Lamaran

11 July 2011 § Leave a comment

Minggu pagi, ketika membuka mata dan membuka inbox hape, entah kenapa otot-otot bibir dengan mudah tertarik ke samping, membuka dan memamerkan gigi-gigi saya. Tersenyum girang. Hoi, kenape jadi curhat begini! *sigh*

Terbangun dari kasur, mata tak lepas dari lalu-lalang orang di depan kamar. Hari ini seluruh anggota keluarga, baik ibu-bapak, juga nenek dan kerabat-kerabat dekat, sibuk bukan main gerak-lakunya. Encing—adik dari ibu—saya siang ini akan dilamar oleh pacarnya. Mereka harus mempersiapkan segala untuk menyambut calon rombongan yang akan melamarnya nanti. Saya—sebagai anggota keluarga yang masih punya niat untuk membantu ala kadarnya—hanya bisa mengajak bermain bocah-bocah kecil juga tengil dari mereka yang membantu di dapur sana. Ya, untuk sementara, saya menjadi babysitter untuk para balita muda.

“Hiaattt!!! Ciat ciaaaat!” teriak Haris, sepupu saya yang berumur 4 tahunan, saat tinju mungilnya membabi-buta ke arah tubuh saya. Saya (pura-pura) tersungkur dengan tampang pias dan memelas, meminta ampun. Penjahat terkalahkan dengan mudahnya oleh sang Harisman.

“Ihihihi,” gelak tawa langsung meledak dari mulut Rizkia melihat saya tersungkur oleh tinju Haris. Dede Kia—biasa ia dipanggil—adalah bocah imut-endut yang sejak baru sampai di rumah neneknya tak henti bermain dan bercanda bersama Haris. Rupanya perjalanan Bandung—Jakarta sedari subuh tak membuat semangat bermainnya menguap di jalan. Sampai satu jam ke depan, saya pun menjadi bulan-bulanan mereka dan harus rela beracak-acakan sebelum nanti siang, bakda Zuhur, acara lamaran siap diselenggarakan.

Wew, acaranya dapat mudah ditebak: para rombongan dengan membawa barang-barang (yang mungkin biar lebih mudahnya kita sebut dengan ‘seserahan’) hingga belasan parcel jumlahnya. Utusan dari rombongan memberi salam, memberikan pidato pendahuluan, sebelum akhirnya ia bicara soal lamaran yang ingin diajukan. Selanjutnya sang utusan tuan rumah menanggapi lamaran tersebut—tentu saja lamarannya diterima. Kemudian ada ceramah singkat dari orang-orang terdekat dan orang-orang terhormat (yang dihormati) di daerah sekitar tuan rumah, sepatah-dua memberi wejangan terkait lamaran dan ikatan pernikahan. Hingga pada akhirnya rombongan ini dijamu dengan pelbagai makanan yang bisa membuat kenyang.

Sepertinya saya tak perlu banyak memberi bantu, semuanya sudah punya posisinya masing-masing. Saya lalu meringkuk saja di salah satu kamar, mengajak main (lagi) ponakan-sepupu lucu yang usilnya bukan main. Setengah jam sebelum acara usai, saya cabut dan langsung capcus ke rumah Agus (kawan semasa STM) di daerah Jak-Pus. Phew..

Mereka pun hidup bahagia . . .

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Lamaran at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: