Hikayat Gadis dan Seorang Dukun

7 July 2011 § 10 Comments

Tersiar kabar bahwa gadis yang cantik itu telah diputus oleh pacarnya—yang katanya ganteng bukan buatan serta rupawan tak tertanggungkan. Sang gadis syok karenanya, dan merana hingga berkepanjangan. terpuruk, dan terus-menerus memburuk.

Ternyata, dari kabar yang berembus di masyarakat [ganti nih kata ini!] sang gadis dilepas begitu saja karena hadirnya orang ketiga—atau entah ke berapa. Gadis ketiga ini sebetulnya tak salah, tak memiliki khilaf apa-apa. Hanya saja sang Sugeng—nama pria ini—teramat ganjen untuk potongan seorang laki-laki. Ah, kalau dipikirkan, melihat paras dan laku-sikapnya, betapa sulitnya sebenarnya mendapatkan gadis cantik yang setia seperti dia.

*****

Kembali ke masa-masa sebelumnya, beberapa waktu yang lalu, alkisah di suatu desa Antah Berantah, yang mana masyarakatnya masih menjaga adat dan tradisi, hiduplah sekumpulan keluarga yang selalu mandi dan rajin sikat gigi. Masyarakatnya saling menolong terhadap sesama; orang-orangnya ramah-tamah, tak pernah marah; para bapak tidak pernah terlihat menyerah, meski bekerja seperti sapi perah. Para ibu senyumnya selalu menyembul, meski kompor di dapur jarang sekali ngebul; oh, bocah-bocahnya pun rajin sekali menabung, meski hanya receh dan lembaran uang yang buntung.

Mereka semua hidup rukun dan damai. Tidak pernah sekalipun kejahatan mengusik desa ini. Benar-benar damai. Damai. Ya, damai. Hingga suatu saat datanglah seorang pengacau! *Jgeerrr!* (suara gledek). Gara-gara dia, desa menjadi kacau . . . balau. Gara-gara keberadaannya, desa yang rukun dan damai ini, menjadi desa yang . . . tidak rukun dan tidak damai. Warga pun menjadi sangat panik ketika malam datang. Dan ia hanya seorang pemuda! Seorang pemuda yang entah darimana datangnya hadir di tengah-tengah desa, membawa malapetaka. *Jgeerrr!* (suara gledek).

Ia adalah seorang pencuri. Pencuri hati, hihihihi:mrgreen:  Wajahnya sangat tampan rupawan; ia orang yang kaya, yang membuat rentenir kacangan pun tak berdaya; dan ia . . . teramat menggemaskan; satu lagi yang bahkan membuat kondektur wanita di Trans Jakarta menyukainya: Ia unyu~~!

Gadis-gadis muda dibuat galau. Saking rupawannya, para ibu-ibu arisan pun jadi ababil. Namanya sering disebut-sebut saat pengajian malam Jumat. Namanya santer di kalangan P2M2, Perkumpulan Pembokat Malem Minggu. Namanya tak pernah absen digosipkan bakda senam kesehatan ibu-ibu PKK. Namanya adalah . . . SUGENG.

(Sugeng menerima telepon, ia berbicara sebentar kepada seorang gadis, lawan bicaranya, dan segera minta putus. Lalu ia mengambil handphone-nya yang ditaruh di saku lainnya. Ia berkata manis, bersastra, mengajak jalan seorang wanita yang ia ajak bicara, padahal sebelumnya ia bilang tidak bisa diajak ke mana-mana)

Sugeng. Begitulah namanya. Seorang anak gahoel, yang kaya, yang tampan, yang segala-galanya dah pokoknya. Pacarnya banyak. Itu aja baru dua. Dan saat ini dia sedang menunggu seorang pacarnya lagi yang merupakan koleksi terbaiknya. Namanya . . . Ajeng. Ajeng datang dan menghampiri Sugeng dengan gaya termanisnya.

AJENG. Adalah orang katrok. Ndeso. Kalem. Tak pernah tahu apa itu cinta. Tak pernah mengenal apa itu sayang. Tak pernah tahu siapa itu pacar. Itu Ajeng sebelum bertemu dengan sang Sugeng. Tapi lihatlah sekarang tingkahnya…

(Ajeng mendekati Sugeng, bermanis-manis dengannya)

Sugeng: Ajeng, aku ingin bicara sama kamu.

Ajeng: Apa? Apa? Kamu mau bicara apa? Ih, aku tahu, aku tahu… Pasti..pasti—

Sugeng: (mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya) Nih…

Ajeng membuka kotak itu dengan girang. Dengan tak sabar ia merusak pengait kotak tersebut dan menemukan secarik kertas yang berisi, “Aku-minta-putus-sama-kamu-tertanda-Sugeng.”

Ajeng: Ihihihi…Kamu paling bisa deh bercanda. Ihihihi. Mana? Mana? Kotak yang sebetulnya di mana? Sini…sini…

Ajeng menganggap bahwa Sugeng, pasangan terkasihnya, sedang mengerjainya dengan memberi kotak yang salah itu, kotak yang berisi kertas pernyataan putus Sugeng. Dalam imajinasinya, Sugeng mempermainkannya dengan kotak tersebut dan di ujung cerita, ia akan memberikan kotak lainnya—kotak sebenarnya yang berisi cincin berbentuk cinta.

Sugeng: Enggak kok. Aku serius. Itu memang yang sebenarnya. Well, karena ndak ada yang dibicarain lagi, aku pamit. (Sugeng meninggalkan Ajeng sendirian)

Ajeng langsung berubah air mukanya. Wajahnya yang ceria tiba-tiba lecek, ia mulai menangis dan tanpa aba-aba menyanyikan lagu Akhir Cerita Cinta ~ Glenn Fredly.

(Sugeng tak lama menghampiri Ajeng, lalu sang gadis itu berhenti menyanyi)

Ajeng: Ih, Sugeng. Kamu kembali lagi, kan? Ngajak balik lagi, kan? Aku tahu kok kamu gak bakal bisa hidup tanpa aku… (nyerocos aja sampai ia melihat wajah Sugeng yang serius). Kamu kenapa? Kok . . . kok diam?

Sugeng: Kartu! Kartu kredit. Sini balikin!

Ajeng menggerutu sambil memberikan kartu kredit. Sugeng, sekali lagi, meninggalkan Ajeng sendirian. Ajeng pulang, memberi ruang buat hatinya untuk merasa yang paling malang.

____________
nb: Nah, beginilah. Beginilah jadinya kalau tidak hati-hati memilih pasangan. Kayak gini ini. Jangan diikutin yang begini ini. Oke? Lanjut.

Desa Antah Berantah ini memang sudah rusak oleh Sugeng. Tapi, ada satu keluarga yang tidak menjadi korban kejahilan Sugeng. Ini dia. (Piceh dan ibunya sedang berada di ruangan membaca, mengaji mungkin istilahnya) Sedikit saja yang masih hidup rukun dan damai. Setiap malam menjelang, keluarga ini sibuk mengaji. Ia bernama Piceh. Sama seperti Ajeng yang dahulu, gadis ini orangnya pemalu. Oh, ya. Mungkin seorang wanita yang memakai kacamata di sebelah Piceh ini terlihat muda, tapi PERCAYALAH, dia hanya seorang ibu tua yang tak perlu kita bahas belaka! Oke, ia adalah ibu kandung Piceh.

IbuCeh: (tadarusan usai, kemudian belajar akan bahasa Arab, bahasa Quran) Jadi, apa itu kalimat nominal?

Piceh: kalimat yang ada kata bendanya, baik subjek maupun predikat.

IbuCeh: pinter. Hari ini cukup sampai di sini,

(berbarengan) shodaqalloohul adziim.

IbuCeh: belikan ibu kemiri. Ibu ingin buat nasi goreng yang enak.

Piceh: bukannya nasi goreng pakai lada? Kok . . . ?

IbuCeh: (tak mau mengalah) Ya nasi goreng memang pakai lada. Emang kalo ibu maunya cuma beli kemiri ndak boleh, ha? Trus, memang salah kalo orang salah?

Piceh: ya nggak salah, sih. Tapi tapi tapi . . . ibu—

(Piceh langsung ngibrit ke warung takut disembur amarah ibunya yang tak pernah mau mengalah dengan anaknya)

Sugeng terpekur di taman dekat kampusnya. Pemuda yang habis memutuskan Ajeng kini terlihat agak murung. Ia ternyata memikirkan Ajeng, cewek ke-13 yang ia kencani dalam sepekan ini. Mungkin pacarnya masih banyak yang berkeliaran di luar sana. Tapi ia merasa ada yang janggal. Ia merasa tidak rela ketika memutuskan Ajeng. Ia merasa bahwa Ajeng itu berbeda dengan cewek-cewek yang telah ia pacari sebelumnya. Sudah cantik, senyumnya manis, dan . . . dan ia suka orang yang manja seperti Ajeng. Ah, ia merasa menyesal atas perbuatannya itu. Menyesal. Sungguh-sungguh menyesal.

AAAAAARGH!

Sugeng berteriak, melepaskan gundahnya. Ia bingung, kemudian tanpa punya tujuan mau pergi ke mana ia berjalan mengikuti jejak langkahnya. Ia bingung, betul-betul bingung. Bingung apakah mengabaikan perasaannya . . . atau merendahkan harga dirinya dan meminta Ajeng kembali kepadanya. Ketika sedang bingung itulah ia—BRUKK!

Tiba-tiba saja Sugeng ditabrak seseorang yang berjalan dengan langkah yang terburu-buru. Tak disangka, Piceh lah yang menabrak Sugeng yang sedang bingung. Lada dan kemiri pesanan ibunya maur dan berjatuhan ke mana saja, menggelinding tak tentu arah. Sugeng masih terbengong-bengong, tak memberi reaksi apa-apa. Setelah membereskan lada yang berjatuhan, Piceh langsung pergi tanpa melirik sedikitpun ke wajah rupawan Sugeng.

Sugeng terpana . Kejadiannya begitu cepat. Meleng sejenak, tubrukan tiba-tiba, ling-lung yang sekejap mata, dan kemudian sebuah tatapan singkat bersarang di mata sang Sugeng—terhitung lama dalam pikirannya. Ia bungkam dan tak bisa bergerak saking terpesona dengan seorang gadis yang telah menabraknya. Ia ingin berkenalan dengannya, tapi ia tak tahu siapa dia.

Ia lalu tersadarkan ke dunia nyata. mengusap wajahnya dan menggeleng-geleng kepala. Siapa dia? Oh, semoga ada barang miliknya yang tertinggal dari genggamannya… Oh, ternyata sandal si gadis itu terjatuh! Sugeng memungutnya dan memeriksa apakah ada sesuatu yang bisa ia temukan untuk mencari keberadaan gadis tersebut. Tertera di sandal tersebut sebuah kata, sebuah nama.

Sugeng: Aha! Piceh namanya… (menunjukkan tulisan PICEH di sandal tersebut ke para pembaca)

Ia berpikir sejenak. Ia butuh suatu pertolongan. Ia harus minta bantuan seseorang. Seseorang yang bisa ia andalkan untuk situasi-situasi seperti ini, menemukan informasi tentang keberadaan manusia. Ouh, *AHA!* ternyata ia sudah tahu orang yang bisa menolongnya mencari gadis itu. Dengan bermodalkan sandal itu, ia akan tahu dimana gadis itu tinggal, siapa namanya, dll. Maka berangkatlah ia ke sana, ke rumah dukun sakti mandraguna.

*****

Seseorang terduduk lama di depan mangkuk kecilnya. Mangkuk yang berdaun rupa-rupa, berwarni-warna. Tak lama ia membuka mata, menatap pekat pada mangkuk mungilnya. Ujung-ujungnya, ia menghirup dan menenggak isi mangkuknya, sampai habis pula.

Orang ini bukan sekedar paranormal. Ia adalah orang-serba-normal. Ia orang yang tahu segala. Di dunia ini, tidak ada yang terluput darinya. Namanya mbah Go-ogle. Ogle, mbah Ogle. Ia mungkin bukan segala-galanya. Tapi segala-galanya adalah dari dirinya.

Tak lama Sugeng masuk ke ruangan Mbah Ogle.

Sugeng: Mbah, saya minta tolong, mbah. Saya ingin mencari seorang gadis. Tapi saya ndak tahu namanya. Saya hanya punya sebelah sandalnya. Ini.

Mbah Ogle: Gampang. Itu masalah gampang. Saya pun sudah tahu rupa-rupa Anda punya perkara (mbah mengutak atik laptopnya dan ia menemukan sesuatu) Nih, coba lihat.

Sugeng mengangguk mantap, menyatakan bahwa gadis di dalam leptop itu yang ia pinta.

Sugeng: sekalian, mbah, dia dibuat suka sama saya. Oke?

Mbah Ogle: Beres….

Dengan mudahnya mbah Ogle melakukan ritualnya. Was wes wos, akhirnya dalam sekejap saja perintah sang klien dilaksanakannya. Mbah Ogle mengangguk, Sugeng pun jua.

Sugeng: Makasih, Mbah. Wah, mbah emang keren. Mbah emang temen saya, nih. Top abis! Saya pergi dulu, ya. Daaagh…

Sugeng tanpa tedeng aling-aling meninggalkan suksesornya. Mbah Ogle terbengong-bengong dibuatnya.

Mbah Ogle: Anak muda kurangajar! Dosa sama orang tua. Gak bayar, langsung pulang. Mak dirabit! Nih orang musti dikerjain. Biar aja ramuannya senjata makan tuan. Dia yang kegila-gila sama tuh cewek. Hag hag hag..

Mbah Ogle lalu melakukan ritualnya kembali. Tak persis sama dengan yang pertama, namun memiliki inti yang serupa.

*****

Tiga hari telah lewat setelah Sugeng meminta bantuan Mbah Ogle. Namun, sampai sekarang belum ada berita tentang si Piceh itu. Ah, apakah tidak sampai, ya? Apa karena amalatnya salah? Atau memang tidak mempan? Aaah, jadi kepikiran . . .  Sugeng uring-uringan sekarang. Ternyata ia sudah tidak bisa menahan lagi rasa ingin bertemu dengan Piceh.

Ah, rupanya senjata telah memakan tuannya. Sugeng terkena intriknya sendiri! Ia sekarang tak bisa menahan kangennya untuk bertemu Piceh. Ia galau. Ia ababil. Ia harus melampiaskan rasa ini ke apapun. Ke siapapun makhluk yang lewat. Bahkan kucing sekalipun.

Tidak dinyana, ternyata ia menangkap sesosok yang ia kenal. Itu Ajeng. Ya, betul Ajeng. Cewek yang ia sia-siakan dahulu. Ah, tak ada rotan, akar pun boleh. Sugeng mendekati Ajeng, ia mencoba mengajaknya bicara. Tapi Ajeng merasa tidak mengenali orang itu, ia rupanya sudah melupakan masa-masa lalunya.

Selagi Sugeng berusaha untuk menyapa sang EX-nya, datanglah sesosok pria dengan dandanan yang begitu rupa: rapi, menarik, dan ajek dilihatnya. Ajeng tanpa disangka menghampirinya, memberikan senyum terindahnya, dan menggaetnya meninggalkan Sugeng sendirian saja. Sekilas memang tampak asing, namun lamat-lamat tersingkaplah sosok sang pria yang di depannya. Ia adalah dukun saktinya! Ialah mbah Go-ogle! Pemandangan di depannya seolah mengejeknya…”betapa manisnya balas dendam yang tidak pernah diniatkan.

Dan mereka pun hidup bahagia….

_______

* cerita ini sebelumnya adalah naskah drama kelas Pengantar Kesusastraan saya.

§ 10 Responses to Hikayat Gadis dan Seorang Dukun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hikayat Gadis dan Seorang Dukun at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: