Cerita Dua Tahun Lalu…

20 July 2011 § 2 Comments

Pertengahan bulan Juli 2009

ANJRIT, PARAH BENER KERJANYA!” curhat gua ke Mamet, kawan seperjuangan yang tiap harinya nyampah di ruang server jaringan sekolah. Beberapa minggu ini gua emang udah jadi pengangguran. Keluar dari PT P membuat isi kantong—setidaknya sampai akhir bulan ini—nyaris tidak ada. Di Cisco—nama ruang server jaringannya—inilah gua jadi tamu agung sekaligus pengangguran yang menunggu datangnya lowongan pekerjaan. Tidak disangka, hari ini gua akhirnya mendapatkan pekerjaan baru di PT J di bilangan Grogol (dekat dengan tempat PKL gua sebelumnya). Namun begitu, pekerjaan ini rupanya telah membikin kepala gua kleyengan.

“Lu nikmatin kerjaannya, nggak?” tanyanya memulai interogasi.

“Ya gitu. Gimana, ya…Gua sih nikmatin aja. Tapi kan nggak gini caranya. Gua perlu spare waktu untuk belajar juga, gua mau kuliah, Met.”

“Ya kembali lagi ke elu lagi, Ghie. Gua sih dukung aja. Yang penting elu nggak nyesel pas udah mutusin gimana-gimananya.”

*****

Percakapan itu terngiang di kepala gua sampai malamnya, ketika gua sudah sehari penuh bekerja di PT J. Gua sedang dihadapkan pada keputusan yang sulit. Yah, sejujurnya, keputusan memang tinggal ditegakkan, tetapi perlu masukan-masukan dari orang-orang sekitar agar kebermanfaatan langkah gua ini bisa tersebarluaskan. Gua pun berpikir-pikir ulang. Lanjutkan, atau mundur dari medan perang?

Sebetulnya, pekerjaan ini bisa dibilang cukup masuk akal, reasonable. Yang menjadi nggak masuk akal adalah, ketika hidup gua—hampir 24 jam dan 7 hari dalam seminggu—harus diabdikan pada pekerjaan ini. Gua harus ikhlas kerja non-stop setiap hari berkutat dengan proyek dan jalan tol saja. What a boring life! *sigh*

Poin lainnya, bagi para orang tua dan bapak-bapak yang lagi cari kerja, mungkin memang pekerjaan seperti inilah yang mereka bisa banggakan untuk anak-istri di rumah. Tetapi bagi gua yang masih fresh graduate, kerja rodi macam ini adalah penyiksaan yang tak tertanggungkan. Anak muda macam gua adalah seorang yang bebas, tak bisa sepenuhnya ditekan keadaan, dan memiliki hak-hak atas kebebasan itu sendiri. Dan pekerjaan itu gak gua banget.

Malam itu gua bersemedi dan mencari banyak energi serta petuah dari makhluk-makhluk yang bersliweran, dari habitat sekitar. Setiap saran, baik itu yang mengarah pada pengunduran maupun tidak, semuanya akan gua akumulasi. Juga ketika bang Aswin memberikan pertanyaannya, “Emang gajinya berapa, Ghie?”

“1,4juta, Bang.”

FYI, untuk ukuran gua yang baru lulus STM, gaji segitu sudah masuk dalam taraf lumayan. Lumayan jikalau pekerjaannya kantoran. Namun, berbeda dengan pekerjaan baru gua ini, yang mana sudah melebihi kapasitasnya dari pekerjaan di lapangan (24 jam non-stop di kantor). Dia pun menjawabnya dengan, “BUJUG! Keluar aja, Ghie, gaji segitu mah. Kirain 4 juta—8 juta.”

Dan tiba-tiba saja keputusan ini membulatkan dirinya sendiri: RESIGN! Gua harus keluar. Phew..satu masalah telah terselesaikan.

Masalah gua yang satu itu memang terselesaikan. Namun, bagai efek domino, keputusan ini memunculkan konsekuensi baru: GUA NGANGGUR. Baru saja mendapatkan sumber pemasukan, gua sudah harus rela kehilangan. Gua rasa inilah sindiran yang paling ngena, “Mau kerja aja milih-milih, yang enak. Sonoh, mending kerja di bulan!”

Keadaan yang genting ini untungnya tak berlangsung lama. Kepala yang pusing ini tak lama tercerahkan kegelap-gulitaannya. Sodoran peluang yang menguntungkan pun hadir bak hujan di bulan Juni. [nuhun, keknya ungkapan hujan di bulan Juni ini kurang pas, deh…bisa kali diganti dengan yang lain]

“kring…kring…kring…” suara telepon di lantai bawah berdering. Itu pasti Zaenal. Gua buru-buru mengangkatnya. Tadi sore dia menjanjikan untuk memberikan info terkait lowongan kerja. Barangkali memang ini jawaban dari kekosongan pekerjaan gua.

“Halo.”

“Halo, Gie. Eh, gua ada lowongan, nih,” tuh, kan, betul apa kata gua!

Percakapan selanjutnya adalah curhat gua akan pekerjaan gua yang mirip-mirip kerja rodi [tapi digaji] dan kemudian Zaenal menanggapinya dengan santai, yang mana makna sesungguhnya dari perkataannya adalah “udah deh, Ghiemending lu masuk ke kantor gua“.  Fixed, malam itu gua memutuskan untuk keluar dari Jakon dan mencoba untuk memulai kehidupan sebagai anak buahnya Zaenal.

*****

Akhir bulan Juli 2009, Hari Jumat sekitar pukul 13.15

“Trerereret…trerereret,” suara monofonik yang menjengkelkan dari ponsel butut gua berdering sumbang.

“Halo.” Gua menjawab telepon dengan ogah-ogahan, masih tersisa bunga-bunga tidur dalam khayal.

“Hoi, Gie. Lu cepetan kemari. Ditunggu bos.”

“HAHHHH? Apaan sih?” tanya gua bego, masih belum menemukan jalan untuk memahami kalimat sederhana.

Ck! Elu kan mau ngelamar kerja di mari. Nah, elu disuruh ke sini buat diwawancara sama bos. Buruan, cepetan.”

“EHHHHHHH?” Dan gua panik. Betulan panik, sepuluh menit kemudian dengan tergesa-gesa gua meluncur ke Pasar Minggu menuju kantornya Zaenal. Entah sudah mandi atau belum sebelumnya, yang pasti gua harus sudah sampai tepat pada waktunya.

Di perjalanan, perasaan gua campur baur. Berasa seneng karena bakal ada kerjaan. Berasa minder gegara gambar gua masihlah amatir. Berasa bangga juga karena dari sekian teman STM, Zaenal memilih gua untuk jadi partner di kantornya [belakangan gua tau dia milih gua karena sebagai juniornya di kantor GUA GAMPANG DISURUH-SURUH—bangke bener emang tuh anak!].

Pada lamaran kali ini gua gak terlalu berharap akan datangnya penerimaan diri gua. Wajar, ini keoptimisan yang telah bertemu muka dengan realistis. Sejujurnya, Zaenal tidak pernah secara jelas memastikan kapan gua bisa dipanggil bosnya untuk diwawancara. Dia hanya menyarankan gua untuk siap-siap jika saat yang tepat gua sudah harus dipanggil [dear Zaenal, “saat yang tepat” itu kapan, yaaaaaaaaa?]. Hari ini, di cisco yang adem ditiup AC, gua hanya bisa melakukan ritual standar gua sebagai pengangguran: buka fb, sesekali ngecek kaskus, dan sisanya tidur-tiduran di karpet lecek berwarna merah scarlet. Bunyi telepon tadi adalah alarm pertama setelah gua mendusin tidur bakda Salat Jumat.

Pikiran gua jelas waria-wiri tak tahu juntrungannya. Panik, juga was-was. Zaenal di telepon tadi sama sekali tak memberi sedikitpun bocoran bagaimana gua bakal diwawancara. Dia hanya menyarankan gua memakai pakaian yang pantas, itu saja. Bah, pantas di sini konteksnya seperti apa? Dan bagaimana caranya agar gua bisa diterima? Ah…alhasil gua memberanikan diri memakai kemeja putih butut dan celana hitam yang sudah bolong kantongnya, serta dengan sepatu pinjaman yang terlihat “pas di kaki”.

Setelah tanya-tanya lokasi kantor via telepon, gua sampai di sebuah bangunan mungil dua tingkat yang tampaknya lebih mirip rumah tinggal. Zaenal masuk ke dalamnya dan gua mengikutinya di belakang. Di lantai bawah hanya ada satu meja kerja dengan lemari besar tempat menaruh arsip-arsip di dalamnya. Di meja itu tersebar lembaran-lembaran kertas (mungkin semuanya kwitansi tagihan proyek) yang sedang diamati oleh seorang bapak berkacamata-baca. Tekun dan fokus. Zaenal menaiki anak tangga, membawa gua ke lantai atas tempatnya bekerja. Di situ gua disuruh tunggu hingga pada saatnya dipanggil bos di ruangannya.

Gua duduk di samping kursi Zaenal. Tempat kerjanya tidak terlalu besar, namun terasa nyaman. Dia dan rekan satunya—orang desain rupanya—sedang sibuk menyelesaikan proyek interior dengan fotosopnya. Well, gua liatin kerjaannya aja deh sambil menunggu dipanggil bos.

Gak lama, gua pun disuruh masuk ke ruangan bos. Dan dimulailah wawancara itu. FYI, persiapan gua amatlah kurang. Dokumen yang gua bawa saat itu hanyalah selembar ijazah yang baru dua minggu dibagikan pihak sekolah dan CV lusuh yang telah gua buat lama sebelum datangnya hari ini. Sang bos mulai bertanya. Pertanyaan standar, tentang skill AutoCAD gua, tentang membaca gambar, dan tentang kesediaan gua bekerja di kantornya.

“Minggu depan kamu kemari lagi, yah, *sambil meratiin almanak* hari Rabu lah, ya. Kamu bawa gambar AutoCAD buatan kamu.”

Rabu di minggu berikutnya gua datang dengan membawa gambar rencana rumah tinggal sederhana: denah, tampak depan & samping, potongan X & Y, dan beberapa denah gambar lain. Bos manggut-manggut melihat hasil kerja gua, lalu gua pun disuruh menunggu hasilnya di ruangannya Zaenal. Kemudian setelah anteng menunggu sekitar dua jam, gua dipanggil lagi untuk mendengarkan hasilnya.

Kamu diterima di sini.” Begitu kira-kira redaksionalnya.

“Jadi, minggu depan kamu sudah bisa bantu-bantu Zaenal,” sambar Bos yang satunya lagi (iya, bos di sini memang ada dua). Dan kata-kata selanjutnya tak pernah terekam dalam memori kecil gua. Hanya ada euforia yang menggunung dalam dada.

Begitulah…akhirnya gua mendapatkan apa yang selama ini terimpikan laku-pikir gua. Gua bekerja sepenuh hati dan menyukurinya hingga sekarang, dua tahun setelah awal dari masa-masa kelam, sebelum gua diangkat menjadi karyawan kepercayaan. Terima kasih kepada kedua bos gua. Terima kasih kepada rekan-rekan kerja. Terima kasih kepada Zaenal yang telah mengarahkan gua kepada perusahaan ini. Serta terima kasih kepada kawan-kawan sepengangguran di Cisco. Dan itulah cerita dua tahun yang lalu…

§ 2 Responses to Cerita Dua Tahun Lalu…

  • nuriamalia says:

    pantes sayang banget sama zaenal.ini toh sebabnya.hahahaha. jadi bener kan kerja di arsita, arsita bukan “kantor” khayalan kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Cerita Dua Tahun Lalu… at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: