「Review Buku」Selimut Debu

5 August 2011 § 6 Comments

Title : Selimut Debu
Author : Agustinus Wibowo
Page : 468 pages
Published : Penerbit Gramedia Utama
Year : 2010
Category : Books
Genre : Non-Fiction, Journey, Traveling

Jika ada satu negeri yang dijuluki sebagai negeri peperangan, yang pertama kali terpatri dalam ruang-ingat kita adalah negeri Afghanistan. Jika ada satu negeri yang tiap jengkalnya tertanam ranjau darat bekas medan perang, itulah negeri Afghanistan. Dan jika ada satu negeri yang setiap harinya hidup dengan kepulan debu yang terhidup ke dalam tubuh rakyatnya, itulah negeri Afghanistan.

Bagaimana rupa Afghanistan yang kita kenal?

Afghanistan yang kita kenal adalah tanah berdebu tebal yang tersebar membentang di tengah-tengah negara-negara Stan (Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Kazakhstan) serta bertetangga dengan Republik Iran & Pakistan. Afghanistan yang kita kenal adalah salah satu negara termiskin di dunia. Afghanistan yang kita kenal adalah negara dengan penghasil opium terbesar di dunia (saya baru tahu setelah membaca buku ini).

Adalah sebuah kesulitan membangun cerita perjalanan di tanah berdebu yang begitu berbahaya seperti Afghanistan ini dalam profesinya sebagai fotografer jurnalis. Tapi di buku ini Agus melakukannya dengan sangat brilian. Yeah, brilian. I mean, dengan bahasa sederhananya, dia bisa pulang ke tanah air hidup-hidup, lho!

Orang-orang Afghan tak pernah membayangkan—saya pun tidak!—bahwa jurnalis asing mau-maunya berkeliling negeri khaak (yang dalam bahasa Dari dan Pashto berarti debu) hanya untuk melunasi [ganti nih!] hasratnya tuk pergi ke sana. Tanpa berbekal uang yang melimpah rupanya Agus berani sekali menantang perjalanan yang begitu mengibakan ini. Perjalanan yang sungguh mengharukan pula, ia bertemu dengan banyak orang-orang Afghan yang lebih humanis dari orang-orang yang merasa dirinya punya rasa kemanusiaan di dunia ini.

Untuk melihat bagaimana rupa Afghanistan, I suggest you to read this book until the end. Dan ya, Agus begitu piawai melenakan saya dalam melukiskan kondisi Afghanistan yang begitu terpuruk secara politik dan ekonomi. Bagaimana cara Agus dapat memainkan perasaan pembacanya untuk bisa ikut berpetualang, saya pun masih mencari tahu. Tapi yang pasti, pandangan saya terhadap dunia—khususnya negeri Afghan ini—sudah jauh berbeda dari sebelumnya.

Bagai paradoks, buku ini menjungkirbalikkan pemahaman saya soal Afghanistan. Pertama, posisi politik Afghanistan di mata dunia. Afghanistan yang sudah porakporanda akibat serangan teroris (entah itu dari golongan yang dihabisi Taliban, atau Taliban itu sendiri, atau justru bajingan yang menyerang Taliban serta rakyat sipil Afghanistan demi nama kemanusiaan) seolah telah cacat fisik oragan tubuhnya. Tak berdaya, hilang arah, dan hidup dalam bayang-bayang selimut debu. Dan pada kenyataannya, memang, sebagian dari rakyat Afghanistan adalah orang-orang yang cacat akibat serangan roket, jebakan ranjau darat, dan bom-bom bunuh diri yang salah sasaran. Fyi, Afghanistan adalah negara terbesar penyandang cacat di dunia. Tidakkah kau iba dan bersimpati terhadap mereka, hei, wahai penyulut perang Afghanistan atas dasar senjata nuklir yang kau khayalkan itu?

Mayoritas rakyat Afghanistan adalah pemeluk agama Islam. Tidak heran budaya Islam begitu melekat dalam keseharian mereka. Hal yang paling mencolok adalah burqa1 (baca: burka/burko). Mungkin budaya ini berbeda jauh dengan Islam yang ada di Indonesia (hanya jilbab sahaja). Tapi menurut mereka, tertutupnya aurat wanita di seluruh tubuhnya adalah wajib. Bagi saya, ini sah-sah saja dan harus didukung aturannya jika memang datang dari perintah Alloh. Tetapi yang menjadi rusak ketika aturan tersebut menjadi rancu dan mengotori sunnah Nabi yang suci itu.

Tidak ada yang salah dengan budaya burqa. Meski di Eropa burqa menjadi musuh karena telah merenggut hak asasi manusia (wanita), kewajiban atas ajaran Islam harus tetap ditegakkan. Bukannya menghalangi dan melupakan habluminannas, tetapi sesungguhnya Alloh telah mengatur semua itu (habluminalloh & habluminannas) di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Dan itu saya yakini betul.

Homoseks & Bachabazi
Ternyata bangsa Afghanistan terdapat banyak homoseks dan pedofil lebih dari yang saya duga, jauh dari yang saya kira. Entah berhubungan atau tidak, tetapi implementasi aturan berbusana (burqa) sepertinya yang menjadi salah satu penyebabnya. Pria dengan wanita teramat tak bebas untuk berhubungan, atau bahkan untuk sekedar berkomunikasi. Larangan untuk bercampur (pria-wanita) bagi yang belum muhrimnya dalam satu adegan kehidupan rupanya harga mati. Imbasnya, dan ini buruk, orientasi seks pria melenceng jauh dan penyaluran yang ada hanyalah pria lain yang ada di sekitarnya. Mungkin sesama pria dewasa takkan ambil risiko untuk saling berhubungan, tetapi dengan bocah-bocah kecil? Oh, maygat, itu sudah menjadi hal yang lumrah di sana! Rupanya hubungan yang seperti ini sudah menjadi budaya yang legal dan halal di beberapa bagian negeri ini. Dan mereka biasa menyebut hubungan ini dengan sebutan Bachabazi.

Bachabazi yang secara harfiah berarti bermain dengan anak lelaki (playing with boys) merupakan budaya homoseks dengan bocah sebagai korbannya. Disebut korban karena si ‘anak lelaki’ ini biasanya merupakan orang miskin yang tak punya pilihan selain menyenangi pria dewasa yang menyuruhnya. Sungguh suatu budaya yang sangat jauh dari syariat Islam.

Ini tidak umum dalam Islam di Indonesia, tetapi kita bisa melihat kenapa hal ini bisa terjadi di negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Padahal sudah ada di al-Quran tentang haram dan dilaknatnya kelakuan layaknya umat Nabi Luth itu. Dan ada beberapa hal yang menyebabkan bacha bazi menjadi familier dan populer di kalangan rakyat Afghanistan. Pertama adalah adat konservatif hubungan pria-wanita. Mungkin secara praktik hubungan antara pria dan wanita di Afghanistan telah terjaga dan telah dibatasi sedemikian rupa. Namun, sungguh esensi dari pembatasan hubungan tersebut tidak terjamah dan malah menjadi aturan yang kaku. Bahwa pria-wanita tak bersinggungan adalah supaya bisa menjaga hawa nafsunya. Yang terjadi belakangan adalah hubungan seksual yang melenceng dari fitrah manusia di kalangan penduduk Afghan.

Kedua, rakyat Afghan tidak mengenal adat berpacaran. Bahwa pernikahan itu adalah syariat agama yang pelaksanaannya diatur sepenuhnya oleh orang tua kedua mempelai. Bahwa sang calon hanya tinggal tahunya beres dan melaksanakannya saja. Sekali lagi, aturan yang taklit2 begini dapat membunuh substansi dari ajaran Islam itu sendiri.

Ketiga, dan masih masalah pernikahan, harga yang harus dibayarkan untuk mas kawin teramat mahal. Para pria Afghan yang tidak mampu untuk membeli mas kawin (dan itu mayoritas dari mereka) cenderung lebih memilih untuk menyalurkan hubungan seksnya pada selain wanita yang akan dinikahinya. Maka kebiasaan ini berangsur-angsur menjadi suatu budaya yang lazim dan disahkan begitu saja dalam masyarakat. Bahkan Agus, dalam perjalanan ini, pernah ditawari untuk menjadi ‘anak lelaki’ yang disuruh memuaskan napsu remaja kaya di satu daerah yang lazim akan budaya bachabazi.

Bagaimanapun, petualangan Agus di negeri berselimut debu ini sungguh mengagumkan. Bukan seperti traveler-traveler biasanya, Agus di negeri khaak ini sudah bermetamorfosis menjadi seorang eksplorer. Tidak hanya pemandangan indah yang ia cari, tetapi sisi kemanusiaan dari negara yang hancur berantakan ekonomi dan politiknya inilah yang sesungguhnya ia cari.

Buat petualang seperti Agustinus Wibowo, perjalanan bukan soal pergi ke tempat-tempat paling asing di bumi. Tetapi kunci sebuah perjalanan adalah refleksi.
—Agustinus Wibowo dalam artikel Ransel Kecil

Apa yang telah ditulis Agus merupakan refleksi dari sekelumit kisahnya menjejak tanah Afghanistan. Dalam perjalanannya, bukan hunting foto yang menjadi goal-nya. Bukan pula menjelajah daerah-daerah terkenal yang tercetak besar di peta dunia. Tetapi interaksi dan pengalaman hiduplah dengan penduduk sekitar perjalanannya yang dapat membimbingnya menjadi manusia seutuhnya.

Agus, selamat! Anda telah menjadi inspirasi pelancong ternama bagi saya setelah Ibnu Battuta.

Rank : 9 out of 10 stars [amazing journey!]

______
1Burqa adalah pakaian muslimah yang menutupi seluruh tubuh.
2Taklid adalah mengikuti pendapat orang lain, baik dalam keyakinan, ucapan, maupun perbuatan tanpa didasarkan pada argumen, baik sangka, dan pengesahan dalil yang benar. Istilahnya main percaya aja katanya-katanya.

Tagged: , , , ,

§ 6 Responses to 「Review Buku」Selimut Debu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Review Buku」Selimut Debu at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: