Tiup

16 June 2011 § 8 Comments

“PUH!” ia dengan keras meniup udara di depan wajahnya.

“PUH, PUH, PUH…!!!” Hembusannya tak membuat monitor LCD yang menyala itu sedikitpun bergeming. Siasiakah?

“PUH, PUH, PUIIIIHHHH…” Pun dengan tiupannya yang meliuk indah, memagut ke atas, tak jua enyah dari hadapannya. Seolah monitor di hadapannya akan segera melayang ketika ia menghembuskan nafas kencang-kencang. Namun, rupanya tetap begitu adanya.

“Hoi,” sapa kawannya di sebelah, agak penasaran juga melihat rekan kerjanya sinting sendirian saja. “Lagi ngapain, sih? Pah puh pah puh aje darisetadi. Jorok, tauk!”

“PUUUH!” Masih, ia tak hilang fokusnya. Ngotot.

Ia tak hilang akal. Dengan pelbagai cara ia tiupkan benda mati itu mengarah ke atas agar—menurut logika sederhananya—bisa terbang ke atas, naik dan beranjak dari tempatnya semula.

“PUH!!” Sekarang dengan gaya monyong salah satu artis terkenal. Masih tetap bergeming.

“PUHH! PUH! PUH! PUH! PUH! PUH! PUH!” kemudian menirukan irama M-40. Tetap saja tak mau bergerak.

“PUHHHHHHHHHHHHHHHH!!!” Dan sekarang sudah seperti badai katrina membelah wilayah Florida dan sekitarnya. Ya, monitor itu masih enggan pindah barang sesenti pun.

AAAARGH.

Mungkin karena sudah kehilangan akal, ia kemudian mengeluarkan jurus pamungkasnya. Ia ambil ancang-ancang, mengambil udara sebanyak-banyaknya dan…

“PUHHHH…..HUEHUUFPFPFUUUUHHHH…UHHHHHHHHHEEEUUUUPHHHHHH…..” Kiamatlah sudah. Ceracau yang tak berpola itu sudah menjadi badai sungguhan. LCD yang seminggu sekali biasa dibersihkan itu sekarang telah bernajis Mugholadoh, tercecer secara sporadis saliva murni manusia di layarnya. Sungguh mengibakan!

Kemudian ia tenggelamkan diri di kursinya. Menghilang dalam lamunan.

_______

“Jorok lu, Gy.” Dan si jorok tak menjawabnya. Kawannya yang terabaikan tadi sekali lagi tak diacuhkannya.

Kawannya pun sadar, ia takkan ditanggapi jika tak menghampiri. Ia beranjak dari kursi, menghampiri si jorok itu, dan kembali bertanya seraya menepuk-nepuk bahu si jorok.

“HOI!”

“Eh…” akhirnya si jorok kembali ke dunianya.

“Jorok banget, sih.” Ini ketiga kalinya ia menyebut kata jorok kepada si jorok.

“Ahelah,” jawabnya malas-malasan, “Emangnya salah?”

“Nggak, lo nggak salah. Tapi elo jorok!” Sang kawan menekankan pada kata jorok, sejorok mungkin.

Si jorok mendengus, rupanya tak terlalu suka dengan perkataan kawannya. Kemudian, sang kawan mungkin karena merasa tak enak dengan arah pembicaraan, ia mengalihkannya dengan mengulang pertanyaan,

“Lu lagi ngapain sih? Niup-niup monitor nggak jelas gitu.” Ia lalu memperhatikan monitor yang sudah terkena limbah lokal itu, dan berondongan pertanyaan pun menyeruak, “Itu grafik apa, tuh, berwarna biru ijo gitu? Grafik gitu. ipe, ipeka gitu. Status Akademis….Apasih situs yang lu buka?”

Bungkam. Yang ditanya diam.

_________

Setelah beberapa saat, sang kawan pun tahu bahwa apa yang diusahakan si jorok itu adalah untuk menaikkan IP-nya. Ya, caranya dengan meniup-niup ke atas grafik Indeks Prestasi kuliahnya di monitor itu.

Tagged: , , ,

§ 8 Responses to Tiup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Tiup at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: