「Resensi Buku」Travelers’ Tale Belok Kanan: Barcelona!

15 August 2011 § 4 Comments

Rank : 6 out of 10 stars [Great Journey! Standard Narration!]
Title : Travelers’ Tale
Author : Adhitya Mulya, Ninit Yunita, Alaya Setya, Iman Hidajat
Page : 230 pages
Published : Gagas Media
Year : 2007
Category : Paperback
Genre : Fiction, Traveling-story

Belok Kanan: Barcelona!

Latar Belakang:Ketika bulan Ramadhan datang, yang terbersit dalam otak saya adalah rangkaian kemacetan di sekitar Pejaten-Kemang, buku Traveler’s Tale dan lagu-lagu YUI. Lho, kok bisa? Ya bisa saja. Bagaimana prosesnya saya pun tak begitu pahami betul. Tapi yang pasti, kejadian itu terlahir karena satu hentakan peristiwa yang terekam dalam memori di kepala.

Satu hari di bulan puasa, kantor mengadakan buka puasa bersama di bilangan Kemang. Dalam perjalanan dari Pejaten sampai Kemang, saya asik duduk di kursi belakang mobil Pak Ratno, anteng membaca Travelers’ Tale. Dengan cerita yang memikat, saya terhanyut dan mengembangkan imaji akan Eropa di dalam alam bawah sadar saya. Sejak saat itu hari-hari berpuasa jadi berasosiasi dengan suasana Eropa yang keempat penulis ini ceritakan. Harap ditambahkan, backsound yang terasa adalah lagu-lagu YUI dalam album Can’t Buy My Love.

Buku ini adalah novel traveling pertama yang saya baca. Travelers’ Tale merupakan karya keroyokan dari empat penulis yang punya hobi traveling. Keempatnya mengajak pembaca untuk berkeliling dunia, seakan berada di atas karpet terbang, berkunjung ke tempat-tempat yang eksotik. Tidak salah jikalau novel ini diberi judul Travelers’ Tale.

Banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang diberikan oleh buku ini bagi saya. Namun, hanya tiga hal yang akan saya uraikan dari cerita perjalanan di buku ini: travel-telling, komedi, dan cinta. Tiga hal ini akan dibungkus dengan sangat ciamik sebagai karya sastra yang mengusung tema perjalanan.

Komedi adalah cara mengekspresikan suatu hal menjadi aneh yang dapat membuat kita tertawa. Tertawa, meski tanpa penjelasan ilmiah, merupakan unsur yang penting dalam hidup. Bayangkan dunia tanpa tawa. Itu seperti buku tanpa ada tulisan di dalamnya. Dengan tertawa kita telah mengungkapkan perasaan yang mampu meringankan pikiran yang penat.

Berjalan-jalan (traveling) adalah hobi yang mengasyikkan. Selain dapat mengunjungi tempat-tempat yang pernah kita impikan, kita juga dapat merasakan atmosfer perjalanan yang sangat menyenangkan itu, dan kemudian dapat mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Satu hal yang tidak mudah untuk dilakukan para traveler itu adalah menceritakan kembali perjalanannya itu ke dalam sebuah jurnal sastra, dalam hal ini ke dalam sebuah novel. Dalam hal ini novel Travelers’ Tale Belok Kanan: Barcelona! telah berhasil membuat formula yang bagus dalam menyatukan jurnal perjalanan ke dalam karya sastra tersebut. Langkanya penulis yang mengambil genre inilah yang menjadikan saya, pembuat makalah ini, tertarik untuk menganalisis novel ini.

Dan yang terakhir, cinta. Satu kata yang kaya akan makna. Cinta adalah satu-satunya lema yang dapat memberikan nuansa paling beragam dalam kosakata bahasa Indonesia. Cinta dapat menghasilkan perasaan ingin masuk jurang atau perasaan ingin memasukkan seseorang ke dalam jurang. Cinta, abstraksi yang mampu membuat orang berlari menggapainya atau berlari darinya. (Mulya, Adhitya. 2006: ix)

Penulis di dalam buku ini memang empat. Tetapi kapten yang mengomandoi cipta-karya buku ini adalah seorang Adhitya Mulya. Dialah sang Raja komedi-sastra bagi saya. Inspirasi kekonyolan saya adalah dari komedi alamiahnya.

Komedi yang Adhit kembangkan dalam buku ini adalah narasi yang dramatis dan lebay, teknik punchline, dan penggunaan footnote sebagai ciri khasnya. Mulai dari novel pertamanya, Jomblo, Adhit tidak segan-segan memberikan gaya pencerita yang detail untuk menunjukkan betapa dramatis adegan yang sedang berlangsung. Selain itu, teknik punchline juga memengaruhi gaya penceritaannya. Sering kali cerita yang pada awalnya begitu serius justru berakhir mengenaskan dan menggelikan (lucu). Style lain yang Adhit kembangkan adalah tentang penggunaan footnote yang ‘disalahgunakan’.

Dalam novel yang ditulis sebelumnya, Adhitya cenderung memasukkan komedi dalam suatu narasi yang dramatis dan lebay (dilebih-lebihkan). Seperti ini misalkan.

Adalah shocking bagi gua bahwa Farah nekat pergi, apalagi untuk menghentikan pernikahan Francis. Manusia yang satu itu memang emosional tapi itu juga yang membuat gua jatuh cinta sama dia7.  Orang yang passionate dan tidak dapat ditebak.

. . .

_________

7 Farah, bukan Francis.

(hlm. 80)

Hal kedua yang mencerminkan gaya penceritaan Adhit adalah punchline. Scopenhouer dalam teorinya mengatakan, punchline adalah ‘suatu bentuk komedi yang menggeser konsep suatu hal menjadi sangat berbeda dengan dugaan kita atau konsep yang ada di kepala kita’. Punchline dapat dipakai pada saat menceritakan sesuatu yang sangat serius namun di akhir cerita justru konsep pemikiran atas cerita itu telah bergeser dari konsep awalnya.

Adhit sering kali membuat punchline ini dalam novelnya. Entah itu di awal novel atau pada saat klimaks. Satu yang pasti, kemampuannya membuat komedi dengan cara ini sudah sangat dikuasainya.

Terlihat punchline yang sangat lucu pada saat kejadian akhir cerita ini. Saat itu Farah sudah ingin terbang dari bandara untuk menuju Hoi-An, Vietnam. Jusuf yang ingin menyatakan perasaannya kepada Farah pun buru-buru mengejarnya. Ia tidak ingin sampai pesawat tersebut take-off sebelum ia bilang cinta pada Farah. Kalau sampai terjadi, amat sangat menyesallah ia nantinya.

Gua tahu untuk mencapai Hoi-An, semua orang transit di Hanoi. Dari panel LCD terlihat pesawat menuju Hanoi akan berangkat pukul 14.55 di gate 12. Gua punya satu jam untuk mengerahkan seluruh kegantengan gua meminta jawaban!

Jika Francis gigih, gua juga bisa! Gua udah grasslanding, evakuasi, diestrum, dan gay bar! Don’t forget the gay bar! Gua gak datang sejauh ini untuk menjadi Mr. See you later!

Gua sampai di gate 12 ketika pintu boarding menutup.

“TUNGGU!”

-KLIK-

TIDAK!

Gua paksa buka pintu itu!

Gua tendang!

Gua pukul!

Gua tarik!

Gua dorong!

“FARAH JANGAN PERGI!!!

BERI GUA JAWABAN!!!

FARAH!!!!

JANGAN PERGI KE VIETNAM!!!”

Tangis gua pecah.

Gua terkulai di pintu yang terkunci itu.

Untuk pertama kalinya, gua menangis. After all the crap I went thru. Di sini gua menangis.

“I. love. You.”

“I love you….” Tangan gua bergetar. Sebegitu rasa sakit yang kita rasakan ketika cinta hilang. Bibir gua bergetar. Mata gua bergetar. Semua kehilangan Farah.

“Seńor….” Seorang petugas airline menghampiri.

“…”

“Pesawat ini pergi ke Frankfurt.”

“Oh….”

“Mungkin pesawat yang Seńor cari ada di gate sebelah.”

“Ini gate…”

“Sebelas. Gate 12 ada di situ,” tunjuknya.

OK.” Gua berdiri, mengumpulkan harga diri yang tercecer di sana-sini.

Hal ini teramat lucu karena konsep awal dalam pikiran kita adalah Jusuf telah benar-benar berada pada gate 12, yang mana Farah akan terbang dari situ. Kita yang mengira Farah sudah benar-benar take-off akan merasa iba atas keterlambatan Jusuf. Padahal Jusuf sudah bersusah payah: memaksa buka pintu, menendangnya, memukulnya, menariknya, dan mendorongnya. Di akhir cerita justru petugas airport menyadarkan kekeliruan yang Jusuf lakukan bahwa gate 12 bukan di situ, melainkan di sebelah gate itu (gate 11). Semakin orang percaya dan nyaman dalam mengonsepkan gate 12 yang Jusuf paksa buka tadi, semakin tidak terduga dia bahwa akan ada kekeliruan gate tersebut. Maka, semakin pembaca tidak menduga akan terjadinya kekeliruan gate tersebut, semakin lucu dan besar pula tertawanya.

Footnote adalah media penulis untuk menyertakan informasi akan suatu hal yang sekiranya kurang dimengerti pembaca. Namun, di tangan Adhitya Mulya dkk menjadi lain. Mereka menggunakan footnote selain untuk memberikan informasi tambahan, tetapi juga digunakan untuk media komedi yang efektif. Hal ini terdapat dalam potongan cerita ini.

Adalah shocking bagi gua bahwa Farah nekat pergi, apalagi untuk menghentikan pernikahan Francis. Manusia yang satu itu memang emosional tapi itu juga yang membuat gua jatuh cinta sama dia7.  Orang yang passionate dan tidak dapat ditebak.

. . .

_________

7 Farah, bukan Francis.
(hlm. 80)

Sebenarnya, ini adalah kelancangan dan kekeliruan dalam menggunakan fungsi footnote. Namun, dengan cerdik Adhit menjadikannya media komedi yang benar-benar efektif. Bukan hanya lucu, tetapi juga membuat para pembaca bergumam dalam hati, “Kok bisa ya dia punya ide seperti ini?”

Travelers’ Tale Belok Kanan Barcelona!adalah novel dengan gaya penulisan yang tergolong baru, yakni penggabungan konsep sastra komedi dan jurnal perjalanan dalam karya sastra (novel). Meski mengusung tema standar, cinta, tetapi dengan kemasan yang sama sekali berbeda membuat novel ini menarik untuk dibaca dan dianalisis. Mereka menggunakan pengalaman hidupnya sebagai acuan dasar untuk membuat novel keroyokan ini.

Novel ini ditulis oleh empat penulis sekaligus dengan masing-masing memiliki tokoh dan mengembangkan penokohannya sendiri-sendiri. Selain itu, keempat penulis ini saat proses kreatifnya sama sekali tidak bertemu muka alias hanya berkomunikasi via jejaring sosial—internet, telpon, dan sebagainya. Ini menandakan bahwa teknologi telah berperan penting dalam kemajuan sastra.

_________
Blog Bukune. 2010. Teori Schopenhauer dan Konseptualisasi Komedi. Sumber data: http://scooterslovers.blogspot.com/2010/02/teori-schopenhauer-dan-konseptualisasi.html. waktu akses 17 Mei 2011 pk. 10.45 WIB.
Mulya, Adhitya. 2003. Jomblo Sebuah Komedi Cinta. Jakarta: Gagas Media.
Mulya, Adhitya, dkk. 2007. Travelers’ Tale Belok Kanan: Barcelona! Jakarta: Gagas Media.

Tagged: , , , , , , ,

§ 4 Responses to 「Resensi Buku」Travelers’ Tale Belok Kanan: Barcelona!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Resensi Buku」Travelers’ Tale Belok Kanan: Barcelona! at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: