Compfest 2011: Refleksi Kemandirian Nasional Anak Bangsa

31 May 2011 § 2 Comments

Internet sudah menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat di kota-kota besar. Hampir di setiap sudut kota—taman, mall, café, supermarket, dan tempat-tempat umum lainnya—penuh dengan laptop yang bisa berselancar di dunia maya. Dahulu memang tidak sebanyak sekarang karena baru beberap tahun ini pengguna internet di Indonesia meningkat secara signifikan. Peningkatan pengguna internet di seluruh Indonesia membuat informasi dan berita menjadi lebih mudah.

Perkembangan teknologi yang ada sekarang telah memudahkan masyarakat untuk dapat mendapatkan informasi dan berkomunikasi jarak jauh secara langsung. Kemudahan dalam berkomunikasi dan saling bertukar informasi dengan cepat dan murah menjadi sebuah kenisyacaan. Seseorang di ujung Pulau Miangas, misalnya, tidak perlu pergi ke Jakarta untuk membaca harian Koran Jakarta. Informasi begitu mudah didapat dengan internet. Tak pelak, mengutip buku Thomas Friedman, The World is Flat telah nyata di depan kita.

Indonesia adalah salah satu negara terbesar pengakses internet di dunia. Sekarang ini Indonesia menjadi lahan subur untuk meningkatkan investasi dalam bidang IT dan internet. Dengan lonjakan pengguna internet yang begitu melesat, tak heran jika Indonesia kini sangat diperhitungkan oleh para investor untuk menanamkan modalnya sehingga teknologi semakin maju dan kualitas kehidupan (perekonomian) pun ikut naik. Prospek yang begitu menguntungkan ini semestinya dapat dimanfaatkan oleh segenap masyarakat Indonesia.

Namun, menjadi masalah bagi Indonesia ketika teknologi tersebut bukanlah milik Indonesia. Peluang investasi tersebut justru dimanfaatkan pihak luar untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan membawa teknologinya ke Indonesia. Banyak sekali produk-produk teknologi yang membanjiri Indonesia. Produk elektronik, gadget, ponsel, smartphone, hingga laptop supercanggih adalah karya anak bangsa lain yang telah banyak dibeli masyarakat Indonesia. Di sini posisi Indonesia hanya sebagai konsumen belaka yang membelanjakan anggarannya untuk mendayagunakan teknologi tersebut, alih-alih menciptakan teknologi baru dan menjualnya kepada masyarakat dunia.

Teknologi yang Indonesia ciptakan—jika dilihat secara luas—sebenarnya tidak kalah dengan buatan negara-negara barat atau Jepang. Indonesia memiliki potensi untuk bersaing dengan teknologi yang sudah ada sekarang. Pesawat terbang buatan Dirgantara Indonesia (IPTN), misalnya, adalah produk anak negeri yang telah mendunia dan terbukti kualitasnya. Banyak negara-negara memercayakan pembuatan pesawat tempurnya kepada IPTN ini, meski pada akhirnya perusahaan milik pemerintah ini kolaps.

Kenyataan bahwa skill anak negeri sejajar dengan kemampuan negara adidaya pun tidak perlu diragukan lagi. Namun patut diperhatikan, memenangkan persaingan dan mendominasi pasar tidak cukup hanya mengandalkan sebatas skill saja. Banyak faktor lain yang memengaruhi hal itu, dan skill yang hebat hanya satu dari banyak faktor tersebut.

Perkembangan teknologi pada dasarnya tidak hanya sebatas temuan baru keteknikan, tetapi juga mengenai budaya masyarakat yang mengembangkan teknologi tersebut dalam menyeimbangkan kemampuan untuk mengelolanya. The man behind the gun, yang menjadi masalah bukan seberapa besar senjatanya, tetapi seberapa besar orang tersebut mampu menggunakan dan memanfaatkan senjata yang dimiliki. Percuma saja memiliki sumber daya apabila budaya dalam pengelolaannya nol. Untuk itu, perlu adanya kesinambungan dalam memajukan teknologi yang diciptakan dengan etos kerja yang berdasarkan budaya Indonesia.

Selain itu, masyarakat Indonesia sering terjebak dalam tren teknologi yang berkembang tanpa memahami sosial-budaya negerinya sendiri. Pencapaian iptek yang manusia Indonesia ciptakan kebanyakan mengacu pada paradigma barat yang memang dalam sistem dunia menjadi trendsetter sebagai standardisasi pencapaian teknologi. Kadang menjadi suatu keanehan atas temuan-temuan yang telah Indonesia ciptakan justru sama sekali tidak cocok dengan budaya masyarakatnya.  Hilangnya jati diri bangsa Indonesia yang heterogen seolah lenyap dengan datangnya pasar bebas yang sejatinya produk asli sistem kapitalis. Mengacu kepada Restorasi Meiji sebagai modernisasi Jepang, seharusnya Indonesia mampu mengembangkan suatu teknologi baru yang merepresentasikan budaya dan corak keindonesiaan tanpa harus melupakan karakter Indonesia yang berasaskan adat ketimuran.

Dengan ide sendiri, teknologi sendiri, produk sendiri, Indonesia mampu menjadi pesaing tangguh dalam menyediakan ilmu pengetahuan serta teknologi yang modern dan canggih untuk masyarakat dunia. Hanya perlu modal keberanian melangkah untuk memulai kejayaan yang sudah di depan mata. Bukankah Lao Zhu pernah bilang bahwa perjalanan ribuan mil itu dimulai dengan satu langkah? Salah satu langkah tersebut dapat dilakukan dengan merancang event-event yang dapat memotivasi para anak negeri untuk mengembangkan skill-nya. Peluang itulah yang sekarang dikerjakan oleh orang-orang di belakang acara Confest 2011, festival yang berisi pelbagai macam kegiatan seru seputar dunia komputer.

Blogging Competition Compfest 2011

Computer Festival merupakan event tahunan terbesar mahasiswa/i Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Festival ini adalah ajang kreatif dan inovasi anak negeri dalam memajukan pengetahuan seputar komputer dan IT (information technology). Event terbesar ini telah diselenggarakan selama beberapa tahun yang lalu dan selalu banyak peminatnya. Banyak pencipta-pencipta teknologi muda yang lahir dari acara ini. Festival ini menghadirkan pelbagai macam kompetisi, baik itu kompetisi programming, blogging, game design, maupun robotic competition.

Confest 2011 adalah ajang pameran bagi para komunitas-komunitas IT dari seluruh Indonesia. Exhibition ini akan diikuti oleh komunitas-komunitas forum online, Open Source, research, dan Fasilkom, serta juga ada exhibition dari Game Design Competition. Selain itu, Confest 2011 juga mengadakan workshop untuk mereka yang ingin ikut pelatihan tentang dunia IT. Untuk mereka yang penasaran dan ingin mengetahui lebih jauh soal dunia IT, caranya adalah dengan mengikuti seminar-seminar yang diselenggarakan di America Pacific Place tanpa biaya. Terakhir, untuk memanjakan para pengunjung festival ini, Confest 2011 akan menghadirkan acara entertainment  sebagai hiburan. Mau tahu apa hiburan dan acara seru lainnya? Sambangi situs Confest 2011 dan datang ke festivalnya.

Dengan menonjolkan karakter yang sangat Indonesia, Confest 2011 mampu mengajak para calon penerus Pak Habibie untuk menciptakan penemuan-penemuan baru dalam bidang IT. Hal ini tidaklah sulit mengingat Fasilkom Universitas Indonesia adalah satu dari yang terbaik. Kemauan keras dan tekad yang kuat nantinya akan membimbing calon insinyur tersebut untuk membesarkan nama Indonesia.

Festival ini mungkin tidak cukup bagi bangsa Indonesia untuk mendapatkan pengakuan internasional. Namun begitu, langkah pertama dalam meniti kejayaan ini merupakan prestasi tersendiri bagi bangsa Indonesia karena inilah Inovasi Karya Anak Bangsa menuju Kemandirian Nasional. Untuk itu, perlu adanya tindak lanjut atas festival yang membanggakan ini. Semoga dengan kerja keras anak negeri yang memiliki mimpi besar ini muncullah pencipta-pencipta muda yang dapat mengubah arah pembangunan bangsa sehingga Indonesia berjaya dan diakui di pentas dunia.

Sumber referensi:

Latif, Yudi. 2009. Menyemai Karakter Bangsa. Jakarta: Penerbit Kompas.

Situs compfest2011.com

______

Artikel ini dibuat untuk mengikuti Kompetisi Blogging Compfest 2011  dengan tema  Inovasi Karya Anak Bangsa menuju Kemandirian Nasional.

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Compfest 2011: Refleksi Kemandirian Nasional Anak Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Compfest 2011: Refleksi Kemandirian Nasional Anak Bangsa at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: