Ah, Sudahlah…

23 August 2011 § 11 Comments

“Usil banget ya kamu,” katanya dengan suara manja, mengomentari kejahilan gua mencubit-cubit pipinya yang merona merah. Setiap kali bersama gua, pipinya selalu memerah. Atau, memang dari sananyakah? Ah, Sudahlah…

Hari mulai gelap, separuh bulan sudah mulai menyala seperlunya dari balik jendela. Sayup-sayup suara jejeritan terdengar dari ruangan di depan gua. Bakalan serem juga, nih, kayaknya

oo0O0oo

Petang ini kampus gua sedang ada acara besar, entah event apa dan siapa panitianya. Bodo amatan, emangnya gua pikirin. Yang jelas, seharian ini gua hanya bisa menyaksikan kawan-kawan gua ikut serta dalam lomba-lomba dan acara-acara besar di event ini. Mereka antusias sekali rupanya. Gua? Oh, makasih deh. Seakan gua masih berumur muda sepantaran kawan-kawan lain. Engga, gua sudah terlalu berusia bila tetap memaksa ikut mengisi acara. Selain itu, kawan-kawan gua adalah yang paling nyaring berkomentar tentang gua,

“Lu ngapain…udah bangkotan ikut-ikut ginian?”

“Gak malu sama umur, Gi?”

“Angkatan tua kok main juga, sih?”

“Emang lu masih muda?”

Jelas aja seharian ini gua terduduk manis di emperan Gedung IX, tak-berbuat-apa-apa. Hanya kebosanan teman setia yang akrab bersama gua. Sesekali kawan-kawan sejurusan melambai ke arah gua, mungkin berbilang dalam hati mereka dengan sendunya, “Hai, orang tua…Sendirian aja?”

Dan gua tenggelam kembali dalam lamunan. Sedikit kepikiran atas omelan Bos kemarin siang sebelum ia cabut ke proyek FKG UI. Omelannya sepele, tapi dalem juga mengingat proyek itu bukan tanggungan gua. Ternyata gua yang niatnya hanya membantu kesulitan rekan kerja gua malah dijadikan kambing hitam atas keterlambatan proyek yang dikerjakannya tersebut. Apa hak gua atas proyek orang lain sedang tugas gua sekedar membantu? Ah, sudahlah…toh sekarang gua ada libur sehari di hari ini. Meski—seperti yang tadi gua bilang—kerjaan gua hanya duduk anteng menyaksikan kawan-kawan gembira-riang dalam event yang-gua-gatau-namanya.

“Hoi…hoi..” samar-samar terdengar suara yang sudah gandrung menelusup gendang telinga. Agak ragu kedua mata gua menangkap bayang sebuah tangan mungil dengan jam tangan abu-abu dan gelang menyerupai tasbih hitam melayang-layang di depan wajah. Nulia.

“Bengong aja.”

“Eh,” gua masih kegok, mencari kesadaran yang lumer setelah lama termenung.

“Mikirin apa sih?” tanya sosok gadis manis ini melihat ke-gagap-an polah gua. Tak ragu ia duduk di hadapan gua, meski tanpa alas dan hanya berupa koridor tempat orang berlalu-lalang melewati Gedung IX. Abai saja ia. Bersila, wajahnya menyiratkan tanda-bertanya.  Kemudian dengan gerakan lambat (itu yang gua tangkap dalam olah-pikir) ia menopangkan dagu di tangan kirinya, tersenyum amat manis. Ya Tuhan, baru kutahu Engkau telah menurunkan bidadari di Depok ini.

“Eng…”

“Kerjaan kamu, ya?” selidiknya, masih penasaran.

“Nggg….”

“Atau….mikirin aku, … mungkin?” tanyanya lagi dengan sungging bibirnya yang menawan, memojokkan gua punya pikiran.

“Apasih, enggak. Biasa aja,” kilah gua dengan tergesa. Sial, kena deh gua! Ketahuan!

“Hayo…mikirin apa sih? Mikirin aku, kan? Hihihi,” gelaknya renyah. Deuh…tawanya itu loh. Speechless gua dibuatnya, selalu.

“Yuk, ngansas dulu, yuk? Belum makan, kan?” tanyanya sambil berdiri, jari-jari mungilnya mencoba meraih tangan gua.

Gua menggeleng. Pastilah belum makan, aku nunggu kamu.

Kansas tidak begitu ramai, tak seperti biasanya. Lazimnya, kansas begitu sumpek dengan pelbagai ragam penghuninya. Coba menduga, sepertinya ini gegara skedul utama di Auditorium IX itu. Wah, ini memang acara besar rupanya.

10 menit berlalu, tongseng favorit gua telah datang. Wah, dua piring masih kurang aja sepertinya

“Kerjaan kamu udahan?” gua mencoba membuka pembicaraan. Ah, kelihatan gugupnya gak, sih?

“Udah. Barusan udah aku selesein, kok.”

“Abis ini pulang?”

Nulia nggak langsung menjawab. ia habiskan terlebih dahulu satu suapan nasi bekal yang ia bawa dari rumah itu untuk kemudian berkata sambil tersenyum, “Iya, pulang.”

Ah, siyal. Buru-buru banget, sih, udah mau pulang aja. Damn.

“Oh, yaudah,” gua mengalah.

“Tapi anterin aku dulu ya sampe belakang stadion.”

“Hah, ngapain? Cari yuyu?” mendengar permintaannya yang aneh begitu justru membikin jawaban yang gua utarakan aneh pula.

“Aku mau masuk ke rumah hantu, abis maghrib. Ya? Ya?” mohonnya dengan wajah yang terlalu innocent. Tanpa tampang yang seperti itu pun pastilah gua anterin. Huh *berlagak ksatria*

Rada janggal juga, kok bisa-bisanya UI ngadain wahana beginian? Ah, tak perlu banyak dipikirkan lah. Masih banyak urusan-urusan gua yang lebih prioritas untuk dipikirkan…kenaikan gaji, misalnya.

Begitulah… Saat hari mulai gelap—ketika bulan yang separuh badan sudah mulai menyala seperlunya dari balik jendela—gua duduk menunggu giliran masuk ke rumah hantu yang katanya DIJAMIN MEMBUAT ORANG-ORANG (MANUSIA) KETAKUTAN. Begitu garansi yang tertera di pintu masuk wahana seseraman ini.  Sayup-sayup suara jejeritan wanita—entah yang masih bernyawa atau pun tidak—berceceran keluar dari ruangan di depan gua. Bakalan serem juganihkayaknya

Rencananya, gua dan Nulia akan berbarengan masuk ke dalam. Ketika ditanya kenapa masuk berdua, dengan jelas dan lugas gua menjawab, “Supaya pas kamu takut, pelukanku bisa menenangkan ketakutan kamu.” Entah, yang tampak di raut mukanya adalah merah kepiting rebus yang telah matang.

Terlihat dari jauh rombongan manusia memasuki ruang tunggu yang sempit ini. Tiba-tiba saja keriuhan membuat ruangan kecil ini menjadi lebih sesak. Ohmaygat, kenapa bisa kawan-kawan sejurusan gua datang kemari.

“Tsk..tsk…”

“Cie…ehem.”

“KIW! Prikitiew!”

Keusilan teman-teman gua itu memang juara. Habislah gua dan Nulia jadi bahan ejekan. Terlihat Nulia begitu kaku, tak nyaman atas situasi ini. Gua hanya bisa bilang, “Jangan dipikirin, ya?” dan gua bertanya basa-basi, “Kita tetep masuk berdua, kan?”

Tak diduga, Nulia masuk rumah hantu seorang diri tanpa mengajak gua. Waduh, ada apa, ya? Sontak panik juga gua, khawatir ia kenapa-napa. Tapi gua berpositif aja. Paling-paling ini intrik sahaja. Seolah-olah berbeda, tetapi sesungguhnya ia di dalam sana menunggu kehadiran gua. Ah, baiklah…gua masuklah. Tanpa menggubris sorak-sorai kawan sejurusan yang riuh bak pertandingan Taufik Hidayat vs Lin Dan di Asia Games DOHA 2006, gua pun masuk dengan santai, memberi karcis masuk kepada petugas tiket.

Cklek. Gua masuk. Phew..suara gerombolan sudah hampir tak terdengar. Di tangan gua tersisihkan secarik kertas, itu ruangan yang harus kamu masuki, kata petugas tiketnya sambil menunjuk ke kertas itu. Oh, rupanya rumah ini bersekat-sekat ruangannya. Rupanya setannya ditaruh di masing-masing tempatnya. Aneh juga, ya. Wew, tak menghiraukan informasi di kertas petunjuk itu, gua memasuki setiap ruangan-ruangan terdekat. Sporadis, gua langsung mencari Nulia.

Damn, hampir separuh ruangan gua masih gak menemukan Nulia. Kesal, rasa jengkel mulai tumbuh menggerogoti kesenangan gua petang ini. Ada apa dengan Cinta? Entahlah…rasanya jempol gua ingin menggaruk-garuk komedo saja.

Lamat-lamat amarah pun mencuat bak pohon toge, cepat sekali ia naiknya. Pokoknya kalo ketemu gua harus dapet penjelasan yang logis. Kamu kenapa sih?

Setelah memasuki ruangan terakhir yang terpampang jelas tulisan Sekret SUMA UI super gede yang luput dari blocking (iya, ternyata rumah hantu ini adanya di Pusgiwa), gua sudah kehilangan akal dan kehilangan kesabaran. Marah, gua ingin marah…melampiaskan. Tapi gua hanyalah sendiri di sini. Ingin gua tunjukkan pada siapa saja yang ada bahwa hati gua…kecewa.

EXIT. Gua keluar dengan menenteng segembolan amarah. Gua langsung menuju kosannya. Gua ingin mempertanyakan ketiadaannya di rumah hantu itu. Di jalan menuju kosan gua hanya ngedumel dan misuh-misuh mengesalkan kejadian ini. Kok jadi garing gini. Ah, kenapa sih itu anak? Jadi kesel sendiri deh gua….

Sampai di kosannya, rada kaget juga di beranda banyak kawanan Nulia, entah mengerubungi apa. Kira-kira saat itu jam 7 malem, di situ teman-temannya ternyata sedang terpekur mengelilingi Nulia. Sekilas memandang wajahnya membuat hati gua tentram dan nyaman. Eh, gua kan kepingin marahin dia??? Kembali lagi rahang gua mengeras, mencoba menunjukkan amarah. Lebih dekat gua perhatikan tampangnya yang polos itu membikin gua gak tega dan bersalah sendiri di dalam hati. Apalagi setelah melihatnya menyeka pipi dan matanya untuk menghapus…air mata.

Hah, air mata? Nulia nangis?

“Kamu kenapa?” gua terduduk di hadapannya. Bertanya selembut yang gua bisa.

Ia  sesegukan, hanya menjawab dengan hatinya. Sedang rupanya hati gua terlalu keras untuk mendengarnya. Tak tahulah gua, ia kenapa. Lalu teman-temannya menghakimi gua dengan katakatanya,

“Parah lo Gi, Nulia lu tinggal begitu aja.”

“Iya, masa pacarnya sendiri ga mau nemenin.”

“Gimana bisa jadi pasangannya kalo ragu kayak gitu.”

Eh, oh, lah, kenapa? Ada apa ini? Gua semampunya mencerna katakata mereka. Kok situasi yang seharusnya gua memarah kepadanya justru sebaliknya begini. Ada yang salah sepertinya.

“Tunggu, tar dulu. Ini salah paham aja deh kayaknya. Biar jelasin dulu ke gua.”

Gua bicara sama Nulia, “Jelasin ke aku, ya?”

Dari apa yang ia ceritain, rupanya memang ada kesalahpahaman. Ini murni miss-comunication sahaja. Tampaknya pertanyaan basa-basi gua “Kita tetep masuk berdua, kan?” dianggap begitu serius bagi dirinya. Bagi gua, ini hanya penekanan aja, tetapi bagi Nulia, ini berarti gua telah meragukan perasaannya. Seharusnya katakata itu tak terucap oleh gua. By the way, akhirnya gua mengerti kesalahan atas gua. Gua harus menjelaskan kepadanya bahwa ini salah-paham aja.

Nulia  memeluk kakinya. Matanya hanya tertuju pada jari kakinya. Oke, gua bisa memulai kata maaf gua.

“Nulia, maaf ya. Aku gak nyangka kalo pertanyaan tadi bikin kamu kayak gini.”

Matanya masih terpaku pada jari kakinya. Sayup-sayup suara yang familier terdengar di telinga gua. Gua tetap melanjutkan.

“Aku bener-bener minta maaf. Tapi aku yakinin bahwa aku gak bermaksud kayak apa yang kamu pikir.”

Ia sepertinya mendengarkan. Sedikit terganggu, suara-suara itu terdengar kembali. Rupanya suara yang familier itu, meski samar, menyebut-nyebut nama gua. Sebelum melanjutkan, suara yang samar itu lamat-lamat jelas dan begitu lantang terdengar, konsentrasi gua pun langsung buyar mendengarnya, “GIH, BANGUN LU! KERJA SONOH! UDAH JAM BERAPA INIH!!!!!”

*antiklimaks

Kenapa sih? Kenapa sih ibu gua musti bangunin gua di saat-saat yang krusial ini? Kenapa, coba?

Gua bersungut-sungut. Tubuh gua mengulet dalam kemuntaban yang tak-terbilang. Mata melotot hingga menyalang, kantuk pun hilang. Mungkin ceritera ini akan berlabel happy-ending jikalau diberi durasi tambahan. Harusnya inilah akhir dari adegan mengharukan yang berasa epik bak jagoan. Ah, garingnya memang. Sesungguhnya gua bisa berbahagia bukan buatan melihat senyumnya yang menggoda hati dan pikiran…karena di sana gua hanya mau bilang, “Lia, aku sayang kamu. Aku ga mau kehilangan kamu. Maafin aku.”

_________
ps: Cerita ini dibuat atas rasa bersalah gua terhadap Lia. Kamu mau ya, maafin aku : )

Sejujurnya, cerita ini fiksi belaka. Diambil hati ya gapapa, dianggap bukan apa-apa ya silakan.

§ 11 Responses to Ah, Sudahlah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ah, Sudahlah… at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: