「Resensi Buku」Menyemai Karakter Bangsa

1 June 2011 § 3 Comments

Sastra adalah bagian dari banyak hal yang tersingkirkan dan terpinggirkan di Indonesia. Sastra telah terposisikan sebagai sesuatu yang aneh dan tak berguna. Bahkan sama sekali tidak memikat, menghibur, apalagi memberikan masukan bagi kehidupan. Kini sastra hanya menjadi penumpang gelap dalam pelajaran bahasa Indonesia. Guru-gurunya sendiri yang cabutan dari disiplin lain, tak tahu apa yang harus diajarkan.

—Putu Wijaya

antara sastra & bangsa

Rank : 9 out of 10 stars [Briliant Literature, Briliant Idea!!]
Title : Menyemai Karakter Bangsa
Author : Yudi Latif
Page :209 pages
Published : Penerbit Buku Kompas
Year : 2009
Category : Books
Genre : Non-Fiction, Nationalism, Literature

Yudi Latif berbicara soal bangsa. Bangsa yang berupa kesatuan atas sekumpulan manusia yang hakikatnya memiliki perbedaan atas segala sesuatu namun menyatu dalam balutan bahasa (tujuan) yang sama. Dan bangsa, sesungguhnya, tidak dapat dipisahkan dari bahasa, serta sastra.

Ia bicara soal sastra. Bahwa sastra bukanlah isu yang sudah usang untuk membentuk karakter sebuah bangsa. Bahwa sesungguhnya sastra adalah faktor terpenting dalam merekonstruksi sebuah ide besar tentang membangun peradaban suatu bangsa, bangsa Indonesia. Kebangkitan sastra adalah kebangkitan bangsa.

Yudi Latif dengan pendekatan yang baru telah memutarbalikkan fakta atas kekakuan dan ketidakpopuleran sastra di bumi nusantara. Ia mengungkap apa dan bagaimana yang sebenarnya harus diceritakan tentang sastra. Sastra yang sebenarnya, bagian yang sangat istimewa dalam perjuangan Indonesia.

Buku ini dibagi dalam beberapa bagian. Pertama, menyoal kebangkitan suatu bangsa didasari pada kebangkitan sastra. Ada kesinambungan antara perkembangan sastra yang lahir dari pendidikan Politik Etis yang diberlakukan kolonial Belanda dengan gerakan kebangkitan yang terjadi di awal abad ke-19.

Awalnya memang gerakan kebangkitan tersebut dipelopori oleh kaum-kaum bangsawan di Pulau Jawa, yakni “bangsawan-usul”. Bangsawan-usul inilah yang membentuk perkumpulan Budi Oetomo. BO kemudian menjadi organisasi yang cenderung eksklusif dan tidak sepenuhnya mengakomodasi aspirasi selain golongannya. Hal ini agak mengkhawatirkan juga. Namun, lambat laun rasa nasionalisme yang dimiliki kalangan priyayi rendahan dan nonbangsawan untuk memperjuangkan dan melindungi kepentingan rakyat tumbuh dan bergelora. Situasi inilah yang melahirkan “bangsawan-pikiran”.

Bangsawan-pikiran adalah generasi muda yang mengubah cara pandang akan kebangkitan bangsa dengan berbasis pemikiran. Tidak ada lagi bangsawan-usul (bangsawan-harta), yang ada hanyalah ide-ide brilian road-map yang tujuan akhirnya demi kepentingan rakyat Indonesia. Dalam peta-jalan seperti inilah kemudian generasi Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Natsir dibesarkan.

Selain memaparkan soal kebangkitan Indonesia, Yudi Latif juga mendeskripsikan hubungan antara teknologi dengan budaya yang dimiliki suatu bangsa. Perkembangan teknologi yang dikembangkan suatu bangsa tidak dapat ditundukkan dengan hanya bermodalkan prinsip-prinsip keteknikan atau rasio instrumental saja. Idealnya, perkembangan ini harus dibahas dalam tataran yang lebih luas lagi, yakni sampai pada masalah sosio-kultural dalam masyarakat itu. Hal ini sangat penting mengingat teknologi tidak hanya menyangkut perangkat keras, melainkan menyangkut sistem nilai, aspek ideasional, dan daya estetik-puitik dari komunitasnya.

Perkembangan teknologi tidak hanya sebatas temuan baru keteknikan, tetapi juga menyangkut aspek lain agar sanggup bersaing di pasar dan penerimaan sosial dengan daya saing dan daya akseptabilitas yang tinggi. Namun, orientasi masyarakat Indonesia cenderung mengagungkan kecantikan rupa saja (gelar, nama, dan citra) alih-alih mengasah esensi dibalik gelar dan popularitas itu sendiri. Pun, ketersediaan SDM di dalam industrialisasi (buruh) yang sungguh melimpah rupanya tidak membantu negara ini secara otomatis dapat menerima teknologi sebagai sebuah sistem yang melingkupi tata nilai dan konseptual budaya masyarakatnya. Pekerja siap pakai itu hanya dianggap sebagai “suku cadang” yang sewaktu-waktu dapat mengganti kinerja yang seharusnya dapat dilakukan robot.

Indonesia dalam perangkat pendidikan yang tak berbeda jauh dari konsep awal yang diterapkan kolonial, cenderung mengutamakan secara berlebih logika matematik dalam pendidikannya. Kurikulum yang ada telah menghambat intelegensia calon pemimpin bangsa itu dengan menitikberatkan bakat menghitung dan logika–yang justru tidak dimiliki setiap orang. Eksplorasi ide dari tiap-tiap intelegensia (literatur, kinsetetik, musikal, naturalis, dll.) tidak ada. Kalaupun ada, itu hanyalah cenderung teknis saja.

Dalam dunia pendidikan, metode yang diterapkan di Indonesia tidaklah substansional. Sering kali yang terjadi di lapangan murid-murid langsung diberi ikan (bahkan yang sudah matang) alih-alih kail dan pancingan. Sehingga yang tersedia kelak adalah robot (manusia) siap pakai, bukannya manusia berdaya adaptasi tinggi, punya visi ke depan, dan astetisme kerja. Orientasi inilah yang memicu ledakan lulusan sarjana linglung, yang mana banyak pekerjaan yang diambilnya tak sejalan dengan disiplin ilmu yang didalaminya.

Di epilog, Yudi Latif menyimpulkan bahwa ada beberapa poin penting yang harus dimiliki bangsa Indonesia sebagai prasyarat budaya kebangkitan bangsa. Hal inilah yang mendasari kekuatan sejati dan eksistensi bangsa kita di pentas dunia. Suka ataupun tidak, sesungguhnya ketiadaan hal inilah yang menyebabkan kemandekan integritas bangsa Indonesia.

Nyaris tak terbantahkan bahwa pemimpin bangsa kita hanya tersedia dari kaum tua. Mitos yang telah berkembang di alam bawah sadar kita adalah keberadaan senioritas adalah keniscayaan dan merupakan ukuran kualitas serta tumpuan perubahan. Kapasitas kaum muda sebagai agen perubahan rupanya telah hilang dari bumi nusantara.

Dengan menggali modal sejarah pada masa kemerdekaan, dapat dipastikan proklamasi kemerdekaan Indonesia sekitar 66 tahun yang lalu takkan terjadi tanpa pergerakan kaum muda. Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan Natsir merupakan kaum muda yang memiliki integritas tinggi dalam mewujudkan mimpi kemerdekaannya.

Kaum muda sudah semestinya mengambil peran dalam menakhodai arah bangsa ini. Diperlukan energi-energi pembaharu untuk memudakan kembali semangat membangun Indonesia. Dan kita, anak bangsa yang memiliki jiwa-jiwa muda, merupakan jawabannya!

Well, buku ini adalah sebuah pengejawantahan ide kebangkitan bangsa yang telah lama hilang dalam karakter Indonesia. Memang sebetulnya pemikiran yang dituangkannya bukanlah hal baru dan ia hanya mengungkap apa dan bagaimana yang sebenarnya harus diceritakan tentang sastra. Sungguh suatu pencapaian yang luar biasa bagi saya untuk membaca (iqra‘) master-mind dari seorang Yudi Latif. Nasionalisme yang berakar dari pendidikan agama yang begitu kuat juga berdampak pada model sastra yang spiritualistis.

Akhir kata, meski pada awalnya terasa berat untuk dianalisis *3 kali membacanya saya tetap tak mengerti* buku ini adalah harta berharga yang harus disebarkan kepada kaum muda. Kepada kita; kepada saya, kalian, mereka. Demi kita, demi bangsa, demi kaum muda, serta demi calon pemimpin kita.

Tagged: , , , , , , , ,

§ 3 Responses to 「Resensi Buku」Menyemai Karakter Bangsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Resensi Buku」Menyemai Karakter Bangsa at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: