Hujan yang Mendera

22 November 2011 § 2 Comments

Aku ingat momen ini, batinnya. Aku ingat momen ini, Aku ingat momen ini. Kata-kata itu berulang kali terlintas dalam pikirannya yang kosong. Moncoba untuk melupakan apa yang sudah terlewat, tetapi alam bawah sadar tidak pernah mau tunduk atas komando otak. Ah, aku telah membuka serpihan kenangan lama.

Kenapa hari ini harus hujan? Kenapa awan tanpa sadarnya menurunkan hujan? Kenapa musim kemarau seperti ini harus ada hujan? Pikirannya tidak henti mempertanyakan kemunculan hujan yang tidak terduga. Ingatannya mau tidak mau menyeruak keluar tanpa ia minta. Ingatan yang tidak ingin ia ingat lagi sampai tua.

Ia duduk sendirian di halte di depan sebuah perkantoran di bilangan Grogol. Tidak melakukan sesuatu, ia duduk saja di sana. Matanya melotot, tetapi hanya tatapan kosong. Telinganya mendengar, tetapi hanya suara derasnya hujan yang sedari tadi menyapa gendang telinganya. Bengong, otaknya malas bekerja selain melamun.

Hujan belum juga reda. Dari awal hujan turun, petir tidak terlihat batang hidungnya. Angin yang sedianya mengiringi hujan pun absen rupanya. Hanya hujan semata. Bukan yang lain, melainkan hujan lebat yang sama seperti tujuh tahun yang lalu tepat di tempatnya duduk. Ia terpaksa mengingat-ingat masa lalunya.

Ia berkemeja, bercelana bahan, dan mengenakan sepatu pantofel yang baru saja dibelinya di tukang sol sepatu langganannya. Gayanya yang rapi jali menampilkan sosok pekerja kantoran yang telah sukses sebagai sarjana muda. Tidak mau kalah, wajahnya pun dipermak sedemikian rupa sehingga terlihat menarik. Senyumnya yang menawan merepresentasikan seorang bawahan yang bergaji “lumayan untuk mencicil apartemen” dan terancam dipromosikan naik jabatan. Tampilan luarnya begitu memikat, begitu bertolak belakang dengan nasibnya yang sesungguhnya. Ia sedang melamar pekerjaan.

Mendung menggantung di atas sana, seakan bisa tumpah kapan saja. Kalau ingin memulai, sekaranglah saatnya. Ia membulatkan tekad untuk terus maju, menantang apa yang akan ia hadapi di depannya.

Bismillah, ia memulai langkahnya memasuki salah satu kantor yang sudah diperhatikannya sejak sejam yang lalu. Menoleh ke arah kiri-kanan yang senyap,  ia memutuskan melangkah ke depan. Ia pun mulai bersuara,

“Selamat pagi, Mbak.”

“Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya ingin melamar pekerjaan. Perkenalkan, nama saya…”

Percakapan yang intens mengalir dari kedua orang tersebut. Mulai dari cerita tentang riwayat akademis sang pelamar hingga pekerjaan yang diinginkannya. Percakapan tersebut menemui ajalnya ketika sang pelamar bertanya to the point,

“Jadi perusahaan ini belum ada lowongan kerja, ya, Mbak?”

“Iya, Mas. Baru dua minggu yang lalu kami mengikuti bursa lowongan kerja. Sekarang sudah penuh. Maaf.”

Sang pelamar itu pun keluar dengan senyum yang masih mengambang di wajahnya. Semangat! Masih ada belasan perusahaan lagi! Batinnya. Ia tidak berputus asa, jalannya tegap menyongsong kantor berikutnya.

Setelah itu ia mendatangi empat perusahaan lain. Sayangnya, keempat-empatnya menolak lamarannya secara halus. Dua perusahaan beralasan bahwa saat ini belum butuh tenaga tambahan. Sisanya berdalih tanpa alasan yang jelas.

Ia tetap tidak putus harapan. Ia tetap mencoba perusahaan-perusahaan lain yang belum disambanginya. Seperti yang sudah diduga, semuanya menolak lamarannya. Beberapa ada yang beralasan sama seperti sebelumnya, ada pula yang belum ingin menambah karyawan baru,  bahkan ada perusahaan yang sedang mempertimbangkan PHK untuk beberapa karyawannya.

Hujan lebat turun. Suara yang tadinya ramai di kompleks perkantoran di Grogol itu tertelan suara derasnya hujan. Langkah sang pelamar itu mulai surut. Selain itu, kemeja yang dikenakannya juga sudah lecek. Tatapan matanya pun telah kuyu, layu tergerus waktu yang berlalu. Tetapi ia berusaha bangkit, mengumpulkan semangatnya yang terserak. Mencoba untuk mendatangi satu perusahaan lagi. Ini yang terakhir! Teriaknya dalam hati.

“Selamat pagi, Mbak. Saya ingin melamar pekerjaan.”

“Selamat pagi,” jawab resepsionis, “Tunggu sebentar, ya.”

Mbak resepsionis memencet beberapa nomor. Ia bicara sebentar dengan seseorang di telepon. Setelah menutup teleponnya, ia mempersilakan sang pelamar itu masuk ke sebuah ruangan manajer.

Ruangan itu tidak terlalu besar, tetapi terasa lebih luas dengan cermin yang menutupi satu sisi dinding. Warna dindingnya merah menyala. Semuanya berwarna merah. Segala benda yang berada di dalamnya tidak ada yang tidak merah. Nuansa merah sangat kentara di ruangan ini.

“Silakan duduk. Perkenalkan, saya Pak Rivan. Saya manajer di perusahaan ini. Mau minum apa? Oh, iya, nama Anda siapa?” orang berperawakan gendut itu bicara lancar di depan sang pelamar. Sang pelamar tak menjawab. Bersuara pun tidak. Citra diri manajer gendut itu kemudian samar-samar dalam pandangannya. Ia terbangun dari lamunannya.

Ia tak sanggup lagi melanjutkannya. Mengingatnya kembali membuat hatinya begitu sakit hingga dada perih rasanya. Ia tak ingin melanjutkan lamunan lamanya di tempat itu tujuh tahun yang telah lalu. Tetapi akhirnya ia memaksa untuk mengingatnya.

Wawancara singkat dengan manajer gendut usai. Setelah sepakat dengan penawaran sang pelamar, manajer itu mulai berbincang informal mengenai seputar perkuliahannya.

“Dulu saya sudah sampai ke Jerman. Keliling Eropa malah. Kamu harus, tuh, yang seperti itu.”

“Iya, Pak.”

“Iya, Pak, iya, Pak. Iya iya melulu kamu dari tadi. Coba, sekarang gantian Anda cerita tentang perkuliahan.”

“Kuliah, Pak? Saya? Wah, kebetulan saya ndak kuliah, Pak. Saya cuma lulusan STM.”

Enggak kuliah? Ah, yang benar kamu?”

“Betul, Pak.”

“Oke, saya tanya sekali lagi, kamu belum kuliah?”

“Hehehe, ya belum Pa—“

*PRANG!* gelas kaca yang sama sekali diminumnya dipecahkan ke lantai.

“Apa!? Sembarangan kamu! Bisa-bisanya melamar ke perusahaan saya tanpa gelar sarjana. Ngawur!”

“Tapi, Pak. Saya mengerti sem—“

*BRAKK!* kursi yang manajer duduki dibantingnya.

“Sontoloyo! Pergi sana! Pergi!”

Sang pelamar itu tidak diusir dengan cara baik-baik. Ia ditolak mentah-mentah setelah semenit sebelumnya diterima manajer itu. Ia diinjak-injak harga dirinya setelah diangkat tinggi-tinggi oleh sang algojo penyuka merah itu.

Hujan masih menari-nari di luar sana. Sang pelamar tadi terpaksa ikut serta meramaikannya dengan masih mengenakan kemeja terbaiknya. Ia terjerembab dalam kubangannya, meratapi apa yang dideritanya.

Cukup sampai di situ. Ia pun benar-benar tidak sanggup lagi mengingatnya. Ia hanya dapat mengingat pesan yang terpatri dari peristiwa yang dialaminya dahulu. Sekarang ia, sang magister dari universitas ternama di dunia, kembali ke sini untuk menantang apa yang telah mengalahkannya tujuh tahun yang lalu.

Tagged: , , ,

§ 2 Responses to Hujan yang Mendera

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Hujan yang Mendera at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: