Like Stars on Earth「Review Film」

17 May 2012 § 4 Comments

Title : Like Stars on Earth
Category : Film
Year : 2007
Genre : Drama
Director : Aamir Khan
StarsDarsheel SafaryAamir KhanTisca ChopraSachet EngineerVipin Sharma

Bagai bintang di bumi. 


Begitulah kiranya makna setiap anak dari film ini. Film ini adalah cerita tentang anak,  sebuah kisah tentang dunia anak, suatu cerminan yang riil tentang bagaimana cara pandang orang dewasa dalam memperlakukan anak. Anak-anak, ini tema minor yang dikemas dengan sangat menawan.

Ishaan, seorang anak berusia delapan tahun yang dianggap malas dan pengacau. Kerjaannya hanya bermain, berbuat nakal, dan tak bisa disuruh belajar. Orangtuanya sudah hampir putus asa menyekolahkannya. Mereka heran dengan ketidakpandaian anaknya yang tak kunjung usai. Tambah heran jika membandingkan dengan kakaknya yang selalu memiliki reputasi baik dalam nilai akademis: sempurna. Memasukkannya ke sekolah asrama adalah pilihan yang harus mereka ambil. Namun, guru-guru di sekolah tersebut pun juga mengeluhkan hal yang tidak jauh beda terhadap anak itu. Anak itu tak ada peluang untuk naik kelas. Jalan keluar tak kunjung ketemu, sampai hadirnya Nikumbh (Aamir Khan), guru seni pengganti, yang memiliki kesabaran dan kasih sayang untuk menemukan masalah sebenarnya di balik perjuangannya di sekolah.

Cerminan yang dirangkai dari film ini adalah soal dunia anak-anak. Pada dasarnya, anak-anak belajar saat mereka bermain. Buatkan jadwal bermain sepenuhnya untuk anak, itu yang terbaik. Porsi itu tak dapat diganggu gugat. Tetapi, makin kemari porsi itu mingkinan terdegradasi oleh “otak jenius” para orang dewasa, para orang tua dan guru-guru yang mengajarnya. Sekolah membuat sistem yang baru, sekolah menjadikan anak sebagai tanaman yang tumbuh dengan hanya diberi pupuk dan disinari cahaya matahari.

Lihatlah bagaimana sekolah asrama di film itu berorientasi terhadap pendidikan anak. Orientasinya hanya terhadap nilai-nilai saja. Sekolah ini kurang memperhatikan bagaimana cara melihat sang anak. Visinya kurang memenuhi itu. Pertama, di sekolah itu mereka mempersiapkan anak-anak untuk hidup bersaing. Bayangkan, sosok-sosok malaikan kecil itu hanya dijadikan objek penderita dalam setiap kebijakan yang tak patut itu. Kedua, anak-anak harus berkompetisi, sukses, mempunyai masa depan. Berkompetisi? Sukses? Masa depan? Ya ampun, tahu apa orang dewasa tentang dunia anak. Apakah dengan memaksakan pemikiran tersebut dapat membuat sang anak bahagia. Kita sering berpikir bahwa satu hal baik bagi anak, tapi apakah sesuatu yang baik menurut kita sejatinya baik untuk anak? Adakah kita tak keliru memikirkannya? Yang sering terjadi adalah, kita melihat dunia anak dari sudut pandang orang dewasa, alih-alih melihatnya dari sudut pandang sang anak. Dan kita juga hanya menjadi orang yang lebih besar, lebih tahu, dan lebih tua darinya, alih-alih memposisikan diri sejajar dengan mereka.

Ishaan yang memiliki masalah disleksia pada otaknya itu dipaksa untuk bisa memenuhi ambisi besar dari sekolah. Harus bisa matematika, harus bisa IPS serta IPA. Setiap siswa harus mendapat nilai baik dalam semua pelajaran. Mereka pikir mereka sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anak. Pada kenyataannya, sekolah hanya sedang memaksakan kehendak orang dewasa. Mereka hanya memuaskan visi semu dalam menumbuhkembangkan anak, ketimbang membuat anak-anak senang belajar.

Aamir Khan berperan (sepertinya lebih dari sekedar berperan dan berakting, deh) dengan sangat baik. Pun dialah yang menjadi sutradaranya. Menjiwai, tahu seperti apa film yang akan ia ciptakan. Gua melihat adanya kesungguhan dari dirinya untuk terjun langsung menata ulang cara mendidik anak. Dia menyentuh langsung hati sang anak untuk menyapa dengan sapaan, “Hai…yuk, kita bermain!”

Film ini dirilis pada tahun 2007, terpaut dua tahun dari peluncuran 3 Idiots, film Aamir Khan yang laris itu. Keduanya mungkin berbeda dalam pengkategorian penonton. Tapi sesungguhnya ide yang ingin disampaikan adalah sama: Dalam mendidik, lakukanlah dengan cara yang baik dan benar. Pesan yang gua tangkap dalam film 3 Idiots adalah untuk mengkritik habis sistem pendidikan yang kaku dan stereotip di masyarakat bahwa laki-laki dilahirkan untuk masuk sekolah teknik. Sementara itu, dalam film Like Stars on Earth, Aamir Khan menunjukkan bagaimana cara memperlakukan setiap anak di bumi. Setiap anak memiliki hak untuk disayangi, setiap anak memiliki hak untuk dapat bermain dengan teman-temannya.

Momen yang paling mengharukan adalah saat scene lomba melukis yang diperuntukkan bagi murid, guru, dan orang-orang yang ada di sekolah asrama itu. Gua sampe terharu melihat bagaimana Ishaan yang tadinya udah down abis gegara putus asa akan ketidakmampuannya membaca dan menulis, sekarang bisa melukis dengan sangat imajinatif. Terharu dengan pelukan Ishaan kepada Nikumbh, terharu sama usaha Nikumbh yang dapat memahami anak-anak dengan caranya yang mengagumkan.

Film ini recommended untuk orang-orang yang menyayangi anak-anak, recommended untuk orang yang mau bergelut lebih keras di dalam dunia anak-anak. Cheers up untuk usaha semua kru dalam film ini untuk membuka mata orang-orang agar dapat melihat lebih jelas dari sebelumnya. Like Stars on Earth, that was awesome!

Rating : 5 out of 5 stars [awesome!]

Tagged: , , ,

§ 4 Responses to Like Stars on Earth「Review Film」

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Like Stars on Earth「Review Film」 at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: