「Resensi Buku」The Journey

26 July 2011 § 8 Comments

Rank : 6 out of 10 stars [some of that story is great!]
Title : The Journey
Author : Adhitya MulyaOkke ‘Sepatumerah’Raditya DikaTrinityWindy AriestantyValiant BudiWinna EfendiVe Handojo , Alexander Thian,Farida SusantyFerdiriva HamzahGama Harjono
Page : 254 pages
Published : Gagas Media
Year : 2011
Category : Books
Genre : Non-Fiction, Journey, Traveling

Beberapa bulan yang lalu saya melakukan pakansi ke Pulau Tidung bersama kawan-kawan. Sebuah liburan yang tak terlupakan. Acara reuni kecil-kecilan sambil belajar bersnorkeling di antara Pulau-Pulau di Utara Jakarta. Sungguh mengasyikkan.

Berlibur, atau bertamasya, atau apapun namanya, adalah sebuah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Lebih mengasyikkan lagi jika orang-orang di sekitar kita bisa merasakan kebahagiaan kita saat kita ceritakan liburan yang kita jalani itu. Namun begitu, tidak setiap orang bisa membuat cerita yang menakjubkan, semenakjubkan perjalanannya. Adalah sebuah keterampilan berkelas sehingga para orang-orang yang membaca cerita kita untuk ikut terbawa kesenangan dan kegembiraan yang kita rasa saat berpakansi. Dan mereka berduabelas di buku ini telah melakukan hal yang hebat: bercerita.

Ada duabelas perjalanan, ada duabelas cerita. Saya tak bisa bilang keduabelas cerita ini memiliki narasi yang bagus. Namun, saya bisa menjamin bahwa keduabelas perjalanan ini sangat hebat! Dikumpulkan dari latar belakang kepenulisan yang berbeda-lajur, mereka membuat kompilasi cerita perjalanan menjadi terlalu menawan hati. Untuk itu, kiranya sebuah keberuntungan bagi saya karena telah membaca habis cerita mereka berduabelas ini.

Tidaklah saya resensi buku ini kecuali mendeskripsikan kembali nilai-nilai inti dari perjalanan mereka. Denga kata lain, tidak semua cerita dapat saya tuliskan di sini. Tentu saja, ini bukan berarti cerita yang saya tulis yang terbagus dan kemudian yang tak saya ceritakan kembali merupakan cerita yang jelek. Hanya saja, bagi saya, buku ini harus dibaca kembali oleh kalian. Dengan cara “membocorkan” sedikit cerita ini semoga dapat memberikan percikan minat sehingga punya keinginan untuk membaca cerita perjalanan yang kaya pengalaman ini.

*****

Memulai perjalanan di Spanyol bersama Gama Harjono rasanya cukup membosankan juga. Iya, tutur kata yang mengagungkan negeri Andalusia secara egois itu tak mementingkan pembaca yang baru belajar menerka rupa benua Eropa. Di tengah-tengah perjalanan sebetulnya ingin sekali langsung menamatkannya (baca: pindah cerita)  untuk selanjutnya ke perjalanan lainnya. Namun, inilah makna dari ‘membaca’, cerita sudah dimulai sehingga saya harus menghabiskan semuanya.

Cerita yang membuat saya tertarik adalah cerita yang dibawa seorang editor Gagas Media di Lucerne, sebuah desa yang sangat asri dan indah menawan hati. Windy Ariestanty, sang editor ternama, telah membuka pandangan saya lebih luas dari sebelumnya. Ia tak hanya mengangkut buah tangan dari perjalanannya, tetapi juga membawa serta pengalamannya akan kearifan lokal dari sebuah desa (yang modern). Meski modern, pasar tradisional tetaplah ada.

Mungkin telah terjadi pemutarbalikkan pandangan antara Eropa dan Indonesia (Jakarta khususnya) mengenai pasar. Jakarta dengan pembangunan yang begitu pesatnya tak pernah lelah mencipta Mall-Mall dengan segala fasilitas canggihnya. Makin banyak saja pasar “modern” dibangun, dan makin banyak saja pasar tradisional yang terpaksa digusur. Berbeda sekali, kontras bahkan, di Eropa begitu kuatnya eksistensi pasar tradisional di tiap kota. Keberadaannya adalah nyawa dari hidupnya perekonomian kota mereka. Tidak ada kota yang tidak memiliki pasar tradisional. Itu juga yang Windy temukan di Lucerne, bagian utara-tengah Swiss.

Bahwa pengalaman dalam hidup ini adalah suatu acuan tuk proses grow up dalam diri sehingga di kemudian hari kita dapat menjadikannya suatu hal yang baru.

Saya amat terpukau dengan interaksi yang Windy pertontonkan kepada pembacanya. Di pasar tradisional, percakapan yang begitu sederhana sangat bermakna dan penting artinya. Pembeli bertanya harga, berapa sayur dan buah-buahan segar itu, kemudian penjual melemparkan harga jualnya. Pembeli menawar, penjual menurunkan harga–masih mencari sedikit keuntungan. Dengan begitu, mereka berkomunikasi dengan aktivitasnya. Sungguh suatu fenomena yang membuat saya tersenyum membacanya.

Hal baru juga saya dapat dari Ve Handojo tentang Israel. Israel yang begitu ambisius atas tanah Jerusalem merupakan negara yang berselisih dan berkontra dengan Palestina—memperebutkan tanah dan wilayah. Di daerah manapun di dunia, tersiar berita perselisihan ini sehingga mau tak mau perhatian masyarakat dunia teralihkan ke mari. Pernah, dan masing-masing masih belum menyerah.

Bicara soal Israel, kita takkan jauh pikirannya dari peperangan, perebutan wilayah, dan tanah Jerussalem. Israel dari yang orang Indonesia ketahui—khususnya saya—adalah sebuah negara yang memiliki masalah (atau cari-cari masalah?) dengan negara Palestina. Bahwa orang Israel (Yahudi) sangat berkepentingan menguasai tanah yang mereka tempati dan negara Palestina tempati. Just it! Memang hanya itu yang sedang diperebutkan oleh mereka, bangsa Yahudi dan Palestina.

Namun, dari apa yang dialami Ve Handojo  di Tel Aviv adalah sebuah ironi. Di Tel Aviv, kita yang orang luar dapat merasakan perbedaan yang mencolok atas pandangan umum tentang Israel. Entah apa sebabnya, yang pasti orang-orang yang berada di Tel Aviv kebanyakan tak peduli dengan kekuasaan dan wilayah yang diselisihkan negaranya. Silakan pemerintah berperang atas nama kedaulatan dan kebanggaan Yahudi, tapi kami di Tel Aviv ini ingin menjalani kehidupan yang damai dengan setiap orang, dengan segala macam ras manusia. Jangan ganggu kehidupan kami. Mungkin begitulah yang dirasakan warga Tel Aviv karena sudah merasa bosan atas politik geo-agama yang digencarkan negaranya.

Dalam perjalanan, bukan cerita perjalanan (narasi) yang menjadi intisari, tetapi pengalaman kecil (yang kadang luput dan terlupakan) dari perjalanan itulah yang sebenarnya sesuatu yang terpenting dan mencerahkan hati.

—seseorang

Anyway, buku ini menghadirkan suatu perspektif (eh, betul gak begini tulisannya?) baru dalam penulisan perjalanan. Selain perjalanan mereka bertiga tadi, banyak pula yang bercerita dengan pelbagai sudut pandang yang mengagumkan. Adhitya masih dengan cerita kocaknya, Radit masih dengan kekonyolan anak mudanya, serta penulis lain yang saya kira memang berpengalaman dalam soal menulis perjalanan.

Satu yang pasti, buku ini membuat saya kepingin mengelilingi dunia, melihat kehidupan yang tersembunyi dari peta dunia.

Tagged: , , , , , , , , , , , , , , ,

§ 8 Responses to 「Resensi Buku」The Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Resensi Buku」The Journey at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: