「Review Buku」Supernova Partikel

18 May 2012 § 5 Comments

Title : Supernova Partikel
Author : Dee
Page : 508 pages
Published : Bentang Pustaka
Year : 2012 (April)
Category : Paperback
Genre : Fiction | Science-Fiction | Adventure

Supernova. Selain dalam film Star Trek, gua ga nemuin lagi kata itu di mana pun jua. Wew, setidaknya sampe saat ini.

Setelah sukses membuat gua penasaran dengan ketiga buku Supernova-nya, kali ini Dee menyajikan lagi hidangan yang sangat menggugah selera baca gua. To be honest, dari awal tahun gua jarang banget baca buku untuk langsung dihabiskan. Buku ini salah satu yang bukan salah satunya. Buku ini termasuk buku-yang-musti-cepet-cepet-gua-tamatin.

Supernova #4. Ini kali menyoal bumi dan tanah. Jika pada buku-buku sebelumnya, #1 tali-temali hubungan, #2 akar, dan # listrik, buku keempat ini membungkus satu tema yang berhubungan dengan tanah dan bumi. Cukup berat, bagi gua. Banyak hal yang baru, banyak hal yang sama sekali gua enggak ketahui (sampe sekarang).

Zarah terlahir sebagai anak dari keluarga yang saleh. Kakeknya adalah pemuka agama di daerahnya. Ayah dan ibunya pun tumbuh dengan didikan agama sang kakek dan tentu saja disekolahkan di sekolah formal (SD, SMP, serta SMA). Bedanya, Zarah dididik tanpa sekolah formal. Sedari kecil, ia mendapat ilmu dan pengetahuan langsung dari ayahnya. Dan inilah latar belakang yang nantinya bisa memicu perbedaan pandangan tentang agama.

Zarah, seorang gadis yang independen dan bebas (sebenernya mau nulis liar, tapi ga jadi), berkelana ke tempat-tempat yang jauh dari rumah tinggalnya, yang tak terlihat dengan pandangan matanya, serta yang tak terjamah oleh ide dalam otaknya. Not even in her wildest dream.

Mungkin inilah kebodohan gua dalam mencari tanda-tanda di dalam novel. Baru pada halaman 150 gua tau Zarah itu ternyata cewek. Itu terlepas dari fakta bahwa Zarah adalah nama yang terdengar sangat cewek. Gua enggak mau menebak, gua hanya ingin memastikan. Hal ini gua anggap sebagai kekeliruan bagi Dee dalam merangkai kisah sang bocah petualang ini.

Mulanya dari kepergian ayahnya yang tak terkabar mau ke mana, Zarah berniat untuk pergi mencarinya. Mencari ayahnya yang dianggap telah nista dan mengolok-olok agama hingga musyrik menyembah hutan di bukit yang berada di dekat tempat tinggalnya. Tanpa penerangan, tanpa informasi apa-apa. Hanya petunjuk seadanya, yakni sebuah Kamera SLR Nikon Titanium FM2/T Limited Edition yang baginya merupakan hadiah ulang tahunnya yang ketujuhbelas dari ayahnya.

Zarah memang luar biasa jeniusnya. Zarah memang beda dari orang yang biasa. Zarah memang supernova. Tapi,rupanya penceriteraan penulis tentang kejeniusan Zarah tersebut agaknya di luar logis, atau lebih halusnya gua katakan: terburu-buru memaksakan logika tentang karakter seorang Zarah. Konsekuensi logis dari pengembangan karakternya tidak begitu kuat sehingga penokohan Zarah kurang jelas.

Satu hal yang terlihat jelas adalah rupa sesungguhnya dari Zarah. Sungguh sayang, Zarah di sini bukanlah Zarah itu sendiri, melainkan sosok penulis yang menjelma (atau bisa dikatakan mengaku-aku) sebagai Zarah. Dan ini tak hanya terjadi dalam sosok Zarah, penulis ini kerap kali membikin karakter yang tipikal seperti Zarah. Dia sering banget membuat karakter yang super jenius, super pandai, super berbeda dari yang lain. Dalam Madre ada yang seperti itu. Dalam Perahu Kertas pada sosok Keenan yang tahu bahwa dirinya dapat masuk perguruan tinggi sebelum pengumuman. Ini menimbulkan kebosanan. Rupanya dia telah kehabisan ide.

Hemm.. mengenai ceritanya. Kok gua enggak ngerasa terhibur dengan lanjutan ini. Apa ya. Well, buku ini bagus menurut gua. Dikarang dengan penelitian tingkat tinggi selama 8 tahun. So pasti buku ini lebih berbobot dari seri sebelumnya. Tapi ada catatan pinggir untuk buku ini. Catatan yang melebihi review itu sendiri. Catatan yang dapat meruntuhkan kemantepan isi dari buku ini.

Gua terganggu dengan cerita tentang Zarah yang berada di London dan berdandan menjadi gadis yang cantik, lalu terimaji sebagai bidadari yang turun dari langit. Gua terganggu dengan cerita tentang Zarah yang tau-tau demen sama fotografer fashion yang too good to be true, yang kasep, yang macho, yang keren, yang gantengnya ngalahin monyet. Gua juga terganggu dengan cerita mesum yang di situh! Yaoloh, remeh banget. Ini merupakan bagian paling sinetron dalam buku ini. Dibuat pada halaman 280—371, rasanya kayak nambah-nambahin tebel buku aja. Wew, for your information, this price is IDR 79.000,00.

Selain berkisah tentang bagaimana kehidupan Zarah, penulis ini juga menyelipkan “sedikit” proyek pribadinya mengenai agama. Gua melihat adanya sentimen dia terhadap agama. Agama yang keberadaannya sejatinya untuk menunjukkan manusia kembali ke jalan yang benar, sekarang telah menjadi suatu bentuk aturan hidup yang dapat mengekang ekspresi dari tiap-tiap manusia yang mengimaninya. Kebebasan dalam berpikir memainkan peran. Menihilkan eksistensi agama, mempertanyakan aturan-Nya.

Teori tentang lahirnya Nabi Adam A.S., tentang ajaran Islam yang terlalu kaku dan tak fleksibel terhadap manusia itu sendiri, ada dan dikupas dengan detil dalam cerita fiksi ini. Penulis membuat teori sekehendak dirinya. Seolah-olah ia ngomong begini, “Seterah gua dong, tiap orang bebas berekspresi. Tiap orang boleh memercayai apa yang bisa mereka percayai.” Seakan-akan ia sedang menyerang sambil lalu bertahan dengan pendapatnya, yakni mempertanyakan kepercayaan yang telah ada sekaligus memberikan warning kepada orang-orang yang tidak suka terhadap pendapatnya itu. No offense! Yeah, seems like that.

Penulis dalam cerita ini mengisahkan bahwa agama-agama yang ada, terutama yang fundamentalis, terlalu mengekang manusia sebagai pusat kehidupan. Seolah apa yang baik dari manusia adalah apa yang bisa dan baik menurut manusia. Jadi, pemaksaan segala aturan dan hukum yang ada dalam agama tersebut merupakan suatu pelanggaran terhadap asasi manusia. Zarah menolak ini semua. Ia tak mau mengikuti aturan kaku yang tak bisa menyenangkan hati dan akal-pikirannya, yang tak bisa sejalan dengan logikanya. Argumentasinya sangat jelas, sejelas hitam dan putih. Seolah-olah agama itu bodoh secara argumentasi.

Zarah di sini digambarkan sebagai satu-satunya manusia yang berakal sehat dan logis dalam menentukan hidupnya. Tidak terikat kepada aturan agama yang mengurung ide manusia dalam bentuk larangan yang tak logis bagi pemikiran manusia. Berbeda dari karakter-karakter lain yang ada di novel ini, Zarah benar-benar rasional dalam menjalankan segala aktivitasnya sehari-hari, termasuk dalam beragama.

____

Dari sisi penggunaan bahasa, si penulis enggak pernah bosan untuk mencipta diksi yang asing dan tak gandrung. Gua akui, dia jenius dalam meramu kisah-kisah fiksi. Tiap pilihan katanya dipilih dengan cermat dan selalu kaya akan nuansa makna. Tapi sangat disayangkan, terkesan diksi-diksi yang melimpah ruah tersebut hanyalah tempelan-tempelan yang keberadaannya sebatas “keren-kerenan” sahaja. Gua ngeliat ini sebagai pemborosan dan pemubaziran. Ga percaya? Lihat ini,

“…Ayah selalu mencintai Fisika, tetapi Mikologi-lah yang sanggup membakar semangatnya dengan bara yang tak kenal padam.” (halaman-20, paragraf-4, kalimat-3)

Bagi gua, metafora dalam frase membakar semangatnya masih berterima, tetapi jadi aneh ketika ditambahkan dengan frase bara yang tak kenal padam. Dengan tambahan frase tersebut, maka makna kalimat tersebut menjadi makna denotasi, yakni ‘semangatnya terbakar oleh bara yang tak kenal padam.’ Padahal, cukup jika hanya menuliskan membakar semangatnya yang nantinya membuat kalimat tersebut diartikan menjadi makna konotasi. Secara gramatikal, kalimat tersebut kurang baik, meski penggunaannya dalam ranah sastra.

Selain itu, penggunaan koma juga tak luput dari kekeliruan. Mungkin ini sepele, tetapi hal-hal yang sepele justru harus mendapat perhatian bagi para penulis. Ini juga sebagai pelajaran bagi para pembaca. Perhatikan baik-baik kalimat ini,

“Kecurigaan Ibu terhadap Bukit Jambul juga bisa dimengerti karena, pada saat yang bersamaan dengan kegilaannya kepada Psilocybe, Ayah memang sering menghilang.” (h36, p1,k1)

Catatannya sebagai berikut:

1. Dalam suatu kalimat majemuk, penggunaan koma tidak semua konjungsi diikuti atau didahului tanda koma. Beberapa konjungsi yang terdapat tanda koma: oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, tetapi, dan akan tetapi. Konjungsi ‘karena’ tidak diawali dengan tanda koma.

2. Konjungsi ‘karena’ adalah penghubung dalam kalimat majemuk bertingkat. Dalam pemakaiannya, sering kali terjadi kesalahan penulisan, yakni pembubuhan tanda koma di depan konjungsi ‘karena’. Namun, kasus kali ini penggunaan tanda koma berada di belakang (posisinya setelah) konjungsi ‘karena’. Ini juga termasuk kekeliruan. Kemungkinan, penulis ini menuliskannya layaknya ia melisankan kata-kata tersebut. Dugaan ini merunut pada intonasi bicara (lisan) yang kerap kali didengar, yakni penggunaan jeda setelah kata ‘karena’.

Selain menggunakan diksi yang kurang gandrung di masyarakat, Dee juga menyempatkan diri untuk membikin frase-frase baru. Kreatif, sih. Tapi kok rada aneh kalo dipikir-pikir lagi. Berikut contoh kalimatnya:

“Tak terasa, langit di atas sana, yang hampir tak terlihat karena tertutup kanopi dedaunan, mulai menerang.” (h142, p5, k1)

“Kanopi dedaunan”…hm… keren sih. Tapi apakah berterima maknanya? Dalam bahasa kita, frase dibentuk dengan model Diterangkan-Menerangkan atau Menerangkan-Diterangkan. Nah, dalam frase ini, kata yang mana yang menerangkan, yang mana yang diterangkan? Apakah kanopi yang menerangkan dedaunan, ataukah dedaunan yang menerangkan kanopi. Tentu saja kanopi di sini bukan berarti kanopi sungguhan yang sedianya melindungi kusen dari air hujan agar tidak tampias. Dengan kata lain, penulis sedang menerangkan dedaunan yang terlihat seperti/menyerupai kanopi. Bagi gua, kanopi dedaunan itu masih berterima, tapi masih kurang sreg dan enggak mewakili imaji-analogis dari sebuah kanopi itu sendiri.

Contoh kalimat lainnya:

“Mulai terlihat selimut lumut yang menutupi batang pepohonan tua dengan diameter rata-rata lebih dari lima pulih senti itu.”

Selimut lumut? Oh, ya ampun. Ga pernah kebayang frasenya. Imajinasi gua jelek banget!

Satu lagi, menyoal deskripsinya yang nyastra dan puitis itu, rupanya penulis ini rada kurang pengimajiannya. Untuk ia yang menulis, mungkin suasananya ngena, tetapi bagi orang baru? Belum tentu. Dan gua rada kurang bisa memaknai penekanan terhadap frase selimut lumut tersebut.

Satu lagi dari yang satu lagi, banyak istilah-istilah yang keberadaannya membingungkan yang baca. Mungkin bagi penulis penting bermewah-mewah dalam menyajikan diksi yang jarang digunakan orang serta memakai istilah yang bisa menganalogikan sesuatu dalam kisah ini. Tetapi jika hanya mengacaukan pikiran pembaca yang memikirkan arti dari kata-kata itu, alih-alih fokus dalam cerita, lebih baik enggak usah memakai itu semua. Sia-sia dan terkesan hanya pamer saja. Membaca istilah-istilah itu ngebikin gua ngerasa bodoh aja, ga ngerti dengan diksi yang gak ada maknanya. Lihat kata-kata ini: Unison. Terestrial. Arboreal. Dorman. Nenas. Selofan. Tantrum. Ber-jibakutai. Kastel. Tremor.

_______

Bagi gua, buku ini beda banget sama Supernova lainnya, yang keempat ini kurang berterima sebagai salah satu seri Supernova. Sekian.

Rank : 6 out of 10 stars [wew..]

Tagged: , , ,

§ 5 Responses to 「Review Buku」Supernova Partikel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading 「Review Buku」Supernova Partikel at B e r s a n t a i S e j e n a k . . ..

meta

%d bloggers like this: