Khadafi, Demokrasi, dan Sistem

22 October 2011 § 2 Comments

Moammar Khadafi, seorang pemimpin Lybia, telah tewas atas serangan yang dilakukan oleh tentara revolusi Lybia (NTC). Berita tersebut diumumkan oleh Perdana Menteri NTC, Mahmoud Jibril. Masyarakat dunia pun bersukacita atas kematian sang pemimpin diktator tersebut. Rakyat Lybia merayakannya atas kemenangan demokrasi. Bersukacita? Benarkah?

Pertanyaannya, apakah dosa yang telah dilakukan Khadafi sebesar apa yang media telah ulas dan beberkan di setiap headline-nya? Apakah jelas nyata bahwa diktator itu buruk rupa dan apakah demokrasi itu baik adanya, sejelas terangnya matahari di kala siang? apakah benar pemimpin yang dipilih dengan demokratis lebih baik ketimbang pemimpin yang diktator? Apakah kita (Indonesia) memang harus menganut sistem demokrasi?

Sistem Pemerintahan=Budaya

Budaya (culture) dalam KBBI daring edisi ketiga memiliki definisi 1 pikiran, akal budi;  2 adat istiadat; 3 sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju); 4 cak sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah. Dosen Kebudayaan Indonesia saya menyimpulkan secara sederhana bahwa budaya adalah way of life—cara hidup. Artinya, setiap negara memiliki cara hidupnya sendiri-sendiri, tidak sama satu dengan yang lain.

Pada dasarnya, setiap negara berbeda dengan yang lain. Apapun, bisa dipastikan yang satu rumpun pun (bertetangga pula) berbeda dengan yang lain. Baik dari segi geografisnya, musim & cuacanya, bahasa & cara berkomunikasinya, serta cara melakukan kegiatan ekonominya pun berbeda pula. Dari banyak hal ini kemudian setiap negara mengolah daya-pikirnya sedemikian rupa sehingga mereka dapat bertahan hidup. Cara hidup inilah yang nantinya menjadi pedomannya, menjadi suatu pemandu dalam menyelami dalamnya makna kehidupan.

Dengan perbedaan dalam masing-masing negara inilah kemudian kita dapat melihat keberagaman cara hidupnya. Menjadi negara yang baik dan sejahtera adalah visi.  Dan dalam menjaga agar tetap berada di jalur ini, harus ada “cara hidup” untuk mewujudkannya. “Cara hidup” itulah yang kemudian kita kenal dengan sistem pemerintahan. Tidak perlu ada pemaksaan kehendak untuk memakai satu sistem pemerintahan kepada negara lain. Satu negara pastilah berbeda kultur kehidupannya dengan yang lain, beda “cara hidup”nya. Dengan ini, saya sungguh meyakini bahwa setiap negara memiliki sistem pemerintahan yang berbeda-beda. Ini sebuah keniscayaan, saya yakin betul.

Banyak sistem pemerintahan di dunia ini. Satu yang sangat populer adalah demokrasi. Demokrasi diartikan sebagai kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat. Dengan kata lain, demokrasi menjamin hak hidup seluruh rakyat tanpa terkecuali. Secara teori, kepemimpinan demokratis tersebut berbeda dari kepemimpinan diktatoris, yang mana kepala pemerintahannya mempunyai kekuasaan mutlak atas rakyatnya. Pada akhirnya yang menjadi persoalannya adalah substansi dari kepemimpinan itu sendiri, yaitu kebijakan-kebijakan pemimpin tersebut bisa mengakomodasi keinginan rakyat.

Namun apa yang terjadi belakangan ini sungguh menjadi sebuah paradoks dari keagungan demokrasi. Meskipun yang dilakukan hanya sebatas “di belakang panggung”, negara yang mengawali sistem pemerintahan seperti itu sudah jauh dari wewenangnya. Sebut saja negara itu bernama Ameme (Amemerikat). Negara Adidaya di barat itu dengan centang-perenang memaksa bulat-bulat sistemnya ke dalam sistem negara orang lain.

Ameme berperan sangat jauh dalam intervensi sistem pemerintahan di banyak negara di dunia. Ia sudah sangat ikut campur masalah dalam negeri suatu negara. Penggulingan presiden Salvador Allende di Chile, kemudian Sandinista di Nikaragua, lalu Jean Beltrand Aristide di Haiti, juga Saddam Husain di Irak, bahkan Soekarno di Indonesia, adalah sederet contoh kecil dari dampak kebijakan “Promosi Demokrasi”. (http://coenpontoh.wordpress.com/2006/05/26/demokrasi-amerika-2/).

Demokrasi yang sering kita dengar, sumbernya berasal dari kekuatan rakyat (the power of people). Sebuah kekuatan besar yang dihimpun dari rakyat untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat itu sendiri. Sedangkan apa yang sudah kita lihat sendiri di Lybia, Ameme dengan mudahnya menghabisi sistem pemerintahan negara lain atas dasar demokrasi, yang mana belum tentu sistem tersebut ampuh untuk melegitimasi aspirasi rakyat Lybia. Sayang sekali, opini masyarakat dunia tidak menjadi pertimbangan utama pemimpin Ameme—dalam hal agresi militer ke negara-negara non-demokrasi—untuk memilih pemimpin mereka. Apalagi Lybia merupakan salah satu negara penghasil minyak bumi terbesar di dunia. Bisa jadi, ini merupakan aksi yang dipicu oleh kepentingan politiknya.

Ameme seperti menjadi kiblat bagi negara-negara yang menjalani masa transisi dari kediktatoran menuju demokrasi. Kedua, kebijakan luar negeri sebenarnya merupakan refleksi dari kepentingan dalam negeri dari negara bersangkutan.

http://coenpontoh.wordpress.com/2006/05/26/demokrasi-amerika-2/

Demokrasi kemudian menjadi antitesis sebagaimana yang telah dilakukan oleh sang pionir demokrasi itu sendiri. Menjadi aneh ketika Bush dengan kepercayaan diri tinggi mendeklamasikan bahwa dengan menggulingkan Saddam Husein, rakyat Iraq menyambutnya sebagai kemenangan demokrasi. Aneh, dan ini ngawur adanya.

“If democracy means the power of the people, mass participation in the vital decisions of society, and democratic distribution of material and cultural resources, then democracy is a profound threat to global capitalist interests and must be mercilessly opposed and suppressed by US and transnational elites,” ujar Robinson (The United States, Venezuela, and “democracy promotion”: William I Robinson interviewed, 4/8/2005)

Jika berbicara sistem pemerintahan, otomatis topik ini juga menyangkut soal Khilafah di zaman Rasululloh. Pada saat berdakwah menyeru Islam di Arab sana, beliau mulanya menyiarkannya dengan sembunyi-sembunyi, door-to-door. Lambat laun berdakwah secara frontal (ganti nih kosakatanya). Ketika masyarakat Islam sudah cukup banyak, maka dibuatlah sistem pemerintahan Islam untuk pertama kali dengan Rasululloh sebagai pemimpinnya. Jelas, saat itu Rasululloh tidak dipilih dengan cara demokrasi. Rasululloh dipuji, dikagumi, dan dicintai rakyatnya. Tidak ada kemarahan rakyat, tidak ada mosi tidak percaya dari rakyat, serta tak ada penggulingan & kudeta rakyat terhadap kepemimpinan Rasululloh. Itulah salah satu sistem pemerintahan terbaik tanpa demokrasi. Dan itu sesungguhnya yang menjadi acuan kita (manusia-manusia akhir zaman) untuk terus melangsungkan kehidupan.

Jika berbicara soal kebebasan, kita sangat tidak adil dalam menyuarakan pendapat. Dalam kehidupan beragama, kita selalu ribut dengan kebebasan beragama. Tidak boleh seseorang menghukum agama lain salah daripada agama yang dianutnya. Tetapi ketika berbicara soal sistem pemerintahan, seolah-olah hanya satu yang menjadi kebenarannya: demokrasi. Tidak adil memaksakan sistem demokrasi ke dalam budaya, sedang di sisi lain kita berteriak-teriak tentang kebebasan beragama. Ini yang menjadi titik tolak bagi saya untuk meninjau kembali keabsahan dan kesuperioritasan demokrasi yang dikampanyekan Ameme.

Oleh karena itu, tidaklah kita dapat memaksakan satu sistem yang kita anggap baik kemudian secara otomatis akan baik pula di negara lain. Selain belum tentu pas dengan budaya mereka, kita harus hargai apa yang sudah mereka sepakati di dalam Anggaran Dasar mereka. Kecuali ada motif tersembunyi, memaksakan demokrasi bukanlah hal yang dapat dipaksakan.

Demokrasi bagi Indonesia

Sesungguhnya saya tidak ingin mengatakan demokrasi itu haram atau halal di Indonesia. Secara substansial, sistem pemerintahan apapun boleh jadi diterapkan di Indonesia. Satu yang harus diingan, sistem tersebut melegitimasi seluruh aspirasi rakyat, tanpa terkecuali.

Ditilik dari bukti sejarah, Indonesia sejak dahulu memiliki sistem pemerintahan kerajaan. Apapun caranya, sistem ini cenderung berupa kepemimpinan yang diktator. Tidak dapat dinafikan bahwa diktator pernah menjadi bagian dari sistem pemerintahan Nusantara berabad-abad lamanya. Pun Soekarno pernah menjadi pemimpin yang diktator di akhir masa pemerintahannya sebelum diturunkan oleh Soeharto dan entah-lagi-siapa-dalangnya.

Baik demokrasi ataupun sistem yang lain asalkan memihak seluruh lapisan masyarakat harus sepenuhnya didukung (saya akan dukung). Dan itulah yang semestinya jadi pondasi bagi manusia-manusia Indonesia dalam berpolitik dan memabngun sistem pemerintahan yang baik bagi Indonesia.

Simpulan

Apa yang ingin saya sampaikan adalah setiap manusia yang hidup di bumi memiliki kepentingannya masing-masing. Dengan akalnya, manusia membuat-cipta dan merancang alat untuk dapat menjawab pertanyaan “Bagaimana caranya kita dapat melangsungkan hidup dan menyatakan eksistensi di dunia ini?”. Manusia mencoba dan terus mencoba sehingga suatu saat mereka dapat menciptakan “sesuatu” untuk menjawab pertanyaan itu. Meski pada akhirnya mereka tak akan puas atas penciptaannya itu untuk kemudian bereksperimen lagi-dan-lagi sehingga saat itulah justru takkan ada akhirnya (tak berujung).

Kita bisa melihat bahwa di dalam suatu kebijakan, di dalamnya pasti tersirat kepentingan, entah kepentingan si pembuat kebijakan, ataupun kepentingan orang lain. Satu yang pasti dapat kita lakukan adalah kita secara personal dalam setiap perilaku dapat kita disusupi dengan niat baik. Dengan berkeyakinan bahwa “yang mengubah keadaan kita adalah diri kita sendiri”, kita dapat dengan mudah (atau sangat sukar) untuk menuju keadaan diri kita yang lebih baik sehingga nantinya dapat mencapai keadaan dunia yang lebih baik. Semoga amal baik kita diterima Alloh Subhanahuwata’ala. Amiin.

Data Pustaka:

http://hminews.com/opini/model-demokrasi-di-amerika-serikat/

http://coenpontoh.wordpress.com/2006/05/26/demokrasi-amerika-2/

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090210055837AAvtaMx

http://saidiman.wordpress.com/2007/11/20/demokrasi-semu-amerika-serikat/

Pusat Bahasa. KBBI daringhttp://pusatbahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php

Tagged: , , ,

§ 2 Responses to Khadafi, Demokrasi, dan Sistem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Khadafi, Demokrasi, dan Sistem at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: