「Review Film」the Raid

27 March 2012 § 12 Comments

Title : the Raid: Redemption (Serbuan Maut)
Category : Movies
Genre : Action | Crime | Thriller
Director : Gareth Evans
Stars : Iko UwaisPierre GrunoRay Sahetapy

Tiga tagline untuk film ini: Berisik. Bertele-tele. Kotor.

The Raid adalah film laga (?) Indonesia yang sudah hingar-bingar di jagat perfilman tanah air. Film ini digadang-gadang menjadi film action terbaik dalam satu dekade ini. Entah terbaik di dalam kancah film Indonesia saja atau mungkin juga masuk dalam film box office dunia. Tapi, setidaknya itulah komentar posiitif dari Twitchfilm yang tertulis di poster film tersebut.

Lalu, bagaimana dengan filmnya?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, mari kita persamakan persepsi kita terlebih dahulu. Pertama, ini adalah film kedua Evans setelah Merantau. Ini kali kedua pula Iko Uwais, Doni Alamsyah, dan Yayan Ruhian bermain dalam satu film. Kedua, ini adalah film action. Jadi, “berantem” adalah hal yang primer di sini. Ketiga, the Raid ini film gorok-gorokan dan jedar-jedoran. So, kudu banget buat orang tua untuk enggak ngajakin anaknya yang masih sekolah buat nonton ini film.

The Raid berkisah tentang penyerbuan polisi elit atas apartemen tempat persembunyian para pembunuh dan bandit kelas dunia yang paling berbahaya. Penyerbuan ini sebetulnya misi ilegal. Tidak ada polisi perwira tinggi manapun yang tahu, kecuali satuan penyerbu yang berjumlah 20 orang itu. Situasinya menjadi kacau saat para gembong penjahat mengetahui penyerbuan ini dan bahkan menyambut mereka dengan berondongan peluru.

Asal elu tau aja, berantemannya itu make jurus-jurus pencak silat, loh! Enggak semuanya, sih, tapi kebanyakan pertarungan-pertarungan tangan kosong yang ditonjolkan itu berupa pencak silat. Bukan main itu koreo berantemnya Yayan Ruhian en Iko Uwais pas handicap bareng Doni Alamsyah.

Ide ceritanya, sihmake sense. Penjahat kelas kakap, narkotika, penegak keadilan yang tak berdaya, serta perlawanan atas itu semua. Semuanya dibikin sedemikian rupa sehingga jadilah ini film action paket istimewa. Hanya satu yang jadi ganjalan. Syuting film ini dilakukan di tengah kota—seenggaknya itulah yang gua liat dari salah satu adegan. Rada janggal aja kalok misalkan ada adegan di mana polisi yang lagi di dalam mobil diberondong tembakan oleh sekawanan bandit, namun di jarak 50 meteran dari situ arus lalu lintas anteng aja menunaikan rutinitasnya. Bahkan gua ngeliat ada bajaj lewat di situ.  Catat: bunyi tembakan itu lantang, loh! Apalagi kalok pistol otomatis. Janggal, itu janggal banget!

Entah gua mau nyalahin siapa menyoal eksekusi syuting adegan per adegan. Aksi berantemnya, sih, bagus. Banget, malah! Pengambilan angle-nya pun jauh lebih pinter daripada film-film lokal lainnya. Uhmm…tapi mbok ya nge-shoot-nya jangan begoyang-goyang kayak gitu, napah! Mentang-mentang berantemnya gerak-gerak melulu, pengambilan gambarnya pun ikut-ikutan bergerak, yang mana bikin gambarnya enggak fokus. Gambar yang kek begitu ‘kan bikin pala puyeng kleyengan, tauk.

Hal lain lagi, yakni mengenai eksekusi pengambilan gambar. Banyak banget adegan slow motion. Kebanyakan adegannya efektif. Pas. Tapi ada juga yang cuma nyampah. Bikin deg-degan mah, enggak…bikin capek nunggu mah, iya. Selain itu, banyak adegan percakapan yang kalok-diilangin-mah-gak-ngeganggu-cerita. Adegan yang mana? Lu liat aja deh mending, baru tanya-tanya. Ini yang nyebabin gua bilang bahwa film ini bertele-tele.

Satu hal yang gua sebelin dari gaya berantem di film ini: berisik! Buset, berisik banget berantemnya. Mau ngehajar, tereak. Mau dihajar, tereak. Pas dihajar, tereak. Pas kesakitan, tereak. Pas 5 detik bakda dihajar, tereak. Pas mau mati, tereak. Bawel, comel mulutnya. Kalok bisa lebih pendiem, tuh film bakal keren bangettt!

Terakhir, gua gak suka sama film kotor. I mean, omongannya jorok. Gak diayak dulu. Kosakatanya kotor banget. Oke, gua ngarti kalok film-film box office di Hollywood itu pasti punya kata-kata kotor di filmnya. Tapi mbok ya kita enggak usah sampe niru-niru hal buruknya juga. Bagi gua, nonton film yang ada kata “an*jing”-nya itu bisa mengkontaminasi ucapan kita sehari-hari. Beneran dah! Nih, gua buktinya. So, buatlah film-film yang mengandung nilai-nilai baik.

After all, ini film laga manteplah! Hampir semua berantemnya bikin gua kagak ngedip. Bunuh-bunuhannya riil. Ini ditusuk, itu ditusuk; yang ono ditembakin, yang eni dicincangin. Bengis! Bantai-membantai yang terlampau sadis! Gua pikir, para pemainnya pada enggak punya emosi pas syuting. Yang mantepnya lagi, warna darahnya kali ini bukan kecap—yang mana warna kecap itu item, bukannya merah. Selain itu, tiap kali pertarungan yang melibatkan Iko, mata gua susah mingser dari layar. Keren abis aksinya si reinkarnasi Yuda itu (lih. film Merantau).

Kutipan film terbaik:
Masuk dari mana tuh orang?” Kata cewek penghuni apartemen.

Film ini mungkin belum digandrungi masyarakat penikmat film di Indonesia. Tetapi setidaknya the Raid telah menjadi titik awal musim film laga Indonesia serta menjadi pionir dalam menyukseskan film action lokal. Semoga bakal tumbuh bibit-bibit film action lainnya, yang mana dapat membangkitkan kembali minat masyarakat dalam menonton film, khususnya film action negerinya sendiri.

Rank : 3 out of 5 stars [huff!]

Tagged: , , , , , ,

§ 12 Responses to 「Review Film」the Raid

  • Dhanny says:

    Suka sama review lu, gi. Mengalir dan enak dibaca.🙂

    • ibnumarogi says:

      Huwaaa Ka Dhanny >___<
      Makasiii komennya. Oke, uhmm…ya gitu dah:mrgreen:

      Semoga perfilman Indonesia bisa bangkit dari kasurnya. Amiin.

  • Dhanny says:

    Gue suka reviewnya, gi. Mengalir.🙂

  • evanurhayati says:

    Nice review. Thumbs up for d review😀

    but still, na-a! For d movie story.

    Animo masyarakat ngebangun ekspetasi, dan masi berasa kecewanya pas nnton😦
    It’s have a good action but less story.

    Ga relevan ngebunuh driver pake 3orang bersenapan laras panjang smpe mobilnya ancur. Dan penggerebekan di siang hari?..

    • ibnumarogi says:

      Rada gimanaaa gituh. Bak makan masakan yang pake penyedap rasa, tapi “inti makanan”nya enggak jelas apa. Jadi aneh gitu, kan?

      Semoga sekuelnya lebih bagus, “Berandal” itu….

  • du3adelig says:

    hahaha,, jadi penasaran juga nih filmnya kaya gimana.
    di luar perasaan hingar bingar banget beritanya. bagus gi reviewnya jujur!😀

    • ibnumarogi says:

      Filmnya keren, Wi! Keren, asli. Tapi kameramennya keknya kurang jago, deh. Masa’ pas adegan berantemnya (yang begerak kesana-kemari, muter-muter, jumpalitan) malah ikut goyang2…bikin pusing gua aja.

  • rhee.noorharsha@gmail.com says:

    hemmm…

    cuma sedikit mengkritik tulisan anda mengenai review film the raid ini. Film yang digarap oleh Gareth Evan ini telah memenangkan berbagai macam penghargaan di festival film di dunia, mulai dari Toronto, Cadilac, Sundance, SWSX , Busan dan Hong Kong Asian Film Festival dan di nobatkan sebagai The Best Action Movies in decades…

    ini merupakan bukti bahwa The Raid dinikmati oleh pecinta film action, jika anda penikmat film action hollywood pasti anda tau dimana perbedaannya dengan film-film yang senada. begitu juga dengan masyarakat luar negeri yang begitu antusias ketika the raid di putar di toronto, sambutan dan tepuk tangan yang meriah datang dari penonton. berbeda sambutannya ketika film-film hollywood lain di putar, sambutan penonton dan juri biasa saja.
    demikian juga ketika film ini di putar di Skotlandia, sehabis film ini ditonton, penonton langsung standing ovation selama 2 menit. Keren.

    Menurut saya adegan2 dengan teriakan itu sangat bagus karena para aktor begitu menjiwai setiap duel yang diperankan, kemudian film ini juga kan sudah di cap BRUTAL,gak seru dong kalo gak ada teriak2nya…
    setahu saya film tiap adegan duel dalam film ini tanpa “fight cut”,artinya adegan duelnya mengalir bebas, teriakan tersebut sebagai penjiwaan dari tiap adegan dan hal tersebut mengurangi rasa sakit jika pukulan atau tendangan mengenai tubuh. Saya berbicara demikian karena saya juga seorang martial artis, dan saya tahu bagaimana rasanya jika kita dipukul tanpa mengeluarkan suara, pasti akan sakit sekali !!!

    angle gambar yang bergoyang karena gambar diambil dari jarak dekat dan tanpa penyangga, kamera bergerak disesuaikan dengan gerakan para aktornya, memang begitulah ciri film action. dan saya rasa goyangannya tidak mengganggu, mengingat saya sudah 3 kali menonton film tersebut.

    siapa bilang membunuh driver dgn 3 orang bersenjata laras panjang gak relevan? sah-sah aja dong. namanya juga keroyokan, brutal,sadis.. yang menunjukkan betapa kejamnya para penjahat2 tersebut. satu lagi penggerebekan tersebut tidak dilakukan di siang hari mas…tapi di pagi hari,ni mah sudah biasa atuh… gk ada yang janggal.

    mengenai kata yang kotor, itu hanya luapan emosi saja, daripada mereka bilang “Motherfucker”, shit, setan, mending bilangin isi kebun binatang.

    • ibnumarogi says:

      Oke, gua terima masukannya. Tapi gua tetap pada pendapat gua bahwa film ini yaaaa… seperti yang gua tulis itu. Karena pada saat gua tonton, perasaan seperti itulah yang gua rasakan.

      Jangan terlalu terbelenggu dengan pendapat-pendapat orang yang mungkin lebih ahli. Budaya di negara kita berbeda dengan budaya di negara lain. Pun gaya dalam dunia perfilmannya pun takkan sama. Nah, kita bicara soal film lokal. The Raid itu a good action…but less story. Ceritanya masih kurang keren. Gua pun bicara begini bukan sekedar omong kosong. Banyak kawan-kawan gua yang kecewa pas nonton. Actionnya bagus, tapi masih dangkal ceritanya. Seperti dibuat-buat (layaknya film-film lokal biasa).

      Memang, teriakan diperlukan dalam adegan berkelahi, berantem. Tapi lihat bagaimana film-film Hollywood mengarahkan para pemainnya. Kita sebagai penonton tahu mana teriakan saat dipukul, mana teriakan saat dibacok. Seperti kode-kode yang telah kita (pembuat film, penonton, dan masyarakat film) ketahui. Teriakannya rapi, enggak yang teriak-teriak ga jelas kayak gitu.

      Sekali lagi gua bilang, adengan-adegan di film itu memang bagus. Gua juga ngakuin. Tapi ada beberapa hal yang ingin gua komentari, untuk gua kritisi, agar ke depannya film Indonesia lebih baik lagi.

      Untuk masalah angle gambar. Memang dalam film action itu mengikuti gerakan pemainnya. Tapi–sekali lagi–gua cuma mengomentari apa yang gua liat. Dan begitulah yang gua liat: bikin puyeng.

      siapa bilang membunuh driver dgn 3 orang bersenjata laras panjang gak relevan? sah-sah aja dong.

      Nah, yang di atas ini nih. Gua juga tau, kaleee… itu wajar untuk mengesankan kekejaman. Tapi poinnya itu: di sekitar situ ada lalu lintas kendaraan. Rame sama kendaraan bermotor. Masa sih enggak ngerasa aneh…? Kalok enggak aneh, yaudah. Gapapa.

      Huf…at least, gua di sini bikin ripiu bukan buat ngejelek-jelekin film ini. Gua cuma pengen mengantarkan pesan bahwa film ini masih ada kekurangan di sana-sini. Harapannya agar di masa depan film-film Indonesia bisa lebih hebat dari kualitas film Hollywood. Itu aja.

      Terakhir dari yang terakhir, makasi udah sudi baca ripiu gua🙂

  • Gie says:

    Setuju dengan bro ibnumarogi, good action but less story movie, banyak hal-hal janggal yg menimbulkan pertanyaan yg nonton, janggal nomer #1 : Masa ga ada yg denger bunyi senapan mesin jedar-jedor kayak gitu, dipinggir jalan pula..ok let say denger memang, tp krn takut disitu sarang mafia..masa iya sih ga ada yg lapor polisi. Janggal #2 : Saat disebutkan ada tamu tak diundang di lt. 6..bla..bla..bla, banyak penghuni apartemen yg ngeberondong pakai senapan mesin dari atas, pertanyaanya utk pasukan khusus polisi, kenapa ga lempar granat aja ke kerumanan penghuni yg brondong dia?, masa pasukan khusus ga bawa granat?. Janggal #3 : Saat nahan pintu kamar (polisinya), masa orang sekampung gitu lama banget dobrak pintunya..hadeuuhh..baru sekian lama bisa kedobrak..
    Tapi overall gw akui pilem ini adalah the best action movie indonesia, mungkin lebih baik dari Onk Bak (tau salah ga nih nulisnya) nya Thailand, cuma kalah di alur ceritanya aja!!

    Ok bro & Sist…dukung terus pilem indonesia dan product indonesia, apapun itu demi kemajuan Indonesia.

  • hahaha asli ngakak gw baca review lo gi
    bahasanya asik dah, setuju sama review lo, gw ngerasain hal yang sama, apalagi kamera goyang2, pala gw ngikut goyang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Review Film」the Raid at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: