulu saya sangat naif dalam bercita-cita.

Setelah menginjak masa SMP, saya mendapatkan pengetahuan baru, pengalaman baru, kawan baru, dan pemahaman akan suatu hal baru. Memang masa kecil itu saya tertarik menjadi presiden. Namun itu saat masih kecil. Sekarang saya punya cita-cita yang sedikit berbeda: ahli matematika. Oke, itu merupakan titik yang sangat jauh berbeda dengan koordinat seorang presiden. Anyway, mosi saya ketika itu adalah menjadi seseorang yang berada di puncak dan dapat menjadi inspirasi di bidang matematika. FYI, SMP adalah masa-masa jayanya saya bergelut dengan aljabar dan angka-angka.

Kemudian saya masuk ke dunia STM. Dunia STM, dunia yang terasa aneh bagi pada akademisi, adalah dunia baru bagi kehidupan saya yang sangat Nges-em-a pada saat itu. Kemampuan finansial yang kurang bagus menempatkan pilihan sekolah kejuruan sebagai dermaga singgahan untuk kapal akademik saya selanjutnya. Dunia ini rupanya memberikan suatu konsep aneh tentang sistem pembelajaran dan arah nakhoda pendidikan.

STM merupakan institusi yang memiliki orientasi mendidik anak ajarnya untuk menjadi manusia berkemampuan baik dalam suatu hal, fokus dalam menguasai suatu bidang teknik. Dengan kata lain, lulusan STM adalah mereka yang setelah kelulusannya dapat menjadi tenaga kerja siap pakai bagi perusahaan-perusahaan  yang bergerak di bidangnya masing-masing.

Semua hal itu kemudian mengubah cara pandang saya terhadap sesuatu. Begitu pula mosi hidup saya. Ketika hidup ini terlihat begitu pragmatis di STM ini, saya mempunyai mosi: berlaku keren di mata orang-orang. Keren di sini maksudnya adalah memiliki perilaku yang jauh dari biasa orang-orang lakukan. Dan bidang yang saya anggap keren pada saat itu adalah arsitektur dan sastra.

Kedua hal itu merupakan produk sejarah yang menandakan perubahan peradaban di dunia. Dengan arsitektur, kita dapat mengetahui perkembangan suatu bangsa. Begitu pula dengan sastra, kualitas dari peradaban bangsa dapat diketahui dari sastra yang ditelurkan pada masa itu. Selain itu, saya menyukai dan tertarik akan kedua hal ini.

Bagaimanapun, mosi kehidupan adalah prasyarat dalam menjalani kehidupan, filosofi dalam memandang tiap sudut kehidupan. Layaknya memancing, kualitas hasil pancingannya dinilai dari filosofi pemancing itu. Apakah untuk mendapatkan ikan, ataukah untuk merasakan suasana yang dihasilkan dari kegiatan memancing itu sendiri.

Begitulah. Mosi hidup saya berkembang seiring dinamisnya pemikiran yang saya pahami. Mosi itu masih dan harus tetap saya perjuangkan, bagaimanapun caranya. Tetapi satu yang harus diwanti-wanti adalah, jangan sampai lupa akan mosi hidup kita dan justru termakan mosi hidup orang lain. Kalau sampai tidak fokus memperjuangkan mosi hidup kita sendiri, kehidupan yang telah kita tata dengan filosofis tertentu akan buyar begitu saja ketika mosi hidup orang lain menggantikannya. Itu sangat buruk. Konstruksi kehidupan yang sudah rapi itu justru akan hancur dengan konsep pemikiran orang lain (mosi hidup), meski konsep tersebut “terlihat menakjubkan oleh mata kita. Karena pada dasarnya kita, satu sama lain berbeda kehidupannya. Mosi yang bukan “kita” takkan pas jika diaplikasikan dalam kehidupan kita.

So, perjuangkan mosi hidup kita. Dan jangan sampai lupa bahwa mosi hidup adalah ruh dari kehidupan yang kita jalani ini. Good luck!

§ 4 Responses to Mosi Kehidupan

  • diahpandora says:

    ganti lagi tema blognya.

  • pethakilan says:

    jadi kapan saya dibuati rumah wahai bapak (calon) arsitek???

    #PLAK!! #ditampar #ayokomenserius

    *ehem*

    hm.. agak blur antara mosi, prinsip hidup, dan cita2..
    karena mosi adalah pendapat, prinsip hidup adalah pegangan, dan cita2 adalah tujuan.

    *ngelantur*

    • ibnumarogi says:

      Amiin arsitek [tapi lulusannya bakal jadi arsitek sastra, nih].

      Hmm..gimana, ya. Memang sebetulnya samar seperti itu. Justru karena berbeda antara pendapat, pegangan, dan tujuan dalam hidup itulah kemudian dirangkum dalam suatu ikatan yang disebut [yg nyebut2 gua doang, sih] mosi kehidupan. Itulah…

      *fyuh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Mosi Kehidupan at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: