Bumi Manusia 「Resensi Buku」

6 August 2011 § Leave a comment

Rank : 10 out of 10 stars [Perfect! Amazing!]
Title : Bumi Manusia
Author : Pramoedya Ananta Toer
Page : 535 pages
Published : Lentera Dipantara
Year : 2005
Category : Books
Genre : Fiction, Romance-History

Bumi Manusia adalah novel tetralogi Buru pertama Pramoedya Ananta Toer. Ditulis saat berada di penjara Pulau Buru, Pram men-share kisah ini kepada kawan-kawannya yang ikut dipenjara bersama dirinya.

Entah saya harus mulai dari mana, buku ini begitu menghenyakkan perasaan dan pikiran saya sekaligus—mulai dari gagasan, latar ceritera, background penulisan buku ini, serta diksi yang melenakan rasa dan mengguncang kesadaran pikir. Beruntung Indonesia memiliki penulis hebat sebesar Pram.

Bumi Manusia adalah kisah seorang pribumi (Minke) yang keluar dari kungkungan budaya Jawa—yang terkesan purba serta tergerus zaman di hadapan peradaban dan ilmu pengetahuan yang di bawa Eropa ke Hindia. Beruntung, ia yang seorang anak Bupati dapat merasakan pendidikan ala Eropa dan bisa menikmati kemajuan ilmu pengetahuan & teknologi. Sesuatu yang mustahil didapatkan pribumi jika tak memiliki kedudukan dalam pemerintahan Hindia.

Minke yang baru berkenalan dengan peradaban dan kemajuan ilmu Eropa segera saja akrab dan candu. Rupanya ia sudah bisa mengagung-agungkan pencapaian Eropa yang sampai saat ini belum bisa dicapai pribumi, satu abad ke depan sekalipun. Maka ketika membandingkan peradaban yang baru itu dengan budaya Jawa yang kolot dan tidak modern itu, ia merasa telah menghinakan diri serendah-rendahnya. Bahwa mengangkat sembah sebagaimana biasa ia lakukan di hadapan orang tua dan Bupati, serta leluhur dan pembesar, hilang sudah seluruh ilmu dan pengetahuan yang ia pelajari tahun demi tahun. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu atas penghinaan diri itu.

Sejak meniti pendidikan dalam sekolah Eropa, Minke telah berubah menjadi manusia terpelajar. Ia adalah manusia yang bebas dan berpikiran merdeka. Pandangannya tentang segala sesuatu mau tidak mau menjadi kritis dan tidak terpengaruh atas pendapat orang lain tanpa didasarkan pada argumen, baik sangka, dan pengesahan fakta yang benar. Ia tak ingin terjebak pada pandangan umum yang beredar di masyarakat sehingga kebenaran atas segala sesuatu tersamarkan dan termanipulasi oleh orang yang tak bertanggung jawab.

Seorang terpelajar harus berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu.

—Jean Marais, hlm. 77

Pemikiran Minke makin terbuka atas ilmu dan peradaban Eropa sejak bertemu dan berdiskusi dengan Nyai Ontosoroh, seorang gundik kompeni yang memiliki akses untuk belajar soal ilmu pengetahuan secara otodidak. Tidak disangka Minke, seorang gundik yang terdikotomi berpendidikan rendah ternyata memiliki pengetahuan yang jauh melebihi dirinya yang seorang terpelajar sekolah Eropa. Lamat-lamat kekaguman terhadapnya muncul dan tumbuh subur bak pohon toge [ada yang lebih keren selain toge gak sih???].

Minke yang pada awalnya memuliakan semua yang datang dari Eropa justru berbalik membencinya. Itulah yang ia dapatkan ketika mengetahui secara langsung betapa tidak berdayanya pribumi di hadapan kedigdayaan  peradaban Eropa. Itulah yang ia dapatkan dari kehidupan sederhana Nyai Ontosoroh. Pertemuannya dengan Nyai Ontosoroh adalah gerbang keingintahuan atas ilmu pengetahuan Eropa yang tidak ia dapat dari bangku sekolahnya.

Bumi Manusia bicara soal kehidupan bangsa Indonesia. Kehidupan  tanah air yang tumbuh di awal-awal kebangkitan organisasi (semisal Budi Oetomo). Selain itu, dengan untaian sastra yang membuai, Mas Pram membawa kita untuk merasakan romantisme kawula muda dengan latar belakang sejarah pergerakan nasional.

Sekedar informasi, sosok Minke adalah penjelmaan dari seorang Raden Mas Tirto Adhi Suryo. Beliau adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia. Ia pun dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Tidak heran penokohan yang dilukiskan pada Minke dalam cerita tetralogi Buru ini.

Anyway, buku ini adalah karya sastra terbaik yang pernah saya baca. Terlepas dari status Mas Pram yang dianggap sebagai seorang komunis. Saya hanya melihat Mas Pram sebagia salah seorang manusia Indonesia yang cinta terhadap tanah airnya dengan menuliskan ide-ide besarnya dalam buku ini.

Damn good!
Orang Indonesia harus baca ini!!!!

Tagged: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bumi Manusia 「Resensi Buku」 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: