「Review Film」Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 [3D]

2 August 2011 § Leave a comment

Cuma mau bilang gini: 
— Rupert Grint pintar menampilkan tampang bloon. 
— Ga rame banget Nagini kalah dalam satu take doang. 
— Hermione tambah cihuy aktingnya (aktingnya aja lhooooo) 
— Kok Draco yang ngebunuh Dumbledore? 
— Ron edisi bapak-bapak itu kurang pantes yak? :mrgreen:

Harry Potter 7.2

Rank : 5 out of 5 stars [owh my God!]
Category : Movies
Genre : Adventure, Drama, Fantasy
Director : David Yates
Stars : Daniel RadcliffeEmma WatsonRupert Grint

Akhirnya para penggemar setia Harry Potter dapat bernapas lega karena film ini akhirnya tayang di Indonesia. Terlepas dari kontroversi Omega Film, sang importir film baru yang memboyong film-film Holywood ke bioskop Indonesia, saya patut berterima kasih kepada semua pihak yang menayangkan film ini karena telah memberi kesempatan film Harry Potter terakhir ini hadir di akhir bulan Juli di hadapan para penggemar setianyanya. Phew..para penggemar di situ termasuk saya dan kawan-kawan nongkrong, lho.

David Yates rupanya pandai memainkan trik marketing. Memang film Harry Potter terakhir ini terasa sangat fantastis. Namun, efeknya takkan sehebat yang sekarang jika ia tak memikirkan hal penting dalam penayangan filmnya. Kita bisa berkata bahwa Part 1 film ini tidak bisa dianggap luar biasa. Bagus, tapi tidak ada apa-apanya. Nah, dengan tidak membuat ekspektasi tinggi di Part 1 tersebut, ia kemudian memberikan ledakan dahsyat dan pertunjukan yang fantastis di bagian akhir ini. Wow, what a amazing movie!

Di bagian pertama memang dibikin down terlebih dahulu. 
Nah, pas di bagian kedua ini baru deh abis-abisan filmnya!  
Gak asik, kan, kalo endingnya ga lebih bagus dari film sebelumnya...?

Karena rencana nonton ini sudah ada sejak tayangan Part 1 selesai ditonton, maka saya dkk. memilih karcis film 3D adalah wajib ‘ain hukumnya di film Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2. Dengan keharusan yang teramat teguh, akhirnya mau-tidak-mau, di sebelah mana pun tempat duduknya, jam berapa pun tayangnya, kami harus dapatkan tiketnya.

Di film ini sebetulnya yang jadi pahlawan adalah Neville. Yep, dialah sang Neville Longbottom. Dengan mengesampingkan pelariannya dari ratusan pelahap maut yang menyerbu jembatan dan merangsek ke Kastil Hogwarts, Neville adalah Gryffindor pemberani. Rada speechless juga saat Neville menyeret-nyeret kakinya tuk berhadapan dengan You-Know-Who dan puluhan Pelahap Maut sang pengikut Tuannya untuk ceramah. Wew, pidato singkat yang sangat mengharukan, dude. Selain itu, aksi-aksinya sebagai pemimpin Dumbledore Army patut diperhitungkan. Ah, hebatnya jadi orang pemberani.

Namun, teramat disayang. Ada beberapa adegan yang membuat saya merasa aneh dan janggal. Adegan yang masih saya ingat saat Harry, Ron, dan Hermione pergi untuk mendekati bangunan di pinggir danau yang jika di novel bernama
Shrieking Shack. Di situlah Snape dihabisi oleh Voldemort. Entah kenapa adegan itu tidak logis dan reasonless. Coba dipikir baik-baik deh, kalau saja Snape tidak dibunuh Voldemort dan Harry tidak tahu akan disuruh untuk mengambil air matanya Snape, akankah mereka tetap pergi ke sana? Apa pasal sehingga mereka mau-maunya mendekati Voldemort? Dan kenapa Voldemort tak tahu keberadaan mereka?

Hal aneh lainnya adalah tentang air mata yang dikeluarkan Snape. Jika dilihat dari adegan Harry menampung air matanya Snape di botol kecil yag diberikan Hermione, sulit untuk percaya bahwa Harry menuangkan air mata yang hampir penuh dari botol kecil itu ke dalam Pensieve. Siapa yang nambahnambahin?

Lagi, dalam kematiannya Snape, Voldemort menginginkan tongkat edler agar patuh kepada dirinya. Tongkat elder akan jadi miliknya jika dapat membunuh pemilik tongkat sebelumnya. Itu dilakukan karena sebelumnya Snape lah yang membunuh Dumbledore, yang mana ia lah yang memiliki tongkat bertuah tersebut. Oleh karena itu, ia harus membunuh Snape. And guess what? Yang bunuh Snape itu sesungguhnya adalah Nagini, bukan Voldemort sendiri. So, kurang masuk akal juga Voldemort dengan pedenya petantang-petenteng ngadepin Harry dan menganggap dialah yang memiliki tongkat elder.

Yang terakhir, dan ini paling garing: percakapan Aberforth dengan Harry di desa Hogsmeade. Di sana ia bertemu dengan Ariana, adik bungsunya Dumbledore, di dalam bingkai lukisannya. Saya cukup setuju dengan kata-katanya Aberforth yang ini,

What makes you think you can trust him?

Masa’ gitu ya, bocah baru gede dan baru belajar pertahanan diri dari ilmu hitam bisa-bisanya udah disuruh melawan sang Pangeran Kegelapan yang memiliki ilmu sihir begitu digdaya dan begitu rupa. Kalau diperhatikan, tindakan ini adalah sebuah tindakan bunuh diri, memang. Tidak masuk akal.  Sangat tidak masuk akal jika dipikir baik-baik.

Keajaiban, itu jawabannya. Dan begitulah…ini yang dinamakan keajaiban. Apa yang dinamakan keajaiban memang tak pernah masuk akal, bukan? Harry tidak hanya sebagai pahlawan bagi dunia sihirnya. Ia merupakan simbol bagi generasi muda. Simbol atas kepercayaan yang diberikan Dumbledore sebagai generasi tua yang menyerahkan estafet kepemimpinannya kepada anak muda seperti Harry.

Isu seperti ini adalah sesuatu yang besar dan timeless. Kekuasaan, suatu medan magnet bagi setiap manusia yang mendambakannya, pada hakikatnya adalah tanggung jawab yang diemban oleh manusia yang dirasa mampu untuk memikulnya. Kekuasaan bukanlah kenikmatan yang disuling dari kesewenang-wenangan karena ia berkuasa. Dalam hal ini, Dumbledore memercayai Harry untuk menggantikannya menjadi pemimpin. Kepercayaan, dalam hal ini kepercayaan kepada yang muda, adalah sesuatu yang mahal dan langka di dunia, bahkan di Indonesia.

Harry Potter and the Deathly Hallows berhasil mengampanyekan simbol-simbol kepemimpinan yang digarap dalam film epos (yang mana tumbuh dari film anak-anak) ini. Harry tidak hanya sebagai pahlawan, tetapi sebagai lambang regenerasi kepemimpinan yang tumbuh dari didikan master. Bukan berarti Harry orang super, yang sama sekali berbeda dengan penyihir (baca: manusia) lainnya, tetapi ia adalah sebuah wujud nyata dari sosok zero to hero yang berkembang, dari yang tak tahu apa-apa (Hagrid lah yang memberitahunya bahwa ia penyihir) sampai saat-saat menegangkan mengalahkan Voldemort.

And finally, ending. Rupanya saya suka dengan close ending di film ini (iya, mirip-mirip di novelnya memang). Bagi saya, open ending seperti yang dilakukan Nolan dalam Inceptionnya memang sesuatu yang beda dari yang lain. Tetapi sejujurnya, saya lebih menyukai ending yang jelas karena saya tak perlu menduga-duga seperti apa sih ending untuk film itu (iya, saya tahunya beres, gak mau ribed).

Akhir kata, film ini sangat keren apalagi dipoles dengan teknologi 3D. Efek yang paling terasa ketika Voldemort (gak takut-takutnya gua nyebut namanya, ya?) dikalahkan dan hancur menjadi kepingan-kepingan material yang seolah-olah terbang ke arah saya. Mantep pisan!

caution: JANGAN PERNAH NONTON FILM 3D DI KURSI DEPAN
KARENA EFEK TIGA DIMENSINYA TIADA KELIHATAN. SEKIAN.

Tagged: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Review Film」Harry Potter and the Deathly Hallows Part 2 [3D] at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: