Wak Arsid Naik Haji

1 November 2011 § 2 Comments

Tersebutlah seorang berilmu sakti yang tinggal di Kampung Kandang Sapi, Betawi. Dia bernama Wak Arsid. Usianya sudah lebih dari setengah abad. Konon, dia merupakan keturunan dari Pangeran Jayakarta. Wak Arsid adalah orang baik dan selalu ikhlas menolong.

Di daerahnya, dia amat disegani. Dia sering diminta bantuan untuk menyelesaikan masalah yang ada di kampungnya. Kesaktian Wak Arsid tidak  perlu diragukan lagi. Setiap ada penjahat yang bermaksud membuat onar selalu dikalahkan dengan sekali pukul. Bahkan dari pakaian yang dikenakannya pun sudah terasa kesaktiannya.

Pernah suatu hari ada salah satu warga Kampung Kandang Sapi yang ingin menjahili Wak Arsid. Orang itu berniat menyembunyikan songkoknya. Pada waktu ingin mengambil wudhu, songkok putihnya itu ditaruh di atas bedug masjid yang besar. Setelah yakin Wak Arsid sudah masuk ke tempat wudhu, orang itu pun segera mencomot songkok tersebut. Alih-alih mengangkatnya dengan mudah, songkok putih itu justru tidak  bisa diangkat barang semilimeter pun seolah-olah tertempel erat dengan bedug tersebut. Meski begitu, orang itu tidak  menyerah. Dia mengajak teman-temannya untuk membantunya mengangkat songkok tersebut. Namun sampai Wak Arsid selesai berwudhu, songkok itu tidak  dapat diangkat apalagi disembunyikan, bahkan untuk bergeser sekalipun. Mereka pun tertunduk malu kepada Wak Arsid.

Wak Arsid dulu adalah murid dari seorang guru sakti mandraguna, Wak Lihun. Wak Lihun memiliki ilmu sakti yang tidak  tertandingi untuk menjaga kedamaian Kampung Kandang Sapi. Sampai beberapa tahun yang lalu Wak Lihun usai menurunkan semua ilmunya kepada Wak Arsid. Wak Arsid pun dipromosikan sebagai penggantinya sebagai penjaga kampung.

Wak Arsid memang sakti. Dia dapat melakukan apa saja dengan kesaktiannya. Tetapi ada satu hal yang belum dilakukan samapi saat ini, dia belum pernah naik haji. Saat itu menunaikan haji merupakan ibadah yang sangat mahal sehingga tidak sembarang orang bisa melaksanakannya.

Suatu hari Wak Arsid berniat untuk mencari ilmu yang lebih sakti di daerah Kobak Pasir, Karawang. Dia berniat naik haji dengan ilmu sakti yang dicarinya itu. Tidak berapa lama, dia bersama kawan satu perguruannya, Wak Nisin, mengembara ke tempat-tempat di daerah Kobak Pasir untuk mencari ilmu saktinya itu.

Dalam pengembaraannya untuk mencari ilmu sakti itu, Wak Arsid mengerjakan amalan-amalan yang biasa dilakukannya saat berguru dengan Wak Lihun. Dia dengan tekun setiap hari melakukan amalan-amalan tersebut. Hingga pada suatu malam yang dingin ketika Wak Arsid khusyuk dengan bacaan-bacaannya, datanglah sosok berpakaian putih dengan cahaya menyilaukan di belakangnya menyapanya,

“Hei, Arsid.”

Sosok yang muncul tiba-tiba sontak membuat Wak Arsid terkejut dan terperangah. Apalagi suaranya menggelegar membuat tubuh Wak Arsid mengkeret dan membisu saking takjubnya.

“Hei, Arsid. Jangan kau hanya berdiam saja.”

“…” Wak Arsid hanya mematung, tidak  berani bergerak, apalagi bersuara.

“Hei, Arsid. Apakah engkau ingin segera naik haji?”

“…” Wak Arsid mengangguk pelan, tetapi masih tidak  berani bicara.

“Baiklah, Arsid. Engkau akan bisa berhaji dengan kekuatan saktimu. Engkau bisa naik haji dengan terbang. Engkau akan bisa terbang hanya untuk menunaikan haji. Tetapi ada satu syarat, engkau harus berbakti kepada orang tua dan tidak boleh sombong!” Tiba-tiba sosok itu berkelebat hilang secepat kemunculannya.

Wak Arsid lalu pulang ke kampungnya. Dia segera mengabarkan berita ini kepada orang-orang sekampungnya. Mereka menyambut baik kabar tersebut dan mendukung Wak Arsid untuk menunaikan haji, meski cara yang ditempuh sungguh tidak masuk akal. Mendapat dukungan seperti itu, Wak Arsid senang bukan kepalang. Tetapi niatnya itu ditentang oleh ibunya, orang tuanya yang masih ada. Meski sudah tua renda, sang ibu masih cukup tenaga untuk memarahi anaknya.

“Kagak bole! Poko’nye Elu kagak gua ijinin pergi ‘aji! Kagak bole pergi ‘aji pake terbang-terbangan segale. Dose, tau gak, Lu. Syirik namanye!”

Meskipun seorang yang sakti, Wak Arsid tidak lupa untuk berbakti kepada orang tuanya. Oleh karena, ayahnya yang meninggal ketika dia masih di dalam kandungan, Wak Arsid sangat patuh kepada ibunya. Pun dengan menuruti perkataan ibunya, Wak Arsid patuh dan tidak memaksa melaksanakan niatnya.

Namun begitu, Wak Arsid belum mengurungkan niatnya. Dia tetap memikirkan bagaimana caranya agar mendapat restu orang tuanya agar bisa berhaji.

Suatu hari diputuskanlah untuk membujuk sang ibu agar diizinkan. Mulanya dia tetap tidak setuju dan melarang. Tetapi ketika Wak Arsid menjelaskan dengan baik-baik dan penuh dengan kelemah-lembutan, akhirnya ibu merestuinya juga.

Dengan hanya berbekal pakaian yang dikenakannya dan sepotong kain putih, Wak Arsid pergi naik haji dengan ilmu terbang. Dia terbang dengan gagah. Semua warga Kampung Kandang Sapi bersuka cita. Sebulan kemudian, Wak Arsid pulang dari haji. Kabar pun tersiar di seluruh Pulau Jawa. Tidak lama setelah itu, Wak Arsid menjadi orang yang dihormati di seluruh Jawa.

TAMAT

 Cerita sebenarnya[1]:

Wak Arsid pergi haji secara diam-diam agar ibunya tidak mengetahuinya. Tetapi akhirnya dia gagal naik haji karena ibunya tahu kemudian mengamuk-amuk dan merengek memintanya turun saat Wak Arsid sudah sampai di daerah Kobak Pasir. Ibunya menganggap anaknya dibawa karuhun[2] yang ingin mengambil anaknya. Tidak berapa lama Wak Arsid jatuh dari langit dan mengakibatkan kerusakan mental pada jiwanya.


[1] Cerita yang saya dengar dari orang tua. Cerita ini benar adanya (menurut nenek saya) dan tokoh yang bersangkutan adalah adik dari nenek saya.

[2] Semacam setan atau jin.

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Wak Arsid Naik Haji

  • izarbaik says:

    luar binasa imajinasinya!

    jadi sebenernya, kakek lu itu orang sakti jaman dulu?
    dan Ibnu Maroghi yang selama ini gue kenal, adalah keturunan Pangeran Jayakarta? dewa, dewa, dewa!😛

    • ibnumarogi says:

      Boleh percaya boleh tidak, tapi untuk saat ini [karena ga ada bukti konkret yang mendukung] gua menganggapnya sebagai cerita dongeng.
      Anyway, keturunan Pangeran Jayakarta hanya sampai nenek gua, keturunan selanjutnya enggak dihitung:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Wak Arsid Naik Haji at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: